
Hidup terus berlanjut, memutuskan untuk sendiri-sendiri adalah pilihan sulit. Kenyataannya sekeras apapun bertahan, pilihan terakhir adalah berpisah.
Memulai babak baru dalam hidup, aku dan Tefan sudah memutuskan ini. Aku menjalani hidupku, dia menjalani hidupnya. Seperti itulah seharusnya cerita ini, di masa depan akan kita lihat bagaimana takdir Tuhan bercerita mengenai aku dan Tefan.
Aku bersama Papa dan Mama pindah ke salah satu kota di bagian Timur Indonesia. Tak ada yang tahu hal ini, sebab kepergian kami adalah rahasia. Aku tidak ingin hubungan antara aku dan Tefan terus-terus menjadi hubungan yang merusak keutuhan keluarga.
Aku ingin hidup tenang, seperti juga Mama dan Papa di usia senjanya. Di kota itu aku mulai membangun usaha Fashion, aku membuka toko pertamaku tak jauh dari tempat tinggalku. Alasannya biar aku lebih leluasa memperhatikan kesehatan Papa dan membantu Mama di sela-sela istirahat.
Membuka toko fashion adalah hal baru dalam karir bisnisku. Aku melihat peluang ini cukup bagus, untuk sementara isi dari tokoku masih ambil dari beberapa suplier namun untuk selanjutnya aku berencana mengembangkan produkku sendiri di bidang ini.
Aku bersyukur karena dalam hal ini Nina selalu membantuku. Hubungan kita berdua tetap berlanjut baik dan tidak ada saling dendam satu sama lain. Nina juga telah menikah dengan lelaki pilihannya tak lama setelah dia bercerai dari Tefan. Hanya berselang kurang lebih dua tahun bagi dia untuk menemukan pendamping hidupnya yang menyayangi dan menerima kondisi dan status dia.
Aku juga ikut hadir dalam pesta pernikahannya, aura bahagia terus terpancar dari wajahnya. Sungguh aku bersyukur karena pada akhirnya Nina menemukan labuhan untuk hatinya.
Mengenai toko fashion yang sementara kubangun juga berkat bantuan Nina. Saat ini aku memiliki 3 orang karyawan, satu di bagian kasir, dua orang lainnya mengawasi atau menemani calon pembeli untuk keliling melihat-lihat pakaian di toko kami.
Sejauh yang sudah kupantau, bisnis fashion cukup menjanjikan, omzet tiap bulan terus naik dan karyawan juga cekatan dalam bekerja. Membuatku terus bersyukur karena di kelilingi orang-orang yang dapat diandalkan.
"Maaf baju model ini apa masih ada?"
Suara seorang calon pembeli membuyarkan pikiranku siang itu. Aku melihat sekeliling, Oh rupanya sedang ramai dua karyawanku sampai terlihat kewalahan menanggapi keinginan pembeli.
"Oh iyah Bu, mari saya antar melihat-lihat."
Aku menemaninya berkeliling, namun model yang Ibu ini cari rupanya sudah habis. Aku menawarkan model lain dan syukurnya Ibu itu senang dan mengambil beberapa pasang baju untuk dia, suaminya dan dua orang anaknya.
Rupanya ada kesan tersendiri jika selesai melayani pembeli dan mereka beli barang-barang yang kita tawarkan. Seperti ada semangat baru yang menggebu.
Setelah melayani pembeli aku lanjut me list model mana saja yang sudah habis dan perlu restock. Supaya pembeli tidak terlalu lama menunggu barangnya tersedia kembali. Segera kuhubungi suplier dan meminta untuk restock barang yang sudah kumasukkan dalam list. Prosesnya bisa seminggu sampai dua mingguan.
__ADS_1
"Mba, aku senang toko selalu ramai akhir-akhir ini." Ucap salah satu karyawanku yang bernama Sani.
"Iyah. Bikin kita jadi semangat. Kamu jangan capek melayani kemauan pelanggan yah. Terimakasih sudah bekerja keras untuk toko ini." Jawabku sembari tersenyum.
"Mba, kayaknya kita perlu tenaga baru deh, tambahin karyawan untuk kasir dan bagian melayani pelanggan. Rasanya aku sama Tari sedikit keteteran melayani pelanggan."
"Iyah kita lihat jika bulan depan ramai terus, karyawan kita tambah. Yang penting kalian tetap semangat."
"Siap."
----
Kondisi Papa sudah jauh lebih baik sekarang, Papa sudah bisa berjalan seperti biasa. Terkadang masih dibantu tongkat juga sih. Sementara Mama, aku lihat jauh lebih bahagia berada jauh dari hiruk pikuk kota yang senantiasa membuatnya jengah.
Mama masih menggeluti bidang rajut merajutnya tiap hari dan akhir-akhir ini membuatku sedikit gusar. Betapa tidak, Mama sudah merajut sepatu anak atau bayi lebih tepatnya, trus kupluk bayi, sweater dan masih banyak lagi.
Aku bertanya namun Mama malah membebaniku dengan suatu yang lebih berat lagi dari pertanyaanku.
"Iyah. Bukan untuk siapa-siapa. Hanya jaga-jaga kalau nanti kamu menikah dan punya anak. Mama sudah bayangkan kalau nanti ini dipakai cucu Mama pasti akan sangat menggemaskan."
Mama mulai berimajinasi sesuka hatinya. Tidak memikirkan aku yang tengah mematung di depannya mendengar dia menyebut kata menikah dan punya cucu. Hhhhh
"Mah, trimakasih yah. Tapi aku rasa Mama ini berlebihan."
"Kenapa? Kamu tidak mau menikah?"
Mama enteng sekali menjawab tidak peduli dengan wajahku yang sudah setengah cemberut begini.
"Bukan gitu Ma, tapi kan itu mungkin saja masih lama atau entah kapan yang aku sendiri gak tahu."
__ADS_1
"Kamu nggak mau bahagiain Mama?"
Duh sejak kapan sih Mama diajak bicara tidak nyambung seperti ini? Ini lagi kenapa Mama kok sensitif banget. Ya kan bener, menikah itu urusan yang di atas. Aku mana tahu akan menikah, pacar saja tidak punya. Mama ini ada-ada saja.
"Ya nggak gitu Ma. Mana ada sih seorang anak tidak mau melihat orang tuanya bahagia."
Aku mencoba membujuk Mama yang raut wajahnya mulai tidak bersahabat.
"Makanya cepat-cepatlah cari suami. Papa sama Mama kamu ini sudah berumur, sudah saatnya menimang cucu."
Aku menengok dengan pasti ke arah sumber suara dengan nada memojokkan itu.
Apalagi ini? Melawan orang tua jelas aku tidak akan menang. Emang harus ya menikah? Kok aku merasa menikah itu gak penting-penting amat yah. Semenjak insiden dengan Tefan, aku merasa bahwa menikah bukan lagi prioritas utama dalam hidup.
"Nih lagi si Papa pakai nambah-nambahin segala."
"Carilah lelaki yang pantas sayang. Kamu tidak kasian ya, kita sudah setua ini tapi belum juga menimang cucu."
Papa malah terdengar lebih menuntut dari Mama. Duh gimana nih.
"Iyah iyah, Riana cari. Doain saja semoga ketemu."
Akhirnya senyum Papa dan Mama terpancar juga. Aku pun bisa leluasa meninggalkan mereka di ruang keluarga dan lekas beranjam dari sana menuju kamar.
Aku ingin berendam dan menenangkan diri. Hari ini membuatku lelah dan jadi banyak berpikir. Apalagi pembicaraan tadi terus saja menyudutkanku, di rumah ini apa tidak ada perbincangan lain apa selain menikah, punya anak dan seterusnya?
Aku melepas semua pakaianku dan menggantinya dengan handuk baju. Lalu masuk kamar mandi, memutar musik relaksasi di ponsel dan kudengarkan lewat headset, berendam sembari memejamkan mata. Ini adalah salah satu bentuk kenyamanan yang selalu kucari begitu sampai di rumah.
-----
__ADS_1
Bersambung.