DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 101


__ADS_3

begitu lift terbuka, caera melangkah tergesa dengan langkah lebar. tak menghiraukan Dira menatapnya heran, dan Jacko yang berdiri di depan pintu ruangan Deva.


jengkel caera menatap menantang pada Jacko.


"anda bersekongkol kan?"


tanya caera judes pada Jacko.


Jacko hanya tersenyum smirk menatap caera. dengan jengkel caera menginjak kaki Jacko dengan keras.


"uhhg.. rasakan!"


Jacko kaget kakinya di injak caera. tapi Jacko tak merasakan sakit sedikit pun. hanya menatap caera dengan alis bertaut.


caera melotot marah. penasaran kenapa Jacko tak merasakan sakit di kakinya karena injakan caera.


"uuhhg!! sakit tidak?! hah?"


sekali lagi caera menginjak kaki Jacko. tapi sekali lagi Jacko hanya menatapnya diam. caera makin gusar.


ini orang atau tembok besi sih? kenapa tak kesakitan?? gila!


"iihhh.. kau sama saja!"


caera gemas melihat Jacko tak terpengaruh injakan kakinya. mengepalkan tangannya menirukan meraup wajah Jacko dengan gemas di udara.


Jacko hanya menatapnya seperti patung yang tak bergerak. caera menghentakkan kakinya jengkel dan masuk ke ruangan Deva.


tampak Deva sudah berdiri di depan pintu. memasukkan kedua tangannya di saku celananya. menatap mata caera dengan tajam. tapi caera juga menatapnya dengan sikap menantang.


"apa sih maksud tuan Deva berbuat begitu? mau mempermalukan saya, begitu?"


caera nyolot. sangat geram dan marah pada Deva. Deva masih diam saja. menatap mata caera dingin.


"apa? mau marah?? marah saja!"


caera maju dan menantang Deva. memaju-majukan pundak dan dadanya. memancing reaksi marah Deva.


"kenapa nempel-nempel dengan ba ji Ngan itu?"


tanya Deva dingin.


"ba ji Ngan?? eeehh.. tuan Dev! bukannya tuan yang nempel-nempel dengan gadis macan tutul itu? sekarang dia pakai ular sanca lagi. dia mau tebar pesona, gitu? pake goyang-goyangin dadanya lagi. iihhhh... benciiii"


caera nyerocos panjang lebar sambil menghentak-hentak kakinya ke lantai dengan gemas dan mengepalkan tangannya.


Deva bukannya marah, malah mengulum senyum simpulnya.


"jadi dia gadis macan tutul dengan dada bola basket?"


tanya Deva. ingat caera mengatakan gadis macan tutul.


caera menatap Deva dengan marah.


"iya. itukan kekasih mu yang suka begini?"


caera berjalan melenggak-lengokkan pinggulnya dengan kaku mencontohkan Della berjalan.


"mmpphhtt"


Deva menahan tawanya melihat tingkah kaku caera berjalan. dia malah terlihat seperti robot.


"iihh... aku lucu ya? dia yang cantik, begitu?"


caera merengut kesal. "pantas saja kau cuma diam saja ketika macan tutul itu lengket pada mu. huh!"


caera mencebik kesal dan membuang mukanya dari Deva.


"cih ganjen sekali dia. mengoda dengan dada semangka itu! emang di sangka aku tidak bisa apa? benciii...!"


caera masih bergumam marah. benar-benar kesal mengingat tadi Della menempelkan tubuhnya pada Deva.


begitu caera berbalik ingin marah dan memaki lagi, dia kaget. Deva sudah berdiri dekat sekali dengannya.


"eh.. ngapain?"


caera menjauhkan wajahnya.


"jadi cemburu nih ceritanya?"


tanya Deva sambil tersenyum menggoda.


"eh.." caera menautkan alisnya. gugup dengan pertanyaan Deva.


benarkah? aku cemburu?


"cem.. buru? aku? eh.. anu.. tidak! tentu saja tidak"


jawab caera tergagap. memungkiri hatinya yang terasa panas terbakar cemburu.


"aku tidak suka kamu selalu tertawa dengan ba ji Ngan itu."


ujar Deva berbisik di telinga caera. "aku cemburu"


caera mendelik. merasa marahnya bangkit lagi. menoleh menghadap Deva lagi.


"kamu kira aku tidak cemburu melihat kamu dengan gadis ular sanca itu? aku juga biiii..."

__ADS_1


kata-kata caera menggantung. baru sadar kalau barusan dia bilang bahwa dia juga cemburu.


Deva tersenyum lebar. menaik-naikkan alisnya menatap mata caera yang langsung panik ingin meralat omongannya.


"maksud ku.. tidak juga. tidak cem.. eehh"


Deva tak ingin mendengarkan ocehan caera lagi. menarik tangan caera dan menyeretnya ke dalam kamar di ruang kerjanya.


"aduh.. lepas tuan Dev! mau kemana ini?"


caera panik. meronta minta di lepaskan tangannya oleh Deva. tapi Deva tak menggubris itu. tetap menarik tangan caera masuk ke dalam kamar.


masuk ke kamar mandi yang ada di kamar itu. membuka pintunya dan langsung membuka keran air. air mengucur deras. Deva menghempaskan caera di bawah guyuran air shower.


"aahh.. tuan Dev.. " caera gelagepan merasakan air dingin mengguyurnya deras. "apa-apaan ini.. uuffpp... aku basah tuan deeevv"


Deva mengatur suhu air agar menjadi hangat. lalu mendekati caera dan kini sama-sama terguyur air di bawah shower. mendekap caera mendekat padanya.


menatap mata caera dengan tajam. caera juga menatap mata Deva. saling menatap di bawah guyuran air dari shower.


"sekarang sisa-sisa mereka di tubuh kita berdua telah hanyut di bawa air"


ujar Deva.


caera masih diam mencerna apa maksud Deva. diam saja menatap mata coklat itu.


"aku tidak suka kau dekat dengan ba ji ngan itu"


ujarnya lagi tajam.


"Nixon. bukan ba ji Ngan"


ujar caera meralat apa kata Deva.


Deva mengetatkan rahangnya. geram caera menyebut nama lelaki lain dengan gamblang.


"siapa?"


"Nixon"


makin tajam mata itu menatap caera. dan caera menantang.


"hmmm.. siapa?"


caera diam sesaat. seakan membaca situasi. menatap mata Deva dengan rasa berkecamuk.


"Nix..."


tak sampai caera melanjutkan nama itu, Deva sudah me lu mat bibirnya. menggigit dengan gemas. caera tidak membalas. merasa kesakitan pun tidak.


"gampang sekali kau menyebut namanya"


mengecup bibir itu lagi. caera hanya diam. tak melawan dan tidak juga memberontak.


"lalu kau sebut aku apa?"


"tuan Deva"


Deva memicingkan matanya. marah menatap caera.


"siapa?"


"tuan de.... mmmpphh"


lagi Deva me lu mat bibir caera. menyesapnya bercampur dengan air shower. jadi seperti minum dari bibir basah itu. menyesap dengan nik mat. mengetatkan pelukannya.


lalu melepaskan lagi pa gu Tan nya. menatap mata caera lagi. sama-sama kehabisan napas. caera menghirup udara sebanyak-banyaknya di bawah guyuran air.


"ulangi. siapa?"


caera diam. hanya menatap mata Deva. dengan gemas, Deva me lu mat lagi. kali ini lebih dalam. menelusupkan lidahnya dan mencari lidah caera. caera meremas lengan Deva erat. merasakan sensasi aneh di hatinya. rasa yang telah lama hilang.


Deva menemukan lidah caera. memainkannya lembut. caera terbuai. tanpa sadar ia membalas. membelit dan menari salsa bersama. panas.


merengkuh punggung Deva. meremas di sana. kini caera tak dapat menyembunyikan rasa hatinya. ia ingin Deva.


Deva melepas lu ma Tan nya. menatap mata caera yang kini sayu. mengusap bibir basah itu dengan jarinya.


"siapa aku?"


bisik Deva.


"Dev.. "


"hmmm" Deva menggeram lirih. tak dapat mencegah gejolak hatinya. "siapa?"


"Deva.."


mengecup bibir yang telah menyebut namanya sempurna. caera tak dapat menghalangi hatinya lagi. ia jatuh. jatuh pada Deva.


"kau cemburu sayang?"


caera hanya mengangguk pelan. tak mau menutupi rasa cemburu melihat Deva dengan wanita lain. ia tak sanggup. jangan lagi. ia harus menunjukkan rasa itu sekarang.


"aku juga. jangan ulangi lagi. hmm"


caera mengangguk dan memeluk Deva erat. tak ingin melepas lagi. dia telah jatuh cinta. jangan lagi melihat wanita lain di dekat Deva. tak mau. hatinya menolak. ia bisa terbakar habis oleh rasa cemburunya.

__ADS_1


tak menghiraukan mereka basah-basahan masih berpakaian lengkap. bukan hanya Deva, tapi caera juga ingin menghapus jejak tubuh Della di tubuh kekasih hatinya.


Deva merenggangkan pelukannya. menatap wanitanya dengan sayang. Deva bahagia caera sudah membuka hati untuknya. membukanya dengan sangat lebar. dan ia dapat masuk sekarang.


Deva mematikan keran air. lalu membuka kancing kemeja caera satu persatu. caera menegang. menahan tangan Deva di dadanya. menatap mata Deva dan menggeleng lemah.


"baju mu basah sayang. nanti masuk angin"


ujar Deva mengerti apa maksud caera.


caera melotot. malu senderi dengan otak kotornya. biasanya Deva mesum kan. jadi dia mencegah sebelum dia tak bisa menahan dan pasrah 🤭


caera membiarkan Deva membuka kancing kemejanya. menampilkan dada polos yang hanya menyisakan penutup di dada.


Deva memandangi itu tak berkedip.


"Dev! jangan memandanginya terus"


ujar caera melotot.


Deva menaikkan alisnya. tersenyum cerah. tanpa aba-aba, ia naikkan penutup dada itu. dengan cepat tersembul lah gunung salak dengan ujung puncak mungilnya.


"aaaa"


caera menjerit kaget. reflek menutup dadanya dengan tangan. mendelik pada Deva. tapi pria itu hanya nyengir kuda.


"kau mesum sekali! maksud ku bukan begitu!"


Deva memegang tangan caera yang menutupi dadanya. menariknya pelan. caera makin panik. menahan tanganna agar tidak bergeser.


"sedikit saja sayang"


bisik Deva.


"tidak Dev. hentikan!"


seru caera.


tapi Deva tak mendengarkan itu. tetap menarik tangan caera dengan kuat. caera kalah tenaga. tangannya bergeser hingga menyembulkan gunung salak dan puncak mungil di ujungnya. Deva menatapinya. sungguh indah gunung besar nan bulat ini. putih mulus dengan ujung puncak coklat pinky.


caera melotot pada Deva. menggelengkan kepalanya panik bukan main. Deva menatap mata caera dengan seringai menggoda. membuat caera makin melotot marah.


"Dev! jangan! kau mesum deeeevv.. uuuhhhgg.."


tak bisa bicara lagi. Deva sudah ada di puncak kecil itu. me ngu Lum di sana. membuat caera panas dingin.


men ji lat puncak itu dengan lembut. caera melengkungkan tubuhnya. menunduk agar Deva melepasnya. tangan Deva menahan tangan caera dengan erat. membuat caera tak bisa bergerak banyak.


bukannya terlepas, puncak itu bahkan tertarik lebih kencang jadinya. membuat caera menjerit kecil. sensasi luar biasa menghantamnya. tubuhnya bergetar.


Deva makin giat mengu Lum lembut. membuat puncak gunung itu makin mengetat dan mencuat tajam.


"deevvaa.. sudddaahh"


susah payah caera menghentikan Deva. Deva seakan tak mendengar itu lagi. asik dengan gigitan kecil di sana.


beralih ke sisinya dan me ngu Lum di sana. menciptakan bekas merah tanda kepemilikan. membuatnya berjejer rapi. men ji lat ke puncaknya lagi dan mencu cup puncak mungil itu.


sensasi dingin dan kembali hangat di puncak dadanya membuat caera lemas. lututnya bergetar menahan serangan Deva.


napasnya memburu. sungguh kejam Deva membuatnya menderita begitu. Deva melepas tangan caera. membuat caera langsung meremas rambut basah Deva. mencari pegangan agar tidak ambruk saking gemetarnya.


"mmmgghhh"


Deva mengerang lirih. men ji la ti puncak hangat milik caera. kanan kiri tak lepas dari lu ma Tan nya. darahnya mengalir lebih deras melihat puncak kecil itu mencuat menantang. memi Lin nya lembut sambil menatap wajah caera yang sudah merah padam.


Deva menghentikan aksinya. berdiri tegak menjulang di depan caera. menatap wajah wanitanya yang masih memejamkan matanya dan sudah di penuhi kabut ke nik matan.


"kau milik ku"


bisik Deva di telinga caera.


caera membuka matanya. menatap manik mata Deva dengan sayu.


"aku mencintai mu"


bisik Deva lagi.


caera merengkuh Deva dalam peluknya. mengecup pipi Deva dengan mesra.


"jangan buat aku cemburu lagi Dev. aku tak sanggup"


caera menyusupkan wajahnya di ceruk leher basah Deva. mengecup di sana dengan sayang. ia milik Deva sekarang. hatinya tak bisa memungkiri rasa cinta yang tumbuh pesat.


"tidak lagi sayang. aku hanya milik mu"


"sayang"


"hmm"


"kita basah"


caera menatap Deva dan memukul pelan dada bidang yang terbalut baju basah itu.


the end...


👏👏👏👏👏👏🤝🤝🤝

__ADS_1


__ADS_2