
Dira dan Dika sontak menoleh ke arah pintu. tampak Richard melihat mereka berdua dengan marah. wajah Richard merah padam melihat pemandangan di depannya.
bukannya takut, Dira malah melengos membuang muka begitu melihat Richard. ia melepaskan cengkeramannya pada Dika dengan kencang. membuat Dika terhempas Kedinding sekali lagi.
Richard melirik apa yang ada di tangan Dika. ia melihat cincin yang kotaknya masih terbuka. kemurkaan makin nyata di wajahnya. membuat Dika mengkeret takut.
Dika semakin gemetar takut ketika melihat Jacko muncul di belakang Richard. dengan kaku dan dingin seperti biasa, menatap Dika tajam, dan melirik kotak kecil di tangan Dika.
Dira menunduk hormat ketika Jacko datang. Jacko hanya meliriknya sekilas.
"apa yang terjadi?" tanya Jacko dingin.
"saya menemukan dia menyusup tuan" jawab dira tegas.
Jacko menatap Dika tajam. membuat Dika gemetar semakin takut. wajahnya pucat pasi.
"bawa dia Dira"
setelah mengatakan itu, Jacko langsung berbalik. meninggalkan mereka bertiga yang masih saling menatap. yang satu cuek, yang satu lagi marah. sedangkan Dika, sesak napas saking takutnya. tamatlah riwayatnya.
Dira bergerak mendekati Dika. lalu mendorongnya untuk berjalan keluar toilet. melewati Richard yang masih berdiri memperhatikan dengan tajam.
begitu Dika sudah keluar melewati pintu toilet, Richard menarik tangan Dira. membuat gadis itu tertarik balik ke belakang. Richard menyeretnya ke dinding.
Mencengkram pipi dira kencang, membuat bibir Dira maju kedepan seperti mulut ikan.
"kau menciumnya tadi?" tanya Richard menggeram marah.
Dira diam saja. membuat Richard makin gelisah geram.
"kenapa dia membawa cincin?" tanya Richad lagi, menekan intonasi suaranya.
Dira menepis tangan kekar Richard dari wajahnya. tangan itu terlepas. Dira menatap Richard tajam.
"apa peduli mu? urus saja diri mu!" sentak Dira.
wajah marah itu makin menjadi. sangat geram melihat Dira masih saja kasar padanya. Richard maju memepet Dira ke dinding. membuat Dira terpojok.
tanpa di sangka Dira, dengan kasar Richard menangkap bibir Dira dengan bibirnya. me lu mat bibir Dira berangasan. memaksa masuk ke dalam mulut Dira.
Dira mendelik gusar. mendorong dada Richard kencang. tapi pria itu masih kokoh di depannya. tak habis akal, Dira menendang se Lang kangan Richard dengan keras. membuat Richard sontak melepaskan ciumannya.
"aaaawwwhhhh.. pesawat jet kuuuuu.. uukkhhh"
membungkuk dengan wajah merah padam menahan sakit. lalu ambruk ke lantai memegangi juniornya yang di tendang Dira.
"Dira, jadi tidak kita menemui tuan Jacko?"kepala Dika muncul di sisi pintu.
Dira menoleh ke pintu.
aaaiisshh.. lugu atau bodoh sih dia? bukannya lari karena ada kesempatan, malah balik lagi.
Dika tercengang begitu melihat Richard roboh di lantai dan meringis kesakitan.
"eh... kenapa tuan Richard, Dira? sakit perut?" tanya Dika bingung.
Dira bergerak cepat.
"diam kau!" sentak Dira pada Dika.
menarik dasi Dika seperti menarik tali kerbau. dan Dika terhentak kedepan mengikuti langkah Dira.
mereka sampai ke ruangan paling pojok. tidak ada pintu. tapi Dira memencet tombol di bawah meja kecil yang menempel ke dinding.
dinding bergeser dengan pelan. Dika sampai bengong melihat itu. ternyata ada ruang rahasia di dinding ini.
__ADS_1
Dira menyeretnya lagi. menendang Dika untuk masuk ke ruangan itu. terhuyung Dika masuk. berdiri tegak tercengan melihat keadaan ruang rahasia ini.
banyak rak berisi bermacam obat dan kotak-kotak yang Dika tidak tahu apa isinya. lalu banyak senjata Laras panjang berderet di sepanjang dinding ruangan.
dan yang membuat Dika gemetar, banyak peralatan seperti pisau bedah untuk operasi. Dika menelan salivanya kasar. keringat mulai menyembul keluar. entah apalah yang akan terjadi padanya nanti. pasti dia akan di bunuh.
"duduk"
Dira menendang Dika untuk duduk di kursi. terhuyung Dika menuruti duduk di kursi kayu itu. mulai terengah ketakutan menatap Dira dan Jacko.
mampus!! aku salah mencintai gadis pembunuh!! sesal Dika dalam hati.
Jacko mendekat. berdiri tegak di depannya dengan kedua tangan di sakunya.
"siapa yang menyuruh mu?" tanya Jacko dingin.
"me.. mee.. nyuruh.. aap.. paa.. tuan?" Dika tergagap menjawab.
"kau masih belum mau mengaku?"
"sa..yaa.. datang sendiri tu.. tuan Jack"
Dika menelan salivanya kasar. takut melihat wajah datar Jacko yang menurutnya menyeramkan.
"Dira. ikat dia"
ujar Jacko menyuruh Dira mengikat Dika. melihat Dira bergerak mengambil tali untuk mengikatnya, Dika panik setengah mati. mendelik gusar menggerakkan tangannya menolak untuk di ikat.
"jangan! jangan tuan Jack. tolong jangan" Dika berlutut di depan Jacko gemetaran.
dinding pintu terbuka lagi. tampak Richard muncul masih meringis kesakitan dengan langkah terseok. masuk dan melirik ke arah Dira dengan sebal.
Dika sudah tidak mau memperhatikan yang lain lagi. dia hanya ingin menyelamatkan nyawanya saat ini.
"APAA??!!!"
Teriak Richard begitu mendengar omongan Dika. rasa sakit di juniornya lenyap mendengar itu.
semua orang menoleh pada Richard. Dira menatapnya jijik. dan Jacko menatap Richard dengan pandangan aneh. sementara Dika tak peduli mimik wajah marah Richard.
"aku akan membunuh mu!"
Richard bergerak ingin menghajar Dika. tapi Jacko menghalangi. terpaksa Richard mundur lagi.
"kenapa kau ingin melamarnya?" tanya Jacko lagi.
"selama ini saya mencintai Dira, tuan. tapi saya tidak berani. karena Dira selalu menolak saya"
Dika berhenti sejenak. menelan salivanya lagi karena gugup dan takut.
"Jadi, begitu mendengar Dira di berhentikan bekerja, saya pikir akan sulit menemuinya. saya tidak tahu alamat dan nomor ponsel Dira, tuan. saya tidak mau terlambat menyatakan cinta. jadi saya berniat melamarnya saja. makanya saya datang ke sini tuan"
Dika menjelaskan panjang lebar. mendengar penjelasan Dika, Jacko langsung melirik Richard. pria itu tampak tertegun menatap Dika.
"aku tahu waktu itu kau datang ke lantai ini dengan mengendap-endap. apa rencana mu?" tanya Jacko lagi.
Dika mendongak. menatap Jacko nanar. menggerakkan tangannya menolak apa yang di katakan Jacko.
"tidak tuan. saya tidak ada rencana apa-apa. waktu itu saya melihat pagi-pagi sekali, seseorang masuk ke lantai ini. membawa barang. yang pertama kotak, dan yang ke dua buket bunga. jadi, saya ingin memastikan untuk siapa sebenarnya bunga itu. saya takut Dira punya kekasih"
Dika menunduk. menangis lagi. dia sangat ketakutan nyawanya akan melayang saat ini juga.
"siapa yang kau lihat?" tanya Jacko tajam. menatap mata Dika dengan teliti.
"tolong tuan.. saya tidak mau mengatakannya. nanti mereka bilang saya ini pengadu"
__ADS_1
Dika menautkan kedua tangannya memohon pada Jacko. air mata berlinang dan ingus meleleh sudah tak di pedulikan Dika. yang penting Jacko percaya padanya.
"katakan" ujar Jacko dingin.
Dika masih diam. tak mau menjawab Jacko.
"Dira, potong jarinya" ujar Jacko.
Dika melotot mendengar perintah Jacko pada Dira. terengah ketakutan. tapi dia juga tak mau bilang siapa orang yang membawa buket bunga ke lantai ruangan Deva.
"Nixon, tuan! Nixon orangnya" seru Dika kencang sambil menangis meraung. sangat ketakutan jarinya akan di potong.
Jacko mendekat pada Dika yang berlutut dan menunduk sambil menagis. menatap pemuda yang terlihat shock dengan wajah pucat pasi itu.
"kenapa kau takut menyebutkan namanya? aku sudah memecatnya. dia tidak ada di sini"
Dika mendongak menatap Jacko yang berdiri tegak menjulang di depannya.
"saya takut anda akan menangkapnya dan akan mengatakan saya lah yang membocorkan ini. lalu dia akan mengincar saya tuan"
astaga!! kau polos sekali dikaaaa!!!
Dira merutuki dan memaki Dika di dalam hati. pemuda culun seperti itu yang ingin melamarnya? aahh.. mati lah dia.
sementara Richard jadi terkikik geli melihat keluguan Dika. pemuda culun yang ingin melamar Dira.
Jacko menarik Dika berdiri. Dika menurut masih terisak sedih.
"kau pemuda yang baik" ujar Jacko seraya mengebas debu di pundak Dika. "tapi, baik saja tidak cukup untuk menjadi pasangan Dira. dia menolak mu. dia sudah punya tunangan"
Dika hanya mengangguk-anggukkan kepalanya lemah sambil tertunduk dalam.
"aku melepas mu. setelah ini, aku ingin melihat kinerja mu lebih baik kedepannya. masalah ini, jangan sampai kau mengatakan pada orang lain. lantai ini, terlarang untuk orang yang tidak berkepentingan. jadi, rahasiakan lah"
Dika cepat-cepat mengangguk menyetujui.
"ingat. kalau sampai kau membuka mulut, aku tidak segan menyuruh Dira menghilangkan nyawa mu tanpa ada orang yang menyadari itu"
Dika mengangguk lagi.
"pergi lah"
"terima kasih tuan"
Dika cepat-cepat bergerak ingin pergi keluar. tapi dia tidak tahu bagaimana caranya membuka pintu. menoleh kebelakang lagi melihat pada Dira.
"Dira, aku sudah tidak mencintai mu. sungguh! jadi, tolong bukakan pintu ini untuk ku" ujar Dika memohon.
😧 Dira dan Richard terbengong mendengar itu. sumpah!! Dika sangat ketakutan sekali. dan itu membuat Richard terpingkal.
Dira memencet tombol di samping rak. dan dinding terbuka. tampak raut lega di wajah Dika. tergesa keluar ruangan dan setelahnya berlari menjauh.
"wahahaaaaahaa... sangat bodoh sekali dia" Richard terpingkal-pingkal menertawai Dika.
Dira melihat geram kearah Richard. dan Jacko hanya diam saja. melirik Richard sejenak lalu berkata.
"dia bodoh, tapi dia pemberani melamar orang yang di cintainya. dan itu gantle sekali. tidak seperti mu.. pengecut!"
jleb!!!
Richard langsung terdiam. wajah sinis langsung terpampang jelas melihat kearah Jacko.
mampus kau!!
Dira mencebik melirik Richard
__ADS_1