DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 126


__ADS_3

setelah pulang dari fitting baju pengantin, Deva dan caera menghabiskan waktu di rumah bukit. sengaja menculik caera agar tidak langsung di pingit ibunya.


duduk berdua di taman samping di kelilingi taman bunga dan tumbuhan perdu. Deva menyantap buah-buahan di piring besar yang tadi di bawakan endang.


caera menatap Deva yang sedang asik memilah milih potongan buah melon. begitu Deva mendongak, ia sampai berhenti mengunyah karena baru menyadari ternyata caera menatapnya serius.


Deva menggerakkan dagunya. bertanya pada caera. caera tersenyum dan menggeleng.


"mau buah sayang?" tanya Deva. mengira caera minta di suapi.


"tidak Dev"


Deva menghentikan makannya. bergeser ke dekat caera. merengkuh wanita itu dalam peluknya.


"ada apa? ada yang mengganjal hati mu? hmm?" Deva mengecup pelipis caera.


"Dev"


"ya, cinta ku"


"kenapa kau memilih ku?"


Deva diam. meraih dagu Caera dan menghadapkan ke wajahnya.


"ada apa? kenapa bertanya begitu?"


caera membuang pandangannya. menunduk.


"Dev. aku punya banyak kekurangan. kau tidak menyesal Dev?"


"kekurangan?" Deva mengernyitkan dahi. "sepertinya, bagi ku.. kau lah yang paling bersinar diantara sekian banyak wanita"


caera tersenyum miris. ia harus berterus terang sekarang. jangan sampai rumah tangganya gagal lagi di tengah jalan. apalagi nanti bersama Deva, masih seumur jagung sudah berantakan.


"Deva. aku ingin berterus terang. aku tidak mau ada rahasia di antara kita. aku tidak mau kau meninggalkan ku di saat aku sedang cinta-cintaannya pada mu. aku tidak mau menyembunyikan..."


"sssttt... jangan cerewet. katakan saja apa kekurangan mu"


Deva menaruh jari telunjuknya di bibir caera. menyuruh caera jangan meneruskan keresahannya.


mendengar kata-kata Deva, hati caera bergetar cemas. apakah pria ini akan kecewa dan meninggalkannya? ah.. caera menepis itu. dia harus berterus terang. biarlah Deva kecewa sebelum terlanjur.


"Dev, kau tahu kan.. rumah tangga ku dengan Arya berantakan karena apa? Arya harus punya bayi untuk ibunya. tapi.. aku.. aku.. Dev.."


Deva menaikkan alisnya. menanti caera meneruskan bicaranya. hati caera terasa ketar ketir. ia meremas tangannya kuat.


"aku susah hamil Dev. aku tidak bisa memberi anak untuk pasangan ku"


caera menatap mata Deva. menantikan reaksi pria ini. tapi, sepersekian detik, Deva malah diam dan hanya tertegun menatap caera masih dengan alis yang naik ke atas.


"Dev..."


"mmmpphhhttt... haha.. hahaahaa"


tiba-tiba saja Deva tertawa tertahan. lalu tertawa kencang. itu membuat caera nelangsa setengah mati. hatinya menjerit kencang. Deva menertawainya.


"kau mengejek ku Dev.."


caera mewek. ingin menagis saja rasanya. hatinya di cubit kecil. tapi rasanya menjalar ke seluruh aliran darahnya.


melihat itu, Deva langsung menghentikan tawanya. memeluk caera menenangkan wanita itu. dia tidak bermaksud mengejek caera.


"sayang... bukan maksud ku begitu. aku tidak mengejek mu.. tenanglah. jangan menangis"


caera terisak kecil. dia sungguh kaget melihat reaksi Deva pertama kali mendengar keterus terangannya.


Deva merenggangkan pelukannya. menatap wajah sendu di depannya.


"Ra, lihat aku"

__ADS_1


caera diam. menolak menatap Deva.


"hey.. lihat aku sayang"


Deva meraih dagu Caera. menatap mata basah wanita yang sedang sensitif ini.


"Ra, kau tidak percaya pada junior ku?" Deva melirik ke bagian bawahnya sejenak. lalu menatap caera lagi. " dia adalah ular naga yang selalu meneteskan liur Ra. liurnya tajam dan akan membasahi mu setiap waktu. kau percaya kan?"


astaga si mesum ini!! kenapa jadi bilang tentang ular naganya??


caera menepis tangan Deva dari dagunya. agak sedikit kesal kenapa Deva tidak mengerti.


"Dev, masalahnya bukan di situ. tapi di sini"


caera menunjuk perutnya. meremas baju di bagian perutnya.


"ah sayang... sudah jangan di pikirkan. kita punya Gino bukan?"


"aku tahu. tapi dari keluarga mu? kau harus punya anak untuk keluarga mu. ibu pasti akan kecewa jika tahu aku tidak bisa hamil"


"kau meragukan ibu?"


caera mengangguk. Deva tersenyum.


"baiklah. agar kau tidak lagi memikirkan itu, nanti kita bicara pada ibu"


"baik lah"


****


segera Deva dan caera meluncur ke mansion. Deva segera ingin menyelesaikan kegundahan caera. dia banyak tersenyum melihat kepolosan wanitanya. tapi ia ingin caera merasa lega benar-benar dari dalam hatinya sendiri. bukan karena Deva menenangkannya.


berdiri di depan pintu kamar ibunya. menatap caera dengan lembut.


"kau siap sayang?"


"baiklah. bicara lah pada ibu. aku menanti mu di bawah. katakan pada ku jika ibu marah atau menolak mu. oke?"


caera mengangguk lagi. Deva beranjak turun ke lantai bawah. menunggu caera menyelesaikan kegundahannya.


caera memantapkan hati. mengetuk pintu kamar Soraya. dari dalam, Soraya mempersilahkan caera masuk.


caera membuka pintu, dan terlihat Soraya di depan cermin menyisir rambutnya. melirik caera dari pantulan cermin.


"masuk lah sayang"


caera melangkah masuk. menghadap calon ibu mertuanya.


"ada apa Ra? masih ada yang kurang untuk acara pernikahannya?" tanya Soraya menatap caera.


"ibu, ada yang ingin caera bicarakan" jawab caera bergetar.


soraya menautkan alisnya. merasa heran dengan sikap caera. berdiri dari duduknya, dan meraih tangan caera mengajaknya duduk di sofa.


"ada apa sayang? kelihatannya penting"


caera menarik napasnya dalam, dan menghempaskannya perlahan. dadanya bergemuruh cemas. apalah yang akan di katakan ibunya Deva setelah mendengar ini.


"ibu, sebenarnya... "


"hmm?" Soraya siap mendengarkan.


"aku.. caera.. sebenarnya.. su..sah.. eh maksudnya.. caera susah mengandung Bu"


setelah mengatakan itu, caera memejamkan matanya erat. menundukkan kepalanya. siap mendengar apa saja yang akan di katakan soraya dalam kemarahan.


"lalu, kenapa?"


mendengar itu, caera cepat mendongak. menatap mata coklat itu dengan heran.

__ADS_1


"ibu tidak kecewa? marah? caera susah hamil Bu. caera tidak bisa memberi Deva keturunan dari rahim ini" caera meremas perutnya dengan cemas.


Soraya tersenyum hangat. menatap caera penuh keteduhan.


astaga!! senyum itu!! kenapa tidak marah?? kecewa lah begitu! atau melotot kaget buuu!! kenapa hanya senyum indah itu Bu???


"lalu kenapa Ra? masih susah kan? belum mandul"


SEEEERRRRRR....


bagai air es menyiram api yang berkobar. kecemasan itu hilang total. berganti rasa haru yang menghujam.


"jika kamu pilihan Tuhan untuk Deva, lalu bagaimana ibu bisa menolaknya?"


aaaaaa.... ibu!!! kenapa kau baik sekali Bu???? Deva beruntung memiliki ibu seperti mu!! seandainya Maya dulu bersikap begini...!!!


hati caera menjerit haru. tak percaya Soraya akan mengatakan itu. hatinya berkecamuk menatap wanita bijaksana di depannya ini.


"lagipula, ibu sudah punya banyak cucu bukan? juga ada Gino anak Deva kan? kenapa mencemaskan susah punya anak Ra?"


"ibu.."


hanya itu yang bisa terucap dari bibir caera. air matanya luruh tanpa bisa di bendung.


"masih ada tuhan, nak. kita minta padanya. bagi ibu, Deva bisa kembali normal seperti dulu, itu sudah anugrah terbesar buat ibu, Ra. itu semua karena Deva bertemu dengan mu. kau lah hidup barunya. Deva bisa tersenyum lagi. bisa bercanda lagi. bisa menyayangi ibu lagi. itu sudah hal terindah yang kau persembahkan buat ku Ra"


"ibu.. maafkan Rara" caera tersengguk.


"maaf untuk apa sayang? jangan begitu. jika kau tidak bisa punya anak sekalipun, aku akan menganggap mu seperti putri ku sendiri. kau membawa bahagia dalam rumah ini, Ra"


Soraya memeluk caera. mengelus kepalanya dengan sayang.


"kau belum mengenal Deva seutuhnya. nanti pasti Deva akan mengatakan semuanya pada mu. kau belum tahu bagaimana kelamnya hidup Deva sebelum bertemu dengan mu. jangankan bercanda seperti yang kau lihat sekarang, tersenyum pun dia susah. hidupnya di renggut paksa. kau lah yang membuat dia kembali"


Soraya merenggangkan pelukannya. menatap mata basah caera.


"ibu hanya meminta, jangan pernah tinggalkan putra ku. kaulah hidupnya. jangan buat dia seperti dulu. i love you caera. thank you of your love for my son"


caera semakin terharu. memeluk Soraya dengan erat. Soraya pun memeluknya dengan sayang.


"sudah jangan menangis lagi. ini hari bahagia bagi mu"


Soraya menghapus air mata caera. lalu beranjak ke pintu. membukanya dan terlihatlah Deva yang mondar-mandir di depan kamar ibunya.


"ibu.."


"apa?"


"caera.."


"waktu mu tinggal satu jam lagi Dev. setelah itu kau tidak boleh menyentuhnya lagi"


Soraya beranjak pergi. Deva mendelik mendengar ultimatum itu. melongok ke dalam kamar, melihat caera yang masih tersengguk haru.


melihat itu, Deva panik. berlari menghampiri caera.


"sayang.. kenapa? ibu marah pada mu? katakan Ra!"


Deva mengguncang bahu caera.


"hwaaaaaaaaa... kenapa ibu baik sekali Dev!! aku mencintai nyaaaa... hwaaaaa"


caera menangis sejadi-jadinya.


uuffffhhh...


"wanita... selalu susah di tebak. menangis tapi masih bisa memuji"


gumam Deva lemas

__ADS_1


__ADS_2