DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 146


__ADS_3

yaaaahhh... episode bulan madu telah terlewati. Deva dan caera kembali menjalani rutinitas seperti biasa. dan caera tidak lagi sibuk sebagai sekertaris bayangan. tapi telah sibuk menjadi seorang istri Deva Kamran Elliot yang sangat di manjakan.


kalau dulu caera sibuk mengurus rumah tangga, kini sudah cukup mengurus keperluan suaminya mengurus diri, menemani Gino, dan berpose indah di ranjang menunggu suami menggempur.


itu permintaan Deva. kadang caera protes juga. tapi Deva bilang, cukuplah dulu caera sibuk dengan yang lain. kalau sekarang, cukup menunggunya pulang dan tersenyum manis. bagi Deva, itu sudah mengalahkan segalanya.


caera merasa sangat beruntung. selain mendapatkan suami yang tampan, mapan, dan sayang, dia juga memiliki ibu mertua yang sangat menyayanginya. keluarga yang hangat, dan kata-kata yang tidak pernah menyakitkan hati.


semua itu tidak di dapati pada Arya. Maya selalu memaki. adik Arya bersikap tertutup padanya. bahkan terkesan menjauh.


yang paling caera merasa bersyukur, semua keluarga Deva menerima Gino dengan baik mereka menyayangi Gino seperti keluarga sendiri. dan Gino juga terlihat bahagia dengan keluarga baru Daddynya.


dan Dira, gadis itu masih setia menemaninya. walau terkadang bertemu Richard, tapi mereka terlihat tidak saling mengenal.


sewaktu pulang dari bulan madu caera, Richard dan Dira selalu bersikap dingin. tidak mau duduk di tempat yang sama. dan selalu menghindari jika berpapasan. caera tidak bisa berbuat banyak. masih tidak tahu solusi apa yang bisa caera berikan bagi keduanya.


Deva membawa caera tinggal di mansion. hanya ketika akhir pekan mereka pergi ke rumah bukit. menyisihkan quality time bersama Gino.


semua sempurna. semua indah. inilah akhir dari air mata yang di terima caera ketika bersama Arya. bertahun-tahun memendam rasa tertekan. bertahun-tahun menekan persaan lemah yang harus di pendam hanya karena ingin keutuhan rumah tangganya.


dan Deva, ini lah akhir penantian mendapatkan cinta sejati. bertahun-tahun memendam rasa kecewa di tinggalkan. bertahun-tahun tak bisa merasakan cinta. dan kini, setelah kesabaran berjuang mendapatkan wanita yang mendobrak hatinya, dia mendapatkan segalanya.


selalu merasa rindu bila berjauhan. selalu lebay minta video call setiap jam. kadang, tersenyum sendiri ketika ingat sesuatu yang lucu bersama istrinya di rumah.


sekalipun Caera tidak bisa hamil seumur hidup, dia tidak akan pernah mengkhianatinya. cukuplah caera selalu ada di sisinya. menghabiskan sisa waktu di hari tua. itu sudah cukup.


dan pagi ini, wajah Jacko menghiasi pagi yang cerah. terlihat wajah garang itu semakin garang. tapi Jacko mencoba menutupi dari semua orang. hanya Deva yang tahu keadaan hati Jacko pagi ini.


caera mengantar Deva sampai di mobil. memeluknya mesra sebelum masuk ke mobil.


"jangan lupa kirim foto mu kalau aku sudah sampai sayang" ujar Deva mengecup kening istrinya..


caera hanya mencubit perut Deva gemas. selalu saja itu yang di katakan sebelum berangkat kerja. seperti tidak ada hal lain yang lebih penting.


"aku pergi dulu ya. jangan keluar tanpa Dira. mengerti?"


"Iya, sayang"


caera mengecup pipi Deva. lalu Deva masuk ke mobil dan Jacko melajukan mobil.


Deva memperhatikan Jacko dari kaca spion depan. melihat wajah itu kini tampak jengkel tanpa di sembunyikan lagi.


"ada apa Jack? kau ada masalah?" tanya Deva.


Jacko tampak menghela napas berat. melirik Deva dari kaca depan.


"aku pikir, Gisel memang sudah gila"


Deva menaikkan sebelah alisnya. agak sedikit merasa penasaran ada apa dengan Gisel.


"kenapa lagi dia?"


"dia selalu mencari mu. aku sudah menghalangi dengan memblockir semua akses yang bisa menghubungi mu. tapi dia tetap ngotot"


"dia mau apa dengan ku?"


"kau pikir dia mau apa?" Jacko bertanya balik.


"Keenan"


Jacko melirik Deva lagi. lalu diam dan fokus pada jalan di depannya.


"kenapa dia tidak berani datang ke mansion?"

__ADS_1


"apa kau kira, dia berani menerima tatapan tidak di senangi?"


Deva diam. Gisel pasti tidak mau bertemu Tristan kakak Deva. Tristan sangat membencinya.


"dan pasti hari ini kau harus menghadapinya. dia sudah menunggu mu di kantor sejak pagi-pagi tadi"


"benarkah?"


Jacko mengangguk. Deva melirik jam di tangannya. pukul setengah sembilan. berarti Gisel datang lebih awal lagi.


"astaga!"


ciiiittt...


"what??!!"


Jacko kaget. mengerem mendadak mobil yang mereka tumpangi. membuat Deva tersentak ke depan.


"gila kau!"


Deva meninju jok belakang Jacko. kesal karena Jacko mengerem mendadak. banyak mobil di belakang mereka yang ikut mengerem mendadak karena ulah Jacko. mereka memaki ketika melewati mobil Deva.


"kau yang gila! kenapa astaga? ada sesuatu?"


"aakkhh.. kenapa kau tidak bilang kalau Gisel sudah di kantor? aku jadi tidak bisa bilang pada caera" jawab Deva.


"aahh... sial!! dasar bucin akut!!" maki Jacko.


"jahahhaa" Deva tergelak.


dengan jengkel, Jacko menjalankan lagi mobilnya. dia kira apa tadi Deva mengatakan astaga sekuat tenaga. ternyata hanya tentang caera.


"kau pikir caera akan sepicik itu sampai curiga pada mu dan Gisel?" Jacko melirik Deva dengan malas.


"diam kau! kau kira aku tidak punya pertimbangan?"


"punya. kau hanya tidak punya cinta. hahaahaa"


senangnya membuat Jacko gondok. dan benar saja. Jacko bergumam memaki sangat kesal pada Deva. Deva hanya tergelak bangga bisa membuat KO si pria kaku itu.


*****


begitu keluar dari lift, mereka berdua di sambut Erna, sekertaris Deva yang baru. Erna menyampaikan kalau Gisel sudah menunggu di ruangan Deva.


Deva melirik sinis pada Erna. tidak suka kenapa Erna mengijinkan Gisel masuk ke ruang kerjanya tanpa persetujuan dari Deva.


"maafkan saya tuan. nona Gisel memaksa" Erna tertunduk takut.


Deva diam. melanjutkan langkahnya menuju ruang kerjanya. sementara Jacko masih berdiri di depan Erna.


"kalau kau bertindak gegabah sekali lagi, maka aku akan membuang mu ke peternakan hiu!" sentak jacko.


"maafkan saya tuan. nona Gisel marah dan memecahkan vas bunga"


dengan pandangan marah, Jacko menghardik Erna.


"kau di pecat!!"


Jacko ingin pergi. tapi Erna menghentikannya dengan meminta maaf. Erna mendelik gusar. dia dipecat.


"tapi tuaaan..."


Jacko berbalik lagi. melotot marah. suasana hatinya sedang tidak baik hari ini.

__ADS_1


"kau tahu apa kesalahan mu bukan?" tanya Jacko. "kau membiarkan orang asing masuk ke ruangan bos mu. kau tidak melawan ketika tamu marangsek masuk. kau tidak memecahkan kepala orang yang sudah membuat onar, dan sudah berani memecahkan barang di tempat ini!!!" bentak Jacko.


Erna ketakutan. menunduk dan terisak takut.


"bagaimana jika ada sepuluh tamu sepertinya??! kau pasti sudah mengakibatkan bos mu terbunuh! pergi!!"


lantang suara Jacko. lalu pergi meninggalkan Erna yang sudah gemetar ketakutan. mimpi apa dia semalam hingga menerima nasib malang pagi ini.


Deva membuka pintu ruang kerjanya. terihat Gisel duduk di depan meja kerja Deva. melihat itu, Deva hanya diam. melangkah masuk dan menuju meja kerjanya.


melihat Deva datang, Gisel bangkit berdiri. menatap Deva yang sama sekali tidak mau melihatnya. Jacko juga masuk dan berdiri di belakang Deva.


Deva duduk. lalu menatap Gisel yang masih berdiri.


"ada apa?" tanya Deva menatap mata Gisel.


hati Gisel terasa berdenyut nyeri. pria di depannya ini sudah sangat jauh berubah. melihatnya hanya seperti orang yang tak berarti sama sekali.


"selamat Dev.. kau baru pulang bulan madu" jawab Gisel memberi selamat.


"itu sudah basi. aku sudah lama kembali dari bulan madu" sarkas Deva.


berdesir nyeri hati Gisel mendengar kata-kata tajam itu. Deva tidak suka basa-basi lagi dengannya.


"duduklah. nanti kaki mu sakit" ujar Deva.


Gisel duduk lagi. menunggu Deva bertanya padanya. melirik Jacko yang menunjukkan wajah dingin yang tidak bersahabat.


"katakan. ada apa kau mencari ku"


Gisel menghela napasnya. menatap Deva dan melanjutkan bicara.


"kenapa kau menarik saham mu dari ku?" tanya Gisel langsung.


"itu hak ku"


"aku tahu. tapi setidaknya kalian mendengarkan dewan direksi dulu. tapi Jacko memutuskan sangat tiba-tiba tanpa mempertimbangkan apa yang di katakan dewan direksi" Gisel menatap Jacko dengan marah.


"kenapa? kalian tidak mampu berjalan tanpa ku?" tanya Deva lagi dengan sinis.


"Dev! baginikah kau memutuskan relasi dengan ku?" Gisel mulai marah. bibirnya bergetar menahan tangis.


"ada Keenan yang bisa membantu mu"


jawab Deva tenang. menyandarkan punggungnya di sandaran kursi. Jacko hanya diam dan menatap Gisel tajam.


"kalian sudah menghancurkannya Dev!" pekik Gisel.


Deva dan Jacko diam. hanya menatap Gisel yang sudah mulai meneteskan air matanya.


"aahhh.. kalian kejam!"


Gisel menutup wajahnya dengan kedua tangannya. terisak pilu di depan kedua pria ini.


sebenarnya Deva tidak tega melihat putri kesayangan paman yang di cintainya ini menderita. tapi karena Keenan, Deva menegarkan hati.


Gisel membuka wajahnya. menatap Deva dengan linangan air mata.


"tolong jangan begini Dev. Keenan sudah mengundur waktu menceraikan ku. dia masih mau bersama ku sampai sekarang. tapi kalian menghancurkan segalanya. dan sekarang dia mengancam ku dengan perceraian itu lagi.. hiikkss.. hikkss.."


Gisel terisak pilu. membuat Jacko meradang. Jacko marah. sangat merasa jijik dengan kebodohan Gisel.


BRAAAKKK!!!!

__ADS_1


Jacko menggebrak meja dengan tiba-tiba. membuat Gisel terjengkit kaget. melotot melihat wajah marah yang belum Gisel lihat selama ini.


__ADS_2