
"keterlaluan kalian semua!"
Bima berteriak sangat marah seraya menuding ke arah Arya.
"sudah Bim. tolong"
caera menarik turun tangan Bima. memeganginya agar Bima tidak banyak bergerak lagi.
inilah yang di takutkan caera jika Bima ikut. Bima selalu tidak bisa menahan emosi jika caera tersakiti. dia akan berubah seperti banteng mengamuk jika tahu ada yang menyakiti kakaknya ini.
"kamu yang keterlaluan!" Vivi menyahut teriakan Bima. "kau lihat, suami ku berdarah karena ulah mu!"
Vivi memegangi wajah Arya. terlihat sangat khawatir. pemandangan itu sangat membuat caera merasa mual. Vivi seperti tidak ingat siapa caera di situ. dia hanya menganggap caera adalah orang asing. secepat itu perubahan Vivi setelah di nikahi Arya. sangat kentara dia memang sangat menginginkan Arya sedari dulu.
Arya menepis tangan Vivi dari wajahnya. tidak menghiraukan kecemasan yang di tunjukkan Vivi padanya.
"Bim, kamu salah paham"
ujar Arya.
"salah paham kata mu?" mendengar itu, Bima makin melotot marah pada Arya. "sangat lancang sekali ibu mu menghina kakak ku"
napas Bima memburu. dadanya turun naik menahan kemarahan yang menggelegak. caera masih memegangi lengan Bima. meremat sekuat tenaga agar Bima tidak menerjang Arya lagi.
"maafkan ibu ku"
Arya mendekat. dia tidak peduli jika Bima akan meninjunya lagi. yang terpenting baginya dapat bicara berdua saja dengan caera dengan alasan mencari dokumen Gino nanti.
"tenanglah Bim. maafkan ibu ku"
"kenapa minta maaf Arya? apa salah ibu bicara begitu? itu memang benar kan? atau mantan istri mu ini masih merasa kurang dengan pemberian mu? makanya datang lagi"
Maya membela diri dan masih saja melontarkan kata-kata yang meremehkan caera. melirik caera dengan ekor matanya.
"cukup ibu!"
Arya mulai tak sabar dengan sikap Maya. Maya terdiam. tapi masih tidak menghilangkan rasa permusuhan yang kental.
"Bim, tunggu lah sebentar. aku dan caera akan mengambil dokumen itu"
Arya memohon pengertian Bima.
Bima mengendurkan amarahnya. menatap caera di sampingnya.
"sebentar saja Bim"
caera menatap manik mata Bima. meyakinkan semua akan baik-baik saja. Bima mengangguk memberi izin kakaknya naik ke lantai atas dengan Arya.
caera melirik Vivi dan Maya sebentar. Vivi terlihat melengos membuang muka jengkel. Maya menatap tajam pada caera. caera tak menghiraukan lagi. ia ingin cepat-cepat pergi dari rumah ini.
Arya berjalan lebih dulu menaiki tangga menuju lantai atas. caera mengikuti di belakangnya. melangkah dalam diam. semua mata menuju pada mereka berdua sampai menghilang masuk ke dalam kamar.
caera tertegun melihat keadaan kamar tidur yang dulu di tempatinya bersama Arya. keadaannya berubah. mungkin Vivi mengubah letak perabotan kamar. rasa perih itu menggigit di hatinya lagi. desir nyeri berdenyut kencang di jantungnya. sekarang kamar ini milik Vivi.
ia menatap tempat tidur. membayangkan Vivi dan Arya berbaring di sana. berbagi mesra dan cinta. caera mengalihkan pandangannya. tak sanggup membayangkan lebih jauh. berusaha keras menegarkan hati.
"di mana kau menyimpannya Ra?"
tanya Arya mengagetkan caera. cepat-cepat caera berjalan menuju lemari, tempat ia dulu menyimpan surat-surat penting di rumah ini.
"boleh aku membukanya?"
__ADS_1
caera meminta izin.
Arya mengangguk. dengan tangan sedikit gemetar, ceara membuka lemari itu. tapi tempatnya sudah lain. caera mengernyitkan dahi. dokemen itu tidak ada. semua penuh pakaian milik Arya.
"letaknya sudah berbeda"
gumam caera pada dirinya sendiri.
Arya mendekat. ikut memeriksa. caera agak bergeser tidak mau terlalu dekat dengan Arya. padahal Arya sangat ingin berdekatan dengan caera.
Arya berpikir, inilah saatnya dia akan bertanya tentang apa yang di lihatnya di restoran kemarin. mumpung caera ada di depannya sekarang.
caera sibuk mencari. sedangkan Arya memandanginya serasa ingin merengkuh caera dalam pelukannya. tapi Arya takut caera menjadi marah. apalagi status mereka kini adalah mantan.
"Ra.."
"hmm"
jawab caera singkat tanpa melihat Arya.
"boleh aku tanya?"
"hmm"
"kamu kencan kemarin?"
DEG
caera menoleh menatap Arya. mengernyitkan dahi, masih mencerna apa maksud pertanyaan Arya.
"kemarin, dengan pengacara mu"
"oh"
"apanya yang oh? benar tidak?"
Arya menarik lengan caera menghadap ke arahnya. merasa tak puas dengan jawaban caera.
"apa sih?"
caera melotot.
"jawab Ra. kamu kencan dengan Richard?"
"kenapa? itu bukan urusan mu"
sangat ketus nada bicara caera.
caera membalikkan badannya membelakangi arya. melihat pada lemari yang sebelahnya. ia tertegun. terlihat tumpukan pakaian Vivi di sana. benar saja kata Maya, bahwa barang-barang dan pakaiannya sudah di ungsikan di gudang.
makin teriris hatinya. percikan amarah mulai menguasai dirinya.
"Ra, kamu jangan dekat-dekat dengan Richard. dia itu playboy. dia punya banyak wanita Ra"
Arya masih mengejarnya. tidak mempedulikan apa yang di rasakan caera sekarang.
caera masih diam mematung. menatapi tumpukan pakaian Vivi. dia tidak mau menyentuh pakaian itu. sepertinya dokumen Gino tidak ada di situ.
caera melihat laci yang berjejer di sebelahnya lagi. caera menuju kesana. di bukanya satu persatu. dan benar saja, caera menemukan amplop besar warna coklat di laci paling bawah. ia yakin itu dokumen milik Gino.
caera mengambilnya dan memeriksa isinya. dia dapat bernapas lega. semua dokumen penting miliknya dan Gino ada di sana.
__ADS_1
"Ra, kamu dengar aku kan?" Arya kembali menarik lengan caera menghadapnya " jangan dekat dengan Richard lagi. dia itu.."
"apa?"
potong caera cepat.
"dia punya banyak wanita Ra. kau hanya akan di permainkan"
Arya mencengkram kedua lengan caera. mengguncangnya pelan. berusaha meyakinkan caera tentang Richard.
ingin rasanya Arya berteriak mengatakan dia cemburu, tidak rela caera bersama lelaki lain. tapi itu tidak mungkin. caera bukan miliknya lagi. mereka sudah bercerai.
caera menghentakkan tangan Arya yang mencengkram lengannya. marah itu memuncak. rasa benci mengelilingi hatinya. muak dengan apa yang mereka lakukan padanya.
"kenapa? apa yang salah dengan Richard? dia tampan dan kaya. wajar saja banyak wanita bersamanya. dan aku tidak keberatan"
"tapi kau akan kecewa nanti. Richard hanya mempermainkan mu. dia selalu main perempuan Ra"
Arya tidak putus asa. dia hanya ingin caera menjauhi Richard. rasa cemburu mendominasi.
"sebaiknya, sebelum bicara kau harus berpikir dulu" caera tersenyum sinis menatap Arya "kenapa kalau Richard suka main perempuan? aku sudah biasa dengan itu. lagi pula, apa bedanya Richard dengan mu? perbuatan mu tidak jauh menjijikkan bukan?"
Arya terdiam. merasa tertohok dengan sindiran caera padanya.
"dan tolong. mulai sekarang jangan selalu mengurusi hubungan ku dengan orang lain. itu sudah bukan urusan mu lagi"
caera bergerak menjauh dari Arya. meninggalkan Arya yang diam mematung di tempatnya. keluar dari kamar yang bukan miliknya lagi. rasa dendam menguasai hatinya. bagaimana Arya tidak memikirkan perasaannya tentang Vivi. Arya sangat egois hanya karena dia cemburu melihat caera dengan orang lain.
belum lagi Maya yang selalu menunjukkan kebencian padanya. dan Vivi, perempuan itu tidak menganggapnya sedikit pun. sekarang terang-terangan menunjukkan Arya adalah miliknya.
rasa muak berjejalan di dada caera. turun dengan tergesa-gesa menemui Bima dan Dinda yang menunggunya.
"ayo kita pulang"
ujar caera tanpa menoleh pada Maya dan vivi yang menatapnya sinis. mengajak Bima dan Dinda untuk segera keluar dari rumah ini.
Bima dan Dinda langsung berdiri dari duduknya. mengikuti caera melangkah keluar rumah.
"tunggu Ra"
Vivi berseru menghentikan caera yang sudah sampai di teras depan. mereka bertiga menghentikan langkah seketika. berbalik menatap Vivi yang berjalan mendekat.
"aku tidak membawa apapun milik mu. jangan khawatir"
caera mengacungkan amplop coklat di tangannya. menunjukkan dia tidak membawa barang yang lain.
Vivi masih diam saja. berhenti di depan mereka bertiga.
"mau apa lagi kau?"
Bima menatap Vivi dengan marah.
"Ra, aku harap setelah ini, tolong jangan temui Arya lagi. aku istrinya sekarang"
Vivi berkata memperingatkan caera kalau dia lah yang berhak atas Arya sekarang.
caera tersenyum sinis. berjalan mendekati Vivi. tapi Vivi agak memundurkan langkah, takut kalau-kalau caera akan menyerangnya dengan tiba-tiba.
"maaf ya. kau tahu, aku tidak suka mendaur ulang sampah"
menatap Vivi sinis dari wajah sampai kaki.
__ADS_1
"dan kau belum sadar rupanya. kau hanya memakai sampah bekas dari ku"
setelah berkata begitu, caera pergi meninggalkan Vivi yang jengkel menghentakkan kakinya ke lantai.