
caera mengerjap-ngerjapkan matanya. memandang sekeliling dengan buram. mengumpulkan nyawa yang belum kembali sepenuhnya. meraba-raba tempatnya berbaring.
begitu kesadarannya sudah menyatu dan berkumpul, caera terjengkit kaget. cepat-cepat dia bergerak bangun dari tempatnya berbaring. ini ranjang di kamar ruang kerja milik Deva.
memandang sekeliling kamar. tidak ada seorang pun. hanya dia sendiri. melihat pada lukisan Deva lagi.
hhiihh... ini lah lukisan yang membuat ku sial!
caera menirukan mencubit lukisan itu di udara. menirukan meremat gemas dengan kedua tangannya pada lukisan Deva yang tidak tahu apa-apa, dan tetap menatapnya dengan senyum mempesona.
caera melirik pada vas bunga yang ada di samping lukisan Deva. bunganya sudah di ganti dengan bunga yang di bawa caera tadi. tampak beberapa batang mawar terlihat bengkok karna batangnya lusuh seperti kena remas.
"aduuuuhh..."
caera mengeluh. merasa bodoh pada dirinya sendiri. berarti tadi itu benar Deva yang sebenarnya ada di belakangnya dan pasti dia sudah memperhatikan caera sejak lama.
tapi tidak ada orang di kamar ini kecuali dirinya. lamat-lamat caera mendengar percakapan di luar, karena pintu masih terbuka lebar.
caera beranjak mengintip sedikit. tapi tidak kelihatan. karena ruangan ini agak menjorok ke dalam. terhalang dinding dan rak berkas yang besar.
"dia tidak apa-apa Dev. mungkin karena shock dia pingsan"
terdengar seseorang bicara pada Deva. caera tidak mengenali suara siapa itu.
"tapi ini sudah satu jam. dia belum sadar juga"
suara Deva penuh kecemasan.
"sabar lah. sebentar lagi dia pasti siuman"
caera meninggalkan pintu. duduk di tepi ranjang lagi. bingung harus bagaimana. dia tidak sanggup bertemu Deva lagi. pasti ia akan pingsan lagi karena tidak sanggup menahan malu.
Deva memergoki caera menyentuh lukisan dirinya dengan senyum senang.
aahhh.. magaimana ini??? mati lah akuuuuu..
caera meratap menyesali diri, kenapa tadi dia terpikat pada lukisan itu. tidak segera melakukan kerjanya dan keluar dari ruangan ini.
caera mondar mandir dengan kecemasan tingkat tinggi. meremat jari jemarinya yang terasa dingin.
ingin menangis rasanya. saking tak sanggup menahan malu, caera sampai semaput jatuh pingsan ketika Deva memergokinya tadi.
tapi apa dia harus bersembunyi di sini seharian? nanti atau sekarang, pasti bakalan bertemu dengan deva lagi.
dengan gemas, caera menatap lukisan Deva dan berdiri di depannya.
"heh, kau! kenapa sih sikap mu itu sangat aneh pada ku?? "
caera bicara berbisik geram pada lukisan Deva dan menudingkan telunjuknya tepat di hidung mancung itu.
"aku itu takut pada mu tahu??" menirukan mencubit pipi Deva gemas " tapi kenapa kau tampan dan baik sekaliii..." mencolok-colokkan jarinya pada lubang hidung Deva di lukisan itu dengan geram geram manja๐
"kau itu sebenarnya menyebalkan tahu!"
menampar pipi di lukisan. "jangan panggil sayang sayang lah. aku cuma sandiwara kemarin itu di depan si Vivi pe sun dal itu!!"
__ADS_1
"iiiiihhhh"
dengan gemas dia mencubit ujung dada Deva.
"kenapa sih kau tidak lenyap saja sekarang? aku bingung mau keluar!"
menatapi wajah yang diam saja dengan senyum eksotis. masih tidak bergerak dengan kain sutra yang bertebaran di tiup angin.
"ah aku bisa gila kalau memandangi wajah mu terus. kenapa sih bisa setampan ini"
caera menjauh dari lukisan Deva. sudah seperti orang gila yang bicara sendiri dengan lukisan. bentuk ungkapan rasa cemas yang melanda.
puas memarahi lukisan Deva, caera duduk lagi di tepi ranjang. caera harus memberanikan diri keluar dari kamar ini dan bertemu dengan Deva di depan.
pelan-pelan dia melangkah mendekati pintu kamar lagi. langkahnya sampai terseok-seok saking gemetarnya. tidak bisa membayangkan seperti apa warna wajahnya sekarang. sudah membiru, atau menjadi warna hijau loreng-loreng.
dengan menunduk, caera berhenti tepat di sisi rak berkas. Deva, Jacko, dan Zaki yang bercakap-cakap pun segera menoleh menatap caera.
kaget Deva berdiri sigap menghampiri caera. dengan kekhawatiran yang terlihat jelas, Deva memeluk caera.
"sayang, kenapa jalan sendiri? kenapa tidak memanggil ku, ha?"
Deva mendekap caera.
astaga... dada caera terasa sesak oleh rasa malu. pasti lah Jacko dan teman Deva yang satu lagi itu memandang adegan drama tak bermutu ini. pikir caera.
"maaf tuan. saya tidak apa-apa"
caera berusaha keras melepaskan diri dari pelukan Deva. setelah Deva melepaskan pelukannya, caera segera menjauh.
ujar Deva masih tak percaya.
ya tuhaaann... ini karna malu tuan deeevvv...
"tidak apa-apa tuan"
caera hanya sanggup menunduk. tidak berani menatap wajah Deva.
Jacko dan Zaki hanya berdiri memperhatikan mereka. Zaki menautkan tangannya di dada dan sebelah tangannya agak menutup mulutnya menahan tawa.
Deva menarik tangan caera mendekat ke tempat Zaki.
"dok, tolong periksa calon istri ku ini. dia masih terlihat pucat"
ujar Deva menyerahkan caera untuk di periksa Zaki.
"mari nona saya periksa dulu"
Zaki melirik Deva yang tersenyum sedikit. menahan geli melihat caera dengan kegugupannya.
"tidak tidak. saya sudah baikan. tidak usah dokter"
caera menggerak-gerakkan tangannya menolak. menatap Zaki memohon untuk tidak di periksa.
"sayang, jangan membantah. kau pucat sekali"
__ADS_1
Deva memegang kedua bahu caera. menatapnya sayang.
caera terbungkam melihat tatapan itu. ingin rasanya menendang Deva sekarang.
Deva menarik caera ke sofa. mendudukkannya di sana. caera melirik Jacko sekilas. lelaki itu diam saja. ingin rasanya minta pertolongan pada Jacko agar memberitahu pada Deva untuk melepaskannya.
"silahkan dokter"
Deva mempersilahkan Zaki untuk memeriksa caera. caera hanya terduduk pasrah menunggu Zaki memeriksanya.
setelah selesai memeriksa, Zaki membereskan peralatan medisnya.
"bagaimana dokter?"
"bagaimana kronologinya nona ini bisa pingsan tuan Dev?"
Zaki tampak serius sekali bertanya pada Deva.
"saya juga tidak yakin. tapi tadi calon istri ku ini memandangi lukisan diri ku. mungkin dia terkejut karena baru menyadari ketampanan calon suaminya ini"
ujar Deva tersenyum dan menepuk-nepuk dadanya dengan bangga.
AAAAAAAAAA... sialan kau Dev! jangan membuat ku pingsan lagiiii....
hati caera meronta-ronta karena ucapan Deva. ia hanya bisa menunduk dengan wajah yang terasa panas.
"ohh begituuuu..." Zaki manggut-manggut. "itu normal tuan Dev. artinya cinta itu makin tumbuh dan akan semakin besar"
aku akan membunuh kalian bertiga! lihat saja
"syukurlah"
jawab Deva dengan santai.
"calon istri anda sehat-sehat saja tuan Dev. hanya membutuhkan perhatian anda lebih besar"
aku bukan calon istrinya dokter! tutup mulut kalian
"baik lah dokter. saya akan selalu memberikan perhatian besar padanya. karna saya sangat mencintai calon istri saya ini"
Deva menggenggam tangan caera. memberinya kehangatan pada tangan caera yang sudah sedingin es.
caera tidak tahan lagi berlama-lama di dalam ruangan ini. ruangan yang luas ini terasa begitu menyesakkan.
"maaf tuan. saya keluar dulu"
dengan tergesa caera melangkah keluar ruang kerja Deva. melewati Jacko dan Zaki. tidak mau mendongakkan kepalanya tegak. sungguh dia sangat malu dengan kejadian ini. harga dirinya sudah tercampak entah kemana.
langkah kaki yang gemetar itu tak di hiarukan. yang penting keluar dulu. menghempaskan pintu sedikit keras karna terburu-buru.
begitu caera sudah berada di luar, Zaki langsung terkikik geli melihat tingkah caera. sampai tubuh Zaki berguncang keras saking gelinya.
Jacko pun tersenyum tertahan. sementara Deva, ia tersenyum lebar. terlihat sangat senang melihat caera salah tingkah.
mereka bertiga saling melirik satu sama lain, dan seketika terbahak tak tertahankan lagi.
__ADS_1
HA HA HA HA