DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 60


__ADS_3

Deva tidak henti mondar mandir di depan ruang ICU. Soraya ibunya sibuk menenangkan bibi Arum yang menangis. sementara Jacko dan Richard, hanya bisa berdiri tegak.


paman Santoso dan sekertaris Nugraha, Deni. duduk menunduk dengan wajah sedih. mereka semua berkumpul setelah mendapat kabar bahwa Nugraha mengalami Henti jantung mendadak atau sudden cardiac arrest. kondisi ketika jantung berhenti berdetak secara tiba-tiba. Kondisi ini menyebabkan penderitanya hilang kesadaran dan bahkan berhenti bernapas.


Zaki dan beberapa dokter masih menangani Nugraha. berusaha semaksimal mungkin menyelamatka nyawanya.


bibi Arum memeluk Soraya erat. dia terlihat sangat bersedih.


"Gisel belum datang"


ratapnya pada soraya.


"besabarlah. kita berdoa semoga mas Nugraha tidak apa-apa"


Soraya menenangkan Arum.


Deva yang terlihat sangat terpukul dan terlalu panik dengan kondisi Nugraha. merasa bersalah karena menjauh dari pamannya itu, setelah hatinya terluka. mondar mandir dengan kegelisahan yang tak bisa di bendung.


Richard mendekati Deva dan memegang pundaknya. Deva berhenti. menatap pada Richard.


"Dev, tenangkan diri mu. ayo duduk"


Deva menurut. Richard membawanya ke bangku dan mendudukkannya. Deva mengusap wajahnya kasar. keadaannya tampak kacau.


"bersabarlah Dev. kita hanya bisa berdoa"


ujar Richard menepuk-nepuk punggung Deva.


Nugraha memang sudah menderita penyakit jantung sejak lama. keluar masuk rumah sakit sudah beberapa kali. kondisinya memburuk seminggu terakhir.


pintu ruang ICU terbuka. Zaki keluar dari sana. semua orang langsung mendekat padanya. tapi Deva hanya duduk di bangku saja. dia takut mendengar hal terburuk terjadi pada Nugraha.


"bagaimana suami ku, dokter zaki?"


tanya bibi Arum. menarik jas putih Zaki.


raut wajah Zaki muram. memandangi Deva yang menatapnya juga dari tempat duduknya. menatap langsung manik mata yang penuh kecemasan menanti kabar Nugraha.


Zaki menoleh pada bibi Arum di depannya. menarik napas mencari kekuatan untuk memberi kabar ini.


"maafkan aku bibi. kami sudah berusaha semaksimal mungkin. tapi paman sudah tidak ada"


"apa?!" Arum terhenyak. tak percaya dengan apa yang di katakan Zaki. "kau salah Zaki! suami ku masih ada! putrinya belum datang! buat dia bangun lagiiii"


teriak Arum. menangis sejadi-jadinya. Soraya memeluknya lagi dengan erat sambil menangis. Arum meronta-ronta tidak mau di pegang.


"mbak sabar mbak"


Soraya mencoba menenangkan Arum.


ia memukuli Zaki karena tidak bisa membuat suaminya membaik. Zaki membiarkan saja Arum memukuli dirinya. Arum sangat terpukul dengan meninggalnya Nugraha suaminya. sampai dia melorot jatuh ke lantai. Zaki dan Santoso memegangi Arum yang terkulai lemas.


Zaki memanggil beberapa perawat untuk memberi penanganan pada Arum.


jantung Deva berhenti. terasa dunianya berputar. dia menghempaskan punggungnya ke tembok di belakangnya. tubuhnya terkulai lemas. masih tak percaya apa yang di katakan Zaki. inilah hal yang paling di takutinya untuk di dengar.


dunia seakan meledak. rasa penyesalan berjejalan menggerogoti hatinya. dalam waktu empat tahun, dia dan Gisel telah menyia-nyiakan dua nyawa yang berharga.


Deva teringat ayahnya. ayah juga menurun kesehatannya karena kepergian Deva. dan kini paman Nugraha pergi karena memikirkan rasa bersalah padanya.

__ADS_1


Deva menutup wajahnya. tak sanggup menahan tangis yang sejak tadi meronta ingin di lampiaskan.


tersengguk perlahan tanpa bisa berteriak lagi. Richard memegang bahunya. ikut merasakan kesedihan Deva. mencoba menenangkan Deva yang terlihat sangat terpukul.


Jacko langsung pergi bersama Zaki untuk mengurus semuanya. di ruang kerja zaki, Jacko tak tahan lagi untuk berdiri. dia ambruk di kursi. terduduk lesu. dia tidak mau menunjukkan lemahnya di depan semua orang.


Zaki mendekatinya. wajah Zaki mendung. memegang bahu Jacko. Jacko mendongakkan kepalanya menatap Zaki.


mereka berdua saling tatap dan Jacko bangkit berdiri. entah siapa yang memulai. tapi kini mereka berdua berpelukan sambil menangis.


"ikhlaskan dia Jack"


bisik Zaki.


"ya. aku hanya sedih melihat Deva. dia sangat terpukul"


kata Jacko lirih.


melepaskan pelukan itu dan kembali duduk.


menghapus air matanya mencoba tegar kembali.


"kau harus kuat. Deva membutuhkan mu"


Zaki menepuk pundak Jacko.


Jacko hanya mengangguk. menguatkan hati. ia tahu, hanya dirinya yang menemani Deva sekarang. tanpa kedua paman yang selalu menjadi benteng garis depan untuk Deva.


"aku akan mengurus segalanya. kau uruslah soal rumah sakit"


ujar Jacko pada Zaki.


Zaki mengangguk mantap. Jacko pergi ke luar ruang kerja zaki. menemui Deni, sekertaris Nugraha untuk mengurus pemakaman Nugraha.


suara derap langkah berlari memenuhi lorong rumah sakit. seorang wanita dengan rambut panjangnya berlari kencang menuju ruang ICU.


berhenti tepat di depan Deva, dengan napas memburu terengah-engah. Deva membuka wajahnya perlahan. mendongak melihat siapa yang berhenti di depannya.


menatap mata bulat besar yang telah basah bersimbah air mata.


"Dev"


ujarnya lirih.


Deva diam saja. tidak menjawab. hanya menatap wajah di depannya.


"papa" katanya lirih sambil menunjuk ruang ICU. "papa Dev. bagaimana?"


Deva masih diam. hanya memandangi wajah yang telah sekian lama tidak pernah di lihatnya. wajah yang telah membuat dunianya porak poranda.


"Gisel" Richad meraih tangan Gisel. "paman sudah tidak ada"


Gisel terhenyak. jantungnya serasa berhenti. matanya melotot. sekuat tenaga bergegas menemui papanya dari Paris ke Indonesia, pun tak bisa membuat papanya menunggu.


menoleh menatap ruang ICU dengan nanar. berjalan tertatih ke depan pintu. hanya air mata yang banjir bak aliran anak sungai.


gemetar tubuhnya melangkah ke dalam ruangan tempat Nugraha terbaring kaku. menatap sosok tua yang tak bernyawa lagi.


papa yang selalu memaafkan banyak kesalahannya. papa yang menyayanginya tanpa syarat. papa yang menuntunnya ketika belajar melangkah menapaki hidup. kini diam tak bergerak. itu pun Karena terlalu banyak menanggung beban pikiran karena ulahnya.

__ADS_1


Gisel tidak sanggup mendekat dan menyentuh tubuh tua yang telah tak bernyawa itu. ia jatuh ke lantai, bersimpuh tak berdaya. tak sanggup menahan beban rasa bersalah pada papanya.


Deva mendekat ke arah Gisel. memegang tangannya dan menariknya berdiri. Gisel menatap mata Deva. Deva hanya diam melihat mata basah penuh air mata itu. mengajaknya ke dekati brankar Nugraha.


"minta maaf lah padanya"


ujar Deva datar.


Gisel berdiri dengan lutut gemetar. memandang wajah papanya sendu.


"pa, Gisel datang "


ujarnya lirih.


meraih tangan tua yang sudah terasa dingin. mencium tangannya dengan hikmat. serasa tak ingin melepas tangan itu lagi. mengecup lama tangan keriput yang tak bisa mengelus kepalanya lagi.


"kenapa papa tidak bisa menunggu Gisel hanya semenit lagi pa?"


Gisel mengelus pipi dingin papanya.


"papa tahu? Gisel berlari dari jalan karna macet menuju ke sini" Gisel terisak "kaki Gisel sakit. berdarah pa"


huuu.. huu.. huuu....


Gisel menangis kencang. tak sanggup menahan perih di hatinya. memeluk tubuh papanya yang hanya diam tak bergerak.


"papaaaaaaaa.... maaf kan Gisel paaaaa... ampuni Gisel paaaaa"


Gisel mengguncang tubuh Nugraha. tapi tubuh tua itu tidak bisa meresponnya lagi.


hati Deva terasa di renggut paksa dari tempatnya melihat itu. air mata menetes tanpa di cegah.


"papaaaaa.. Gisel berjanji jadi anak yang baik paaaaa... maafkan giseeeelll.. paaaaaaa"


Gisel meraung dengan segala penyesalannya.


Deva mendekat. meraih tubuh Gisel yang tertelungkup memeluk dan mengguncang tubuh Nugraha.


"sudah. sudah lah.."


Deva memeluk Gisel. menepuk punggungnya lembut. Gisel memeluk Deva erat dengan tangisan yang menyayat hati.


Deva membawanya keluar ruang ICU. membiarkan para perawat mengurus jenazah Nugraha.


membawa Gisel pada bibi Arum. begitu mereka bertemu, Gisel langsung bersimpuh di kaki ibunya.


"mamaaaa.. maafkan Gisel maaaa"


"Gisel putri ku"


Arum meraih tubuh Gisel. memeluknya erat. menangis terisak-isak berdua. saling menguatkan satu sama lain. Arum mengelus rambut putrinya dengan sayang.


Deva pergi keluar dari sana. tak sanggup melihat ibu dan putrinya mengharu biru. duduk menyendiri di ruangannya. dan meneteskan air mata dalam kesunyian.


terbayang olehnya ketika ayah meninggalkannya. menghembuskan napas terakhir di pangkuannya. memintanya kuat bagaikan karang. memintanya kuat bagaikan gunung. memintanya bersabar dan tidak pergi lagi.


Deva meremas pegangan kursi yang ia duduki. serasa meremat hatinya untuk tetap seperti semula. seakan menutup luka lama jangan sampai menguak melebar dan menyemburkan darah lagi.


ia teringat wanita yang ketakutan membuka hati. karena luka yang seperti ia alami. ia mengerti mengapa wanita itu menggigil takut mencintai, karena rasa tercampakkan merasa punya kekurangan dan hanya tuhan yang bisa menyembuhkan.

__ADS_1


"caera.."


berbisik menyebut nama itu. mematrinya di hati dan menguncinya rapat-rapat.


__ADS_2