
caera duduk di sebuah coffee shop. suasana cafe tidak terlalu ramai. caera sedang menunggu Dinda datang. setelah pertemuan interview dan tandatangan kontrak kerja tadi, caera langsung menuju ke cafe ini.
melamun memikirkan kejadian tadi. secepat kilat itukah mereka menerima dia bekerja? tidak punya pengalaman kerja, dan dia rasa mereka terlalu berlebihan sekali.
langsung berdiri dan mengangguk hormat ketika bertemu caera. perasaan, dia bukan siapa-siapa di sana. tapi mereka seperti sudah di instruksikan bersikap begitu.
"haaaiii.. "
caera terlonjak kaget karena bahunya di tepuk seseorang. Dinda sudah ada di sampingnya, membuyarkan lamunannya.
"iiihh.. ngagetin saja kamu Din"
sungut caera.
"lagian ngelamun terus. mikirin apa sih?"
Dinda duduk di depan caera.
caera tidak menjawab. ia menunduk mengaduk-aduk isi gelas minumannya.
"tuh minuman mu. aku sudah pesankan tadi"
caera menunjuk minuman Dinda.
"waaahh.. baik bener sahabat ku" Dinda mencolek pipi caera "tapi gak pake Jesika kan?"
"apaan sih Din"
"hahaa"
Dinda tergelak.
"hey, baru dapat kerja kok malah sedih gitu. kenapa sih?"
Caera masih diam. dinda mengernyitkan dahi. heran dengan sikap caera.
"kamu serius kan Ra, di terima kerja?"
caera mendongak menatap Dinda.
"iya"
"lah, terus kenapa kok jadi galau gitu?"
"terasa aneh Din"
"aneh? apanya yang aneh?"
"ya, aneh. aku di terima kerja jadi sekertaris. terus, isi perjanjian kontrak kerja juga aneh"
"aneh gimana sih Ra?"
Dinda masih tidak mengerti maksud caera.
"kamu bayangin aja Din. aku harus bersedia di panggil kapan aja oleh CEO, aku di suruh patuh, ada tambahan jam kerja, ikut ke mana aja CEO pergi..."
"eeehhh.. stop.. stop" Dinda menghentikan biara caera. " itu ya namanya bukan aneh, kan kamu kerja jadi sekertaris. ya udah benar itu"
"iihh.. kamu gak ngerti deh. kayaknya itu bukan kerjaan jadi sekertaris. tapi jadi jongos"
caera merasa jengkel.
"terus, kamu udah tandatangani?"
caera menatap Dinda, dan mengangguk perlahan.
"naahh... ya sudalah, itu tandanya kan kamu setuju Ra"
aduuhh... pusinglah si Dinda ini. bukannya mendengarkan keluhan caera, malah mendukung isi kontrak kerja yang di anggap caera berlebihan.
"dengerin dulu Din" caera masih merasa tak puas " kalau aku di anggap tidak becus, aku di kenakan sanksi harus bayar"
"apa? kok bisa? bayar berapa?"
Dinda mulai antusias.
"sebesar gaji ku"
"emang gaji mu berapa Ra?"
"entah"
"lho... gimana sih Ra? kok entah?"
"katanya, CEO sendiri yang nentukan gaji ku"
"kamu udah wawancara sama CEO nya?"
__ADS_1
caera menggeleng. dinda menepuk jidatnya.
"jadi gimana kamu udah tandatangani surat kontraknya?"
"aduuhh.. tadi aku gak mikir ke situ Din. aku pikir yang penting kerja"
caera mengeluh.
dinda tersenyum. ia mengerti kecemasan caera. belum pernah bekerja di perusahaan sama sekali. tidak ada pengalaman kerja. tapi apapun itu, Dinda yakin caera pasti bisa menghadapinya.
"sudah lah, gak usah terlalu di pikirin. yang penting kerja dulu. moga aja gaji mu gede. dan punya CEO yang tampan selangit"
Dinda menggenggam tangan caera.
"doakan aku ya Din"
"iya dong, selalu"
mereka berdua tersenyum hangat. Dinda memang selalu menenangkan hati caera. tadinya janjian mau shoping di mall. tapi karena Dinda datang telat, jadinya hanya nongkrong di cafe coffee shop.
"Ra, Bima di rumah?"
tanya Dinda seraya menyeruput minumannya.
"tadi sih, iya. tapi gak tahu sekarang. kenapa?"
"kamu ingat Jiya kan?"
"adik mu?"
"he'em"
Dinda menelan minumannya sambil mengangguk.
"kenapa?"
"aku mau jodohin sama Bima"
"haha"
caera tertawa.
"eh ketawa. kenapa emangnya? kamu gak suka?"
"kamu tahu lah Bima. gila kerja. aku rasa dia belum mau menikah"
"ya kita jodohin aja dulu. siapa tahu mereka mau"
"iya. baru selesai kuliahnya. sudah satu Minggu ini pulang ke rumah ibu"
"tidak minat cari kerja?"
"alaaahh.. udah gak usah kerja. Bima kan punya kerja. biar dia yang kasih makan jiya nanti"
"iisshh.. kamu ya, pintar benar cari bidikan"
caera mencubit lengan Dinda.
"hahaaa"
Dinda tertawa kencang. tapi tiba-tiba tawa Dinda menghilang. matanya tertuju ke arah pintu masuk. caera mengikuti arah pandangan Dinda.
DEG!!
jantung caera seperti berhenti mendadak. Arya berjalan masuk dengan Vivi yang menggandeng lengannya mesra. seperti pasangan yang sedang hot hot nya di abad ini. pelayan mengarahkan mereka berdua ke meja yang letaknya hanya berjarak dua meja dari caera duduk. berseberangan agak jauh tapi masih bisa terlihat jelas.
sepertinya mereka berdua belum menyadari caera dan Dinda juga ada di sana. cepat-cepat caera membuang muka. tapi Dinda tetap memandang mereka berdua dengan benci.
"sial! kenapa sih selalu bertemu begini?"
caera bergumam jengkel.
Dinda masih melirik sinis. Arya menoleh ke arah meja mereka. matanya bersirobok dengan Dinda. tapi Dinda melengos membuang pandangannya dan bergumam memaki.
Arya tampak menegang. tidak menyangka akan bertemu caera dan Dinda di cafe ini. Vivi juga segera menyadari perubahan sikap Arya. Vivi menoleh ke arah meja caera. dan kaget bercampur marah menarik lengan Arya.
"oohh.. ada nona dan pengawalnya juga rupanya"
ujar Vivi sarkas melirik sinis ke arah caera dan dinda.
"sayang, lihat sini dong"
Vivi memegang wajah Arya dan memalingkan paksa menghadap ke arahnya saja.
Arya menurut. tampak kegelisahan tak dapat di sembunyikan Arya. tapi ia mencoba menunjukkan sikap manis pada Vivi. ingin menunjukkan bahwa ia menerima Vivi sekarang. ingin caera di bakar cemburu habis-habisan. ingin melihat caera menagis karena tidak rela Vivi merebutnya.
"Din, ayo kita pergi"
__ADS_1
ajak caera bergumam.
"jangan lah. kita di sini dulu. aku mau lihat gimana Arya kalau ada kamu di sini"
Dinda ikut bergumam juga.
caera menghempaskan napas berat. dia tidak mau Vivi lebih bicara banyak dan membuat hatinya makin panas.
tampak Vivi makin bertingkah manja pada Arya. ingin menunjukkan kalau dia sudah merebut dan memiliki Arya sepenuhnya.
"cih.. pe la kor itu sungguh tak tau diri"
maki Dinda merasa jijik.
"Din, jangan ribut di sini"
caera berbisik pelan memegangi lengan Dinda agar dapat menahan emosi.
"sayang, aku kepingin minum jus deh kayaknya. anak kita yang minta"
Vivi merengek manja sambil bergayut mesra di lengan Arya. suaranya agak keras agar caera dapat mendengarnya dengan jelas.
"ya sudah. aku pesan kan ya"
Arya makin salah tingkah. tamapak bimbang dengan sikapnya sendiri. tapi ia ingin caera di bakar cemburu. ia yakin caera masih mencintainya.
"cih, menjijikkan!"
Dinda makin merasa muak dengan drama yang di suguhkan Vivi.
telinga caera terasa sakit mendengar suara manja Vivi yang terdengar di buat-buat. hatinya bergemuruh marah. mengepalkan tangannya keras-keras untuk meredam rasa panas di dadanya.
Arya berdiri bergerak pergi meninggalkan Vivi. memesan minuman yang di minta Vivi. sebenarnya ia hanya ingin melepaskan diri dari Vivi. menatralisir kegelisahan karena caera juga ada di tempat yang sama.
"hehhh, drama klasik. tidak tahu malu"
celetuk Dinda sarkas di tujukan pada Vivi. melirik Vivi dengan jijik.
"aduh.. maaf ya, ini bukan drama. tapi kenyataan kalau dia lebih memilih ku karena aku mengandung anaknya"
jawab Vivi tak kalah pedas.
hati caera makin terbakar. kata-kata Vivi menyiramkan bensin di hati yang sudah memunculkan percikan api.
"pelakor"
desis Dinda.
"jangan iri dong. iri itu tanda tak mampu. mana ada yang memilih perempuan mandul"
makin menjadi-jadi kata-kata Vivi.
wajah caera memerah. menahan rasa yang berkecamuk di hatinya. tapi ia masih bertahan untuk tidak balas memaki Vivi. berdoa dalam hati semoga ada sesuatu yang akan menampar mulut kotor Vivi. sungguh tidak lucu jika terjadi pertengkaran di tempat umum.
"tidak mandul memang. tapi anak haram"
Dinda menjawab tak kalah sengit.
Vivi tampak marah. melotot tajam ke arah Dinda. dan Dinda cuek saja di tatap begitu. ia makin menunjukkan permusuhan dengan mantan sahabatnya ini.
makin menjadi-jadi perubahan sikap Vivi yang signifikan. dulu mereka tertawa dan menangis bersama. tapi kini vivi sungguh tega melontarkan kata-kata yang menyakiti hati sahabatnya sendiri setelah cintanya juga di rebut Vivi.
Arya kembali dan duduk bersama Vivi. membawa minuman yang tadi di pesan Vivi.
"aduh... manis sekali suami ku ini. sudah tampan, baik, manis banget sih kamu sayang. terima kasih ya"
Vivi mengecup pipi Arya. tersenyum bahagia. ingin menunjukkan pada caera kalau sekarang Arya lebih bersikap manis padanya.
"cih"
Dinda mendecih berkali-kali. bergumam memaki merasa muak melihat adegan pelakor yang sok manis itu.
caera Sampai meremas gelas minumannya keras. hatinya di dera rasa panas yang tak terkira. dinda memegang tangan caera untuk menenangkan sahabatnya ini.
"Ra, Ra"
dinda menguncang tangan caera pelan. caera mendongak menatap Dinda yang melihat ke arah pintu masuk sambil menggerak-gerakkan alisnya dan matanya melihat ke arah pintu masuk kafe. memberi isyarat agar caera segera melihat ke sana.
ia duduk membelakangi arah pintu masuk. perlahan dia menoleh kebelakang ke arah pintu. kepala yang tadi terasa panas, kini berangsur dingin seperti tersiram air es.
NYYYEEEEESSSS
terlihat Deva dan Jacko berdiri di sana. Deva tersenyum melihat ke arah caera. berjalan dengan santai sambil memasukkan satu tangannya ke saku celananya.
sangat terlihat berkelas dan sangat tampan sekali. caera melihat seperti ada cahaya berpendar-pendar yang memancar dari tubuh Deva. banyak warna pelangi di samping kanan kirinya. bintang-bintang berkelip mengelilingi Deva dengan senyumnya yang menawan.
"ah penolong ku"
__ADS_1
ujar caera lirih. seperti bicara pada dirinya sendiri. berpikir bahwa Tuhan mengirimkan penolong padanya.
melirik pada Dinda yang mengangguk samar. seperti mengerti dan merestui apa yang ada di otak caera saat ini.