
caera agak merasa aneh dengan sikap Deva beberapa hari ini. selalu meminta makanan yang tidak pernah dia makan. kemarin mangga muda. terus dia minta bakso yang pedasnya caera pikir membuat sakit perut.
dan dia juga merasa ada yang berbeda dengan dirinya. libidonya makin meningkat. kemarin-kemarin rasanya biasa saja. tapi belakangan ini malah dia yang selalu merengek pada Deva. sampai-sampai dia sangat malu meminta hal aneh pada suaminya.
seperti siang ini. caera sangat ingin naganya Deva. sampai caera kebingungan sendiri. gelisah tiada henti. selalu mengurung diri di kamarnya.
ini sangat memalukan baginya. caera tidak pernah menginginkan naga itu sangat menggebu seperti sekarang. caera malah lebih bersikap malu jika menyangkut masalah ranjang. tapi hari ini, rasanya seperti ingin menangis karena Deva ada di kantor.
memberanikan diri, caera mengirim pesan.
caera : sayang
menunggu sebentar sambil menimbang-nimbang ponselnya.
Ting..
Deva : ya sayang. kau rindu pada ku? 😘
caera tersipu malu. padahal Deva tidak melihat wajahnya sekarang. tapi hatinya berdesir rindu.
caera. : iya sayang. aku kangen. aku mau lolipop. cepat pulang ya 🥰
Deva : aahh.. indahnya di rindukan istri ku 😘😘 aku akan cepat pulang hari ini. masih ada rapat sebentar lagi sayang. nanti Jacko yang mengirim lolipop mu. muuuaahh 😘😘😘😘
caera mendelik. maksudnya Deva apa? kenapa Jacko yang mengirim lolipopnya? padahal maksud caera lilipop naganya Deva.
entah kenapa ia ingin naga itu seperti lolipop. pasti rasanya nikmat. caera membalas lagi.
sayang. maksud ku bukan itu. cepat lah pulang. aku kangen.
tapi sudah di tunggu beberapa menit, Deva tidak menjawab lagi. mungkin rapatnya sudah di mulai.
caera mengalah. biarlah nanti dia tunggu Deva pulang saja.
*****
Ari datang. membawa sekotak kardus besar di serahkan pada caera. caera bingung. apa isi kotak besar itu. setelah Ari pergi, caera membuka kotak kardus itu bersama Dira.
betapa tercengangnya caera. isi kotak itu adalah lolipop dalam jumlah yang banyak. semua batang lolipop di ikat pita warna-warni.
Dira sampai bersorak girang melihat banyak lilipop yang sangat unyu itu. tapi bagi caera, itu tidak penting. dia malah mewek melihat lolipop yang begitu banyak. bukan lolipop seperti yang harapannya.
"waaahh.. tuan Deva manis sekali ya kak. kakak sampai terharu begitu"
"hwaaaaaaa...." caera makin menangis kencang.
Dira tidak tahu, caera bukan menangis karena terharu kebucinan Deva. tapi dia bukan mau lolipop Kembang Gula. tapi naganya Deva.
****
caera mengerjap-ngerjapkan matanya. masih malas untuk bangun. melirik jam di nakas masih menunjukkan pukul enam pagi.
caera menoleh ke sampingnya. Deva tampak masih tertidur pulas. caera masih merasa gondok pada Deva.
Deva janji akan pulang cepat. tapi Deva mengirim pesan lagi, katanya banyak pekerjaan dan akan pulang terlambat.
jadilah caera menangis sedih. sudah membayangkan makan lolipop naga, eehh... malah Deva pulang pas caera sudah tidur.
perlahan caera bangkit. tapi, begitu ia ingin bergerak turun dari ranjang, tangan Deva melingkari pinggangnya.
"mau kemana sayang?" tanya Deva dengan suara serak khas bangun tidur.
"mau mandi"
caera memegang tangan Deva dan ingin menyingkirkannya. tapi Deva malah menahan dan makin erat mendekap pingangnya. dan menaikkan kepalanya menatap punggung caera. karena istrinya bersikap tidak seperti biasanya.
"mana sayangnya? biasanya pakai sayang?"
"awas. aku mau mandi nih"
"hey.. ada apa sayang?"
Deva menarik tubuh caera. merebahkan si sampingnya lagi. walaupun caera tampak menegangkan tubuhnya tanda menolak. tapi Deva tidak peduli. ia tahu ada sesuatu yang salah pada istrinya.
"awas Dev. aku mau bangun"
caera mencoba menyingkirkan tangan Deva yang menahannya.
"tidak. bilang dulu ada apa?"
Deva menopang kepalanya dengan sebelah tangan. sebelah tangannya lagi melingkari perut istrinya, dan menariknya merapat ke padanya.
__ADS_1
"tidak ada" ujar caera. tapi wajah itu tampak kesal.
Deva tersenyum. ia tahu istrinya merajuk karena ia pulang terlambat. dan Sampai di rumah ketika larut malam dan caera sudah tertidur pulas.
"maaf sayang. aku pulang terlambat. banyak pekerjaan yang tertunda"
"tidak apa-apa" jawab caera ketus.
"hahahaa.. kamu manis sekali kalau cemberut begini sayang" Deva tergelak melihat wajah kesal caera.
caera hanya melengos. masih merajuk.
"eemmm.. bagaimana lolipopnya? kamu suka?"
mendengar lolipop, caera makin merasa nelangsa. itulah masalahnya. lolipoooopp...
"suka tidak?" tanya Deva lagi.
"aku tidak suka Dev"
Deva agak kaget. bukannya caera yang minta lolipop? kenapa sekarang bilang tidak suka?
"tapi kenapa sayang? tampilannya kurang bagus? rasanya tidak enak?"
"bukan"
"terus? apa dong?"
caera bingung mau menjelaskan bagaimana. hatinya resah. mau berterus terang, tapi malu. mau tidak bilang, tapi Deva salah paham.
"sayang.. kenapa? hmm? kamu kelihatannya bingung. ada apa Ra?"
Deva menatap caera yang terlihat bimbang. caera tidak berani manatap mata Deva. malu.
"Dev"
"hmm?"
caera lebih merapat. menghadap ke dada Deva. menyentuh dada berbulu halus itu. menarik-narik bulu dada Deva pelan.
"aku bukan minta lolipop itu" rengek caera.
"oohh.. mau yang model apa sayang?"
caera mencubit dada Deva. membuat Deva tertawa geli.
"untuk kamu, aku bisa bawa yang model apa saja sayang"
"iya. tapi bukan lolipop yang itu deeev"
caera menghentakkan kakinya. gemas Deva belum mengerti juga.
"jadi yang mana sayang?"
"yang itu. yang di bawah"
"hah? di bawah?"
Deva merenggangkan pelukannya. menatap wajah caera yang sudah bersemu merah.
"iyaa.. ini"
dengan gemas tangan caera mencaplok bagian bawah Deva. tepat pada naga yang masih tertidur pulas.
"uuuwwaaaawww!!"
sentak Deva. merasa kaget caera bersikap berani akhir-akhir ini.
"iiihh.. kamu! jangan begitu Dev" caera mencubit lengan Deva.
"hahaa.. ya tuhaaann.. istri ku manis sekali. sangat menggoda setiap hari"
caera tersipu. menyembunyikan wajahnya lagi di dada Deva. Deva gemas sekali melihat caera yang tersipu malu-malu.
mengecupi pipi caera dengan gemas. baginya sikap berani caera itu adalah berkah. caera selalu malu saja Deva sangat mesum. apalagi caera sudah berani begini... hmmm berkah bangeettt..
"jadi, sekarang mau gaya apa sayang?" bisik Deva.
"aku mau lolipop Dev"
"lolipop lagi?" Deva mengerutkan keningnya.
__ADS_1
"iihh.. kamu ini.. aku mau buat naganya seperti lagi makan lalipop deeev" caera gemas Deva masih belum ngeh apa maksudnya.
"astaga! beneran sayang? mau seperti lolipop?" Deva melebarkan matanya sempurna. wajahnya langsung secerah mentari pagi.
caera mengangguk seraya menutup wajahnya dengan kedua tangannya.
"aahh... istri ku manis sekali. sexy kalau begini sayang?"
Deva mulai terpercik api asmara. bergerak bangkit ingin membuka boxernya. tapi, begitu dia bangkit duduk, kepalanya terasa pusing. pandangannya berputar. perutnya terasa seperti di kocok. mual sekali. Deva diam dan tampak memegangi kepalanya.
caera melihat itu langsung merasa panik. bangkit bangun dan memegangi Deva.
"Dev.. kamu kenapa?"
"aduuhh.. sayang. aku pusing"
keluh Deva dengan wajah yang mulai pucat.
"Dev, ayo berbaring lagi. kamu sakit Deva"
caera panik. menarik tubuh tegap Deva untuk segera berbaring lagi. tapi Deva menolak. makin mengerutkan keningnya. memegangi kepalanya kuat.
"adduuh.. huupp!!"
Deva menutup mulutnya. rasa mual itu menyerangnya kuat. perutnya terasa tidak enak. eneg sekali rasanya.
"deev! kamu kenapa?"
caera sangat panik. melihat wajah Deva sudah pucat. tampak butiran kecil keringat menyembul di dahinya.
"uuummpphh.."
Deva menunjuk mulutnya yang di tutup sebelah tangannya. matanya melebar menandakan dia ingin muntah.
segera Deva turun dari tempat tidur lalu berlari ke kamar mandi. semakin panik caera menyusul Deva ke kamar mandi.
"huuueekkhh.. huuueekk.."
Deva muntah. tapi tidak ada yang keluar dari muntahannya. hanya ludah.
"astaga! Deva.. kamu kenapa Deva?"
panik sekali caera melihat itu. tiba-tiba saja Deva muntah-muntah. tidak tahu apa penyebabnya.
caera memijat tengkuk Deva. membantunya agar bisa muntah. karena melihat Deva sangat tersiksa dengan muntahnya.
"huuueekk.. huuekk.."
Deva masih saja ingin muntah. wajahnya memerah menahan tekanan dari perutnya. Deva memegangi perutnya yang terasa mual. terduduk di lantai kamar mandi dengan lemas.
"deevv.. kamu kenapa Dev?"
caera sudah menangis melihat Deva tampak lemas sekali. berkali-kali menekan muntahan yang tidak ada isinya.
"sayang.. ahh. haaa.. aku pusing. perut ku mual"
keluh Deva yang kini wajahnya sudah memucat lagi. butiran keringat menyembul di dahinya. Deva terlihat lemah.
"ayo Dev. jangan di sini. kamu pucat sekali"
dengan berderai air mata, caera mencoba membantu Deva berdiri. tubuh tegap yang berotot itu pastilah berat. tapi caera berusaha membuat deva bisa berdiri.
memapahnya ke ranjang. membaringkan tubuh Deva dan menyelimutinya.
"masih pusing Dev?" tanya caera khawatir.
"masih sedikit sayang"
"kamu kenapa sih Dev? aku takut"
"tidak tahu sayang. tiba-tiba kepala ku pusing"
"aku telepon Zaki ya?"
"tidak usah sayang. nanti juga baikan"
caera diam. ia bergerak mengambil air putih untuk Deva. tapi begitu caera beranjak, Deva bangkit lagi. dan berlari ke kamar mandi lagi.
"huuueeekkk... huueekkk.."
caera mendelik. panik melihat Deva muntah-muntah lagi. tanpa sadar, caera berteriak sekuat tenaga.
__ADS_1
"ibuuuuu... toloooong...!!!"