
bantingan pintu ruang kerja Deva yang begitu keras, membuat Dira terlonjak kaget. tampak caera keluar dari ruangan Deva dengan wajah merah padam. wajah bengisnya muncul.
caera melangkah lebar-lebar mendekati Dira, sambil menggerutu tak jelas. menghentakkam pantatnya dengan keras di kursi.
"kenapa kak?"
tanya Dira heran.
"brengsek! bola basket itu nempel!"
gerutu caera. tampak napasnya memburu menahan marah.
baru kali ini Dira melihat caera dalam keadaan emosi. biasanya wanita cantik ini selalu bersikap manis dan tidak pernah marah atau memaki.
"bola basket apa kak?"
Dira memiringkan kepalanya saking tidak mengerti.
caera hanya menoleh sebal pada Dira. seraya menggerakkan kakinya dengan gelisah. tak menghiraukan lagi pertanyaan Dira. hatinya benar-benar sakit dan panas.
"kakak kenapa sih? ada apa di dalam kak?"
tanya Dira lagi.
caera tak bisa menenangkan hatinya. sebenarnya dia tidak mau seperti ini. tapi rasa itu timbul sendiri. panas dan terbakar melihat Deva hanya senyum-senyum saja menghadapi Della.
mungkin saja Della itu benar-benar kekasihnya. itukan yang dia bilang tadi?
dia kekasih ku
ahhh... panaaaaasssss...!!!
caera uring-uringan sendiri. mengingat Della bilang Deva itu kekasihnya, dan Deva hanya diam dan tidak menolak itu. hatinya menjerit pilu. matanya memanas karena tak bisa meneriaki mereka berdua tadi.
"kak" Dira menyentuh tangan caera. "ada apa?"
caera diam saja. bicara pun pada Dira itu percuma. toh Dira tidak bisa banyak membantunya tentang itu. Deva tetap atasan yang harus di patuhi dan di hormatinya.
air mata sudah mau tumpah. matanya sangat perih. apalagi hatinya. caera bangkit berdiri. Dira menahannya.
"kakak mau kemana?"
caera tak peduli. melangkah pergi dan mengomel sendiri.
"aku lapar. mau makan dengan Nixon. kau ikut?"
berhenti dan bertanya pada Dira.
"aku tidak bisa kak. masih harus..."
"ya sudah. aku pergi sendiri"
dengan ketus caera memotong bicara Dira. sudah menolak, lalu harus menunggu apalagi? lebih baik dia menghibur diri sendiri dengan menerima ajakan nixon. masa bodoh harus membayar ganti rugi jika di pecat.
begini sakitkah rasanya? melebihi sakit ketika dia memergoki Arya dan Vivi. air mata caera menetes tak terbendung. tega sekali Deva berubah karena bertemu dengan gadis ja Lang itu. ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜ðŸ˜
****
Della merasa di atas angin. lampu hijau telah di nyalakan Deva padanya. dia harus memepet lelaki tampan dan kaya raya ini. kesempatan emas ada di depan mata. dan tujuannya akan tercapai sepenuhnya.
mengelus rahang Deva dengan lembut. mengendus pipinya hampir ingin menciumnya. Deva tak menyia-nyiakan kesempatan yang ada. dia menarik Della lebih dekat. menjambak pelan rambut Della dan menghadapkan wajah Della ke depannya.
"apa yang kau inginkan nona Della"
bisiknya.
"aku menginginkan mu thuuan deeevv"
jawab Della tak kalah berbisik dengan de sa han.
"hmmm... apa itu?"
"tubuh mu"
"kau bisa bermain kasar?"
Deva memicingkan matanya.
"aahaahh... tentu saja tuan Dev. aku akan melayani mu"
tertawa dan memandang bibir Deva dengan intens.
tapi dia tahu masih ada Jacko. Della melirik Jacko yang hanya berdiri tegak memandangi tingkah mereka berdua.
"bisakah dia meninggalkan kita tuan Dev?"
__ADS_1
tunjuk Della pada Jacko dengan sikap manja menggoda.
"kenapa? kau tidak bisa melayani kami berdua?"
Deva menatap mata Della.
"ahaa.."
Della membulatkan matanya sempurna. tak percaya Deva punya orientasi bercinta yang mendebarkan.
"kau nakal tuan Dev"
Della menempelkan jari telunjuknya ke bibir Deva. meraba di sana dengan desisan menggoda.
"ya.. apalagi dia" Deva melirik Jacko. "dia akan lebih kasar dari ku"
"ahahaahhh... itu sangat sempurna. dan kau?"
dengan manjanya Della menjulurkan lidahnya seperti ingin men ji lat bibir Deva.
"aku juga bisa bersikap kasar pada mu!"
"aawwwwhhh"
jerit Della. matanya mendelik. lehernya terasa sakit akibat tarikan Deva pada rambutnya dengan kasar.
Deva menarik rambut Della dari sebelah kanan ke sebelah kirinya. membuat kepala Della seakan patah karena yang tadinya tegak sekarang menjadi Teleng ke sebelah kiri. itu sungguh menyakitkan.
"itu sungguh menyakitkan tuan Dev!"
Della mengerutkan alisnya saking merasakan sakit akibat tarikan kasar dari Deva. Deva tak menggubris itu. wajahnya berubah menakutkan. marah dan jijik melihat Della.
Deva mendekatkan wajahnya ke leher jenjang Della yang terpampang jelas di depan matanya. bukan ingin mengecup di sana, tapi Deva lebih mendekati telinga Della. memperhatikan telinga itu dengan seksama.
terlihat ada benda kecil menyumpal di lubang telinga Della. Deva tahu apa itu. dia lebih mendekat dan membisikkan sesuatu di telinga Della.
"aku sudah tahu taktik mu Keenan. menyerah saja atas kejatuhan mu sekarang!"
menjauh sambil menarik alat pendengaran dari telinga Della dengan kasar.
mata Della mendelik apa yang di bisikkan Deva ke telinganya barusan. tak percaya Deva sudah mengetahui apa rencananya mendekati Deva sampai ke kantornya.
Jacko bergerak mendekat seraya menarik rambut Della. lalu menyeret Della dan menghempaskannya ke lantai.
"awwwhh"
Della kesakitan terhempas ke lantai sekencangnya. Deva tidak peduli. memandangi alat pendengaran yang baru di ambil dari telinga Della.
"hhhh... cara mu sungguh klasik Ken. kau harus banyak belajar dari ku"
lalu Deva membuangnya di lantai dan menginjaknya sampai hancur. Della mendelik takut. mundur menyeret pinggulnya agar menjauh dari Deva.
tapi kini, yang di hadapi bukan Deva lagi. melainkan Jacko sudah berdiri menjulang tinggi di depannya. bagaikan seorang algojo yang siap mencabut nyawanya saat itu juga.
Deva memandangnya jijik. membiarkan Jacko melakukan apa saja dengan Della.
"kenapa kau bodoh sekali nona Della. apa harta tuan Yuda masih kurang untuk mu? hingga kau mau menuruti kemauan Keenan?"
tanya Jacko dingin.
"aku .. aku... "
Della hanya bisa tergagap. sangat ngeri melihat Jacko. lelaki yang di kenal dengan kekejamannya dan keahlian bela diri yang tak di ragukan lagi. mungkin sekali libas, Della akan jadi mayat.
Jacko menarik Della berdiri. menghempaskannya lagi ke kursi di depannya. membuat kursi itu meluncur ke belakang membentur tembok dengan keras.
DUG!!
"aaahhggg!!"
Della merasa kesakitan. selain tubuhnya yang membentur tembok, kepalanya juga terbentur dinding dengan keras.
Deva mendekat. mencengkram pipi Della dengan keras. mata Della melotot nanar. sangat takut melihat wajah Deva yang memancarkan aura kekejaman.
"katakan. apa yang di inginkan Keenan!"
desis Deva dengan kejam.
Della sudah bermandikan keringat. yang tadinya rambut itu tertata rapi dan indah, kini sudah berantakan seluruhnya. Della tertangkap basah melakukan aksinya.
"aku.. ti...dak.. tuan Dev. jangan sakiti aku lagi"
lirih suara Della dibpenuhi ketakutan.
"hhh... kau sudah menghardik kekasih ku. apakah pantas kau minta pengampunan?"
__ADS_1
"itu.. itu rencana kee.. Keenan. bukan aku"
Della makin mendelik saja.
"tapi sayangnya kau melaksanakan itu. dan aku tidak peduli !"
Deva makin mengetatkan cengkramannya pada pipi Della. membuat bibir dela maju berkerut. Della menggeleng-gelengkan kepalanya takut. tamatlah riwayatnya.
"katakan. apa yang di inginkan Keenan!"
Deva menghempaskan wajah Della dengan kasar. Della sudah mulai menangis. tadinya dia setegar karang karena merasa Deva sudah masuk perangkapnya. tapi kini, Deva dan Jacko benar-benar bermain kasar seperti yang di janjikan Deva tadi.
"aku tidak tahu.. hikss.. hiikkss.."
sambil terisak, Della mencoba menutupi. Deva melirik ke arah Jacko. dan Jacko mengerti. menghubungi orang-orangnya.
Della makin takut setengah mati. dia tahu apa yang akan di lakukan Jacko jika sudah memanggil orang-orangnya. maka siksaan yang lebih sakit akan di terima Della.
"tuan.. tuan.. ku mohon. tolong maafkan aku. aku.. aku.. "
Della merangkak di kaki Deva. memeluk kaki Deva dengan erat. mengguncang dengan sikap tak sabar meminta pertolongan.
Dira masuk ke ruangan Deva. menatap Della yang masih memeluk kaki Deva dengan erat sambil menangis.
"Dira. bawa perempuan ini. dan serahkan pada orang-orang kita"
ujar Jacko memerintah Dira.
"siap tuan!"
sahut Dira tegas.
lalu beranjak ke dekat Della dan menarik perempuan itu dari kaki Deva. tapi Della masih bertahan. hingga Dira menarik rambutnya dengan keras.
"aaahhgg"
Della kesakitan.
"lepaskan! atau aku akan berbuat lebih kasar!"
hardik Dira pada Della untuk melepaskan kaki Deva.
menurut saja, Della melepaskan kaki Deva. kini Dira menariknya berdiri, dan mendorong pundak Della untuk keluar ruangan Deva.
Deva terduduk di kursinya. memijit keningnya dengan malas. pusing memikirkan apa yang di inginkan Keenan sampai menyusupkan orang-orang untuk membuatnya jatuh.
"Dev, lihat ini"
Jacko memencet tombol di meja Deva. lukisan besar di dinding bergeser ke samping. terlihatlah layar monitor besar menampilkan visual di dalamnya. terbagi menjadi beberapa kotak yang menampilkan visual cctv di beberapa tempat.
Jacko memencet tombol zoom pada salah satu kotak yang menampilkan cctv di cafetaria kantor. terpampang lah di layar itu caera sedang makan siang bersama Nixon dan Dika dengan tertawa lepas dan sesekali bicara dengan akrabnya.
mata Deva memperhatikan dengan tajam. kilatan membunuh kembali muncul di mata coklat itu.
Jacko hanya tersenyum tertahan melihat kelayar.
"Dev, kekasih mu sangat bahagia bersama musuh mu"
ujar Jacko.
"diam kau!"
Deva jengkel Jacko mengejeknya lagi.
"ini ide gila mu brengsek!
"hahahaa.. tapi kita langsung mendapat dua tangkapan besar bukan?"
Jacko tak mempedulikan wajah gusar Deva.
"sial kau! ini lah yang aku takutkan jika dia marah Jack"
"wanita mu ini lucu dan unik sekali Dev. dia cemburu sekarang. dan tugas mu meluluhkannya. kalau tidak, dia akan semakin menjauhi mu. hahaahaa "
Jacko tampak puas sekali. terbahak melihat ke layar monitor yang menampilkan caera sedang ngobrol akrab dengan Nixon.
"cihh... dengan ku saja dia selalu jengkel. tapi dengan baji Ngan itu?? waahh lihat lah.. dia tertawa lagi!"
Deva melotot melihat caera memukul tangan Nixon dan tertawa lagi.
"kheekheeekheee..."
Jacko sampai terkekeh melihat Deva uring-uringan.
"Jack! ayo kita ke sana!"
__ADS_1