
Berhari-hari setelah kedatangan Riana dan Tefan ke rumah sakit dengan maksud menjenguk Saka, kondisinya belum mengalami kemajuan.
Sheril tidak memberikan akses sedikitpun pada Mama Saka untuk masuk melihat kondisi pria itu. Wanita itu marah besar dan tidak lagi berbaik hati pada mertuanya itu. Akhirnya, Shena dan Sheila memutuskan untuk membawa mamanya kembali ke Jakarta.
"Ma, jangan semakin memperburuk keadaan. Kasian Mbak Sheril dan Mas Saka." Shena lagi-lagi berusaha menasehati mamanya.
"Wanita macam apa dia, sama sekali tak bisa melahirkan anak atau seorang cucu untuk mama. Apa dia mandul?"
"Ma ... jangan bicara seperti itu. Mungkin mereka belum dikasih saja. Jangan memberikan penilaian seperti seenak hati Mama. Jika mbak Sheril dengar ucapan Mama barusan, bayangkan bagaimana perasaan dia nantinya."
"Ya bagus, memang seharusnya dia dengar. Biar dia itu sadar kalau nggak bisa memberikan keturunan untuk suaminya."
"Mama ... nggak boleh gitu. Jangan memojokkan mbak Sheril terus menerus. Ingat siapa yang merawat dan menjaga mas Saka sampai sembuh? Mbak Sheril, Ma. Apa kata-kata Mama barusan itu pantas diucapkan padanya?"
"Kamu selalu saja tak berpihak ke Mama. Mulai sekarang jangan pernah menasehati Mama lagi. Mama tahu apa yang mama lakukan."
Shena hanya menggelengkan kepala. Bahkan dalam situasi seperti ini, bukan Saka yang harusnya ditolong tapi mamanya. Dia seakan berubah menjadi orang yang tak terkendali. Semua ucapannya adalah mutlak, padahal apa yang diucapkannya itu tidak sepenuhnya benar.
***
Saat ini hanya Sheril yang menunggui Saka di rumah sakit. Dokter mengatakan bahwa Saka harus mendapatkan perawatan yang lebih baik.
"Sebaiknya Pak Saka lebih baik dibawa ke rumah sakit di Australia. Ini tidak biasa, kami takut bapak akan mengalami koma dalam waktu yang lama."
Sheril yang mendengar saran dari dokter tersebut hanya bisa mengusap pipi sang suami yang tak ada reaksi apapun. "Dokter, apakah ada cara lain untuk membangunkan suami saya?"
"Cara ini belum pernah kita coba sejauh ini, namun bisa jadi efektif. Apakah selain Anda, ada orang yang sangat dekat dengannya?"
Sheril kembali terdiam. Apa itu artinya dia harus meminta tolong pada Riana?
"Dok, apakah tidak ada cara lain?"
"Untuk saat ini, mungkin hanya cara itu yang bisa membantu mengembalikan memori Pak Saka. Atau minimal bisa membuatnya bangun dari koma. Sebab sentuhan dari orang-orang yang dia sayangi akan membantunya kembali dari ketidaksadaran dirinya."
Sheril menatap nanar ke arah Saka. Barangkali ini adalah pengorbanan yang bisa dilakukan Sheril. Meskipun dia sebenarnya tidak rela jika membiarkan Riana masuk lagi dalam kehidupan Saka.
__ADS_1
"Terimakasih, Dok. Saya akan pikir-pikir dulu."
Ketika dokter itu pun pergi, Sheril mengambil tangan Saka dan mengecupnya cukup lama.
"Mungkin ini adalah balasan atas sikapku di masa lalu, sayang. Aku pernah meninggalkan kamu di saat kita sudah merencanakan pernikahan. Pergi bersama lelaki brengsek yang hanya mengincar harta Papa. Sekarang, aku merasa hidupku menjadi tak ada artinya jika kamu terus menerus seperti ini. Di sisi lain aku ingin kamu sembuh seperti sebelumnya, namun di sisi lain aku takut jika harus kehilangan kamu. Saka, maafkan aku ..." Isak tangis Sheril terdengar lirih. Air mata yang sejak tadi dia tahan kini tumpah membasahi jemari Saka.
"Jika ini adalah penebus atas kesalahan aku di masa lalu, maka aku rela kamu mengingat semua masa lalumu. Aku tidak tahu lagi harus bagaimana, aku merasa sendirian dan tak bisa melakukan apapun."
Wajah Sheril sembab karena menangis, seluruh kesedihannya tumpah saat itu juga.
"Baiklah, jika dengan hadirnya Riana di sini kamu bisa sadar dari koma maka aku rela melakukan itu."
Sheril mencium sekali lagi jemari Saka, dia kemudian keluar dari ruangan ICU dengan sisa air mata yang masih menggantung di wajahnya.
Tujuannya saat ini adalah bagaimana membujuk Riana agar mau menjenguk Saka di rumah sakit.
***
Riana sedang membereskan beberapa pekerjaan yang terbengkalai di mejanya saat Sheril masuk ke toko perhiasannya.
"Aku mau bertemu Riana. Bisakah kamu membantuku?"
Suaranya yang sedikit serak, membuat Nadia iba. Dia tahu kalau wanita di depannya ini pasti habis menangis.
"Ibu ada di ruangannya. Tunggu sebentar di sini, akan kupanggilkan."
Sheril mengangguk, dia menunggu dengan meremas-remas jarinya. Dia sangat gugup, dia takut Riana akan menolak permintaannya.
"Bu, ditunggu Ibu Riana di ruangannya. Mari aku antar ..."
Tak lama kemudian, tibalah Sheril di depan sebuah ruangan yang didominasi warna-warna pastel. Nadia meninggalkan Sheril sendirian di depan pintu ruangan Riana.
Sheril tampak masih ragu untuk mengetuk pintu, namun akhirnya dia memberanikan diri juga.
Tok. Tok. Tok.
__ADS_1
"Masuklah ..."
Riana menutup seluruh map di depannya, menyusunnya di atas meja lalu beralih menatap Sheril yang baru saja duduk bersebrangan dengannya.
"Apa tujuan kamu ke mari?" Riana bertanya langsung ke inti. Dia memang orang yang tak suka basa-basi.
"Riana ... apakah ... aku bisa minta tolong padamu?"
Riana tak menyangka jika Sheril yang dikenalnya sebelumnya bisa selembut ini padanya.
"Apa yang bisa kubantu untukmu?"
"Saka membutuhkan kamu Riana."
Deg.
Riana sudah menduga, Sheril pasti meminta itu darinya. Tapi apa yang bisa dilakukan Riana? Mustahil bisa menyadarkan orang yang sedang koma lalu tiba-tiba bisa bangun gitu aja dan mengingat semuanya.
"Dia tidak membutuhkan aku, Sheril. Orang yang dia butuhkan saat ini adalah kamu. Kamu yang harus selalu mendampinginya, bantu dia mengembalikan memorinya. Pelan-pelan dan aku yakin kamu pasti bisa."
"Aku sudah mencobanya, Riana. Tapi tidak berhasil. Dia tetap diam, membisu, tak bergerak, aku putus asa ..."
Sheril mulai menangis di depan Riana. Wanita yang dulunya angkuh itu kini luluh di depan Riana.
"Hei, jika kamu yakin maka tidak ada yang tidak bisa Sheril. Apa iya setelah aku datang ke sana ujug-ujug Saka bisa bangun gitu? Nggak ada yang kayak gitu, Sher. Jadi, sebaiknya sekarang kamu kembali ke rumah sakit. Ajak Saka komunikasi dari hati ke hati, rangsang ingatannya agar dia bisa bangun dari tidur panjangnya."
"Kali ini aku mohon padamu, setidaknya kamu sudah menemui dia di rumah sakit. Entah dia akan sadar atau tidak, aku menyerahkan semuanya pada Tuhan."
Riana menarik napas panjang, sepertinya sia-sia juga dia berusaha meyakinkan Sheril.
"Baiklah, aku akan ke sana."
Keduanya pun pergi meninggalkan toko dan menuju rumah sakit. Riana sudah memberitahu Tefan lewat pesan, kalau Sheril datang ke toko perhiasan miliknya dan memohon padanya agar mau ikut ke rumah sakit bersamanya.
Tefan setuju, itu sebabnya Riana pun dengan hati tenang bisa berangkat ke rumah sakit bersama Sheril.
__ADS_1