
caera sungguh terhibur makan siang dengan Nixon dan Dika. ternyata Dika orangnya suka humor juga. dan Nixon menimpali membuat caera tertawa riang. melupakan gadis ular sanca dan Deva yang membuat hatinya terbakar.
"caera, nanti pulang aku antar ya?"
Nixon menatap caera dengan mesra.
"ehem.. ehemm.."
Dika berdehem menggoda caera.
caera tampak kikuk. bingung menjawab apa. sudah pasti Dira akan membawanya pulang. tapi kenapa tidak memberontak sekali-sekali? kalau Deva bisa menyakitinya, kenapa hanya pulang dengan di antar Nixon, Deva harus marah bukan?
lagi pula aku bukan siapa-siapa nya tuan Deva. Della lebih penting baginya.
"emm.. baik lah"
jawab caera setelah memikirkan beberapa saat.
"waahh aku boleh ikut tidak nih? kayaknya seru deh"
Dika mengedipkan sebelah matanya menggoda caera.
"apanya yang seru dik? cuma pulang kok"
"apa tidak sekalian nonton saja Nix?"
Dika menendang lengan Nixon.
"kalau caera mau, jangan kan nonton. melamarnya pun aku siap"
ujar Nixon percaya diri.
"uhuukk.. uhuukk.."
caera langsung terbatuk. tak percaya Nixon mengatakan itu.
"eh.. pelan-pelan Ra"
Nixon menepuk bahu caera. menenangkan caera yang masih terbatuk tersedak makanannya.
"ahaaahhaa.. itu tandanya caera siap untuk kamu lamar nix"
Dika tertawa dengan senang.
Nixon sibuk menepuk-nepuk punggung caera. Hinga mereka berdua tak menyadari tawa Dika berhenti mendadak. wajahnya kaget menatap ke arah pintu lift yang baru saja terbuka.
dari dalam lift yang baru terbuka, muncullah Deva dan Jacko yang keluar dan berhenti di depan lift. Deva masih menunduk menatap tajam tablet di tangannya . dan Jacko, mengedarkan pandangannya ke sekeliling cafetaria kantor.
dengan serempak, semua karyawan bangkit berdiri. menunduk hormat dan diam tegak sangat tegang. bos perusahaan tidak pernah datang ke kafetaria kantor sekalipun. tapi kini CEO langsung datang mengunjungi tempat makan semua karyawan.
Dika menyenggol Nixon yang belum menyadari kehadiran bos nya karena memang posisinya membelakangi arah lift.
dengan linglung, Nixon melihat sekeliling dengan heran kenapa semua orang berdiri. dan tiba matanya melihat ke arah Jacko dan Deva. dengan kaget, Nixon juga langsung berdiri. menjatuhkan tisu yang ada di tangannya untuk di beri pada caera.
caera juga menoleh kebelakangnya dan melotot melihat Deva sudah ada di sana.
astaga!! ngapain dia ke sini?!
__ADS_1
"silahkan lanjutkan makan siang kalian. tuan Deva hanya ingin makan siang di sini"
ujar Jacko menggema ke seluruh kafetaria.
dengan masih segan, semua karyawan duduk kembali. tapi mata mereka masih tertuju pada Deva. ada juga yang berkasak-kusuk riuh menanyakan mengapa Deva harus datang ke tempat yang tidak pernah dia datangi.
Deva mendongak dan mengedarkan pandangannya ke sekeliling kafetaria. lalu berhenti di satu titik, yaitu meja caera. deva menyerahkan tablet di tangannya pada Jacko. lalu memasukkan sebelah tangannya kedalam saku, dan berjalan dengan santai. Jacko mengikuti di belakangnya.
ya tuhaaann.. semoga saja dia tidak ke sini..
caera duduk memejamkan matanya berdoa. Nixon dan Dika juga hanya menunduk memandangi makanan di depan mereka. semua orang menjadi kikuk. suasana menjadi tegang. semua mata menuju ke arah Deva. mereka merasa was-was sekiranya kemana arah Deva mengambil tempat duduk.
dan suasana makin ricuh ketika Deva berhenti dan langsung duduk di samping caera. jadilah bangku panjang itu di isi tiga orang. Deva, caera, dan nixon.
dan Jacko mengikuti duduk juga di samping Dika. Dika sampai tegang dan mendelik karena Jacko duduk sebangku dengannya.
caera merasa risih Deva duduk menempel padanya. pastilah semua karyawan sudah nyinyir mencelanya.
caera agak bergeser ke samping Nixon. merenggangkan duduknya dengan Deva. dan kini jadi mepet ke tubuh Nixon. Deva menoleh, menatapnya marah. lalu menggeser lagi duduknya mepet pada caera.
caera menatap Deva dan melototkan matanya marah. tapi si tuan jahil itu malah membuang mukanya menatap ke arah Jacko dengan santai.
tak habis akal, caera bergeser lagi agak kencang ke sebelah Nixon. itu membuat Nixon tersingkir dari bangku panjang. terjengkang jatuh ke lantai dengan keras.
semua orang yang melihat itu kaget. sampai ada yang berdiri. tapi Deva dan Jacko seakan tak terpengaruh. caera sampai melotot menatap Deva. tapi Deva malah menatap balik dengan tajam.
caera sontak bangkit berdiri dan membantu Nixon bangun.
"aduh.. maafkan aku Nix. aku tidak sengaja. kamu tidak apa-apa Nix?"
caera menarik tangan Nixon membantunya bangkit.
mata Deva manatap tangan caera yang memegang lengan Nixon dengan tajam setajam silet.
"tidak apa-apa Ra"
jawab Nixon.
wajah Deva memerah padam. tapi tetap diam. caera makin jengkel melihat sikap Deva. kenapa Deva sampai berbuat itu? jahat sekali!
cepat-cepat Dika mengampil piring makanannya karena takut menghalangi Deva.
"maaf tuan.."
ujar Dika membungkuk hormat. mempersilahkan bos bos perusahaan ini memakai mejanya.
dan Nixon juga berbuat hal yang sama. mengambil piringnya dan bergerak ke belakang.
chef kafetaria bersama beberapa pelayan datang membawa menu makanan Deva. menjejerkan banyak makanan di meja.
caera juga bergerak berdiri. ingin menyingkir karena merasa tidak pantas ia ada di meja yang sama dengan Deva, seperti layaknya Dika dan Nixon. mengangkat piringnya ingin segera pindah tempat duduk.
tapi Deva menatapnya tajam. dengan dingin Deva melirik bangku di sebelahnya. mengisyaratkan caera untuk duduk lagi.
caera diam. dia sudah mulai marah dengan sikap Deva. caera tidak peduli. dia juga masih marah pada Deva. bergerak ingin pindah tempat duduk.
"duduk Ra"
__ADS_1
ujar Deva dingin. menatap mata caera dan melirik bangku sebelahnya.
caera melirik semua orang. tampak semua mata tertuju padanya. caera tidak merasa gentar dengan Deva. tapi dia memikirkan semua karyawan di sini, bagaimana mereka akan menggunjingkan Deva jika caera berontak.
"caera, duduk!"
Deva agak mengencangkan suaranya.
caera melirik Nixon dan Dika. mereka berdua hanya memandang takut. dengan setengah hati, caera duduk lagi di samping Deva.
melihat pada Jacko meminta bantuan. tetapi Jacko tidak melihatnya sedikit pun. malah asik dengan makanan di depannya.
caera diam saja. terasa kaku tubuhnya berada di cafetaria besar dengan banyak mata tertuju kearahnya, dan ada dua orang penting di samping dan depannya.
Deva mengambil makanan dengan sendoknya. lalu menyodorkan ke depan caera. caera mendelik lagi.
sudah gila apa! kenapa mau menyuapi ku di depan semua karyawaaann.. kau gila Dev!
"ayo, buka mulut mu. makan."
ujar Deva menggerak-gerakkan sendoknya agar caera membuka mulut.
hati caera mencelos. Deva sudah gila. dengan mata melirik sana sini, terpaksa caera membuka mulutnya. dan Deva menyuapkan makanan itu pada caera.
caera menunduk. ingin menangis karena mendengar kasak kusuk banyak orang membicarakan dirinya dan Deva.
"kau harus makan banyak"
ujar Deva lagi.
tak menghiraukan mulut lancang yang terdengar sumbang. menyuapi caera dengan telaten. dan menyuapkan ke mulutnya sendiri dengan sendok yang sama.
caera merasa sudah menelan makanan itu. bagaikan menelan duri tajam saja rasanya. tapi Deva sungguh tidak bergeming. dengan sikap dingin menunjukkan jika ia merasa marah.
Jacko juga hanya menikmati makanannya dengan santai. sama sekali tak melihat caera dan Deva di depannya.
Deva mengambil tisu. mengulurkan tangannya ke depan caera.
"jangan buru-buru. ini jadi kotor"
ujar Deva datar dan menghapus sudut bibir caera dengan tisu. sumpah! caera makin tegang saja. melirik ke arah Nixon di seberang mejanya. Nixon meliriknya sedikit lalu menunduk lagi.
Deva menatap Jacko. Jacko langsung menyelesaikan makannya. bergerak bangkit dan berdiri di samping Deva.
Deva meletakkan sendoknya, dan menoleh menatap caera yang juga menatapnya.
"ke ruangan ku. sekarang!"
ujar Deva dingin.
lalu bangkit berdiri, dan melangkah meninggalkan caera yang terbengonng menatap kepergian Deva dan Jacko.
lalu caera mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan. ada yang menatapnya jijik, ada yang menggunjingkannya terang-terangan. ada juga yang langsung berdecih melihatnya.
terakhir, caera melihat ke arah Nixon dan Dika.
tampak Nixon mengetatkan rahangnya. dan tak mau melihat ke arah caera lagi. dan Dika hanya terbengong memandangnya.
__ADS_1
caera menarik napas dalam dan menghempaskannya kasar. Deva sudah membuat dia di anggap ja Lang oleh semua karyawan Yang ada di kafetaria ini. pasti lah nanti gosip akan segea tersebar luas dengan berbagai persi.
dengan lemas, caera bangkit berdiri dan melangkah meninggalkan kafetaria menuju ke ruangan Deva. tangannya terkepal geram. dia akan marah pada Deva. lihat saja nanti.