
caera cepat-cepat mengambil handuk dan masuk ke kamar mandi yang ada di dalam kamarnya. tidak lupa ia mengunci pintu kamar terlebih dahulu. takut kalau Deva nyelonong masuk ke kamarnya.
membersihkan diri secepat mungkin. tak mau Deva melihatnya berantakan. setelah selesai, caera segera keluar dari kamar mandi. sambil mengeringkan rambutnya yang basah dengan handuk di tangannya.
"AAAAA..."
lagi-lagi caera harus berteriak kaget. melihat ke arah tempat tidur di depannya. Deva sudah ada di ranjang setengah berbaring santai menyandarkan kepalanya di tumpukan bantal. menyelonjorkan kakinya, dan menatap caera dengan senyum menggoda.
buru-buru caera menutup tubuh bagian atasnya yang tidak tertutup handuk. menutupnya dengan handuk yang ada di tangannya untuk mengeringkan rambut basahnya. karna ia hanya membelit tubuhnya dengan handuk dari dada sampai sebatas paha.
"tu.. tuan Dev!! ngapain di sini!"
seru caera membelalakkan matanya.
"menunggu kamu"
jawab Deva santai.
"tapi.. tapi .."
kata-kata caera menggantung. ia beranjak ke pintu dan memeriksa kuncinya. Deva hanya memperhatikan caera dari ujung kaki sampai kepala dengan rambut masih basah.
apalagi sekarang caera membelakanginya dan terlihat kaki dengan betis buting padi dan paha bagian belakang yang putih mulus menggoda imannya.
eh.. ini terkunci! bagaimana bisa si tuan tengil ini masuk?
caera menoleh pada Deva lagi, yang masih memperhatikan caera kemana pun dia melangkah.
"pintunya masih terkunci. dari mana tuan masuk?"
caera tak habis pikir bagaimana tuan mesum ini masuk ke kamarnya.
Deva tersenyum. mengacungkan kunci dan memutar kunci itu di jarinya seperti baling-baling helikopter. caera tambah kesal setengah mati. melototkan matanya makin lebar. tak menyangka Deva punya kunci cadangan.
"kau mesum sekali tuan. tidak lihat apa, aku sedang mandi?"
caera mendelik marah.
Deva bergerak bangkit dari ranjang. melangkah mendekati caera dengan senyum menggoda.
aduuuhhh... aku akan menghajar mu tuan Dev!! jangan mendekat!
caera bergerak mundur. merapatkan tubuhnya ke dinding. sangat takut Deva berbuat yang macam-macam. Deva makin terlihat mesum saja sekarang.
Deva makin mendekat. caera makin blingsatan seperti cacing kepanasan. Deva menahan diri agar tidak terbahak. senang rasanya melihat caera gugup dengan pipi merah jambu.
"jangan mendekat tuan. atau aku.. aku.."
caera mencari-cari sesuatu yang bisa di gunakan untuk memukul Deva. tapi gagal. dia masih jauh dari barang-barang yang bisa di raih untuk menakuti Deva.
Deva sudah berdiri tepat di depannya. caera memejamkan matanya rapat. sampai menciptakan kerutan di kelopak matanya. menandakan dia benar-benar takut Deva mendekatinya.
Deva mendekati wajah caera. caera dapat merasakan itu. makin merapatkan badannya ke dinding kamar. memalingkan wajahnya agar tidak menghadap Deva.
kedua tangannya merapat ke dinding di belakang tubuhnya. menekan dinding kokoh di belakangnya. berharap dinding kamarnya bisa jebol dengan dorongan tangannya. agar Deva tidak bisa menyentuhnya.
alih-alih menjauh, Deva malah mendekat ke leher caera. mengendusnya di sana. bahagia hatinya bisa membuat caera mengkerut takut karena kejahilannya.
__ADS_1
"hhuuummmmm"
menghirup aroma tubuh caera yang menguarkan aroma sabun semerbak yang menyegarkan.
"kau sungguh harum sayang"
suara Deva berat.
caera dapat merasakan hangat napas Deva di lehernya. bulu kuduknya meremang. ngeri bercampur cemas mendesak dadanya. entah kenapa dia selalu tegang bila deva sudah bersikap mesra padanya.
caera merasakan Deva makin menghimpit tubuhnya. menempelkan bibir kenyal itu ke lehernya. menggesek samar di sana.
tulang belulang caera seperti berlepasan dari sendinya. kini lidah basah Deva men ji lat di sana.
astagaaa... si mesum ini sudah seperti anakonda saja!!
caera memaki dalam hati. matanya makin merapat. bibirnya terkatup erat. makin ngeri ketika Deva mengendus sampai ke pundaknya. sedikit menarik turun handuk yang menutupi bahu dan bagian depan atas tulang selangkanya. mencucup kecil pundak licin yang baru di mandikan dengan sabun wangi.
"sayang.. aroma mu memabukkan"
makin berat suara itu. menggeram tertahan. caera memberanikan diri membuka matanya dan menoleh melihat apa yang di lakukan Deva.
wajahnya tepat di telinga Deva yang menunduk menge cup pundaknya.
"tuan Dev.. jangan be.. begini"
ujar caera berbisik terbata-bata. napasnya sesak melihat Deva seperti beruang besar sedang menge cupi pundaknya.
Deva berhenti. menoleh melihat caera yang tampak ngeri dengan apa yang di lakukannya. Deva merutuki dalam hati. niat menjahili caera sirna sudah. kini dia yang harus menahan has rat untuk membawa caera ke ranjang hangat di belakangnya.
Deva tak kuasa membiarkan bibir itu menganggur terbuka karena menahan napas ketakuatan.
Deva mengigit kecil bibir basah itu. mengu Lum dengan bersemangat. memainkan lidahnya men ji Lati bibir merah nan lembut. tak puas-puas Deva ingin selalu me lu mat bibir itu. selalu membuatnya hilang akal. tak dapat melawan has rat untuk me ngu Lum dan menggigitnya.
caera megap-megap mendorong dada Deva. memukuli dada bidang itu tanpa daya. tapi Deva malah menggigit bibir bagian bawahnya dengan gemas.
"uummmpphhh"
caera menautkan alisnya. menahan rasa sakit-sakit nik mat akibat gigitan Deva di bibirnya. Deva me ngu Lum lagi bibir bawah caera menghilangkan rasa sakit yang tadi di cipatakannya.
"uummmpphh"
caera mencoba teriak tapi suaranya hanya menyangkut di tenggorokan. bergumam tak jelas karena kini Deva membungkam seluruh bibirnya dengan ******* ga i rah.
Deva melepaskan lu ma tannya karena merasakan tangan caera menghentak-hentak dadanya.
melepaskan dengan tiba-tiba. membuat caera langsung ngos-ngosan seperti baru saja lari maraton berkilo-kilo meter.
"hhaahhhh.."
Deva menggeram lirih. kepalanya teng-tengan berdenyut sakit. menahan gejolak yang menyerbu aliran darah mengalir deras ke otaknya.
"capatlah bersiap Ra. kita makan"
Deva memisahkan diri dari caera. memasukkan kunci pintu dan memutarnya. membuka pintu lalu pergi begitu saja.
hhhhhaahhhh...
__ADS_1
caera menghempaskan napasnya lega. lagi-lagi Deva meninggalkannya begitu saja. untung saja tuan mesum itu tidak nekat melakukan lebih.
di luar kamar, Deva merutuk dalam hati yang tak bisa menahan diri ketika dekat dengan caera. mengusap tonjolan di bawah sana, dan sedikit merenggangkan pahanya menarik penutup di bagian dalam agak melonggorkannya, agar tidak terlalu sesak. supaya kembali tertidur akibat ulah yang ia ciptakan sendiri.
****
caera keluar kamar sudah berpakaian rapi. memekai kaos berlengan panjang dan celana panjang kaos. dia menutup seluruh tubuhnya agar si tuan mesum, tidak kembali tergoda.
"kau sakit?"
tanya Deva begitu melihat penampilan caera yang serba tertutup.
"aku? tidak"
jawab caera menyembunyikan rasa gugupnya.
Deva tersenyum. ia mengerti kenapa caera memakai baju dan celana serba panjang. wanita ini tidak mau dia tergoda lagi.
"kemari lah. ayo kita makan"
Deva menepuk kursi di sampingnya. mengajak caera duduk bersamanya di meja makan. Deva sudah menyiapkan makanan dan memanaskannya tadi.
caera memang belum makan dari tadi sore. perutnya sudah minta di isi.
"tuan memanaskan makanan ini?"
tanya caera melihat makanan yang masih mengepulkan uap tipis.
"ya. tadi Jacko yang bawa. tapi kau masih tidur. jadi aku memanaskannya"
Deva tersenyum.
"tuan bisa?"
caera masih tidak percaya.
"kenapa sayang? hanya memanaskan dengan microwave bukan? apa susahnya?"
caera diam. dia pikir, Deva hanya tahu berbisnis. mana Deva tahu soal memanaskan makanan. caera tersenyum terharu. sampai segitunya Deva memanjakannya.
"kenapa piringnya cuma satu?"
caera menunjuk piring di depannya.
"kita makan sepiring berdua"
ujar Deva seraya menyendokkan nasi ke piring itu.
"lagu dangdut itu tuan Dev"
caera menutup mulutnya menahan tawa.
"ya, seperti hati ku yang selalu kau dangdukan sayang. berguncang"
"khiihiihkhiiihii"
caera terkikik tertahan. tuan mesum ini selalu menggombalinya. jahil sekali.
__ADS_1
Deva menyuapinya dengan telaten. sesekali menyuapkan ke mulutnya sendiri. kalau caera menolak, maka habislah dia akan di lum at lagi. jadi lebih baik menurut saja. makan dengan tenang tanpa banyak protes.