DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 63


__ADS_3

tuan Nugraha akan di makamkan di pemakaman elite. suasana pemakaman yang tadinya hening, kini telah ramai di penuhi oleh pengantar jenazah tuan Nugraha.


sebelum turun dari mobil, Deva memakaikan kacamata hitam padanya. caera sempat menolak. tapi Deva memaksa. Deva bilang di luar panas. caera menyerah.


Deva menyerahkan caera pada pengawasan Soraya, ibunya. caera terpisah dari Dira. dengan banyaknya pelayat yang ikut ke pemakaman, akan sulit bagi caera untuk menemukan Dira. apalagi dengan banyaknya wartawan yang meliput. caera harus bisa menyembunyikan wajahnya dari bidikan kamera para pemburu berita.


untung saja tadi Deva memakaikan kaca mata padanya. kini caera tahu gunanya. untuk menghindari dia di kenali publik. tak ingin wajahnya terlalu di sorot wartawan. karena akan mencolok bahwa ia orang asing yang tak di kenal bisa berada dekat sekali dengan Deva, dan berbaur dengan keluarga kalangan atas ini. merasa berterima kasih pada Deva yang sudah memaksanya memakai kaca mata hitam.


dia pasrah saja. berjalan beriringan menuju tempat terakhir tuan Nugraha. setelah berjalan agak jauh, mereka sampai juga. keluarga dan kerabat besar Deva berdiri berjejer di dekat makam. caera mengambil tempat agak ke belakang. liang lahat telah siap. jenazah tuan Nugraha di turunkan ke liang lahat.


ketika jenazah mulai di timbun tanah, semua keluarga merangis pilu. apalagi gisel, dia terisak menyayat hati. tersengguk-sengguk menyesakkan dada karena di tinggalkan ayah tercinta.


Deva juga tidak dapat menahan kesedihan. paman yang selalu dia banggakan, kini telah pergi. dari balik kaca mata hitamnya, air mata itu menetes. Deva menggengam erat tangannya. menunduk tak mampu menahan haru.


ia ingat dulu bagaimana Nugraha selalu merasa bangga padanya karena bisa sukses melebihi Gilbert Elliot, ayah Deva. apalagi Nugraha tidak punya anak lelaki. dia makin ketagihan menumpahkan kasih sayang pada Deva. sedari Deva masuk sekolah menengah pertama, Nugraha sudah memanggilnya anak menantu. karena Nugraha sangat menginginkan Deva menjadi menantunya.


makam itu telah penuh tertutup tanah. Deva menaburkan bunga ke atas makam pamannya. mereka bergiliran satu-persatu menaburkan bunga ke atas makam tuan Nugraha.


kini giliran Gisel yang menaburkan bunga. berdiri tegak sambil bercucuran air mata. terisak sangat sedih. hampir jatuh karna tubuhnya lemas.


karena Deva berada di sampingnya, Deva menahan tubuh Gisel yang limbung. Gisel menatap Deva. dan dengan cepat ia memeluk Deva erat dan terisak di dadanya.


"hiikkss hiikkss... papa sudah pergi Dev.. huu..huuu"


Isak Gisel di dada Deva.


dengan terharu, Deva juga membalas pelukan Gisel. menenangkannya dengan mengusap-usap punggungnya.


semua orang melihat itu. hati caera serasa di cubit. tapi dalam keadaan berduka seperti ini, ia dapat memaklumi itu. lagi pula, kenapa harus merasa tak enak hati? dia bukan siapa-siapanya Deva bukan?


hati caera berkata-kata menenangkan perasaan aneh yang menjalari hatinya. ia makin beringsut mundur ke belakang. agak memisahkan diri dari jejeran keluarga Deva dan Gisel.


sampai ia terhenyak menegang mendengar suara yang tak asing di telinganya. berbisik tepat di belakang tengkuknya.


"kau lihat mereka bukan? pacar mu itu masih mencintai kekasih lamanya"


caera tak ingin menoleh ke belakang. ia tahu siapa yang berbisik di belakang tengkuknya. itu Arya.


rahang caera mengetat. ada rasa sakit menjalari relung hatinya. matanya masih tertuju pada Deva yang memeluk Gisel erat dan sesekali mengecup puncak kepala Gisel.


"lihat lah mereka. masih saling mencintai"


bisik Arya lagi.


caera memejamkan matanya. rasa perih menyerangnya. memang tak dapat caera pungkiri apa yang di lihatnya sekarang. Deva masih menyayangi Gisel.


"kau tak dapat mengambil hatinya Ra. dia masih memiliki cinta orang lain"


makin gencar mempengaruhi otak caera.


caera membuka matanya. melihat ke arah Deva lagi. Gisel mendongak menatap Deva dengan berderai air mata. dan yang membuat hati caera mencelos terbang, Deva menghapus air mata Gisel dengan pandangan sayang. seakan mengatakan 'tidak apa-apa. jangan bersedih. masih ada aku di sini'


"kembali lah pada ku sayang"


bisik Arya lagi.


lirih kata-kata terakhir Arya, menyentakkan caera. rasa marah itu bangkit. hatinya serasa tercambuk jilatan api kemurkaan. ia membalikkan badannya. menatap Arya di belakangnya.

__ADS_1


Arya berdiri tersenyum padanya. tapi bagi caera senyuman itu seperti senyum kemenangan masygul. karena dapat membuktikan kalau kekasih caera masih mencintai orang lain. dan mengharap caera bisa kembali padanya.


caera menatap marah pada Arya. tapi dia tidak bisa bertengkar di dalam kondisi banyak orang. dan ini pemakaman tuan Nugraha. banyak kerabat Deva di sini.


caera mengepalkan tangannya. ingin rasanya ia meninju wajah Arya sekarang ini. ia tahan kuat-kuat hatinya yang mendidih. lebih baik ia meninggalkan Arya sekarang.


caera beranjak pergi dengan menendang bahu Arya tanpa bisa di tahan. hatinya membara. rasa panas merajalela. Arya hanya diam melihat caera berlalu dari hadapannya. senyum Arya mengembang. dia berpikir, mulai dari sini ia bisa mengembalikan cinta caera untuknya.


caera berjalan dengan tergesa. melewati banyak pelayat yang berkerumun menyaksikan pemakaman.


berjalan tertunduk tanpa bisa mencegah air matanya mengalir. tadi Deva memeluknya sepanjang perjalanan. seperti seorang kekasih yang merindukan pujaan hati. seperti meminta caera menyalurkan kekuatan yang bisa membuatnya bertahan.


tapi apa yang di lihatnya tadi? Deva seperti memberi harapan pada Gisel seakan dia yang akan menjaga Gisel setelah paman Nugraha pergi.


pemakaman yang indah tertata rapi dengan rumput hijau bak permadani dan bunga-bunga yang memanjakan mata, tak mampu mengalihkan pikiran caera. tak mampu membalikkan hati caera yang sudah terlanjur terbakar.


apa Deva hanya mempermainkan perasaannya saja? selalu bersikap manis padanya hanya untuk mengusir kesepian karena merindukan Gisel?


caera berhenti di area parkir. berdiri memandangi mobil Deva di depannya. seperti melihat Deva menatap padanya dan tertawa mengejeknya yang sudah tertipu dengan sikap manisnya. yang sudah masuk dalam permainan hati yang lemah karena penghiatan. dan itu terulang lagi.


"hiikkss.. hiikkss.. hiikkss.."


caera terisak. tak mampu membendung kekesalan hatinya. tak dapat melampiaskan rasa panas yang membakar jiwanya.


"kak caera"


itu suara Dira. cepat caera menoleh ke belakang. Dira terlihat memandangi caera dengan heran.


"kakak kenapa di sini?"


tanya Dira.


"kak, kenapa menangis di sini?"


tanya Dira lagi.


caera tak menghiraukan banyak pertanyaaan keheranan dari Dira. ia menarik lengan Dira, mengajaknya menjauh dari area pemakaman tuan Nugraha. menyeret Dira keluar bersamanya.


hilang sudah tangisnya. rasa marah masih menguasai hatinya. ia bertekad pulang sendiri. tak mau lagi satu mobil dengan Deva. atau mungkin saja setelah ini dia akan di suruh pulang sendiri oleh Deva. dan Deva akan semobil dengan Gisel. begitu pikiran caera sekarang.


"cari taxi dir"


katanya tegas.


"eh.. taxi? mana ada taxi di sini kak"


ujar Dira sambil megap-megap mengimbangi langkah caera yang menyeretnya dengan cepat keluar dari area pemakaman.


"kamu usahakan cari dir"


caera masih belum mau berhenti.


"kak, tunggu dulu. berhenti kak"


Dira menarik-narik tangannya agar di lepaskan caera.


caera berhenti. menatap Dira. Dira ngos-ngosan karena di paksa berjalan cepat tadi.

__ADS_1


"kakak kenapa? kenapa kita harus cari taxi?"


tanya Dira heran.


"kamu dari mana saja daritadi?"


caera balik bertanya.


"aku tadi bergabung sama karyawan dari divisi personalia kak. aku lihat kakak keluar dan berjalan ke sini sendirian. makanya aku ikuti"


jawab Dira menjelaskan.


"ya sudah, sekarang kamu usahakan cari kendaraan untuk kita pulang"


ujar caera cepat. menoleh ke arah pemakaman yang masih ramai.


"kak, di sini itu mana ada taxi. ini kan jauh dari pemukiman kak"


Dira menjelaskan.


caera lemas. bagaimana dia akan menghindari Deva kalau tidak ada kendaraan yang bisa membawanya pergi?


Dira melihat caera sedih. dia jadi tidak tega. Dira berpikir, pastilah caera melihat adegan Deva memeluk Gisel tadi.


"ah.. tapi tunggu sebentar kak. aku ada teman yang tinggal di sekitaran sini. aku akan minta dia jemput kita ya kak"


ujar Dira seraya memeriksa ponselnya dan menghubungi temannya. caera lega. akhirnya dia bisa pergi tanpa bertemu Deva lagi.


Dira bicara di telepon menghubungi temannya. memintanya datang untuk menjemputnya dan caera.


"sebentar lagi teman ku datang kak"


caera tersenyum pada Dira. caera menarik Dira lagi agak minggir dari tengah jalan. agar tidak terlalu mencolok mereka berdiri di tengah jalan dan dapat terlihat orang lain.


bersembunyi di balik pohon Kamboja besar yang ada di dekat gerbang masuk pemakaman.


"masih lama dir?


"bentar lagi kak"


dengan kecemasan penuh, caera memperhatikan kalau-kalau orang-orang Deva mencarinya. sepertinya Deva belum menyadari kalau caera menghilang dari sana.


ya iya lah. dia kan masih sibuk memeluk nona Gisel. mana dia peduli aku ada di mana


menunggu beberapa menit, akhirnya sebuah mobil berhenti di pinggir jalan, gak melewati gerbang.


Dira menarik tangan caera dan membawanya masuk ke mobil.


"hai dir"


sapa teman Dira.


"hai Ben. cepat lah kau bawa kami keluar dari sini"


kata Dira setelah mereka duduk di dalam mobil.


"siap bos!"

__ADS_1


mobil bergerak menjauh dari kawasan pemakaman. caera bernapas lega. terselamatkan oleh Dira. caera menghempaskan punggungnya bersandar. mencoba menetralisir debaran jantungnya. meredakan amarah yang hampir saja meledak tadi.


tak peduli Deva akan mencarinya atau tidak. urusan bertemu di kantor, biarlah itu urusan nanti. yang penting sekarang dia tidak mau terjebak dalam situasi yang menyebalkan itu.


__ADS_2