DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 104


__ADS_3

Deva mengantar caera pulang. kali ini Deva menunjukkan terang-terangan siapa caera. tak lagi terpisah ketika keluar dari kantor. masih ada beberapa karyawan yang terlambat pulang. melihat Deva menggenggam tangan caera ketika di lobi membuat mereka heboh.


apalagi Sisil. melotot tak percaya dengan apa yang di lihatnya. bersorak tertahan dengan tepuk tangan kecil melihat Deva dengan mesra melindungi caera.


caera sampai menaruh telunjuknya di bibir mengisyaratkan agar Sisil tidak berisik heboh. gadis itu tersenyum lebar dan mengangguk bersemangat.


sementara yang lain, berkasak-kusuk menggosipkan caera. Deva tak menggubris itu. caera hanya menurut saja.


untungnya Dira sudah pulang lebih dulu. caera masih malu pada Dira. entah apalagi nanti yang Dira tanyakan atau malah menggodanya jahat.


Deva membawanya ke sebuah butik ternama di kota ini. memilihkan gaun untuknya. membuat banyak mata tertuju pada mereka.


caera agak risih karena banyak wanita bergerombol membicarakan Deva. caera sempat mendengar itu.


"itu tuan Deva kan?"


"iya, itu tuan Deva"


"tapi siapa gadis yang bersamanya? pacar?"


"ah mana mungkin... kalian kan tahu tuan Deva seperti apa"


"iya sih, kabarnya tuan Deva jadi dingin gitu semenjak di tinggal nikah"


"naahh.. itu, jadi.. itu siapanya ya?"


"adiknya mungkin"


"ah, adiknya kan bule-bule gitu"


"simpanannya lah itu"


"tapi masih lebih cantik nona Gisel kan?"


"iya sih. tapi ini juga cantik ya"


"lihat.. lihat itu. tuan Deva kelihatannya mesra banget"


"eh iya iya. lihat itu. pasti itu pacarnya"


caera sampai memandang pada mereka. tapi mereka tak menggubris. malah makin heboh menggosip.


tadinya Deva ingin mengosongkan butik. tapi caera mencegah. tidak mau menyusahkan orang lain yang sama ingin berada di tempat itu.


tapi kini ia tahu gunanya. pastilah Deva tak ingin mendengar kebisingan orang lain menggosipkan mereka. caera jadi tak enak hati pada Deva.


"Dev.. maaf ya. kamu jadi mendengar itu"


ujar caera meminta maaf.


"tidak apa sayang. aku juga sering di pasar mendengar orang bicara lebih berisik dari itu. kamu tidak apa-apa kan mendengar ocehan mereka?"


caera menggeleng saja. tak ingin Deva malah marah pada mereka dan jadi benar-benar mengosongkan butik ini.


Deva hanya tersenyum menatap caera di sampingnya. merangkul caera merapat padanya. duduk berdua menunggu desainer membawa gaun caera.


"di pasar?"


caera mengerutkan dahi.


"iya di pasar. jadi ocehan mereka itu tidak ada artinya buat ku"


"ngapain di pasar Dev?"


"cari makan sayang"


"cari makan?"


caera makin tak mengerti maksud Deva.


ngapain Deva cari makan di pasar? bukannya dia punya segalanya? tinggal tunjuk, semua pasti tersedia.


rasa penasaran caera terputus dengan datangnya Yolanda sang disainer butik ini. membawa beberapa gaun yang berjejer rapi di gantungan baju portabel yang di bawa pelayan toko.


"tuan Dev, silahkan di pilih. ini semua yang saya rekomendasikan atas pesanan tuan Jacko"


Yolanda tersenyum ramah.


"pilih sayang"


Deva menyuruh caera untuk memilih.


caera berdiri mendekati gaun itu. bingung menentukan gaun mana yang cocok untuknya. semua gaun itu terlihat sangat mewah dan bagus. caera tak dapat menentukan.


mengambil salah satu yang berwarna peach dengan taburan mutiara di sekitar bagian dada. manis sekali. caera suka.


"yang ini bagaimana Dev?"


"baiklah. coba saja"


ujar Deva.


seorang pelayan mengarahkan caera ke kamar pas. caera mengikuti saja. mencoba gaun indah itu.


setelah selesai, caera keluar dan menunjukkan pada Deva.


"bagaimana Dev? cocok tidak?"


Deva memandangi caera tak berkedip. tak segera menjawab. caera berputar menunjukkan keseluruhan penampilannya.


"ganti"


ujar Deva.

__ADS_1


"tidak suka?"


Deva menggeleng. caera hanya menurut. memilih gaun yang lain dan mencobanya lagi.


"yang ini bagaimana Dev?"


"ganti. teralalu terbuka"


uufff... oke...


sudah mencoba beberapa gaun, tapi Deva tetap bilang tidak suka. caera sampai lemas. tidak mau lagi mencoba gaun yang ke tujuh. Jacko sampai geleng-geleng kepala melihat penolakan Deva.


"aku lelah Dev"


caera merengut kesal.


tak satupun gaun yang di coba cocok dengannya. Deva hanya tersenyum melihat caera cemberut.


"ya sudah, yang pertama saja"


APA???!!!!


buat apa mencoba gaun sampai tujuh kali, kalau ternyata yang di pilih tetap yang pertama?


😖 caera ambruk saking jengkelnya.


****


Deva memutuskan membawa caera ke rumah bukit. menghabiskan makan malam berdua saja. Jacko sudah pergi setelah mengantar mereka pulang.


caera ingin lekas tidur saja. dia sudah lelah sepanjang sore fitting baju untuk acara besok. kebetulan Jacko sudah memerintahkan Iran untuk mengantar Gino ke rumah neneknya.


Deva masih ada di ruang kerjanya. tinggal caera sendiri di kamar dan bersiap tidur. berbaring bergelung dengan selimut tebal sungguh membuat kantuknya datang.


tapi belum sempat terlena di alam mimpi, caera sudah terusik dengan sesuatu yang terasa menggerayangi kakinya.


caera malas membuka mata. hanya menendang sebelah kakinya mengusir dengan malas. tapi tidak menemukan apa yang mengusik kakinya.


caera mencoba rilex lagi. memejamkan matanya. tapi sesuatu itu terasa lagi. seperti berjalan di betisnya dan makin lama makin ke atas mendekati pahanya. caera merasa terganggu. mengangkat kepalanya melihat apa yang mengganggunya.


tidak ada. caera tak melihat apapun. hanya gundukan bad cover tebal yang terlihat. caera merebahkan kepalanya lagi. memejamkan mata ingin segera tidur.


tapi sesuatu itu merambat lagi. sekarang menggerayangi bagian pahanya. caera mengerutkan dahi. seperti ada yang berjalan di pahanya.


penasaran, caera mengintip ke dalam selimutnya. melihat di bagian pahanya.


astaga!! itu tangan!!


belum sempat caera bangkit bangun, sesuatu menyembul di bawah kakinya.


wajah Deva menyeringai di bawah sana.


"aaaaaa"


"heheehee"


Deva terkekeh melihat caera kaget. segera Deva merangkak naik ke atas tubuh caera. menindihnya agar caera tidak bergerak bangun.


"apaan sih Dev! aku kaget tahu!"


caera kesal Deva selalu jahil.


"maaf sayang"


Deva hanya nyengir.


"Dev, aku ingin tidur. jangan begini"


caera mencoba mendorong Deva agar menyingkir dari atas tubuhnya.


"nanti dulu sayang"


"mau ngapain Dev? ini sudah malam. aku mau tidur. lagian kapan sih kamu ada di sini? aku tidak dengar kamu buka pintu"


caera melirik ke arah pintu yang masih tertutup.


"magic sayang. aku tembus dindingnya"


"ah ada-ada saja kamu"


caera membuang muka. memejamkan matanya lagi. membiarkan Deva mengungkungnya. dia tidak peduli lagi Deva mau ngapain. matanya sudah minta istirahat. sudah ngantuk berat.


Deva mendusal di ceruk leher caera. mengendus di bagian ceruk leher sampai tulang selangka caera.


caera agak mendorong pundak Deva agar menjauh. tapi Deva tidak mengindahkan. masih asik menge cup leher jenjang caera.


"Dev, hentikan. aku tidak bisa tidur"


ujar caera malas.


"iya sayang. sedikit saja"


bisik Deva.


caera diam. lebih memilih tidur dan tak memperdulikan Deva. dia sungguh lelah sekali. tak menghiraukan keusilan Deva lagi.


Deva memandang caera yang sudah terpejam. Deva makin menyeringai jahat. ia membuka kancing piyama caera satu persatu pelan-pelan.


merenggangkan kedua kaki caera ke samping. sehingga ia bisa menguasai tubuh caera sepenuhnya. merangkak ke tengah di antara paha caera.


karena lelah yang mendera, caera tak sadar mengikuti saja Deva merenggangkan kakinya.


"Dev.. jangan usil kamu"

__ADS_1


gumam caera masih terpejam.


"iya sayang. tidak"


ujar Deva dengan suara bergetar halus.


di depan matanya kini terpampang dada putih yang masih tertutup bra. Deva melirik caera lagi. wanita itu masih terpejam. tidak ada protes.


Deva merasa di beri lampu hijau. menyeringai jahat dan melanjutkan aksinya. menaikkan penutup dada caera dengan pelan agar tidak menggangu si empunya dada.


mata Deva menatap keindahan alami yang tersuguh di depan matanya. tak berkedip menatap gundukan yang terlihat kenyal dengan puncak coklat pinky yang mungil.


"ehhmm.."


caera menggeliat merasa terganggu. merasakan ujung dadanya terasa dingin kerena hembusan napas Deva yang tersendat.


melirik caera lagi. masih hati-hati agar aksinya lancar tanpa penolakan. caera masih terpejam rapat. terlihat mulai di buai alam mimpi.


pelan sekali Deva mendekat pada benda mungil di gundukan dada caera. pelan tapi pasti, Deva mendekat dan men ji lat puncak itu.


merasa tak ada respon, Deva mulai meng ulum puncak pinky itu. memainkan dengan lidahnya.


"uuhhmm.. "


caera mengerang dan menggeliat karena merasakan hangat di ujung dadanya yang dingin.membuka matanya perlahan melihat ke arah dadanya. mendelik melihat Deva dengan pandangan sayu menatapnya dengan ujung dada di mulutnya.


spontan caera memegang kepala Deva yang nangkring di dadanya. mendorong wajah Deva agar menjauh.


"Dev. hentikan"


caera berontak. tapi Deva tak bergeming. tubuh kokoh itu masih tangguh di atasnya. menggigit kecil ujung dada caera.


"uuhh.. jangan begitu Dev"


caera kelabakan.


Deva berhenti. melepaskan lu ma Tan nya di dada caera. menatap wanitanya yang pipinya telah di penuhi semburat merah jambu. caera ngos-ngosan merasakan dadanya kembali dingin.


"jadi bagaimana sayang?"


bisik Deva.


"hhhaahh.. apanya?"


dengan terengah, caera menatap Deva dan mengernyitkan dahi.


"mau yang begini?"


Deva men ji lat sekali ujung dada caera. lalu menatap wanitanya lagi.


"aawwhh.. tidak Dev!"


caera tersentak merasakan lidah hangat itu.


"jadi begini?"


Deva menge mut lagi sejenak. dan melepaskan lagi. menatap caera dengan menggoda.


"aaduuhh!! tidak Dev. tidak keduanya"


caera mendorong wajah Deva lagi. menjauhkan dari dadanya.


"hehehe.."


Deva terkekeh melihat caera blingsatan menahan serangannya.


"sudah Dev. aku mau tidur"


"setelah ini kamu boleh tidur sayang"


karena tangan caera masih memegangi dan mendorong pipinya, Deva memaksa mendekatkan wajahnya ke dada caera lagi. dan men cucup kecil ujungnya.


"aduuhh.. ya ampun deeev.. berhentilah"


caera tak dapat menahan wajah itu lagi. percuma. dia masih kalah tenaga. Deva sudah me lu mat daging kecil itu. memberikan sensasi hangat yang menendang jantungnya.


tangan Deva tak kalah aktif. me mi Lin ujung yang satunya lagi. membuat caera makin membusungkan dadanya tak sanggup menahan rasa indah yang di ciptakan Deva.


Deva melepaskan lu ma tannya. menutup dada caera lagi. lalu menatap wajah caera yang sudah merah dan ngos-ngosan menahan gejolak rasa.


Deva tersenyum. menatap pemandangan yang sangat indah di bawahnya. melihat caera menatapnya seakan memohon.


pandangan caera sayu menatap manik mata Deva. menggigit kecil bibir bawahnya dengan dada yang naik turun.


Deva gemas. tapi menahan has rat yang sudah di ubun-ubun. hanya menampilkan senyum simpul melihat wanitanya tergoda karena ulahnya.


"ayo tidur sayang. sudah selesai"


wajah caera berubah dingin. sangat jengkel melihat Deva selalu mengganggunya dan berhenti ketika dia tak sanggup menahan gelombang yang menghempasnya ditengah jalan.


"kau menyebalkan Dev!"


caera memukul dada Deva.


"haha.. sabar sayang"


Deva mengecup puncak kepala caera dengan sayang. memeluk wanitanya dan ikut memejamkan mata.


CEK.. CEK.. CEK..


TEEESSSTTIIING!!


TESSTIING!!!

__ADS_1


1 2 3 DI JAJAAAALLL!!


__ADS_2