DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 162


__ADS_3

Hari ini jadwal cek kandungan Caera. Deva sudah bersiap siaga mengantar istri tercinta ke rumah sakit. Caera sangat antusias setiap memeriksa kandungannya.


selalu berseri ketika melihat si jabang bayi di layar monitor. selalu ingin melihatnya lagi dan lagi. kalau bisa, setiap hari ia ingin kontrol kehamilan dan melihat baby nya lagi.


Berangkat bersama ke rumah sakit. Dengan hati-hati, Deva membantu Caera turun dari mobil. lalu menggandengnya berjalan ke dalam rumah sakit.


Rasanya caera sudah tidak sabar ingin menimang buah hati yang di rindukan selama bertahun-tahun. bahagia menjadi seorang ibu yang dari dulu ia dambakan.


Apalagi Gino dan Deva. selalu berebut menempelkan telinga mereka ke perut buncit Caera. seolah dapat mendengar suara baby yang menimbulkan suara di dalam perut Caera.


Ziana sudah menunggu mereka. Tersenyum cerah melihat kedatangan Caera. memintanya berbaring lalu memeriksa kandungan Caera.


"Lihatlah kakak ipar. Bayi mu sehat sekali" ujar ziana meminta Caera melihat ke monitor.


Caera menoleh. melihat ke arah monitor yang menampilkan si jabang bayi bergerak-gerak. Deva juga tersenyum melihat itu sambil memegangi tangan istrinya.


"Semua stabil. dengarlah detak jantungnya"


Deva dan Caera mendengarkan detak jantung bayi mereka dengan senyum merekah.


"sekarang kita lihat wajahnya ya"


layar monitor menampilkan visual wajah bayi. Membuat Caera terharu. wajah bayi itu mirip Deva.


"sayang. itu wajah ku" ujar Deva tak berkedip melihat ke layar monitor.


"tentu saja Dev. dia kan bayi mu" ziana tersenyum lebar melihat Deva takjub melihat wajah bayinya.


Caera menitikkan air mata. sangat terharu mendapat anugrah akan menjadi seorang ibu. dia bisa melihat wajah seorang bayi di dalam rahimnya sekarang.


setelah selesai, Ziana memberi resep vitamin yang harus Caera konsumsi selama kehamilan.


"Usia kehamilannya sudah masuk dua puluh tujuh Minggu, kakak ipar. jadi sudah bisa sering berolah raga bejalan kaki ya. selain senam hamil tentunya"


"baiklah dokter zi" jawab Caera.


"tapi zi.." Deva menatap Ziana bingung.


"Ada apa Dev?"


Ziana dan Caera menatap Deva. membuat Deva cengengesan.


"aku.. emmm.. masih bisa kan?" Deva melanjutkan.


"bisa apa?" tanya Ziana bingung.


"masih bisa mengunjungi bayi nya kan?"


Caera kaget mendengar itu. sontak wajahnya bersemu merah. malu pada Ziana. sedangkan Deva hanya nyengir saja.


Ziana mengerti apa maksud Deva. Ziana tertawa mendengar pertanyaan konyol Deva.


"bisa Dev. tapi jangan kasar. kasihan bayi mu dan ibunya" jawab Ziana.


"aahh.. syukurlah"


Deva mengelus dadanya. lega mendengar jawaban Ziana. Caera mencubit lengan Deva. sangat malu melihat Deva berwajah lega masih bisa masuk mengunjungi bayinya.


Setelah semuanya selesai, mereka beranjak keluar. ingin segera pulang. Jacko dan Dira masih setia menunggu di luar.


Caera menggandeng lengan Deva. berjalan bersama menyusuri koridor rumah sakit. senyum selalu mengembang di bibirnya. hatinya berdebar bahagia.

__ADS_1


Kebahagian caera terasa lengkap sudah. punya Gino yang menggemaskan. memiliki Deva yang sangat mencintainya. akan punya bayi yang sangat di dambakan. dan yang paling penting, punya keluarga besar yang menerimanya dengan hangat.


Deva selalu mengusahakan apapun permintaan ngidam caera. selalu membuatnya tersanjung dengan apa yang di lakukan Deva untuknya. itu menambah semangat Caera dari hari ke hari.


"Tunggu Dev"


tiba-tiba caera berhenti. mereka semua jadi berhenti. Jacko dan Dira mulai bersikap waspada.


"Ada apa sayang?" tanya Deva.


"Dev. itu"


Caera menunjuk di ujung lorong sebelah kanan. Disana tampak Arya berdiri tegak menatapnya, dengan memegangi kursi roda yang di tumpangi ibunya, Maya.


Maya tampak duduk di kursi roda dengan mata lurus menatap Caera. mereka berempat juga menatap dua orang itu.


"Dev"


Deva diam saja. masih menatap Arya dan Maya yang juga menatap mereka. Maya memegang tangan Arya. menarik-nariknya mengisyaratkan agar Arya mendorong kursi rodanya mendekat ke arah caera. dan Arya menuruti. mendorong pelan kursi roda yang di tumpangi Maya


setelah agak dekat, barulah mereka dapat melihat dengan jelas kalau wajah Maya agak sedikit lain. bibirnya tampak miring. dan sebelah tangannya tampak tak bisa bergerak.


Arya tampak tak berkedip menatap Caera. melihat kearah perut buncit Caera. tampak kaget dan takjub melihat perubahan caera. seperti ingin menangis dengan mata yang sudah berkaca-kaca.


sementara Maya, menggerakkan sebelah tangannya memanggil Caera agar mendekat padanya. tapi Caera masih diam saja. dengan perasaan bercampur aduk melihat keadaan mantan mertua dan mantan suaminya.


Arya tampak kurus. melihat penampilannya, Arya seperti tidak terurus dengan benar. lingkaran hitam di bawah matanya tampak jelas. hati caera tersayat melihat itu.


Maya masih menggerakkan tangannya memanggil Caera. melihat itu, Caera menoleh menatap Deva. Deva membalas tatapan mata istrinya.


"kau ingin menemui mereka sayang?" tanya Deva.


Deva tersenyum. menyentuh pipi istrinya dengan sayang. lalu mengangguk menyetujui. merasa Maya tidak membahayakan lagi untuk istrinya melihat keadaannya sekarang.


masih bergandengan tangan, Deva membawa istrinya lebih mendekat pada Maya dan Arya.


setelah dalam jarak dekat, mereka dapat melihat kalau Maya sudah berlinang air mata menangis melihat Caera.


Caera menatap Deva lagi. meminta izin suaminya untuk lebih mendekati Maya. Deva mengangguk. membiarkan caera lebih mendekat lagi pada Maya.


"ibu" sapa caera.


air mata berderai lebih deras dari mata Maya. wanita setengah baya itu tersengguk sedih. sebelah tangannya meraih tangan caera. menggenggamnya erat.


"Caera hiikkss hikkss.." Maya terisak pilu.


"ibu kenapa?" tanya caera lagi.


"ibu mengalami stroke, Ra" jawab Arya.


Caera menatap Arya sejenak. lalu mengalihkan pandangannya lagi pada maya.


sangat memprihatinkan mereka berdua. Maya kini terkena sakit stroke. itu yang membuat bibirnya miring ke kiri. dan dia tidak bisa berjalan dengan baik. itu kenapa sekarang memakai kursi roda.


"Caera.. maa..aaff.. kan aku.."


ujar Maya terbata-bata dengan artikulasi yang kurang jelas. tapi Caera dapat menangkap apa maksud omongan Maya.


"sudah ibu. jangan begitu. lupakan lah. itu masa lalu" jawab Caera.


"ka..uu.. haamil Ra"

__ADS_1


"iya, Bu. Caera hamil"


"hiikkss.. hikkss.. maaf kan lah aku yang sudah jahat pada mu" Maya tertunduk dan terisak sedih.


Caera diam saja. hatinya menjerit sakit. sebenarnya ada rasa marah di hatinya. tapi dia mencoba menahannya.


Mantan ibu mertuanya ini yang selalu mencaci makinya karena belum kunjung hamil. mengatainya wanita mandul. wanita tidak berguna. hanya beban dalam hidup Arya.


tapi kini semua itu terbantahkan. ia hamil. dan dia bisa hidup sendiri walaupun tanpa di sadarinya, Deva selalu mendukung di belakangnya. tapi setidaknya Caera mampu melalui hidup tanpa Arya dan tidak menjadi beban arya seperti yang di katakan Maya.


Maya meremas tangan Caera. mewakili permintaan maaf yang sulit ia ucapkan terus menerus. Maya malu. semua yang ia katakan pada Caera tidaklah terbukti.


Ia melihat dengan mata kepalanya sendiri bahwa Caera sedang hamil. dan Caera adalah wanita cantik yang tegar dan baik. tidak pernah meneriakinya balik hanya karena ingin membalas.


"boleh, aku menyentuh perut mu?" tanya Maya minta izin.


caera diam. menoleh kebelakang menatap suaminya. Deva yang menatap tajam pada Arya dan Maya, sejenak melirik Caera dan mengangguk kecil.


merasa mendapat restu dari suaminya, caera pun mengangguk pada Maya. memberikan perutnya di depan Maya. membiarkan Maya menyentuh perut buncitnya.


dengan tangan gemetar, Maya menyentuh perut buncit Caera. mengelusnya pelan dengan memejamkan mata.


air mata kembali menetes di pipinya. inilah yang di inginkannya selama ini. istri Arya hamil dan punya anak. tapi takdir Caera tidak bersama Arya. tapi dengan Deva, lelaki yang tepat untuk mantan menantunya.


Maya membuka matanya. mengerjab takjub. ia merasakan si jabang bayi menyundul tangannya.


"dia bergerak!" ujarnya senang.


caera tersenyum melihat wanita tua ini seperti baru pertama kali merasakan bayi bergerak di dalam rahim.


tapi lain lagi dengan Arya. lelaki itu menangis. sangat terharu melihat mantan istrinya dalam keadaan hamil. yang begitu ia dambakan dari dulu.


Arya tak lepas memandangi wajah Caera dan perut buncitnya. hatinya menjerit sakit. menjerit menyalahkan dirinya yang tidak sabar menantikan kehamilan Caera hingga memilih jalan keluar yang salah.


"ayo sayang" ujar Deva datar.


Caera menoleh menatap Deva. tersenyum pada suaminya yang menampilkan wajah kaku.


"ibu. aku pergi dulu ya. semoga ibu lekas sembuh"


ujar caera seraya melepas tangan Maya dari perutnya. Maya mengalah. melepaskan tangannya dari perut mantan menantunya.


"Caera. jaga bayi mu dengan baik. semoga kau selalu bahagia" ujar Maya.


Caera tersenyum dan mengangguk. "terima kasih Bu"


sebelum berbalik, caera menatap Arya. lelaki itu masih menangis. mata yang penuh air mata itu menatapnya rindu. Caera dapat merasakan itu. tapi itu bukan wilayahnya lagi. Caera milik Deva. suami yang sangat memanjakan dan mencintainya.


"Arya, jagalah ibu" ujar Caera pada Arya.


Arya hanya diam. menatap manik mata Caera penuh kerinduan. ingin rasanya memeluk wanita yang sangat ia cintai itu. tapi apalah daya, dia sudah milik orang lain.


"jaga diri mu. aku pamit"


Caera berbalik. menatap Deva di depannya. senyum mengembang di bibirnya. Deva mengulurkan tangannya meminta caera menyambutnya.


berjalan bergandengan tangan dan Deva merengkuh pundak istrinya. mengecup puncak kepala Caera dan bersama melangkah pergi meninggalkan dua orang yang menatapi mereka dengan rasa hati yang bercampur aduk.


ada rasa bangga di hati caera bertemu dengan Maya. ia bisa menunjukkan diri dan mematahkan makian Maya selama ini. ia kini bisa berjalan mendongakkan kepala tanpa takut orang memandangnya dengan cibiran dan label mandul menempel di jidatnya.


Caera yakin, semua akan indah pada waktunya.

__ADS_1


__ADS_2