
hari ini suasana kantor agak riuh. mereka menggosipkan meninggalnya tuan Nugraha. apalagi mengetahui kepulangan Gisel dari Paris.
tadi pagi juga sebelum caera berangkat ke kantor, melihat televisi yang tak ketinggalan acara berita dan infotainment gosip ramai-ramai menayangkan berita itu. dan lanjut dengan gosip yang menyangkut pautkan Gisel dengan Deva.
di media yang lain juga sama. berita itu menjadi tranding topik di Indonesia. dari situ, caera tahu cerita mengapa putusnya pertunangan Deva dan Gisel. karena itu juga Deva menghilang dari peredaran bisnis. memerlukan satu tahun, baru Deva berkiprah kembali.
caera jadi penasaran ingin mengorek informasi dari beberapa akun gosip di berbagai media. mengulik semua berita tentang Deva. tercengang caera membaca sebuah artikel yang menjelaskan banyaknya bisnis dan perusahaan yang Deva kelola. dan juga kehidupan asmaranya.
tapi, selain Gisel, caera tidak melihat media memberitakan gadis lain yang pernah bersama deva. ia membuka sebuah artikel gosip yang memberitakan Deva pernah terlihat di beberapa tempat. media itu juga menampilkan visual Deva. dan sering mengait-ngaitkan beberapa wanita kalangan atas yang dekat dengannya.
baru kali ini caera mencari tahu tentang Deva. dan itu membuat dia sangat minder. seorang Deva yang selalu menjahilinya dengan segala sikap manis dan mesra, ternyata orang yang sangat berpengaruh di dunia bisnis dan banyak lagi.
caera hanya duduk memandangi gawainya. asik membaca artikel media yang ia buka. Dira masih sibuk mengubah ulang semua jadwal Deva satu Minggu ke depan. dan beberapa pejabat penting perusahaan sudah berkemas akan menghadiri pemakaman tuan Nugraha.
caera tampak tak berselera. menopang dagunya malas membaca banyak artikel tentang kisah asmara Deva, membuat hatinya agak sedikit panas. banyak wanita yang di gadang-gadang dekat dengan Deva. terlihat banyak visual beberapa wanita kalangan atas berbincang akrab dengannya.
aduuhhh... siapalah caera di bandingkan dengan semua wanita itu. mereka sangat sempurna dan tak bercela. sangat cocok jika berdampingan dengan Deva. jiwa minder caera meronta-ronta.
"kak"
panggil Dira.
caera hanya melirik Dira dari mejanya. menghentikan membaca artikel gosip itu.
"bersiap lah. kita akan ke pemakaman tuan Nugraha"
ujar Dira sambil memeriksa ponselnya.
"kenapa aku ikut dir?"
"ini aku baru dapat pesan dari asisten Jacko. katanya kita berdua harus pergi juga"
"aku tidak ikut dir. kamu saja ya"
entah kenapa caera merasa malas sekali.
"tidak bisa. nanti asisten Jacko marah"
Dira bicara agak ngotot.
"aku tidak bawa pakaian ganti dir. aku kan tidak tahu kalau harus pergi ke sana"
"tuan Jacko hanya bilang bersiap saja kak. ya sudah la begini saja"
Dira memandang pakaiannya. dia merasa itu sudah cukup. caera benar-benar tak berminat pergi ke sana.
tok.. tok.. tok..
pintu di ketuk. Dira beranjak membuka pintu. seorang lelaki berdiri di ambang pintu. membawa sebuah kotak berukuran sedang di tangannya.
"nona caera?"
tanyanya.
"oh bukan saya. itu nona caera"
Dira menunjuk pada caera. caera menoleh melihat siapa yang mencarinya.
"ya saya. ada apa pak?"
tanya caera dan menegakkan tubuhnya.
"saya adalah utusan tuan Deva. ini untuk nona caera"
ujarnya menjulurkan kotak itu.
caera bangkit berdiri dan mendekat ke pintu.
berdiri memperhatikan lelaki itu dan kotak di tangannya.
"ini untuk saya? dari tuan Deva?"
__ADS_1
tanya caera tak percaya.
"iya nona. tuan Deva berpesan agar anda dan nona Dira segera bersiap. saya yang di utus menjemput anda berdua dan mengantar"
jawabnya panjang lebar.
caera dan Dira saling pandang. merasa aneh jika mereka berdua di prioritaskan untuk menghadiri pemakaman.
"mohon di terima nona. dan sebaiknya anda bersiap sekarang. saya akan menunggu"
kata pria itu tegas.
caera segera menerima kotak itu. mengajak Dira untuk membuka kotaknya. setalah di buka, ternyata dress panjang berwarna hitam. lengkap dengan kerudung pasmina dan sepatu berwarna senada.
"waaahh... bagus benar bajunya kak"
kata Dira takjub.
"apanya yang bagus Dir? hitam semua gini"
caera mencibir.
"merek dan harganya kak yang bagus"
ujar Dira cengengesan.
caera geleng-geleng kepala. dan bergegas ke toilet untuk mengganti pakaiannya. setelah di rasa cukup, caera keluar. dan Dira tercengang menatapnya.
"waahhh kak caera. pas sekali baju itu di tubuh mu. dan kau manis sekali pakai itu"
ujar Dira dengan mata berbinar.
"aduuhh Dira. kamu itu berlebihan" caera menggerakkan tangannya di udara. jengah melihat Dira sangat terpesona dengan pakaian hitam ini.
tapi, iya juga ya. kok bisa sih tuan Deva tahu ukuran tubuhnya? 🤔 tapi caera cepat menepis pikiran itu.
apa yang Deva tidak tahu? sedangkan ce la na da lam dan bra caera dia bisa tahu... apalagi hanya ukuran baju.
"kamu sudah siap dir?"
tanya caera mengalihkan fokus Dira dari pakaian yang ia kenakan.
"sudah kak. aku begini saja"
jawab Dira sambil merapikan bajunya lagi.
mereka berdua keluar dari ruang kerja. tapi tak melihat pria tadi. mungkin sudah di bawah menunggu mereka. terus saja mereka berdua menuju lobi untuk memastikan.
di luar lobi sudah banyak karyawan yang mewakili dari setiap divisi untuk ikut melayat ke pemakaman tuan Nugraha. caera dan Dira ikut berdiri di teras depan kantor. banyak mata yang mengarah pada caera. sampai caera risih di pandangi seperti menilai penampilannya.
"dir, penampilan ku berlebihan ya?"
bisik caera pada Dira di sampingnya.
Dira menoleh. memandang caera dari ujung kaki sampai ke kepala. terus melihat wajah caera.
"iihh.. apa sih lihatnya sampai begitu?"
caera mencubit Dira sambil bergumam gemas.
Dira meringis kesakitan karena cubitan caera.
"kak, kau tahu? penampilan mu sangat mempesona"
"ck, aku serius Dira"
caera bergumam jengkel. bicara berbisik.
"sumpah kak"
Dira menaikkan dua jari telunjuk dan jari tengah menirukan bersumpah. caera akhirnya diam. masih melirik pada gadis-gadis dari divisi personalia dan divisi umum yang bersatu menggerombol berbisik membicarakan caera.
__ADS_1
caera berusaha cuek saja. lagian ini Deva ngapain pake kirim pakaian segala. caera menggerutu dalam hati. jadinya begini kan di jadikan bahan ejekan karyawan perempuan.
sebuah mobil berhenti di depan caera dan Dira. supir itu turun dan menghadap pada caera. itu pria yang di utus Deva. membungkuk dan membukakan pintu mobil untuknya.
"silahkan nona. tuan Deva sudah menunggu"
ujar pria itu sopan.
astaga.. caera sampai grogi setengah mati. di perlakukan bak seorang putri. para karyawan perempuan makin kencang membicarakan caera.
"huh.. sok cantik sekali sih!"
kata seorang dari mereka.
"iya ya. sampai di jemput lho"
"dasar gatel"
"ih malas banget aku lihatnya"
"benar itu. kalian lihat kan, masih jauh cantik nona Gisel dari pada dia"
telinga caera berdengung mendengarkan kata-kata yang menyakitkan itu. tapi Dira langsung saja mengajaknya masuk ke mobil. terlihat gadis-gadis itu menatap sinis ke arahnya.
mobil melaju meninggalkan area kantor. berjalan dengan tenang menuju kediaman rumah duka.
"sudah kak. jangan di dengerin. mereka itu cuma iri sama kakak"
ujar Dira menenangkan caera yang terlihat muram.
"kenapa mereka benci sama aku dir?"
"biasa itu kak. dulu Dira juga di gituin. katanya Dira cari muka sama asisten Jacko. padahal ngapain cari muka? orang muka Dira sudah ada"
kata Dira membuat caera tersenyum geli.
"apa harus di benci dulu ya dir, kalau jadi sekertaris?"
tanya caera lagi.
"haha.. iya dong kak. apalagi bos nya seperti tuan Deva. heemmm... bakalan di hujat deh tiap hari"
"emang kenapa tuan Deva?"
"lho... ya tuan Deva itu, udah ganteng, setia, dan kaya kak. siapa yang gak mau dekat sama tuan Deva"
ujar Dira bersemangat.
"dari mana kamu tahu tuan Deva itu setia?"
caera makin penasaran dengan informasi yang di berikan Dira.
"ya iya lah kak. tuan Deva kan dingin dan sadis. banyak yang mau dekat. tapi tuan Deva dingin-dingin aja. gak pernah tu tuan Deva bersikap manis sama cewek kak. itu artinya tuan Deva setia"
aduh diraaa... kamu tidak tahu kalau tuan Deva bersikap pada ku. gak ada sadisnya gitu..
"iisshh kamu ya" caera mencolek pipi Dira "itu kan tidak bisa menjamin kalau dia itu setia"
"belum pernah ada wanita yang dekat dengan tuan Deva kak. yang ngaku dekat banyak"
jawab Dira tertawa.
"cuma kakak yang tidak pernah ngaku kalau kakak calon istri tuan Deva"
Dira nyengir menatap Caera.
"iihh.. kamu ini. apaan sih"
caera membuang muka karena si goda Dira.
padahal Dira berkata sejujurnya. tapi caera menganggap Dira hanya menggodanya.
__ADS_1