
Zaki sudah datang. Jacko dan ibu juga ada di kamar Deva sekarang. Zaki masih memeriksa Deva. Deva tampak lemah karena berkali-kali muntah. dan wajahnya sedikit pucat.
Setelah selesai memeriksa Deva, Zaki hanya tersenyum menatap Deva dan caera. Itu membuat Deva sidikit jengkel.
"Bisakah kau menghilangkan wajah menjengkelkan mu itu zak? Aku sakit dan kau malah tersenyum" ujar Deva kesal.
"Haha.. kau tidak apa-apa bos. Istirahatlah hari ini" jawab Zaki santai.
"Iisshh.. kau ini. Deva sudah muntah-muntah begitu. Kau masih bilang tidak apa-apa?" Soraya ngotot.
"Mungkin hanya kebayakan makan yang asam bibi. Deva tidak apa-apa" ujar Zaki.
Caera hanya diam dan memegangi tangan Deva. Masih ada sisa tangis kepanikannya tadi.
Zaki menyerahkan obat pada caera.
"Kakak ipar, ini obat untuk lambung. Lihat dosis pemakaiannya. Suruh suami bucin mu ini istirahat" ujar Zaki.
Caera hanya mengangguk. Zaki beranjak pergi meninggalkan mereka. Tapi Soraya cepat mengejarnya.
Sesampainya di luar, Soraya mencegat Zaki.
" Zaki. Aku ingin bicara"
Zaki tersenyum. Menatap bibinya penuh arti.
"Kenapa kau tersenyum begitu?" Tanya Soraya.
"Aku tahu apa yang bibi pikirkan" jawab Zaki.
Wajah Soraya langsung berbinar. Tersenyum lebar dan menarik Zaki lebih menjauh dari pintu kamar Deva. Mengajak Zaki berjalan menuruni tangga.
" Benarakah zak? Jadi benar apa yang ku pikirkan?" Tanya Soraya antusias.
"Ya bibi. Tapi tolong, semuanya belum jelas sebelum ada pemeriksaan lebih lanjut"
Zaki diam sesaat. Menatap bibinya ingin di mengerti.
"Caera dan Deva belum menyadari itu bi. Jadi aku harap, kita semua bisa menjaga perasaan caera. Jangan bertanya apapun padanya. Biarlah mereka berdua mengetahui sendiri. Ini sangat sensitif bagi caera"
Soraya tersenyum. Sangat mengerti dengan penjelasan zaki.
"Baiklah. Bibi mengerti. Tapi tolong. Katakan pada ibu mu aku ingin menemuinya. bilang padanya, Masak makanan kesukaan ku. Aku sedang bahagia hari ini" ujar Soraya berbinar-binar.
"Bibi... Ayolah. Jangan beritahu ibu ku dulu. Bibi tahu adik bibi itu kan? Mulutnya tidak akan bisa diam jika mengetahui kabar apa pun" Zaki memohon.
"Diam kau! Dia adik ku. Jangan kau menghinanya. Aku yang akan kau hadapi zak" soraya mengancam.
"Astaga.. kakak dan adik sama aja" gumam Zaki.
"Apa?!" Soraya melotot.
"Yaahh.. baiklah... baiklah.. aku akan bilang pada ibu ku" Zaki menyerah.
"Haha.. itu baru keponakan ku"
Soraya tergelak bahagia. Sementara Zaki, langsung pergi dan menelpon ibunya. Mengatakan kakaknya akan menemuinya sebentar lagi.
****
Caera mengambil mangkuk yang berisi bubur. Ingin menyuapi Deva. Tapi Deva menolaknya.
"Aku tidak mau sayang. Itu tidak enak"
"Dev, makan lah sedikit. Perut mu masih kosong. Apalagi tadi muntah-muntah. Kau butuh asupan" caera membujuk.
dengan berat hati, Deva membuka mulutnya. caera menyuapkan bubur hangat itu ke mulut Deva.
"lebih baik, kau istirahat hari ini Dev. aku akan mengurus segalanya. aku pergi dulu"
Deva hanya mengangguk. lalu Jacko pergi keluar dari kamar. caera masih telaten menyuapi Deva.
__ADS_1
"sayang"
"hmm"
"jangan makan mangga lagi. perut mu jadi sakit kan"
"tidak sakit sayang. tapi mual. ini juga aku mual. apalagi bubur ini"
Deva menatap jijik bubur di mangkuk yang di pegang caera.
"tapi kamu sakit. lambung mu lagi tidak baik"
"sudah sayang. aku tidak mau"
Deva menolak ketika caera ingin menyuapinya lagi. caera mengalah. menaruh bubur di meja. lalu memberi Deva obat.
kliing.. kliing.. kliing..
ponsel caera berbunyi. caera memeriksanya. ibunya menelepon. caera tersenyum. pasti ibunya Deva yang memberinya kabar.
"siapa sayang?"
"ibu, Dev"
Deva mengangguk. caera menerima telepon ibunya.
" hallo ibu, assalamualaikum"
"walaikumsalam, bagaimana keadaan Deva, Ra?" tanya ibunya khawatir.
"Deva tidak apa-apa Bu. hanya gangguan lambung sedikit" jawab caera sambil melirik Deva.
"aahh.. syukurlah" ibu terdengar lega.
"iya, Bu"
"tapi kenapa bisa begitu? kamu tidak mengurus makanan suami mu dengan baik ra?"
ibu terdengar sewot.
Deva yang menjawab. tersenyum dan menarik istrinya ikut rebah di sebelahnya.
"tapi kenapa sampai masalah lambung Dev? kau sering terlambat makan?"
"tidak Bu. aku kemarin banyak makan mangga" jawab Deva lagi.
"benarkah? mangga.... mangga muda?"
suara ibu tampak antusias. caera dan Deva saling pandang. tidak mengerti kenapa ibu terdengar seantusias itu.
"iya, Bu. Deva makan mangga muda terus beberapa hari ini. terus, jadi muntah karena lambungnya bermasalah" jawab caera.
"astaga! Rara.. kamu lagi datang bulan ya?"
pekik ibu di seberang sana. sampai caera menjauhkan ponsel agak tidak terlalu kuat suara ibu memekakkan telinga.
"apaan sih Bu? Rara belum datang bulan. dan juga, apa hubungannya itu sama Deva makan mangga, Bu? ibu jangan aneh deh" jawab caera.
"iisshh.. dasar kamu ini. kemungkinan itu bisa saja. kamu kan punya suami, jadi ya mungkin saja. ayo periksa"
"apanya Bu yang di periksa?"
caera dan Deva masih belum ngeh juga. semakin heran saja dengan kata-kata ibunya.
"Rara, masak iya kamu tidak tahu. biasanya, orang yang suka mangga muda itu identiknya apa?"
"perempuan ham.... astaga!"
caera kaget. Deva juga terjengkit kaget. saling pandang satu sama lain. membiarkan ibunya mengoceh di ponsel. caera sudah tidak mendengar itu lagi. sampai ibunya memutuskan panggilan telepon.
pikirannya kacau. hatinya berdesir nyeri.
__ADS_1
"sayang"
"ya, sayang"
"apa iya aku hamil?"
"mungkin saja sayang. kamu belum menstruasi kan?"
caera mengangguk. pandangannya kosong. ada rasa bercampur aduk yang menyerangnya. hamil? apa dia bisa? selama ini sudah di vonis susah mengandung. tapi kenapa sekarang ada kemungkinan itu muncul?
Deva menatap istrinya dengan sayang. memeluknya mesra. mengelus perut rata caera perlahan.
"mungkin saja sayang. ayo kita periksa" bisiknya.
caera mengeleng. dia takut. takut kecewa. dari dulu sudah puluhan testpack ia habiskan untuk mengecek kehamilan. tapi tetap nol. tidak pernah bergaris dua. hingga rasa lelah itu datang. kecewa yang kental mengambang menghiasi hatinya.
bagaimana nanti kalau tetap nol? bukan hanya dia, tapi Deva juga pasti sangat kecewa. hati caera berdesir nyeri. matanya memanas. begini sulitkah punya anak? menanti bertahun-tahun dan hasilnya selalu mengecewakan.
"hey.. sayang. kamu kenapa?"
Deva meraih wajah istrinya. menghadapkan padanya. menghapus air mata yang berlinang di sudut mata caera.
"maafkan aku Dev. jangan berharap lebih pada ku" ujar caera sedih.
"astaga... Rara.. jangan bicara begitu"
Deva mengecup kening caera. merasa bersalah telah mengajaknya untuk periksa kehamilan. pasti caera tersinggung.
"aku tidak memaksa sayang. hanya penasaran kenapa kamu belum datang bulan" ujar Deva mengelus pipi istrinya.
"aku takut Dev"
"takut apa?"
"kecewa"
mendengar itu, Deva memeluk caera. ikut merasakan ketakutan istrinya. takut harapan itu tenggelam dalam kekecewaan yang selama ini telah bersarang di hati.
"tidak apa-apa kalau tidak mau sayang. aku juga tidak mementingkan itu. yang penting, kamu tetap begini bersama ku. itu sudah cukup"
Deva mengecup bibir caera sekilas. lalu mendekapnya erat. caera terisak di dada Deva. rasa lemah itu datang lagi. takut itu menyerang lagi.
berumah tangga yang di nantikan adalah kehadiran seorang bayi. tapi caera tidak bisa memberikan itu.
"Dev"
"hmm"
"kamu pasti kecewa"
"tidak sayang"
"hikkss.. hikkss.. berumah tangga pasti yang dituju keturunan Dev. aku tidak bisa memberinya pada mu.. hikkss.. hiikkss"
caera terisak pilu. Deva jadi semakin merasa bersalah sudah membuat istrinya merasakan luka lama itu lagi.
"sayang... dengarkan aku"
Deva merenggangkan pelukannya. menatap wajah sendu istrinya yang sudah di banjiri air mata.
"berumah tangga itu bukan tujuan. tapi dengan berumah tangga, kita akan mencapai tujuan itu sendiri. bagi ku, kau lah tujuan ku. bukan apa hasil dari tujuan itu. kau sudah cukup bagi ku. tidak yang lain"
hati caera berdesir hangat. memeluk suaminya erat. begitu baik suaminya ini selalu memperlakukannya lembut setiap saat.
"tapi Dev, apa iya.. wanita hamil suka mangga muda?"
"sepertinya begitu sayang. aku pernah lihat kak Ruby waktu hamil si kembar, dia makan mangga muda terus"
"tapi kan.. yang makan mangga muda kamu bukan aku"
"maksudnya?" Deva mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"jangan-jangan... kamu yang hamil sayang!!"
π±π±π±π±π±π₯Άπ₯Άπ₯Άπ₯Άπ₯Άπ₯Ά