
Saya sangat mengharapkan dukungan kalian, jika kalian menyukai cerita ini tolong bagikan dan kabarkan ke pembaca lain ya. Terimakasih, selamat membaca. Hehe.
*
*
*
Entah untuk tujuan apa, hanya saja kali ini Femi sangat bersemangat mendekati Tefan. Dia bahkan cuti dari dunia permodelan demi membuat Tefan lebih dekat dengannya. Bukan cuma itu, dia juga memutuskan untuk menetap di Bali. Benar-benar sangat serius dalam melakukan hal yang diinginkannya.
"Hai, Fan!" Sapa Femi yang saat itu datang mengunjungi Tefan pagi-pagi ke rumahnya.
"Sepagi ini kamu datang, memangnya ada apa?"
"Ya tentu saja untuk bertemu dengan calon kekasih masa depanku." Ucapnya genit seraya menoel dagu Tefan. Sangat tidak sopan.
Pak Bono yang menyaksikan itu cukup dibuat keki. Dia dari awal tidak senang pada wanita ini, hanya karena bosnya meminta agar lebih sopan padanya makanya Pak Bono memberi akses pada wanita ini untuk leluasa masuk lingkungan rumah ini. Jika tidak, maka jangan pernah bermimpi.
Nona ini sangat agresif, Tuan malah tenang sekali. Sangat tenang seperti genangan air yang tak ada riak di permukaan sedikit pun. Namun, aku sangat tahu Tuan bersikap seperti itu hanya untuk menghormati nona Femi sebagai orang yang pernah menolongnya di masa lalu. Benar-benar merepotkan!
"Jangan menyentuhku seperti itu, lihat wajah Pak Bono! Dia bisa saja membuatmu keluar dari sini jika kamu tak bersikap sopan di depannya."
"Memangnya apa yang bisa dilakukan bapak tua itu? Kamu bosnya, aku tidak peduli padanya."
Nona, ucapanmu menggangguku. Jangan harap, setelah ini kamu bisa dengan lebih leluasa untuk bertemu Tuan lagi. Tak akan kubiarkan.
"Jangan meremehkan seperti itu, aku lebih percaya padanya daripada keluargaku sendiri. Hahaha." Ucap Tefan seraya berdiri dari duduknya setelah membersihkan mulutnya sehabis makan.
"Kamu mau kemana?" Tanya Femi ingin tahu.
"Mau mandi!"
"Aku ikut!"
"Coba saja." Ucap Tefan seraya melayangkan tangannya ke atas dan menghilang di balik tembok rumahnya.
Femi sudah mau mengikut, namun segera kedua tangan Pak Bono terbentang di depannya.
"Apa Nona benar-benar tidak memiliki harga diri sebagai wanita?"
"Ishhh, minggir kau tua bangka."
"Nona, apa kau lupa. Saya adalah orang kepercayaan Tuan, saya bisa saja membuat anda tak bisa bertemu Tuan lagi ke depannya."
"Kau mengancamku?"
"Tidak, saya memperingati anda Nona."
"Hisssh, menyebalkan!"
Dengan kesal, Femi keluar dari rumah itu. Sementara Pak Bono tak bisa menahan tawanya sejak tadi. Dia benar-benar puas bisa membuat wanita itu pergi dengan keadaan begitu marah.
***
__ADS_1
Di tempat yang berbeda, Riana sedang menandatangani kontrak kerjasama. Disaksikan oleh sahabatnya Jeni dan juga anaknya Kiano.
"Jumlahnya besar sekali. Apa..., apa aku tidak salah lihat?" Ucap Riana tak percaya dengan nominal yang tertera di dalam kontrak kerjasama yang akan ditransfer dua kali ke dalam akun bank miliknya.
Rp. 100.000.000,-
Sungguh nominal yang tidak main-main. Riana masih tak percaya. Setelah tanda tangan kontrak selesai dan orang suruhan dari pihak hotel yang memesan aksesoris itu telah pergi, Riana gembira sekali. Dia meluapkan kegembiraannya dengan memeluk Jeni berulang kali. Begitu juga pada Kiano, anak itu sampai harus mengingatkan bundanya berulang kali. Kalau pelukan bundanya bisa saja membunuhnya. Haha.
"Bunda..., aku bisa mati di pelukan bunda kalau begini caranya!" Protes Kiano dengan wajah lucu.
Riana lantas mencubit Pipi anaknya yang gembul itu. "Jika kamu mati, lalu siapa yang akan melindungi, Bunda?"
"Hehe, siapa suruh Bunda meluknya erat banget. Bunda..., selamat ya sudah dapat kontrak. Semoga rezeki Bunda makin banyak, agar aku bisa selalu melihat wajah Bunda yang bahagia seperti ini." Ucap Kiano yang kini berbalik memeluk Bundanya.
Lagi-lagi Riana dibuat terpukau dengan ucapan anaknya itu. Padahal usianya belum genap enam tahun. Namun sudah berpikiran dewasa seperti itu.
"Iya sayang, itu artinya Kiano harus jadi anak yang pintar juga hebat. Jadi karena itu tidak mudah, makanya untuk sementara Kiano mesti sekolah dulu. Bunda sudah punya uang buat sekolah, Kiano. Bulan depan kita daftar sekolah ya!"
"Woahh...! Sekolah Bunda? Berarti Kiano nanti punya banyak teman baru dong! Yeiuyy...! Yeiih..., Kiano akan punya teman baru!" Ucapnya kegirangan seraya berteriak berputar-putar mengelilingi bundanya dan Jeni.
Jeni yang melihat kegembiraan itu, merasa hatinya langsung menghangat. Kiano selama ini pasti melewati hari-hari yang sulit. Namun dia tak pernah protes pada Bundanya.
Sayang, kamu pasti jadi anak yang hebat suatu saat nanti. Bunda yakin itu!
***
Sudah seminggu sejak pertemuan antara Riana dan Tefan, membuat Tefan sejujurnya merindukan Riana. Namun dia masih menahan diri karena tidak mau terlalu mencolok mendekati Riana. Terlebih kondisi Riana yang single parent, tentu tak mudah bagi Riana melewati hidupnya.
Sebagaimana janji, rindu juga harus ditunaikan. Tapi dengan cara apa? Riana kau membuatku gila, seperti dulu. Ya, seperti dulu.
"Kau di sini?" Tanya Tefan pada Femi.
"Yap! Aku ingin makan siang bersama kamu. Bisa kan?"
"Baiklah! Ayo kita ke bawah."
"Tapi tidak di sini, aku mau di tempat lain. Tempat yang jauh lebih indah dinikmati. Membuat selera makan semakin bagus seraya menikmati suara ombak."
"Maksud kamu harus di pinggir pantai, begitu?"
"Yeah, di mana lagi. Aku suka tempat seperti itu, bagaimana, mau kan?"
"Hanya makan siang, tidak lebih."
"Okeh!"
Mereka berdua pun berangkat ke salah satu restoran yang jaraknya tak begitu jauh dari view pantai yang eksotik.
Femi bergelayut manja di lengan Tefan, Pak Bono kali itu tak ada. Dia sedang ada tugas dari Tefan, membuat Tefan merutuki dirinya sendiri karena memberi tugas mendadak pada Pak Bono. Dia jadi tidak bisa lepas dari Femi sekarang.
Ah, wanita ini pandai sekali memanfaatkan situasi. Cih, apalagi aku tidak bisa menolak keinginan dia.
Beberapa pasang mata melihat ke arah mereka. Diantaranya memuji seperti, mereka terlihat cocok. Mereka terlihat seperti pasangan serasi. Mereka layak menjadi sepasang suami isteri dan sebagainya.
__ADS_1
Femi memilih tempat yang sangat mencolok dilihat semua orang. Tentu saja itu tujuannya, siapa lagi yang tidak mengenal Tefan di Bali ini? Makanya dia seperti ingin pamer, bahwa pemilik dari beberapa resort di Bali itu adalah miliknya.
Tidak disangka, di salah satu meja tak jauh dari tempat Tefan dan Femi duduk, ada Riana yang sedang menikmati makan siang bersama Jeni dan anaknya Kiano. Lalu makan siangnya itu terganggu dengan pemandangan yang menyakitkan mata. Mata Riana dan Tefan bersirobok, mengakibatkan dua orang itu menjadi canggung dan tampak tak baik-baik saja.
Riana yang tersedak tiba-tiba karena kaget melihat Tefan ada di sana, langsung berlari ke kamar kecil.
Setelah membersihkan mulutnya, dia menatap cermin di depannya.
Bagaimana dia bisa di sini si? Ah, iya. Apa yang sedang kupikirkan, tentu saja dia bisa saja ada di mana-mana. Ini kan tempat umum dan jadwal makan siang. Lalu, siapa wanita yang sedang bersamanya? Apa itu kekasihnya sekarang?
Riana cepat-cepat menghapus segala yang ada dipikirannya tentang Tefan. Dia pun bergegas ke mejanya kembali. Alangkah terkejutnya dia, begitu tahu kini Kiano sedang duduk tenang di pangkuannya seraya menyuapi Kiano makan.
Pemandangan ini? Terasa begitu hangat. Namun, aku tidak bisa membiarkan Kiano terus-terusan berada dekat dengan Tefan.
"Jen, kenapa Kiano ada sama dia?"
"Tadi waktu kamu ke kamar kecil, Kiano melihat Tuan Tefan, eh dia langsung berlari ke sana dan malah ikut makan."
"Kenapa dibiarin?"
"Yak, aku..., aku mana bisa menahan anak kecil. Apalagi, aku melihat Kiano sangat senang bertemu Tuan Tefan lagi. Lihat, mereka begitu cocok, persis seperti seorang ayah dan anak."
"Hushh! Kamu ini bicara apa? Cabut omonganmu, Jen. Kiano anakku, bukan anak dia."
"Astaga, Riana. Aku tidak bilang dia ayah Kiano juga. Kamu ini sensitif sekali mengenai Tuan Tefan. Apa kau menyukainya?"
"APA??? Menyukainya? Haish kau konyo sekali, Jen. Tidak mungkinlah!"
"Kiano pasti butuh kasih sayang seorang ayah. Aku rasa Tuan Tefan tidak terlalu buruk. Hahaha..." Jeni terus menggoda Riana, membuat suasana hati Riana semakin buruk saja.
Dia masih penasaran dengan wanita yang bersamanya.
Apa mungkin itu kekasihnya?
Setelah menunggu beberapa menit.
"Om Ganteng, terimakasih makan siangnya. Aku mau ke Bunda dulu, kasihan Bunda nungguin Kiano. Sampai jumpa lagi, Om Ganteng!" Ucap Kiano yang turun dari pangkuan Tefan.
"Anak itu benar-benar mengganggu! Anak siapa si? Kok bisa sedekat itu sama kamu? " Gerutu Femi.
"Dia, anak temanku. Dia memang sangat ekspresif begitu bertemu denganku."
"Oh, begitu."
Sesekali Tefan masih mencuri pandang ke arah Riana. Namun dia kecewa karena saat terakhir dia menoleh ke arah Riana, dia sudah pergi bersama Jeni dan juga Kiano.
Huh, sampai kapan menahan diri seperti ini terus. Sabar..., Tefan.
Ucapnya pada dirinya sendiri untuk tujuan menghibur.
*
*
__ADS_1
*
Jangan lupa like dan komen ya gaes...!