
Arya menatap ibunya dingin. untuk apa minta maaf sekarang? semua sudah tidak ada artinya lagi. caera sudah pergi dengan cintanya. kini anak yang di kandung Vivi juga sudah tiada. apalagi yang di harapkan ibunya dengan kata maaf?
"ibu sudah puas? atau masih kurang lagi?" ujar Arya dingin.
Maya terduduk lesu di samping arya. memang tidak ada lagi yang bisa di perbuatanya. bayi yang di perjuangkan dan di harapkan bisa membawa kecerahan di dalam hidup anaknya, kini sudah lenyap.
"ibu hanya ingin kau bahagia Arya"
"kebahagian apa yang ibu katakan?"
Maya menoleh menatap Arya.
"kenapa kau selalu menyalahkan ibu? ibu hanya ingin kau punya anak dan bahagia"
"hhh.. bahagia. apa itu bahagia jika sekarang aku malah hancur Bu?"
Maya tertunduk lagi. pikirannya berkecamuk. dia hanya ingin Arya bahagia. tapi kenapa Arya tidak mengerti? ia ingin Arya mewarisi warisan dari ayahnya. apa itu salah? ia ingin Arya punya istri yang bisa menghasilkan anak. apa itu berlebihan? kenapa semua orang menyalahkannya?
"bahagia ku adalah caera Bu. tapi ibu tidak mengerti. pikiran ibu bahagia itu hanya tidak jauh dari harta"
Arya tersengguk. hatinya teriris pedih. wanita itu adalah ibunya. dia tahu ibu hanya ingin melihat anaknya bahagia dengan memiliki kehidupan sempurna. tapi ibunya melakukan dari jalan yang salah.
Arya hanya manusia biasa. dia lelaki, tapi ia juga punya hati. selama ini dia menghormati dan menyayangi ibunya, tanpa peduli sebanyak apa ibunya menghina dan mencaci caera sebagai istrinya.
ibu adalah ibu. wanita terkasih yang harus disanjung dan di hormati. tapi, mengapa ibunya tidak merasakan dimana letak bahagia anaknya?
"aku memilih Vivi karena aku pikir dia tulus ingin membantu ku dalam masalah caera Bu. aku tidak pernah mencintainya. tapi itu juga ibu menapsirkan salah"
Arya menyandarkan punggungnya di sandaran kursi tunggu rumah sakit. menatap plafon di atasnya. menerawang jauh menyambungkan semua kenangan yang berserakan terpecah.
"rumah tangga ku baik-baik saja jika ibu tidak memaksa caera hamil. bagi ku, caera hamil atau tidak, aku akan tetap mencintainya Bu. tapi paksaan ibu selalu membuatnya menangis. aku tidak bisa membenci ibu. tapi aku juga tidak bisa membuat caera terluka terus karena kata-kata ibu"
Maya terhenyak. sejahat itu dia menyakiti Arya. hatinya terasa di pelintir nyeri. anaknya menderita karena dirinya.
"aku menikmati bersama Vivi karena aku juga harus memberinya benih untuk ku serahkan pada ibu. agar ibu tidak selalu mencaci istri ku"
air mata meleleh dari sudut mata Arya. hatinya terasa seperti luka yang tersiram air asam. perih menyentak. Maya hanya diam menunduk. air mata penyesalan merembes keluar.
"ibu tahu?" Arya menegakkan punggungnya lagi. menoleh pada ibunya. " caera itu wanita yang sangat lembut. dia selalu melarang ku marah pada ibu jika ibu cerewet padanya. hhhhh... dia selalu meminta ku bersikap lembut dan memaklumi keinginan ibu"
mendengar itu, Maya makin terisak. dia bersalah. dia kejam. dia mertua yang tak punya hati.
"caera bukan wanita lemah. dia hanya baik. jika dia tidak marah, itu bukan berarti dia itu bodoh. tapi dia menghargai perasaan orang lain Bu. aku mencintainya Bu. hiikkss.. hikkkss.. "
Arya menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. meredam Isak tangis menyayat hati.
"tapi sekarang dia pergi Bu. dia sudah punya orang lain yang mencintainya. aku sendiri Bu. sendiri"
__ADS_1
suara Arya teredam dalam tangkupan tangan di wajahnya. suaranya sangat nelangsa.
"sekarang, bayi itu sudah tidak ada. apa yang akan ibu lakukan pada Vivi?" Arya menatap ibunya.
Maya masih terisak tak bisa menjawab itu. dia salah. sangat salah. bahagia itu tidak melulunya soal materi. tapi tentang hati.
"Arya. maafkan ibu" Maya terisak tertunduk.
"hhaahh..." Arya menghela napas panjang. meredakan Isak tangisnya. kata maaf ibunya sudah terlambat.
"ibu. aku menghormati ibu selayaknya seorang ibu. tapi apa gunanya kata maaf itu jika meninggalkan bekas yang tak bisa pernah hilang?"
Maya makin terisak pilu. apa yang harus ia lakukan untuk menebus salah yang selama ini dia bangun dengan keangkuhan?
"hhaahh... semua berantakan. caera pergi. aku kehilangan kerja dan anak itu. tapi, aku harap ini akan membuat ibu membuka hati. bahagia itu bukan materi bu"
"Arya.. maafkan ibu nak. ibu salah. selama ini ibu hanya ingin hidup mu sempurna tanpa halangan. membuat ibu tidak memikirkan orang lain" ratap Maya memegangi tangan Arya memohon maaf.
Arya diam saja. tak sanggup merasakan perih yang menyerang hati karena ibunya.
"bukan hanya orang lain. tapi ibu malah tidak pernah memikirkan keinginan ku"
"maaf"
Maya menangis meratap di lengan Arya.
Arya bangkit berdiri. melangkah menjauh meninggalkan Maya yang terisak sedih. kesalahannya memang tidak bisa termaafkan.
caera yang ia anggap tidak berguna, ternyata malah selalu membelanya di depan Arya. Maya hanya merasa tidak puas ketika mengetahui caera divonis susah mengandung. selebihnya, Maya mengakui caera mengurus Arya dengan baik.
tapi, apalah gunanya mengingat itu sekarang. sedangkan Vivi, dia tidak lebih baik dari caera. Vivi masih selalu egois memikirkan dirinya saja. malah mengandungpun hanya karena ingin memiliki Arya.
kini Arya malah semakin terombang-ambing. caera meninggalkannya. bayi pun tak di takdirkan menghirup udara dunia. tetap tidak bisa menerima Vivi sebagai ganti caera.
"aku salah. aku jahat. anak ku menderita karena ku. aku yang menghancurkan kehidupan Arya anak ku.. huuhuuuuu... huuuuu huuhu.."
Maya menangis meraung. dia merasa gagal menjadi ibu. ibu yang seharusnya melindungi dan mengerti apa yang di inginkan anaknya. tapi malah menekan kebahagian anaknya untuk mencapai tujuan semu yang ada di otaknya.
****
sepanjang perjalanan ke rumah bukit, caera hanya diam dan masih menangis. dia merasa bersalah dengan kejadian Vivi kehilangan bayinya.
masih merutuki dirinya kenapa dia mengucapkan pilihan pada Arya hanya untuk membalaskan sakit hatinya.
sampai di rumah bukit, caera malah menjadi semakin menutup diri. tak ingin Deva menyentuhnya. merasa dirinya kotor di penuhi dengan dendam kebencian yang telah mengakibatkan Vivi kehilangan bayinya.
"jangan sentuh aku Dev! aku kotor. hati ku kotor. aku tidak pantas untuk mu!"
__ADS_1
caera menangis. memandangi noda darah di tangannya yang gemetar. tak menyangka telah mengakibatkan bayi itu tidak tertolong.
"sayang, itu bukan salah mu" ujar Deva lembut penuh kesabaran. dia tahu caera saat ini terguncang.
"tidak. aku yang salah. ibu benar. aku membunuh bayi itu. aku penyebabnya"
menatap ngeri noda darah di tangannya. dia tidak bisa punya anak malah ikut andil membunuh seorang bayi tidak bersalah. pandangannya buram karena air mata.
"Ra. kamu tidak salah. itu bukan kesalahan mu Ra. sadar lah"
Deva mengguncang tubuh caera agar wanita itu tersadar dari rasa bersalahnya.
"tidak Dev. bayi itu mengeluarkan darah. ini Dev. ini darahnya.. aku membunuhnya Dev.. hikkss.. hikkss.. "
caera terguncang. perasaannya tertekan. keadaannya kacau. melihat noda darah di tangannya seakan darah itu masih segar dan mengalir menetes basah.
"sayang.. jangan begini. kamu tidak bersalah" Deva masih sabar menyadarkan caera.
"aku jahat Dev.. aku jahat! huuhuuu... huuuuhhuu.."
caera menangis meraung.
"pergilah Dev. pergi.. jangan bersama kuuu.. aku jahat.. "
caera berlari ke dalam kamar Deva. menutup pintu dengan kencang. menguncinya dari dalam. berlari kepojok kamar. luruh kebawah dan menangis ketakutan. terduduk memeluk lututnya dan menyembunyikan wajahnya di lututnya. terisak-isak di sana.
dorr.. dorr..
Deva menggedor pintu kamar dengan keras.
"Rara.. caera.. buka pintunya!!!"
tapi caera masih tidak menghiraukannya. masih menangis terisak.
Jacko menghentikan Deva menggedor pintu.
"Dev! berhentilah.. berhenti Dev.. kau makin membuatnya takut"
Jacko menarik tubuh Deva menjauh dari pintu. menahannya agar tidak membuat caera makin ketakutan.
"sabar Dev"
"aku takut dia berbuat hal konyol Jack!!" Deva melotot marah pada Jacko karena menghentikannya.
"Dev. caera akan semakin takut jika kau menggedor pintu dengan keras. sabar lah. kita panggil Zaki dulu"
Deva menurut. mengendurkan wajah tegangnya. dia harus berpikir jernih untuk membuat caera tenang.
__ADS_1