
Soraya duduk dengan pandangan marah pada Deva. tapi putranya itu hanya duduk dengan santai. di sampingnya ada Jacko dan Richard. sementara Zaki, sudah pulang bersama istrinya setelah pemakaman tuan Nugraha selesai.
"kau terlalu mengambil resiko besar Dev"
ujar Soraya.
Deva masih diam saja. menyesap rokoknya santai.
"ide siapa ini?"
tanya Soraya menatap mereka bertiga.
dengan cepat, Deva, Jacko, dan Richard saling tunjuk satu sama lain. Soraya mengerutkan keningnya. mau marah pada siapa, jika ketiga pemuda sinting itu saling tunjuk satu sama lain. menimpakan kesalahan pada orang di sampingnya.
"ck.. kalian ini. yang benar saja kalian. jujur sama bibi, rich. siapa yang memulai?"
Soraya geram.
perlahan, Richard menaikkan tangannya mengakui dia yang pertama menyampaikan ide pada Deva.
"dasar kau!"
Soraya memukul lengan Richard. yang di pukul hanya pasrah.
"kau tidak lihat bagaimana dia menangis?"
Soraya masih memukul dan mencubit Richard. Richard menangkis serangan Soraya di tangan dan lengannya. tapi Soraya malah makin naik level mencoba menjewer telinganya.
"aawwwhh.. ampun bi.. aduuhh.. sakit bi.."
Richard meringis kesakitan. mengusap-usap tangannya yang kena serangan cubitan maut bibinya.
"kau harus memperbaiki ini"
Soraya menghentikan cubitan dan pukulannya pada Richard. manatap marah pada ponakannya ini.
"bi, aku memang memberi ide. tapi Deva menerima bi. jadi bukan salah ku saja"
Richard membela diri.
"kau biang keladinya"
celetuk Jacko.
"eh, kau juga menyalahkan ku?" Richard melotot pada Jacko. "bukannya kemarin kau mendukung Deva melakukan itu?"
Richard kembali menyalahkan Jacko.
"aku tidak mendukung. aku hanya bilang mencoba"
Jacko tak mau kalah membela diri.
"itu sama saja blaaaack!"
Richard geram melempar kotak rokok ke arah Jacko.
"hey.. hey.. diam. sudah diam kalian"
Soraya menghentikan mereka saling menyalahkan. "pokoknya, kalian bertiga harus memperbaiki ini"
Soraya menatap tajam pada ketiga pemuda di depannya. Richard menunduk takut melihat bibinya marah. Jacko berpangku tangan dan menopang dagunya. sementara Deva hanya diam saja. tidak terpengaruh atas kemarahan ibunya dan tingkah gugup temannya.
"Dev, tanggung jawabi atas apa yang sudah kau mulai. ibu tidak suka kau membuatnya pergi karena ulah mu" kata Soraya tajam. "dan kalian berdua. jangan memberi Deva ide gila kalian lagi"
Soraya bangkit dan beranjak pergi. meninggalkan ketiga pemuda itu.
"dan ingat Dev, kau harus meminta maaf padanya. dan bawa dia ke rumah secepatnya"
titah Soraya di ambang pintu.
begitu terdengar pintu sudah menutup, serempak Richard dan Jacko bergerak bebas seperti tawanan baru di bebaskan dari sandera.
"sialan kau! kau timpakan semua kesalahan pada ku"
Richard menuding Jacko geram.
__ADS_1
"aku? tidak. kau memang biang keladinya"
jawab Jacko enteng.
"huh.. licik sekali kau"
Richard mendengus kesal.
"sudah lah rich. mau memang sudah di kenal bibi dengan kelicikan mu soal wanita. mana bibi percaya kalau aku pencetus ide itu"
sarkas Jacko.
"aku kan hanya memberi ide. dan kau Dev, kenapa kau benar-benar melakukan itu?"
Richard menendang kaki Deva.
Deva mengusap wajahnya kasar.
"ide mu memang brengsek. kau buat wanita ku menangis" Deva menyesap rokoknya lagi. "tapi tidak apa. biar lah aku memberi shock Terapy padanya. itu baik untuk membuat jantungnya berdenyut merasakan cemburu"
"hhh.. benar saja kata bibi tadi. itu kalau dia cemburu. tapi bagaimana kalau dia makin menjauhi mu?"
ujar Jacko.
Deva tersenyum.
"dan aku akan menangkapnya lagi, lagi dan lagi"
****
mansion tuan Nugraha masih di penuhi kerabat dekat. banyak sanak keluarga yang masih tinggal untuk menemani bibi Arum dan gisel. tak terkecuali keluarga Deva. mereka masih tinggal untuk malam ini di mansion tuan Nugraha.
setelah mengadakan takziah yang di hadiri banyak kerabat , dan sebagian kalangan pejabat, mereka berkumpul berbincang di lantai bawah. sudah banyak juga pentakziah yang pulang. dan hanya tinggal beberapa tamu yang masih ngobrol.
Deva menghindari itu. dia langsung saja pergi ke kamarnya. tidak berselera untuk makan malam.
Richard sudah pamit pulang tadi. hanya tinggal Jacko yang masih sibuk mengawasi dan memerintahkan orang-orangnya untuk mengamankan lokasi.
Richard berdiri di balkon kamarnya. menatap tenda-tenda kosong yang berbaris di halaman depan mansion. mengambil sebatang rokok dan mengisapnya dalam.
hatinya sakit melihat caera pergi menjauh tadi. tapi ia mencoba untuk bertahan membiarkannya dalam pengawalan Dira. wanita itu sungguh keras kepala. masih sungkan mengeksplor hatinya dengan leluasa. terlalu naif dengan setia dan menjaga hati.
benar-benar hatinya telah membatu karena kekurangan yang ia miliki. Deva bisa memaksanya dengan segala kekuasaan yang ia punya. tapi Deva tidak mau. dia ingin caera sendiri yang menyadari kalau ia pantas bahagia dan membuka hati dengan kesadaran penuh.
caera masih punya dendam yang terpendam di relung hati yang paling dalam. tapi ia tidak tahu bagaimana caranya membalas. wanita itu terlalu lembut untuk menjadi keras. Deva tahu itu.
Deva mendengar suara pintu terbuka dan menutup kembali. ia diam saja. hanya melirik dengan ekor matanya.
"Dev"
dari sudut matanya, Deva melihat Gisel berdiri di pintu yang langsung terhubung ke balkon. dia membuang pandangannya ke depan lagi. diam saja tak menjawab panggilan Gisel.
Gisel mendekat dan berdiri di sudut pagar pembatas balkon. mensejajarkannya dengan Deva. sama-sama menatap lepas ke depan. memandang Kerlip lampu di kejauhan.
"kau belum tidur?"
tanya Gisel seraya melirik Deva sedikit.
Deva masih diam. Gisel tak putus asa. dia tahu Deva masih belum menerimanya.
"kenapa tidak makan malam Dev? ibu bertanya tadi"
Deva mengetatkan rahangnya. sedikit rasa perih itu masih ada. percikan kecewa dan marah itu masih sedikit membangkitkan getaran di tubuhnya.
"Dev"
panggil Gisel lagi lirih.
"aku tidak berselera"
jawab Deva dingin.
"hhhhmmmhhh.." Gisel menarik napas dalam dan menghempaskannya perlahan. "kau mencintainya?" tanya Gisel akhirnya.
Deva melirik sedikit.
__ADS_1
"seperti yang kau lihat"
jawabnya datar.
"aku melihat cinta itu di mata mu"
ujar Gisel.
"apa yang kau harapkan?"
suara Deva berat. meredam emosi yang sedikit menyentak darahnya.
"aku harap, dia juga begitu"
mereka sama-sama diam. bermain dengan pikiran masing-masing.
"kenapa dia tidak datang?"
tanya Deva.
Gisel melipat tangannya. mencoba menepis hawa dingin yang menusuk kulitnya.
"mungkin kami akan berpisah dalam waktu dekat"
Deva menoleh. sedikit terkejut dengan jawaban Gisel.
"mungkin itu adalah tebusan dosa ku pada mu"
"bagaimana anak mu?"
Gisel menoleh membalas tatapan Deva. dan tersenyum simpul.
"kau terlalu membenci Ku rupanya. kau tidak tahu kabar ku sama sekali"
Deva membuang pandangannya ke arah lain. mencoba meredam gejolak hatinya.
"aku keguguran Dev. anak itu tidak di takdirkan melihat dunia"
deg!
jantung Deva terasa melonjak sesaat. tapi tetap tak ingin memandang Gisel lagi. menyembunyikan rasa terkejutnya. dia teringat Jacko. pasti si hitam itu menyembunyikan semua tentang Gisel darinya.
"lalu, kenapa memilih bercerai?"
deva menyesap rokoknya lagi.
"seperti kata ku. mungkin itu karena dosa ku pada mu" jawab Gisel. ada getaran halus dalam suaranya. "kami tidak cocok lagi"
"heeehh.. tidak cocok? alasan apa itu?"
skeptis Deva.
Gisel diam saja. tak menjawab keraguan Deva atas jawabannya.
"Dev" Gisel memutar tubuhnya ke samping menghadap Deva. "berhenti merokok Dev. itu bukan diri mu"
"jangan merasa di atas angin karena sikap baik ku di pemakaman"
nada dingin itu muncul.
Gisel diam. hatinya merana melihat Deva sangat terluka karena perbuatannya. itu bukan Deva yang dulu. Deva yang hangat dan ceria. Deva yang penyayang dengan segala pesona. Deva yang selalu romantis dan memberikan apapun permintaannya. dan Deva yang sabar melebihi batas. dia bukan Deva yang ia kenal.
"Dev" Gisel berlutut "maafkan aku"
wanita itu terisak. berlutut memohon ampun di depan Deva. melihat kerasnya sikap Deva sekarang, membuat hatinya berdenyut makin merasa bersalah.
Deva diam. menatap Gisel yang terisak berurai air mata. berlutut memohon ampun atas kesalahannya. hati Deva mengeras. makin banyak duri yang timbul dan menacap menggesek hatinya. sakit.
tak ingin melihat Gisel lebih lama, Deva beranjak meninggalkan Gisel masih di posisi yang sama.
DUUEEERRR...
membanting pintu kamar dengan kencang. pergi dengan langkah lebar. ibu pun tak kuasa menghentikannya. hanya menatap punggung Deva menjauh keluar mansion. melirik ke lantai atas dan melihat Gisel keluar dari kamar Deva dengan isakan lirih.
🔥🔥🔥🔥🔥
__ADS_1