DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 114


__ADS_3

setelah Gino Pelang bersama ayahnya, caera memutuskan untuk pulang. Dinda juga sudah pergi menjemput Azam anaknya di sekloah karena ada les tambahan.


tapi ibu menahannya. katanya masih ada yang mau di tunjukkan pada caera. entah apalagi itu. caera makin geregetan melihat ibu sangat antusias tentang lamaran yang di bicarakan.


untung Dira datang menjemputnya. karena memang caera tidak bawa mobilnya. dari rumah bukit, Deva langsung mengantarnya ke rumah ibu.


"Bu, nanti saja kita bicara lagi ya Bu. itu Dira sudah datang jemput caera" caera mencoba menghindari Rani.


"loh.. looh.. looohhh... kamu ini gimana Ra. kayak mau kemana saja. biar lah Dira mampir dulu. ibu masih mau bicara ini.."


"sudah lah Bu. caera mau pulang itu. besok-besok kan masih ada waktu" alwan menengahi.


"ah, ayah sama saja. ibu mau ini loh yaaahh.."


"apa? lamaran lagi?" alwan memotong bicara istrinya.


Rani nyengir. suaminya tahu saja keinginannnya.


"sudah.. kan pihak lelaki sudah mempersiapkan segalanya. kenapa repot Bu?"


caera bengong. ternyata ayah dan ibunya sudah menerima lamaran itu. sementara caera belum tahu dan tidak mengenal calonnya samasekali.


"ayah, ibu. sebenarnya ada apa ini? siapa yang melamar Rara, yah?"


caera bingung. kenapa kedua orangtuanya jadi bersikap tidak bijak begini. menerima lamaran tanpa bertanya pada caera lebih dulu.


"anak temannya ibu mu Ra. baik orangnya" jawab alwan.


"ayah sudah kenal baik orangnya?" caera mengerutkan dahi.


"hehee.. sudah. sering datang ke toko"


apa??!!! ya Tuhan.. apalagi ini?? ayah malah sekongkol dengan ibu


"tapi caera belum kenal samasekali ayah! gimana sih?" caera merengut kesal.


"tadi ibu bilang kamu kenalan dulu, kamu malah tidak mau Ra. kalau kamu mau, biar ibu suruh datang nih" Rani menimpali.


"eehh jangan Bu.. jangan. caera belum siap Bu"


"naahh itu... ya sudah kamu terima saja. atau kamu sudah ada pilihan sendiri?" cecar ibu.


"aduuhh.. Rara pusing" caera memijit keningnya. bingung mau bagaimana.


"ya sudah Ra. jangan terlalu di pikirkan. nanti kalau kamu sudah siap, bilang sama ayah" alwan menengahi.


caera diam saja. menghela napasnya berat. ada-ada saja ayah dan ibunya ini. bagaimana caranya caera meminta Deva melamarnya? apa tidak memalukan? pastilah Deva menganggapnya yang tidak-tidak. baru saja menjalin hubungan, caera sudah memintanya melamar?


otak caera sangat kacau. tidak dapat membayangkan bagaimana malunya dia pada Deva jika ia memintanya menghadap ayah dan ibunya. tapi dia cinta pada Deva. apa itu salah?


"ya sudah Bu, Rara pulang dulu"


"ya sudah. nanti kamu cepat kabari ibu ya"


caera mengangguk. pamit pada ayah dan ibunya. mengajak Gino pulang bersama Dira.


****


belum sempat caera masuk ke dalam rumah, sebuah mobil berhenti di depan gerbang. terlihat Arya keluar dari mobil. tergesa masuk ke halaman rumah. pak dirman cepat menghadangnya.


"ada keperluan apa tuan?"


Arya menatap pak dirman tak senang. merasa di halangi bertemu caera.


"saya ingin menemui caera"


"nanti dulu tuan. biar saya tanya nyonya dulu"


"sudah pak dirman. tidak apa-apa. biarkan masuk" seru caera.


pak dirman membungkuk hormat dan diam. memberi ruang Arya untuk bertemu caera. Arya menatap pak dirman sinis. lalu melangkah ke teras rumah.


Dira langsung berdiri tegak bersikap waspada. wajahnya mengeras melihat Arya mendekat pada caera.


Arya berdiri di depan caera. caera melihat Arya, memperhatikan Arya dengan seksama. Arya terlihat lebih kurus. lingkaran hitam di bawah matanya terlihat jelas.


hati caera terenyuh melihat penampilan Arya sekarang. dulu lelaki ini sangat bergaya dan terlihat tampan. caera selalu mengurusnya dengan baik. tapi kini, Arya terlihat sedikit tak terurus.


"Ra" Arya langsung berlutut di depan caera.


"mas.. jangan begitu. apa-apaan kamu?" caera mundur.


Dira bergerak ingin mendorong Arya agar menjauh. tapi caera mencegahnya. menatap Dira memberi isyarat bahwa semua baik-baik saja. Dira mengangguk, lalu mundur lagi.


"kembali lah pada ku" Arya membungkukkan badannya. bersikap memohon pada caera.


"mas, jangan begini. ayo bangun. tidak enak di lihat orang" caera menarik Arya untuk bangkit.


Arya menurut. bangkit berdiri lagi. menatap caera penuh rasa bersalah.


"duduk dulu" caera mempersilahkan Arya duduk di kursi teras.


"Ra, aku tidak perlu duduk. aku hanya mau kau kembali pada Ku. aku sudah menceraikan Vivi. aku sudah meninggalkan ibu" Arya meraih tangan caera dan menggenggamnya.

__ADS_1


caera kaget. cepat-cepat dia menarik tangannya dari genggaman Arya.


"maaf. kamu duduk dulu. aku ambilkan minum ya" caera mempersilahkan Arya duduk.


"Mamaaa.. mbuuuummm..."


Gino muncul dari dalam rumah. membawa mainan pesawatnya menirukan menerbangkan pesawat di tangannya. tapi begitu melihat Arya di depannya, Gino berdiri mematung melihatnya.


wajah Arya cerah seketika melihat Gino. rasa rindu menyerangnya. sudah lama sekali Arya tidak bertemu dengan bocah kecil itu.


"Gino.. anak papa.." Arya berjongkok. tersenyum melihat Gino. "ayo sini sama papa. papa kangen"


Arya merentangkan tangannya. menyambut ingin memeluk Gino.


bukannya senang melihat papanya datang, Gino malah bergeser ke belakang caera. memeluk caera erat dari belakang. menyembunyikan wajahnya di belakang caera. Gino malah takut melihat Arya. caera diam saja. hatinya tergores sembilu melihat ini.


"Gino. ini papa. papa pulang. sini.. peluk papa"


Arya tidak putus asa. merentangkan tangannya makin lebar. ingin menunjukkan pada Gino, dia sangat ingin memeluknya. Gino mengintip sejenak, lalu bersembunyi lagi.


"tidak mau"


Gino mengkeret takut. makin merapatkan tubuhnya di belakang caera.


wajah Arya berubah sedih. terlalu lama dia tidak bertemu dengan Gino. Gino sudah melupakan Arya. Gino yang dulu selalu manja padanya, kini malah ketakutan melihatnya.


"Gino, ini papa" Arya mencoba mendekati Gino lagi.


"mas, tolong. jangan memaksanya. dia takut mas" caera cepat menengahi.


Arya lemas. jarak antara dirinya dan Gino kini makin merentang lebar. anak itu takut padanya sekarang.


"duduk dulu mas"


caera mempersilahkan Arya duduk. Arya menurut saja. ia akan menuruti apapun kata caera. dia hanya mau caera kembali.


"Gino, Gino masuk dulu sama tante Dira ya?"


Gino mengangguk. Dira beranjak menggandeng Gino membawanya masuk. caera duduk bersama Arya di teras.


tidak membuang kesempatan, Arya langsung saja bersimpuh di depan caera. meraih tangannya menggenggamnya erat.


"Ra, aku sudah menceraikan Vivi. aku meninggalkan ibu. ayo kita mulai dari awal Ra"


caera diam. hatinya berdenyut sakit. menatap mata Arya lekat. melirik tangannya di genggaman Arya.


"Ra, ibu dan Vivi bersekongkol merusak rumah tangga kita Ra. aku tahu semuanya. maafkan aku. ayo Ra, kita mulai dari awal lagi"


belum sempat caera menjawab, terlihat di depan gerbang, mobil lain berhenti. Arya menegang. itu mobil Vivi. pasti bersama ibunya.


tapi begitu melihat Arya bersimpuh di depan caera dan menggenggam tangannya, Vivi tidak menghiraukan rasa sakit yang menyerangnya. hatinya panas. terbakar kemarahan yang menghanguskan akal sehatnya.


cepat-cepat caera menarik tangannya dari genggaman Arya dan mereka berdua bergerak bangkit berdiri.


Maya juga bergerak maju dengan marah. masuk menerobos pertahanan pak dirman. lelaki setengah baya itu kewalahan menghadapi kedua wanita yang terbakar amarah.


"dasar pe la cur!!! kau ingin merebut Arya lagi dari ku!"


Vivi bergerak memburu caera. sedangkan Maya bergerak menarik Arya.


"apa sih mau mu Arya! ayo pulang!" pekik Maya.


caera sangat terkejut melihat kedatangan Vivi dan Maya yang membabi-buta dengan marah.


"ibu! pergi lah" usir Arya marah.


caera bingung. entah apa yang terjadi dengan ketiga orang ini. tahu-tahu semuanya berkumpul dengan membawa kemarahan di rumahnya.


"ada apa ini?" tanya caera.


"heh.. perempuan mandul! jangan sekali-kali kamu membujuk Arya untuk kembali pada mu ya! aku jijik punya menantu seperti mu!" cerca Maya menuding wajah caera penuh kebencian.


caera terhenyak. wajahnya seperti tertampar telak oleh kata-kata mantan mertuanya.


"ibu! hentikaaaan!! aku mencintai Rara, Bu!! jangan pernah menghinanya!!" bentak Arya pada Maya.


mendengar kegaduhan, Dira berlari keluar dan langsung membentengi caera. berdiri langsung tepat di depan caera.


"jangan coba-coba menyakiti nona caera. atau kalian akan hancur di tangan ku!"


ujar Dira dingin dengan waspada. siap menggempur orang-orang tidak waras didepannya ini.


"oohh... kau pengawal bodoh! minggir!!"


Vivi menyerang Dira. ingin menjambaknya. tapi dengan sikap terlatih, Dira menangkap tangan Vivi dan menyentakkannya menjauh. Vivi terhuyung dan langsung memegangi perutnya.


melihat itu, kini Maya yang bergerak maju kedepannya. menaikkan tangannya ingin menampar Dira dengan keras. tapi dengan ringan, Dira mematahkan serangan itu. mengebaskan tangannya sedikit, tangan Maya sudah terlempar dengan keras.


"aduuuhh... perut ku.."


Vivi merintih kesakitan. memegangi perutnya kencang. keringat dingin bercucuran di wajah dan lehernya.


"Vi.. kamu kenapa?"

__ADS_1


perhatian Maya teralihkan pada Vivi. mendekat dan memegangi Vivi dengan panik.


"perut ku Bu.. aduuhh... sakit" Vivi merintih kesakitan.


"Arya! lihat istri mu ini. dia sakit! ayo tolong dia, Arya!!" bentak Maya pada Arya.


"hah!!! darah!"


caera mendelik. melihat darah mengalir turun dari paha ke bagian betis Vivi.


"aduuhh... Ar.. tolong aku.." Vivi merengek sambil merintik kesakitan.


Arya diam saja. malah menatap Vivi dengan jijik. merasa semuanya akan sulit, pasti akan menghambat caera kembali padanya. gelagat tidak baik sudah Arya rasakan.


alih-alih peduli, Arya malah menarik tangan caera. menggeretnya untuk membawa caera pergi. caera sampai terhentak kedepan mengikuti langkah Arya dengan terseret.


"Arya lepaskan!" caera meronta.


tapi Arya tidak mempedulikan. tetap menggeret caera menjauh, untuk meninggalkan keributan itu. dia ingin membawa caera jauh. agar tidak diusik orang lain.


tapi Dira dengan cekatan bergerak mengejar Arya. menerjang punggung Arya dengan keras.


"hiiiaaa...."


bhuukk!!!


Arya tersungkur. pegangannya pada caera terlepas. Dira mengamankan caera. menarik membawa ke teras lagi.


suasana jadi kacau. caera mendekati Vivi yang masih meringis kesakitan. darahnya kini makin banyak mengalir ke kakinya. caera sampai kalang kabut melihat itu ngeri.


Arya bangkit. menatap Dira dengan marah. dia tidak mengenal Dira dengan baik. tapi gadis yang satu ini membela caera mati-matian. rupanya Dira jago ilmu beladiri.


"minggir kamu. aku ingin membawa caera pergi. jangan menghalangi!" bentak Arya.


"cobalah" ujar Dira dingin.


"Arya!! jangan gila kamu! lihat Vivi ini banyak daraaahh!!" jerit caera pada Arya.


"Ra, jangan pedulikan mereka. mereka yang sudah menghancurkan kita Ra. ayo ikut aku. kita pergi!" Arya tidak peduli dengan keadaan Vivi.


"Arya.. aduuuhh.. perut ku sakiiiit..." Vivi merintih kesakitan.


"diam kamu!" bentak Arya.


Dira masih waspada mengawasi gerak-gerik Arya. Arya mendekat ke teras. tapi hanya melihat pada caera tidak yang lain.


"Ra.. ayo pergi. kamu bilang bukan, kalau aku meninggalkan perempuan jahat ini kamu akan kembali pada ku. ayo Ra kita pergi"


Arya menarik caera lagi. tapi caera menepis tangan Arya. Arya tak putus asa. dia menarik caera lagi. menyeretnya pergi.


Dira kembali maju. menggebrak Arya. memukul tangan Arya yang menarik caera. pegangan Arya terlepas lagi.


Arya marah menatap Dira. mengeretakkan giginya dan maju menyerang Dira.


"kurang ajar kamu!!"


teriak Arya menyerang Dira. tapi belum sempat tinju Arya sampai, Dira sudah menendangkan kakinya ke depan langsung mengenai perut Arya.


bhuukk!!


kena telak. Arya terpelanting ke belakang. menendang Vivi yang paling dekat jaraknya dari Arya.


"aaaakkhhhgg!!!"


Vivi juga terpental ke samping. membentur pot bunga besar. Vivi terjatuh tertelungkup. membuat ia menjerit kencang menggelegar.


semua yang melihat itu menjerit histeris. Vivi tergeletak tak berdaya. kesadarannya terbang. pinggangnya membentur pot bunga. dan ia jatuh tertelungkup. perut buncitnya tertindih.


caera sampai ngeri melihat itu. mendelik melihat Vivi berlumuran darah.


"Vivi!!!!"


Maya menjerit. caera shock luar biasa. Arya juga bangkit dan melotot melihat keadaan Vivi. Maya jatuh terduduk lemas. caera terengah ngeri melihat Vivi.


tapi kesadarannya cepat pulih. ia mendekati Vivi dan berteriak pada siapa saja.


"toloong... tolong Vivi!!! Arya!! diraaa!!! cepat sediakan mobil. Arya!!!! cepat bawa Vivi ke mobiill!!"


teriak caera. dan Dira segera berlari mengambil mobil. sedangkan Arya masih diam melotot saking shocknya.


"aryaaa!!! jangan diam saja kamu!!! ayo cepat!! Vivi butuh pertolongan!!" jerit caera lagi. air mata berlinang. caera shock melihat kejadian ini.


Dira sudah membawa mobil. datang berlari dan menolong Vivi untuk membawanya ke rumah sakit. bergotongan mereka bertiga mengangkat Vivi yang sudah tak sadarkan diri.


Arya duduk di depan . Dira menyetir mobil. sedangkan caera duduk di bangku belakang menjaga Vivi yang tergeletak tak sadarkan diri.


caera duduk di bagian kaki Vivi. memeganginya menangis terisak.


"Vi.. tolong bertahanlah. kita kerumah sakit Vi. bertahan lah viiiii...." caera menagis melihat keadaan Vivi.


"Dira!! cepat lah!! tolong!!"


Dira mempercepat kecepatan mobilnya. menginjak gas lebih dalam. sementara Arya, hanya menunduk dan terisak pilu.

__ADS_1


"


__ADS_2