DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 55


__ADS_3

caera berjalan dengan takut. Deva melangkah di belakangnya. sesampai di depan meja Dira, caera menatap Dira dengan mengerak-gerakkan mata dan mulutnya, sambil berjalan. berkata pada Dira tanpa suara.


tapi Dira hanya melihatnya sekilas. ia langsung menunduk ketika Deva sudah dekat. tak berani mendongak karena terlihat wajah Deva memancarkan aura dingin yang biasa dia tunjukkan sebelum caera bekerja di sini. sangat membuatnya gemetar.


caera ingin masuk ke ruangannya di sebelah meja kerja Dira yang ada di luar. tapi deheman Deva menghentikannya.


"ekheem"


tubuh caera menegang. berhenti tepat di depan pintu. lalu menoleh melihat Deva di belakangnya.


"mau kemana?"


tanyanya sambil menaikkan dagunya.


caera salah tingkah. berkata sambil menunjuk ruangannya.


"mau ke .. ke ruangan.. saya tuan"


"hmmm.. masuk ke ruangan saya"


ujar Deva tegas.


caera melirik Dira. tapi gadis itu malah menunduk makin dalam. caera melangkah ke depan ruang kerja Deva. cemas melanda hatinya.


membuka pintu dan masuk ke dalam. Deva mengikuti. Jacko ada di dalam berdiri tegak di sebelah meja kerja Deva. caera menatapnya seakan minta pertolongan.


Jacko hanya melirik caera sekilas sambil menaikkan sedikit bibirnya. seakan berkata..


'ini urusan mu nona.


aku tak mau menolong mu'


caera makin tak berani melihat ke sana kemari. hanya menunduk takut.


Deva duduk di meja kerjanya yang megah itu. menatap caera tak berkedip. caera melirik sedikit dan menunduk lagi. tak berani menatap mata tajam itu.


"kenapa terlambat?"


tanya Deva dingin.


"maaf tuan. saya terjebak macet"


jawab caera lemah.


"hmmm"


Deva menyandarkan punggungnya. menyatukan ke sepuluh ujung jarinya saling menempel, membentuk lengkungan di depan dadanya.


"tidak ada yang mengantar Gino?"


tanyanya lagi.


caera mendongak. heran bagaimana Deva seperti tepat menebak apa yang terjadi pagi ini.


"ada tuan. tapi dia rewel"


Deva beranjak dari kursinya dan mendekati caera. berhenti tepat di depan caera. menipiskan jarak di antara mereka. dekat sekali. wanita itu sampai gelagepan di buatnya.


melirik Jacko lagi memohon untuk menjauhkan bosnya dari depannya. Jacko bergerak. caera sedikit lega. Jacko akhirnya mau membantunya untuk menarik Deva menjauh.


tapi bukannya berniat menarik Deva dari depan caera, Jacko malah melangkah menjauhi mereka menuju ke pintu.


"eehhh..."


caera makin gelagepan di buat Jacko. bukannya membantu, malah mau pergi.


Jacko membuka pintu dan melirik caera sejenak. dia tersenyum smirk lalu keluar dari sana.


awas kau tuan Jacko. tunggu saja nanti. aku akan membalas mu

__ADS_1


caera sangat geram pada Jacko. tapi begitu melihat kedepan lagi, matanya bersirobok dengan mata coklat itu. sontak ia menunduk lagi.


"siapa dia?"


suara Deva sedingin es.


"ha? siapa tuan?"


caera tidak mengerti maksud Deva.


"laki-laki di lift"


aaaaaa....dari mana sih dia tahu?


hati caera menjerit-jerit. entah dari mana tuan sok tahu ini bisa tahu siapa yang ada di lift bersamanya tadi.


"tidak ada tuan. saya sendiri. kan tuan lihat tadi saya sendiri di...." kata-kata yang lancar tadi seketika berhenti ketika dia melihat Deva hanya diam dan menatapnya tajam. melanjutkan kata yang terputus itu dengan suara yang sangat lemah. lebih tepatnya berbisik. ".... lift"


"hmmm" Deva menggeram "siapa dia?"


"Nixon, tuan"


jawab caera pasrah.


Deva menyentuh dagunya. mendongakkan wajah caera tepat menghadap wajahnya.


"kau panggil dia apa?"


caera menggeleng. menatap manik mata Deva. menerka-nerka ada pada sebenarnya dengan lelaki aneh ini.


Deva mendekatkan wajahnya. sangat dekat sekali. sampai mata caera buram melihat wajah Deva saking dekat sekali padanya.


"sungguh?"


suara Deva terdengar berat.


"sungguh?"


ulangnya lagi.


reflek mata caera terpejam sambil mengangguk lemah karna dagunya di naikkan deva.


caera dapat merasakan napas hangat Deva menyapu wajahnya. dada caera bergemuruh. seperti ada gemuruh petir di sana. tanpa sadar tangannya mencari pegangan di lengan kekar Deva, karena kakinya sangat lemas di Landa cemas yang mendesak dadanya.


sampai akhirnya ia merasakan sesuatu yang kenyal menyentuh bibirnya. mengecup bibir basah nan manis miliknya.


tubuhnya terasa kesemutan. seperti ada lipan besar yang bergerak merayap di setiap desiran darahnya. caera membuka mata. membulatkan matanya lebar dengan pandangan buram. tampak wajah Deva yang sudah lengket saja seperti prangko yang melekat di wajahnya, dengan mata terpejam seperti sangat menikmati itu.


toooolloooooong


hati itu melolong minta pertolongan. tapi suaranya tercekat di kerongkongan. tubuhnya lemas tak bertenaga. gelenyar aneh menjalari setiap sendi di dalam tubuhnya.


kini bibir kenyal yang hangat itu membuka dan me lu mat bibirnya dengan kelembutan tiada Tara. memberi rasa basah yang lembut dan memikat. caera meremas lengan Deva lebih keras. mencari kekuatan untuk tetap tegak jangan sampai ia luruh ke lantai. lututnya gemetar.


tangan kekar itu merengkuh pinggangnya. menahan tubuh caerah agar tidak jatuh. lu ma Tan itu makin menuntut. memainkan lidahnya menuntut caera membuka mulut. mencari celah untuk masuk lebih dalam. men ji la ti barisan gigi depannya yang terkatup rapat.


entah apa yang di pikirkan caera sekarang. otaknya tak berfungsi. jebol pertahanannya untuk tetap membungkam bibirnya. caera menuruti membuka mulutnya pasrah.


lidah Deva menelusup lembut memporak-porandakan dalam mulut caera. lu ma Tan itu makin basah. menghisap lidahnya dengan lembut menerbangkan caera ke awan empuk yang melenakan.


caera tidak membalas. tapi lebih menikmati apa yang di lakukan Deva. ia lupa dengan lolongan minta tolong tadi. lupa menjaga pertahanan hati. lupa tidak ingin tersakiti lagi. caera membiarkan Deva menguasai bibirnya.


dengan lembut, Deva melepaskan ciu man panas itu. terengah menatap wajah manis caera yang terpejam seakan tidak ingin membuka mata lagi.


"aahh"


caera melenguh kehilangan bibir sexy dan hangat milik Deva. terengah meredam napas yang memburu akibat lidah nakal sang pria gagah.


membuka matanya dan menatap mata Deva tepat di depan wajahnya. pipinya kontan saja bersemburat merah menahan malu karna Deva menatapnya tersenyum.

__ADS_1


"ini hukuman mu sayang. jangan ulangi menjawab laki-laki lain" bisik Deva. "atau aku akan menghukum mu lagi"


caera menundukkan wajahnya. menyembunyikan di dada Deva. tak sanggup menahan malu dengan wajah panas dan memerah bak kepiting rebus.


caera ingin melepaskan diri dari rengkuhan tangan Deva di pinggangnya. tapi Deva malah mendekapnya erat.


caera hanya menurut pasrah. menolak pun tiada guna. dia masih di bawah pengaruh kuat sang CEO bucin.


menge cup bibir caera lagi. menye sapnya dan menarik dengan gigitan pelan. setengah mati caera menahan untuk tidak membalas lu ma Tan panas itu.


Deva seakan memancing caera untuk membuka diri dan hati. mengexpresikan rasa yang terpendam. tapi caera masih menolak itu. masih mempertahankan keteguhan hati. walaupun tidak dapat di pungkiri, hatinya bergetar dengan setiap perlakuan manis Deva.


Deva melepaskan lagi lu ma tan panasnya. terengah menahan hasrat yang membara. caera menatap mata coklat Deva yang memandangnya sendu.


Deva tersenyum dan mengusap bibir basah caera dengan jarinya. bibir itu menjadi sedikit bengkak karena perbuatannya. gemetar tangan itu menyembunyikan keinginan untuk membawa caera lebih jauh lagi. dia harus bisa menahan diri.


Deva melepaskan caera. berjalan ke arah wastafel dan membuka kran air. membiarkan air memenuhi setengah wastafel. lalu menutup kran itu.


menoleh pada caera dan melambaikan tangannya memanggil caera untuk mendekat. caera yang mematung memandangi apa yang di lakukan Deva, menurut saja. mendekati Deva berdiri di sebelahnya.


"mana ponsel mu?"


Deva meminta ponsel caera.


"eh.. untuk apa tuan?"


Deva tidak menjawab. hanya menengadahkan tangan meminta ponsel caera. dengan rasa heran, caera menyerahkan ponselnya pada Deva.


Deva membuka dan mengecek isi ponsel caera. dia menunjukkan sebuah chating yang nomornya sudah di block caera semalam.


"ini siapa lagi?"


tanya Deva.


caera memandangi layar ponselnya yang menampilkan chating yang tak pernah di balasnya.


"itu, saya tidak tahu tuan. saya sudah block nomor itu"


jawab caera jujur.


"yakin tidak tahu Ra?"


Deva meyakinkan lagi.


"iya, tuan Dev. orang iseng itu. Basi banget ngerayu begitu. coba tuan lihat, saya tidak balas"


jawab caera bersemangat. lupa kalau wajahnya tadi bersemu merah karena barusan bibirnya di serang dengan ganas oleh Deva.


wajah Deva sedikit berubah, mendengar caera bilang chatingan itu basi soal rayuan. tapi ia manggut-manggut saja.


"oohh basi ya?" katanya kembali memandangi chatingan itu. " menurut kamu siapa ini?"


"pasti orang tidak jelas itu tuan"


rahang Deva mengetat mendengar jawaban caera.


"jadi, kamu suka lihat ini? kenapa tidak di hapus?"


"iisshh.. suka apanya? itu rayuan basi. serem gitu bilang sayang sayang ai lop yu lop yu an. sapa sapa terus tiap hari. padahal kan saya gak kenal nomornya siapa itu tuan"


😞wajah Deva makin di tekuk. hatinya meradang mendengar jawaban caera. 😥wanita yang di cintainya ini bilang rayuannya basi! 😓 wanita yang di gilainya ini bilang nomor orang yang tidak jelas! 😢 wanita yang baru di kecup bibirnya ini bilang... seram bilang sayang dan i love you padanya?


😭hwaaaaaaaaaaaa


plung..!!!


pluuppp.. pluuppp...pluupp


ponsel itu kini terendam air di dalam wastafel.

__ADS_1


__ADS_2