
"aku mencintai mu"
caera tersentak. seperti di sadarkan oleh rasa sakit yang menyentak jantungnya. Deva masih menempelkan bibirnya di telinga caera. menunggu jawaban cinta yang akan di ucapakan caera.
caera masih diam. tak mampu menjawab kata cinta Deva. rasa sakit yang pernah singgah di hatinya, seperti menari-nari di pelupuk matanya.
dapatkah ia merasakan cinta lagi dengan utuh?
tidak tercampakkan lagi? Deva belum tahu dengan benar siapa dirinya. Deva belum tahu kalau dia telah di vonis susah mengandung. Deva perlu meneruskan hidup dengan keturunan. dan ia merasa tidak sempurna untuk itu.
Deva melepaskan pelukannya. merasa tak ada jawaban dari caera. Deva menatap wajah tegang itu dengan penuh pengertian.
menyentuh wajah cantik itu lagi dengan hangat. tersenyum manis dengan penuh rasa cinta.
"tidak apa-apa. tidak usah di jawab sekarang"
ujarnya sambil mengusap-usap wajah lembut yang terlihat resah itu.
"aku tahu, sulit mengubah hati. tapi tetap lah begini untuk sekarang. jangan jauh dari ku"
caera hanya diam menatap manik mata Deva lekat-lekat. mencari kebohongan di sana. ingin menemukan rasa marah karena tidak mendapat jawaban sesuai keinginannya. tapi ia tidak menemukan itu.
mata itu memberikan keteduhan. mata itu memberikan pengertian akan rasa sakit. deva memberinya waktu.
Deva mengulum senyumnya. mengerti betapa resah wanita yang pernah tersakiti ini. ingin berlari mengatakan kalau dia takut akan rasa sakit lagi.
"jangan takut Ra"
deva menggengam tangan caera.
" cinta itu tetap di sini"
Deva menunjuk dada sebelah kirinya. tepat di jantungnya.
"aku mencintai mu dari sini"
menusuk-nusukkan jarinya di dadanya.
tersenyum lagi. mengusap pipi caera yang kini telah berubah sedikit pias. tak tahu harus berkata apa. takjub melihat kesabaran Deva menanti jawabannya.
Deva menunduk. menge cup bibir caera mesra. caera memejamkan matanya lagi. merasakan kelembutan Deva. tapi pikirannya bergentayangan mencoba mengumpulkan keberanian menerima cinta yang datang.
Deva me lu mat bibir caera lembut. seakan menyalurkan warna pada hati caera yang masih berselimut kelabu. ingin membuka lebar jalan menuju bahagia.
caera terenyuh. meresapi kelembutan Deva menanti cintanya. terharu dengan kesabaran Deva yang tidak memaksanya di bawah tekanan kekuasaan.
matanya memanas. mengalirkan air bening mengharu biru. hatinya belum siap membuka lebar jalan itu. sisa rasa takut masih menggayuti jiwanya.
Deva melepaskan pa gu tannya. melihat wajah sendu yang telah basah oleh air mata. mengernyitkan dahi merasakan ada rasa perih menyusup di hatinya. wanita ini masih belum menerimanya dengan sempurna.
"sayang, maafkan aku. aku tidak akan berkata itu lagi"
Deva mengusap pipi basah caera. takut jika wanita yang di cintainya ini terluka karena sikapnya.
caera membuka matanya perlahan. menatap mata Deva yang penuh kekhawatiran menatapnya. tak tahan dengan sikap Deva yang penuh pengertian padanya.
huuuppmm
caera memeluk Deva erat. melingkarkan tangannya di leher Deva seakan meminta pria ini untuk tetap mengerti hatinya. mendekap tubuh tegap itu dengan rasa membuncah. mendusalkan wajahnya di antara lengannya dan leher Deva. tak tahu harus bersikap bagaimana pada lelaki dengan kesabaran tingkat dewa ini.
"Dev..." bisik caera terisak. "sabar lah menunggu ku"
Deva tersenyum. membalas pelukan itu dengan sayang. mengusap kepala caera lembut.
"aku akan sabar menunggu"
__ADS_1
jawab Deva berbisik di telinga caera. dan mengecup kepala caera berkali-kali.
caera makin mengetatkan pelukannya. terisak lirih menyembunyikan wajahnya di dada Deva.
"bantu aku menyembuhkan luka ini Dev"
"ya sayang. aku bersama mu"
Meraka berdua sama-sama diam. menikmati kesyahduan rasa saling pengertian. mengharu biru karena sulit menyembuhkan hati yang terlanjur pernah tersakiti. Deva sangat tahu rasa itu.
****
Deva menyerahkan rapat hari ini pada Jacko. tak ingin menyia-nyiakan waktu bisa dekat dengan caera. wanita ini sulit menyerah seperti sekarang ini. selalu menjaga jarak dengannya.
kini, caera sudah lebih melunak. lebih membiarkan Deva untuk melaju sedikit demi sedikit ke dalam hatinya.
duduk berdua di sofa. Deva menyandarkan kepalanya di bahu caera. memainkan jari jari tangan caera.
"kenapa tidak menerima rumah dan mobil itu sayang?
tanya Deva.
"rumah? mobil? yang mana?"
caera mengernyitkan dahi.
"yang di beri Jacko"
caera berpikir sejenak. ia lupa rumah dan mobil fasilitas dari perusahaan.
"ohh.. itu" caera ingat sekarang "aku tidak mau. itu bukan milik ku"
Deva bangkit. menatap caera di sampingnya.
"aku punya rumah tuan Dev. itu sudah cukup"
"hmmmm" Deva merengut. "kalau begitu mobil itu. kasihan dia sudah di parkiran hampir dua bulan tidak di sentuh"
caera menoleh menatap Deva. itu artinya, mobil itu sudah di sediakan untuknya.
"aku punya mobil kan tuan Deva. itu juga sudah cukup"
jawabnya lagi.
"hmmm"
Deva menyandarkan punggungnya. menarik caera ke dalam pelukannya.
"apa yang bisa ku berikan pada mu?"
"sabar"
"hanya itu?"
"ya"
"tidak ada yang lain?"
"tidak tuan Dev"
"aku bisa memberi mu segalanya"
"apa?"
"segalanya. semua yang kau inginkan"
__ADS_1
caera tersenyum. siapa yang tidak mau kemewahan yang di miliki Deva? semua wanita akan siap menerima itu.
"aku hanya tidak ingin di campakkan tuan Dev"
kini Deva yang tersenyum. melirik caera di dadanya.
"karena itu aku mencintai mu"
"kau sangat gombal sekali tuan Dev"
"aku?" Deva memiringkan wajahnya. melirik caera lagi. "kenapa aku gombal?"
"bagaimana dengan gadis macan tutul itu?"
"apa?" Deva bangkit. mendorong tubuh caera agar dapat di lihat dengan jelas. " siapa gadis macan tutul" Deva mengernyit tidak mengerti.
"iya, gadis macan tutul. kekasih mu"
"jangan main-main Ra. siapa itu?"
Deva mulai tegang.
"makanya kau gombal sekali tuan Dev. kau punya gadis macan tutul dengan dada bola basket"
caera mencebik.
"hah?" Deva melongo. makin tidak mengerti siapa gadis macan tutul dan dada bola basket yang di maksudkan caera. " apalagi itu dada bola basket?"
"bagaimana aku bisa memberi mu lampu hijau, kalau kekasih macan tutul mu itu masih mengisi hari-hari mu tuan Deva?"
caera menahan tawanya.
"sayang, jangan main-main. aku tidak tahu siapa macan tutul itu"
Deva mulai resah.
"mmhhemm" caera mencebik. " kau tahu, dengan macan tutulnya, dia datang mencari mu. dan bilang bahwa dia mencari kekasihnya, kamu tuan Deva"
"astaga! sayang. dia datang bawa macan tutul?"
Deva makin berpikir keras.
"iya. kau terlalu sibuk. sampai kekasih mu datang karena rindu"
"Ra, jangan bercanda"
caera bangkit. ingin bergerak menjauh dari Deva. tapi Deva menarik tangan caera. hingga caera jatuh terduduk di sofa lagi.
"katakan, siapa gadis macan tutul Ra?"
Deva tampak takut caera pergi tanpa memberinya penjelasan.
"aku tidak tahu. coba saja ingat-ingat lagi. gadis mana yang terakhir kau beri cinta, sampai sibuk mencari mu"
caera melepaskan tangan Deva. bergerak cepat menghindari jangkauan tangan Deva yang mencoba menariknya lagi.
"Ra, kembali"
seru Deva.
caera sudah sampai di dekat pintu. membukanya, lalu menjulurkan lidahnya mengejek Deva.
"ingat-ingat dulu"
ujarnya seraya keluar dari ruang kerja Deva. meninggalkan Deva yang masih terbengong memikirkan siapa gadis macan tutul dengan dada bola basket itu.
__ADS_1