DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 109


__ADS_3

di mobil, caera tak dapat berkata apa-apa lagi. hatinya berkecamuk. tak sanggup menatap Deva yang merengkuh tubuhnya dalam pelukan hangat. Dira duduk di samping Jacko yang sedang menyetir.


caera hanya terisak kecil di dada Deva. terharu melihat betapa besar Deva membelanya. walaupun sebenarnya kata-kata Gisel ada benarnya.


dulu, caera dan Dinda berencana memanfaatkan Deva untuk membalas Arya. tapi kenyataan yang terjadi sungguh berbeda. caera telah jatuh cinta pada Deva.


tidak berniat untuk memanfaatkannya lagi. dan pikiran itu dari awal tidak pernah terwujud. karena Deva menariknya tenggelam sedikit demi sedikit ke dalam lautan cintanya.


caera meremas tuxedo Deva. Deva hanya diam saja memeluk caera. ia tahu bagaimana perasaan caera saat ini. Deva tahu, akan banyak tekanan yang akan di hadapi caera jika memutuskan berada di sisinya. tapi dia siap membentengi ancaman apapun yang akan menerjang wanita yang menggetarkan hatinya ini.


mobil memasuki kawasan pribadi menuju rumah bukit. berhenti di depan rumah mewah itu dan Deva membawa caera masuk.


menuju kamarnya dan mendudukkan caera di sofa. Deva mengambil air putih dan memberikan pada caera.


"minum dulu sayang"


caera mendongak dengan air mata berlinang menatap Deva.


"hikss.. hiikkss.." caera hanya menggeleng dengan Isak tangis.


"hey.. kenapa kau jadi cengeng begini? hmm?" Deva duduk di sisi caera. meraih dagunya dan menatap wajah sendu wanitanya.


Linangan air mata itu tidak berhenti. hatinya sangat terharu dengan kejadian malam ini. bagaimana dendamnya terbalaskan dengan sempurna. Deva juga membalas omongan Gisel dengan kejamnya.


Deva mendekatkan wajahnya dan mengecup mata basah caera. membuat hati wanita itu makin tersayat-sayat dengan perihnya.


"jangan menangis lagi. minumlah dulu" bisik Deva.


caera menurut. menerima gelas dari tangan Deva. meneguknya sedikit. Deva mengambil gelas itu dan menaruhnya di meja.


meraih wajah caera lagi dan menatapnya dengan keteduhan sepenuh hati. menghapus air mata di pipi caera.


"mulai sekarang, jangan pernah menangis lagi"


"Dev.. maaf...kan aku" ujar caera terbata karena isakan yang tersisa.


"untuk apa?"


caera memeluk Deva. menyandarkan kepalanya di dada bidang Deva.


"kenapa kau tak mendengarkan nona Gisel? mungkin dia benar. aku memanfaatkan mu untuk Arya. hiikkss hiikkss.."


Deva tersenyum geli. memanfaatkan? apa itu tidak salah? malah Deva yang mengatur segalanya untuk caera.


"apapun Ra. aku tidak peduli. kau milik ku sekarang"


mendengar itu, caera makin mengetatkan pelukannya. tak sanggup merasakan perihnya hati.


"ayo. ganti baju dulu"


Deva menarik caera untuk berdiri. caera hanya menurut. Deva membalikkan badan caera membelakanginya. menurunkan resleting gaun caera ke bawah.


caera menoleh kebelakang. menahan gaunnya di bagian depan dadanya, agar tidak melorot jatuh ke bawa.


"Dev.. biar aku saja" caera menolak. ia tahu bagaimana jahilnya Deva.


"sssttt... jangan membantah" bisik Deva di telinga caera.


Deva menarik gaun itu pelan. melorotkan ke bawah. caera merasa berdesir. kulit punggungnya terasa dingin ketika gaunnya melorot kebawah. jatuh teronggok di lantai.


Deva membalikkan tubuh caera lagi menghadapnya. tersenyum menatap wajah cantik di depannya.


wajah caera bersemu merah menahan malu. menyilangkan kedua tangannya di dada. tak di sangka, Deva mengangkat tubuh caea di gendongannya. membopongnya ala bridal style.


otomatis caera mencari pegangan. melingkarkan tangannya di leher Deva. Deva masih tersenyum menatapnya. membawanya keranjang.


meletakkan tubuh caera pelan-pelan. begitu sudah berbaring, caera kembali menyilangkan tangannya di dada dan bagian bawahnya. walaupun itu terlihat sia-sia. tubuhnya masih terpampang jelas di depan Deva.


"haha.. kau lucu sekali sayang" Deva tertawa melihat caera mulai panik.


"jangan begitu Dev. cepat selimuti aku" pinta caera memelas.


"hmmm.. baiklah"


Deva menarik bedcover di bawah kaki caera. menyelimuti tubuh polos wanitanya. mengecup kening caera.


bergerak ke sofa lalu membuka dasi kupu-kupu nya, tuxedo dan kemejanya. terpampang lah tubuh liat berotot berkotak di bagian perut Deva.


caera mendelik gerah. menutup wajahnya dengan selimut. tidak tahan melihat tubuh liat nan menggoda milik Deva.


Deva melirik caera. lalu tersenyum lucu melihat caera menutup wajahnya. Deva membuka semua pakaiannya. mencampakkan begitu saja di sofa. hanya menyisakan penutup bagian bawah.


mendekati caera yang terbaring meringkuk. mengambil tempat di sebelah caera. menghadapi wajah yang tertutup selimut. menarik selimut itu pelan. tapi caera menahannya kuat.


"hehee.. buka sayang"


"tidak mau. kamu jahil Dev" caera menolak. menahan selimut dengan kencang.


"tidak. aku tidak jahil lagi. kita tidur. tapi jangan di tutup begini. nanti kamu tidak bisa napas" Deva masih membujuk caera.


"janji ya?" suara caera terpendam di balik selimut tebal.

__ADS_1


"iya.. aku tidak janji" usil Deva.


"tuuhh kaann.. kamu jahil Dev" caera gemas menghentakkan kakinya. makin merapatkan selimut ke wajahnya.


tak habis akal, tangan Deva merayap dari samping. menyentuh lutut caera yang meringkuk.


"aaww.. Dev! jangan usil dong!" caera blingsatan lututnya di raba Deva. jadi meluruskan lututnya tidak meringkuk lagi.


"sama saja sayang. wajah di tutup tapi aku masih bisa menyentuh ini" Deva kembali meraba lebih ke atas. menyentuh kulit perut caera.


"Dev!"


tersentak kaget caera membuka wajahnya tegang melihat Deva dengan melotot.


"hehe.. terbuka kaaaann..."


Deva menarik selimut dari leher caera. menyibakkan selimut itu lebar. membuat tubuh caera terbuka sekarang.


"Dev. kenapa sih usil begini?" caera jengkel. menyilangkan tangannya lagi.


Deva membiarkan saja. menarik selimut dan menutupi tubuh mereka berdua. tidak mencoba menarik tangan caera. hanya memeluk tubuh caera saja. mendekatkan wajahnya pada wajah caera.


"kamu cinta aku atau tidak sayang?" tanya Deva menatap mata caera lekat.


caera diam sesaat lalu mengangguk.


"kalau cinta, coba cium aku"


"iisshh.. seperti ABG saja" caera mencebik.


"aku memang ABG sayang"


"apa itu?"


"Abang ganteng" deva nyengir.


"haha.. narsis kamu"


Deva menatap caera tertawa. bahagia melihat caera sudah bisa tertawa lagi dan melupakan kejadian tadi.


"ayo tidur Dev. jangan menatap ku begitu"


caera menutup mata Deva dengan tangannya. sudah melupakan pertahanan diri bagian dadanya karena merasa aman tubuhnya sudah tertutup selimut.


Deva menarik tangan caera dari matanya. menurunkan ke bibirnya dan mengecup tangan caera.


"Dev, sudah" caera mencoba menarik tangannya dari mulut Deva. terasa geli telapak tangannya di kecup Deva.


"tuh kan, jahil lagi kamu" caera melotot.


Deva tak peduli. masih men ji Lati telapak tangan caera. dan meng ulum satu persatu jari-jari lentik caera.


caera bergidik ngeri melihat pria itu dengan semangat men ji lat dan mengulum jarinya, sambil menatap mata caera.


astaga! kenapa kau sungguh mesum begini Dev! jangan membuat ku terbakar Dev toloong..


kini ji latan Deva menjalar naik. ke bagian lengan dan siku sekarang. menge cupi dan menggi git kecil. membuat caera makin panik. kini sebelah tangan caera jadi menahan wajah Deva. lepas sudah seluruh pertahanan tangannya di bagian bawah tubuhnya.


"Dev.. hentikaann.."


caera merutuki dirinya. ingin mengeluarkan suara dengan bentakan, tapi yang terjadi malah sebaliknya. suaranya berbisik tertahan.


kecu pan Deva sudah lebih naik lagi. kini mencapai pangkal lengan caera. hampir menyentuh ketiaknya. membuat caera makin menggelinjang geli. mendorong wajah Deva agar menjauh.


mana Deva peduli. yang ada dia makin bersemangat melihat reaksi caera yang blingsatan kegelian.


lidahnya menjalar sampai ke sisi samping dada caera. membuat kening caera berkerut menahan rasa yang memberondong tak tahu diri.


caera menoleh melihat Deva. menggigit kecil bibir bawahnya dengan pandangan sayu. bergidik meremang bulu kuduknya. melihat lidah hangat yang basah itu kini men ji Lati sisi dadanya yang masih tertutup bra.


"Dev.. uuhh.. tolong hentikan"


caera menghentakkan kepalanya ke bantal. ingin menolak rasa nikmat yang menjalari seluruh bagian tubuhnya.


tapi suara caera makin membuat Deva terbakar. menghentikan ji latannya, dan menatap sayu pada caera.


"kenapa sayang? kau suka?" bisik Deva sambil pelan menaikkan bra yang menutupi dada kenyal caera.


"uuhh.. jangan Dev"


caera menahan tangan Deva. tapi terlambat. dada itu sudah menyembul keluar. menantang di depan wajah Deva. hembusan napas Deva yang memburu membuat ujung dadanya terasa di tiup angin dingin.


hap!


Deva menge mut ujungnya. memainkan lidahnya di sana.


"uuffhh" caera melenguh.


Deva menggigit kecil ujung pinky itu. membuatnya makin mengetat menantang.


"ahh.. kau indah sekali sayang"

__ADS_1


Deva meremas gundukan besar itu dengan gemetar. caera menatap mata Deva. memohon minta di hentikan kegiatan panas itu.


Deva mengernyitkan dahinya menatap mata sayu caera. napasnya memburu dengan getaran menggebu.


"jangan menolak sayang. lepaskan kali ini" bisik Deva mesra.


"tidak deevv.." caera masih menolak dengan pipi bersemburat merah jambu.


Deva tidak mendengarkan penolakan itu. tangannya menyusuri perut caera dan mengelusnya pelan. makin kebawah dan berhenti tepat di daging empuk di bawah sana yang masih tertutup da la man.


"deevv..." caera menatap Deva gusar. "jangan itu"


caera merapatkan pahanya. tak ingin Deva lebih masuk ke sana. Deva tersenyum penuh gai rah memandang caera. merenggangkan paha caera lagi agar tangannya bisa bergerak bebas.


"ya ampuunn... aku akan membunuh mu deeevv.. berhentilaaahh"


Deva tersenyum. melihat wajah memelas caera. tapi tidak menghentikan gerakan tangannya mengelus gundukan di bawah sana. menaikkan jarinya dan menelusupkan masuk ke dala man caera.


"astagaaa.. kau tidak boleh begini deeevv" caera menghentakkan kepalanya lagi ke bantal. melentingkan dadanya membusung keatas. tak kuasa menerima sentuhan Deva di bawah sana.


Deva mengernyit dan menggigit bibir bawahnya melihat reaksi caera. menatap wajah itu dengan bangga dapat membuat caera terhempas gelombang yang memabukkan.


menyentuh gundukan itu dan mengelus pelan. mencari daging kecil di be lahannya. menyentuhnya pelan dan menyentil kecil. membuat caera ngos-ngosan. bibirnya terbuka dan mata menatap Deva.


"sayaaang.. ini hangat sekali" bisik Deva lagi.


menggesek daging kecil itu pelan-pelan. makin mengetat dan menyembul ketat. caera memalingkan wajahnya. malu menatap Deva. lelaki ini telah membuatnya gila.


Deva menelusupkan satu jarinya lebih ke bawah. mengusap pelan di sana. membuat caera menjerit tertahan.


"deeeevvv... aduuuhh"


napas caera makin memburu. meremas pipi Deva dengan erat. tak kuasa menerima ulu san menggoda di dearah intinya.


Deva menuju bibir basah caera. men ji lat di sana. menelusupkan lidahnya di sela bibir yang terbuka.


"uummpphh"


tanpa sadar, caera langsung menangkap lidah itu. menyesapnya hangat. tangannya memeluk erat leher Deva.


Melu mat mesra dan tak behenti bermain di lahan basah caera. caera melepas pa gu tannya di bibir Deva. menatap mata pria itu memohon.


"deevv.. uuhh.. berhentilah.. aahh.. ku mohon"


tergagap-gagap caera bicara. memegangi tangan Deva yang menggesek di bawahnya. Deva berhenti. menatap mata caera sayu. menarik tangannya dari bawah. mengacungkan jarinya di depan caera.


"kamu basah sayang" bisiknya.


lalu menaruh jari itu ke bibirnya. terlihat jari Deva basah akibat pelu mas caera karena ulah Deva. dengan gerakan ero tis, Deva men ji lat itu. membuat caera memalingkan wajahnya malu melihat ke mesuman Deva.


menyembunyikan wajahnya di ceruk leher Deva. Deva hanya tersenyum melihat caera malu. kembali menelusup ke bawah sana.


bermain pelan dan tak tanggung lagi. membelah dan mengacungkan jarinya mulai memasuki daerah sempit nan lembab itu.


"deevvvv"


caera menjerit akibat ulah Deva. menggigit leher Deva dengan gemas. Deva tak berhenti. menghentak jarinya teratur. caera memeluk erat leher Deva. dadanya naik turun memburu kehabisan napas.


Deva me ngu Lum ujung dada caera. merasakan hangat di dadanya, caera makin melenting nik mat.


"deevaaaa..."


desa han nama Deva meluncur begitu saja. dunianya terombang ambing.


"lepaskan sayang"


bisik Deva. menatap wajah caera mesra.


"jangan malu.. panggil nama ku.. lepaskan saja"


tak berhenti memaju mundurkan jarinya. mengorek dan menghujam. caera megap-megap. mengigit pundak Deva dengan gemas.


"deevv.. akuu.. aduuhh deevaaa... "


"lepaskan sayang.. ayo... ini sungguh hangat"


Deva memacu adrenalin caera. membuat wanita itu bergetar hebat. meremas erat tangan Deva yang berpacu di bawah sana. menggigit pundak Deva keras.


"uuhhhgg.. deeeevvvaa!!"


Deva merasakan bagian inti caera berdenyut-denyut. menghentikan gerakan cepatnya. menatap wajah wanitanya yang baru menghempaskan rasa lega yang tak terkira. Deva tersenyum. tangannya merasakan hangat yang mengalir basah.


"kau sangat cantik sayang. aku mencintai mu"


caera memeluk Deva erat. mendusalkan wajahnya di leher Deva dan masih ngos-ngosan merasakan kelegaan tak terkira.


🤭🤭🤭🤭


otor batal lah hari ni 😂😂🤦🤦


panas! otor gak kuat. mandi ngerendem di bak nih 😂😂😂

__ADS_1


__ADS_2