
malam ini udara dingin sangat menggigit. caera menatap langit gelap di kejauhan, tanpa bulan yang menemani bintang berkedip memberi sedikit harapan, bahwa langit menjanjikan awan tak menurunkan hujan.
membuka jendela kamarnya agar mendapat angin segar yang bertiup menghempaskan kegundahan rasa nestapa.
"jahat sekali kau"
ujar caera bicara sendiri menatap langit. seakan wajah Deva ada di sana.
"kau tidak menanyai ku, tidak mencari ku, bahkan chatingan mu pun hilang entah ke mana" memukul pinggiran jendela kamar. "pastilah kau sibuk memeluk kekasih mu itu!"
lirih ucapannya. entah apa kini perasaannya. benci, tapi rindu. ingin marah, tapi entah pada siapa. ingin berontak melepaskan diri, tapi rasanya ia makin terjerat.
dua hari sejak kejadian di pemakaman, caera tidak masuk kerja. ia malas bertemu Deva. tapi bahkan sampai kini Deva tidak ada mencarinya. tidak memberi kabar seperti biasa, mengusiknya di aplikasi pesan. hanya Dira yang bertanya kenapa tidak datang ke kantor.
ingin rasanya marah dan menendang tulang kering Deva yang sudah mempermainkan perasaannya. baru saja memeluknya mesra, eeehh sudah main peluk-peluk Gisel juga. main kecup-kecup kepala dengan sayang lagi!
(sampai reader ada yang meradang dan kelojotan🤭). otak otor sinting.
caera geram. ia mau risign saja lah kalau begini. tiap hari di usili, sampai bibirnya jadi sasaran ke usilan Deva. tapi apa? itu cuma modus!
caera beranjak dari jendela. membuka laci di nakas dekat ranjang. mengambil amplop coklat yang di serahkan Jacko waktu hari pertama ia kerja.
menuang isi amplop coklat itu. remot mobil, kunci rumah, dan dua kartu. debit dan kredit. selama ini, caera tidak pernah menggunakan itu semua. dan anehnya, Deva dan Jacko tidak pernah bertanya, kenapa tidak menggunakan fasilitas kantor yang sudah menjadi haknya.
ia pegang remot mobil. menimbang-nimbang di tangannya.
"ah.. tidak penting"
caera menghempaskan itu ke ranjang. kini mencomot kunci rumah. menimbang-nimbangnya juga.
"ah apa ini? aku tidak butuh rumah"
menghempaskannya juga di ranjang. kini ia memegang black card. berpikir untuk apalah ia menggunakan kartu itu.
"hey.. hey.. saya mau shopping. kosongkan toko ini"
ujarnya sambil menirukan menunjuk-nunjuk karyawan toko untuk mengosongkan tokonya, karena caera punya black card dan bisa shopping tanpa merasa terganggu dengan orang lain.
"hihihi..."
caera terkikik lucu. geli sendiri dia membayangkan jadi milyarder yang sok lebay akut.
lalu menaruh black card itu ke ranjang. kini ia memegang kartu debit platinum itu. inilah punca masalah. kalau dia di anggap tak becus dalam bekerja, harus membayar sesuai nominal di dalam kartu itu.
caera mengecek ponselnya yang sudah di ganti Deva. semua sudah lengkap di sana. caera mencoba mengecek saldonya. berapa kira-kira harga yang harus di bayar jika dia berhenti kerja.
"apa??!? gila kau Dev!!!"
tanpa sadar, caera membuang kartu debit itu ke lantai. terperanjat melihat nominal di dalamnya. depannya hanya angka lima belas. tapi di belakangnya angka nol berjejer tanpa lelah.
"uuuhhhff"
lunglai tubuhnya. terhempas ke tempat tidur. Deva benar-benar menjeratnya dengan kontrak itu. pupus sudah rencana risign, kalau harus membayar nominal yang tak masuk akal itu.
"gaji apa itu tuan devaaa...kenapa banyak sekaliiii? kau brengsek!"
caera sangat geram dengan Deva. entah apa maunya lelaki yang satu itu. memberinya segala kemewahan dan gaji yang fantastis. alasan saja kalau itu adalah fasilitas dari perusahaan.
caera menekuk wajahnya cemberut. tak bisa lagi ia malas masuk kerja. ia akan kena sangsi membayar.
kliiing.. kliiing.. kliing...
ponselnya berdering. caera melihatnya malas. sudah gundah hatinya memikirkan tak bisa lari dari Deva.
PRIA YANG MENCINTAI MU
muncul di layar ponselnya. caera kaget ternyata orang yang baru di maki kini menghubunginya via video call.
pucuk di cinta ulam pun kawin lari!!
caera bimbang mau menerima atau menolak panggilan Deva. kalau di terima, harga dirinya terkoyak. kalau tidak di terima, bayangan surat kontrak berseliweran di matanya.
__ADS_1
cukup lama panggilan itu menari-nari minta di jawab. tapi caera masih mendiamkan saja. terlalu banyak pertimbangan sampai akhirnya panggilan Deva berhenti.
ada rasa bahagia yang menguap begitu layar ponsel itu mati. caera menggenggam ponselnya dengan gemas. menelungkupkan tubuhnya dan membenamkan wajahnya ke tempat tidur.
mengeluh berkali-kali menyesal kenapa tak mengangkat panggilan video dari Deva tadi.
kliing.. kliing.. kliing..
ponselnya berdering lagi. cepat-cepat caera mengecek.
PRIA YANG MENCINTAI MU
belum lewat beberapa detik, caera langsung menerima panggilan video call itu tanpa sadar dan tanpa banyak pertimbangan lagi.
wajah Deva muncul di layar. tersenyum menggoda menatapnya. caera sampai blingsatan setengah mati.
"kau rindu pada ku kan?"
tanya Deva langsung tanpa Tedeng aling-aling.
"iisshh.. apaan sih tuan Dev?"
wajah caera panas. semburat merah langsung memenuhi pipinya.
"haha.." Deva tergelak melihat caera salah tingkah. "sayang, kau manis sekali dengan pipi merah mu"
"jangan asal deh. saya tutup ini teleponnya"
ancam caera jengah.
"haha"
Deva tertawa lagi.
wajah itu terlihat sangat mempesona. caera rindu itu. sudah dua hari dia tidak menjumpai wajah tampan itu. kini terpampang jelas di layar ponselnya. menggodanya lagi.
"kamu sedang apa?"
jawab caera.
"tidak jadi risign?"
deg!
ya ampun!! bagaimana sih tuan sok tahu ini bisa menebak dengan tepat??
"tadinya iya"
caera menunjukkan wajah masam.
"haha"
kembali Deva tertawa menunjukkan barisan gigi putihnya.
Deva terlihat membaringkan tubuhnya ke ranjang. masih menatap sayang pada caera di layar ponselnya.
"kenapa tidak masuk kerja?"
"maaf tuan Deva. saya agak tidak enak badan. jadi saya permisi tidak masuk kerja"
Deva tersenyum. caera sangat sebal sekali melihat senyum itu. senyum Deva seperti menguliti kedalam jantungnya. Deva tahu ia berbohong.
"sakitnya di sini? atau di sini?"
Deva menunjuk pelipisnya, lalu menunjuk dadanya sebelah kiri.
astaga!! kau memang benar-benar berengsek Dev!! bahagia sekali kau menggoda ku!!
"tidak enak badan tuan Dev. kenapa tidak percaya sih?"
caera tampak kesal Deva terus saja menggodanya.
__ADS_1
"ha haa haa.."
tergelak melihat caera cemberut.
"sayang"
panggil Deva
caera diam saja tidak menyahut.
"sayang"
panggilnya lagi.
caera memutar bola matanya malas. membuang pandangannya ke arah lain. tak ingin menatap Deva di layar ponselnya.
"Ra"
caera menoleh.
"hmmm"
"caera"
"ya tuan"
"sayang"
"ya"
"hahaaa"
caera membelalakkan matanya lebar. terjebak menjawab panggilan sayang dari Deva. ingin rasanya melempar ponsel di tangannya. jail sekali tuan sok tahu ini.
"i love you"
caera diam.
"love you so much"
membuang pandangannya lagi.
"ayo kita menikah"
secepat kilat caera menoleh menatap layar ponsel. ada gelenyar aneh menyusup di jantungnya.
"apa sih tuan Dev. aneh-aneh saja"
"hahaha"
Deva sangat senang malam ini. ia tahu caera hanya cemburu kemarin. tapi ia sudah merasakan rindu pada Deva. hmmm rencananya berhasil.
"sayang, besok harus datang"
"iya tuan. saya datang"
"jangan lupa ya"
"apa?"
"senyum dan cintanya di bawa"
"iiihhh... semalat malam"
caera gemas. langsung mengakhiri panggilan video Deva. tak tahan mendengar gombalan Deva. pipinya sudah merah terasa panas seperti ada bara yang menempel lekat disana.
caera menghempaskan tubuhnya telentang di ranjang. mengingat-ingat semua perkataan Deva tadi.
hatinya terasa tergelitik mengingat Deva masih peduli padanya. caera tadi berpikir Deva hanya sibuk mengurusi Gisel. tapi tidak. dia masih mau menggodanya dengan tawa lepas dan mata itu, mata itu memandangnya rindu.
caera memejamkan matanya. membawa semua percakapan tadi ke dalam alam bawah sadarnya. malam ini, caera terpejam dengan bibir mengukir senyum.
__ADS_1