
gemerisik angin menyambut pagi yang masih temaram. garis cahaya di ufuk timur masih malu memancarkan sinarnya. memanggil dengan syahdu alam yang sebentar lagi akan menggeliatkan tenaga menyongsong pagi yang benderang.
masih malas membuka mata yang terasa berat. menyusupkan wajahnya di tempat yang terasa empuk dan menghangatkan. sungguh nyaman masih bergelung di bawah selimut di hari libur. tanpa memikirkan harus bersiap sepagi mungkin, untuk bergelut dengan banyaknya kendaraan yang sama-sama ingin mengejar waktu.
tempat tidurnya sungguh terasa nyaman hari ini. apalagi bantal guling besar yang ia peluk sekarang. membuatnya ketagihan ingin merasakan hangatnya dengan mendusal-dusalkan wajahnya di sana .
uuhhmm...
caera mengegeliatkan tubuhnya. memeluk guling yang terasa makin hangat dan membuatnya makin memejamkan matanya rapat-rapat. melingkarkan sebelah kakinya ke guling besar di pelukannya.
mendusalkan wajahnya di tempat yang lebih empuk lagi. menggesekkan bibirnya merasakan lembut yang melenakan dirinya.
uuhh.. hangat sekali.. uummm
tapi, seketika caera berhenti mendusal-dusalkan wajahnya pada guling yang ia peluk. caera mengernyitkan alisnya. merasa aneh kenapa gulingnya bergetar dan agak sedikit bergerak?
nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. matanya masih malas terbuka. tapi otaknya sudah sedikit bisa di ajak berpikir. dengan masih memejamkan mata, caera mencoba merasakan lagi guling panjang di depan wajahnya.
menempelkan bibirnya di sana. dahi Caera makin berkerut. ia merasakan gulingnya berbulu tipis. menggerakkan bibirnya lagi makin ke kanan.
eeehh... apa ini? kenapa ada daging kecil di bibir ku? apa guling ku berbintil?
clak!
spontan caera membuka matanya. agak menjauhkan sedikit kepalanya. menatap guling di depannya.
blaaassshhh...
darahnya seketika membeku. tidak mau bekerja mengaliri kepalanya. wajah caera langsung memucat. pias seketika. matanya mendelik. nyawanya masuk seluruhnya dengan paksa. ternyata di depannya bukan guling. tapi dada berotot dengan bulu tipis.
dalam cahaya temaram lampu tidur di kamarnya, caera dapat melihat dada itu bergerak naik turun dengan teratur. tapi caera bisa merasakan debaran jantung di dalamnya. itu artinya dia sudah bangun!
dan yang tadi daging kecil di bibirnya itu adalaaaaahhh...
pu ting!!!
dengan masih di posisi semula, caera tak berani banyak bergerak. hanya melirik ke bawah, ke arah kakinya yang naik melingkari pinggang te lan jang itu. kakinya terasa berat untuk di turunkan dari pinggul kokoh di pelukannya. tubuhnya menjadi kaku.
aduuhhh... mati lah aku! semoga dia masih tiduuurrr...
caera memejamkan matanya rapat. merutuki kebodohannya yang tidak hati-hati. karena terbiasa tidur sendiri, ia lupa kalau malam tadi Deva tidur di ranjangnya juga.
dengan harapan Deva masih tidur, pelan-pelan caera mendongak ke atas. memeriksa dengan hati-hati. tapi tidak berani menatap mata Deva. berhenti di dagu tegas itu. masih takut melihat lebih ke atas lagi.
memejamkan matanya lagi. menguatkan hati dan berharap mata Deva masih terpejam. pelan-pelan ia membuka matanya sebelah. mengintip mencari mata Deva.
daaaaaan......
bwaaaaaa!!!
mata itu ternyata sudah menatapnya dengan teduh. bibir Deva mengulum senyum. berbaring miring dengan kepala berbantalkan lengannya sendiri.
"selamat pagi sayang"
lembut suara itu.
bukannya menjawab sapaan hangat itu, tapi caera malah mendelik gusar. tertangkap basah sedang mengintip memeriksa Deva masih tidur atau tidak.
cepat-cepat ia menggeser lingkaran kakinya di pinggang Deva. tapi Deva cepat menangkap kaki caera. menahan paha bagian belakangnya agar tetap di posisi semula.
"biar saja seperti ini"
Deva menggeram lirih. mengulurkan lengan yang di pakai bantal untuk kepalanya. kini tangan itu merengkuh kepala caera. membaringkan kepala itu di lengannya. lalu menarik tubuh caera agar lebih merapat padanya.
memeluk tubuh caera dan merapatkan wajah caera ke dada bidangnya. otomatis, seluruh bagian wajah caera menempel lagi di dada te lan Jang Deva.
caera dapat merasakan debaran jantung Deva. berdesir darahnya mengetahui kalau Deva ternyata sudah bangun. dan sedang menatapinya yang sedang tidur. entah sudah berapa lama lelaki itu menatapnya dalam keadaan tidur nyenyak.
"aku ingin begini setiap pagi bersama mu Ra"
bisik Deva di atas kepalanya.
caera diam membisu. hanya meresapi debaran jantung Deva di pipinya yang lengket di sana.
Deva meraih dagu Caera menghadapkan padanya. menatap manik mata tajam itu dalam diam. merasakan aliran cinta dari retina coklat terang itu. ada desiran aneh menyusup ke dalam lubuk hatinya.
__ADS_1
"aku mencintai mu"
entah sudah berapa kali Deva mengucapkan kata cinta itu padanya. tak bosan-bosannya Deva menyalurkan getaran listrik ke dalam hati caera lewat kata-kata itu.
caera terharu. sedalam itukah cinta Deva untuknya? tidakkah Deva akan meninggalkannya jika ia berterus terang tentang keadaan rahimnya?
Deva mendekatkan wajahnya. mengecup bibir caera sekilas. memberikan rasa haru yang makin mencabik hatinya merasakan cinta di setiap helaan napas Deva.
caera menyusupkan kepalanya di ceruk leher Deva lagi. lelaki gagah itu mendekapnya lembut. berbagi rasa haru dan bahagia yang menyelimuti hati mereka masing-masing.
"sayang"
caera masih diam.
"Ra"
panggil Deva lagi.
"hmm"
"ayo mandi"
bisik Deva.
caera terjengkit. memukul pelan dada Deva.
"iihh.. kenapa kau mesum sekali tuan Dev?"
"aku hanya mengajak mandi sayang. bukan bercinta"
jawab Deva masih mendekap tubuh hangat caera.
"iiihh.. kau ini. masak iya mandi pake baju lengkap?"
"kau ingin kita mandi berdua dengan polos?"
Deva merenggangkan pelukannya dan menatap caera menggodanya.
"tuan Dev!"
"hehehehe... aku makin tidak tahan kalau kau manja begini sayang"
"ah awas. aku mau bangun"
caera menepis tangan Deva yang masih mendekapnya.
"tidak"
Deva bertahan.
"lepaskan"
caera mencoba bergerak mengubah posisi tubuhnya. menurunkan kakinya dari pinggang Deva.
"tidak. sebelum kau beri aku morning kiss"
Deva memonyongkan bibirnya minta ciuman caera. dan mengerak-gerakkan alisnya naik turun.
"ya ampun. mesum!"
caera berontak. tapi Deva lebih kuat. membuat caera tidak bisa bergerak.
"morning kis"
ujar Deva lagi.
memejamkan matanya, agak memajukan dagunya.
"tidak!"
"aku akan membopong mu ke kamar mandi dan kita mandi bersama"
ujar Deva masih memejamkan matanya.
"kenapa kau menyebalkan sekali tuan Dev?"
__ADS_1
Deva hanya mengulum senyum. tidak menjawab dan masih memasrahkan wajahnya di hadapan caera.
"morning kiss"
tegas Deva.
caera jengkel. kenapa lelaki yang satu ini sangat sulit menyerah. selalu membuatnya kelabakan setiap hari. tapi kalau dia tidak menuruti, maka beginilah posisi mereka sepanjang hari.
"ayo sayang"
bisik Deva lagi. menggerakkan tangannya mendorong punggung caera agar segera melakukan apa yang di inginkannya.
cup
secepat kilat caera mengecup bibir Deva dan menjauhkan wajahnya.
"sudah"
Deva membuka matanya sedikit. lalu menutupnya lagi.
"hhhmmm"
hanya menggeram menyatakan ciuman itu belum pas.
"sudah. biarkan aku pergi sekarang"
caera berontak.
"itu kecupan. bukan ciuman"
gumam Deva belum puas.
"tapi itu tadi sudah tuan Dev"
protes caera.
"hhhmmm"
lagi lagi Deva hanya berhem ria. tidak setuju apa yang di lakukan caera.
caera menatap Deva jengkel. apa sih maunya lelaki mesum yang satu ini?
gemas caera menangkupkan tangannya ke wajah Deva. menempelkan kedua tangannya di pipi kiri dan kanan. lalu menarik wajah Deva mendekat ke wajahnya.
dengan gemas caera me ma gut bibir Deva. menyesapnya kasar. men ji lat dan me lu mat nya buas.
dengan tak tahu diri, Deva membuka mulutnya. mempersilahkan caera berbuat sesuka hatinya. menikmati saja apa yang di lakukan caera pada bibirnya.
caera menyusupkan Lidahnya. mencari lidah Deva untuk perang karate saling mengunci dan memiting lawannya. menjelajahi rongga mulut Deva dengan gemas.
lambat laun caera jadi terjebak sendiri dengan apa yang di lakukannya. yang tadinya ingin mengerjai Deva dengan lu ma Tan kasar dan geram, kini dia malah Menik mati bibir itu. me ma gut nya lembut. meliukkan lidah mengecap kemanisan bibir dan rongga mulut Deva.
"egghhhmm"
Deva menggeram. menikmati sensasi liar yang di suguhkan caera. membalas belitan lidah yang memancing percikan api di dalam dirinya.
caera makin tak peduli lagi. otaknya sudah tak bekerja dengan optimal. hanya memainkan perannya sebaik mungkin. Deva meraih belakang kepala caera. menahannya agar tidak pergi menjauh dari bibirnya.
kini Deva juga ikut berperan. membalas silat lidah yang melenakan. membalas me ma gut dan me ngu Lum. tapi otaknya memberi warning untuk segera menghentikan kegiatan panas itu. walaupun apa yang di lakukan berbanding terbalik dengan otak dan hatinya.
teeettt.. teeettt...
begitu suara bel di otak Deva memberi peringatan, untuk segera menghentikan perbuatannya. Deva menyerah. kalau tidak, bisa-bisa di akan menghentak caera dalam perbuatan yang lebih jauh.
hhahh.. haahhh..
sama-sama ngos-ngosan begitu ciu man panas itu terlepas. napas Meraka memburu. Deva menatap wajah sayu caera Yang menyiratkan hasrat yang menggantung di tengah jalan, dengan semburat merah jambu di pipinya yang makin terlihat menggoda.
"ini morning kiss terbaik yang pernah ku dapat sayang"
bisik Deva sambil tersenyum menatap wanitanya yang makin memerah wajahnya karena malu.
caera diam saja. menahan malu karena terjebak dengan kelakuannya sendiri. wajahnya memerah seperti kepiting rebus. melepaskan dekapan Deva dari tubuhnya. beranjak ke kamar mandi terburu-buru. kalau bisa, sekarang juga ia terbang menembus tembok agar Deva tidak melihatnya lagi.
🤠baataal lah ni puasa otor 🤦
__ADS_1