
sekolah taman kanak-kanak unggulan ini terlihat ramai. banyak anak-anak yang baru datang seperti Gino juga. di antar orang tua masing-masing. ada juga yang hanya di antar supir mereka.
Deva memutuskan menjemput dan mengantar Gino ke sekolah pagi ini. caera tak dapat menolak. hanya bisa menuruti apa yang di inginkan Deva.
"ini untuk kebaikan Gino. aku tidak mau melihatnya bersedih"
begitu kata Deva.
caera hanya dua kali datang ke sekolah Gino. karena Gino selalu di antar Bima. kini Bima sudah kembali bekerja. jadi ayahnya lagi yang mengantar Gino ke sekolah.
sekolah taman kanak-kanak ini bergabung dengan SD dan SMP. tapi gedungnya berbeda. tidak serta Merta menjadi satu. halamannya juga berbatas pagar besi. sekolah swasta ini berakreditasi A. caera memilih sekolah ini atas anjuran Bima.
mereka memasuki halaman sekolah. Deva menuntun Gino. menggenggam erat tangan bocah kecil itu. Gino berjalan dengan percaya diri. merasa bangga di antar Daddy nya ke sekolah. banyak teman-temannya memandang Gino dan orang tua mereka berkasak-kusuk. entah apa yang di bicarakan.
sementara caera berjalan di sisi Deva. dan Jacko, sudah melangkah lebih dulu di depan mereka.
caera tak menyangka sudah banyak guru yang berbaris berjejer menyambut kedatangan mereka. caera sampai bingung ketika semua guru menunduk hormat begitu Jacko dan Deva di depan mereka.
terlihat seorang pria paruh baya dengan perut buncit tersenyum dan menyalami Deva. sepertinya kepala sekolah.
"selamat datang tuan Deva"
pria itu tertunduk hormat. melirik Gino dan caera sejenak. dalam hati berkecamuk. pasti akan ada badai sebentar lagi jika Deva sudah turun tangan datang ke sekolah.
Deva hanya mengangguk sedikit. kepala sekolah yang bernama pak Akbar itu, membawa mereka ke sebuah ruangan lumayan besar. seperti ruangan rapat yang berada di samping ruang kepala sekolah.
Deva duduk dengan wajah datar bersama Gino di sampingnya. caera tak berani duduk di dekat mereka. caera agak menjauh sedikit. Jacko hanya berdiri tegak dengan wajah yang menurut caera menebarkan aura menyeramkan.
"seperti yang sudah saya sampaikan kemarin. saya ingin orang tua dari Dedi Saputra di hadirkan di sini"
deva membuka pembicaraan dengan suara sedingin es.
pak Akbar tampak gelagepan mendengar suara Deva yang menusuk.
"saya kira, itu.. itu hanya ke salah pahaman tuan"
Deva diam saja. tapi tatapannya pada pak Akbar, mampu membuat pria setengah baya itu mengkeret takut.
"baiklah tuan. guru BK akan datang sebentar lagi dengan orang tua dari Dedi Saputra"
ujar kepala sekolah.
Deva diam. hanya mengelus kepala Gino di sampingnya. caera berdebar-debar melihat itu. baru kali ini dia melihat wajah Deva sangat datar. tampak menahan marah yang akan segera di ledakkan.
tok tok tok
pintu di ketuk. muncul seorang lelaki yang pastilah guru bimbingan konseling, dengan dua orang lagi berdiri di belakangnya, dan juga seorang anak kecil. caera agak kaget melihat orang tua Dedi. itu Anggi. teman arisan mantan ibu mertuanya. pantas saja.
"permisi pak. ini orang tua dari Dedi Saputra sudah datang"
ujarnya.
orang tua Dedi masuk mengikuti guru BK. bersalaman dengan pak Akbar. ketika ingin menyalami Deva, Deva hanya mengangguk tak menyambut uluran tangan keduanya. sampai orang tua Dedi tampak gugup menarik lagi uluran tangannya.
mereka berdua duduk dengan wajah menyiratkan ketegangan. Anggi melirik caera sejenak dengan tatapan sinis. caera diam saja.
mereka semua duduk dengan expresi tegang. karena mereka tahu siapa Deva. Deva adalah pemilik sekolah unggulan ini. dari mulai TK,SD,dan SMP nya, adalah milik keluarga elliot. dan Anggi kenal siapa caera. Anggi tidak menyangka caera akan datang di temani pria pemilik sekolah anaknya.
tuan Elliot yang membangun sekolah ini. menjadikan sekolah unggulan dan banyak mengeluarkan murid berprestasi setiap tahunnya.
"begini pak Rio dan Bu Anggi, tuan Deva datang ingin bertemu anda berdua. mengenai masalah kemarin tentang Gino Marko dan anak anda Dedi Saputra"
__ADS_1
ujar kepala sekolah.
"saya kira itu hanya kesalah pahaman saja pak"
ujar Rio. lelaki itu sangat gugup. tapi istrinya seperti tidak ngeh dengan kegugupan suaminya.
"iya pak. kesalah pahaman. tapi kan, apa hubungannya dengan tuan Deva? itu hanya kesalahan pahaman kecil"
ujar Anggi merasa tidak terima.
Jacko menatap tajam pada Anggi. dan Deva, berusaha menahan amarahnya.
"ya hanya kesalah paham kecil. tapi itu antara Dedi dan Gino. lain halnya dengan anda"
ujar Jacko dengn tatapan tajam tertuju pada Anggi.
anggi agak terperanjat. menatap Jacko dan Deva mulai takut. membuang pandangannya tak mau melihat mata tajam Deva.
"Gino" Deva menoleh pada Gino di sampingnya. " ayo minta maaf pada Dedi" Deva tersenyum pada gino dan menggerakkan dagunya menunjuk Dedi yang duduk di samping Rio ayahnya.
"baik Daddy"
Gino menurut. turun dari bangkunya dan berjalan memutari meja berhenti di samping Dedi.
mendengar Gino menyebut Deva dengan sebutan Daddy, Anggi dan Rio, pak Akbar dan juga guru BK, tampak kaget dan menatap Gino dan Deva bergantian tidak mengerti. mereka tahu selama ini Deva masih lajang. belum menikah.
tapi kenapa Gino memanggilnya Daddy? dan terakhir menatap caera dengan mata yang menunjukkan tidak percaya menyadari kenyataan bahwa caera adalah orang tua dari Gino.
"Dedi" Gino meraih tangan Dedi. menyalaminya dengan sikap polos anak-anak. "maafkan Gino ya. Gino salah, bilang kalau Dedi itu ayah. karena daddynya Gino bilang, Daddy itu artinya ayah"
Gino menunjuk Daddy nya.
mereka semua diam. Deva menatap Gino dan Dedi bergantian.
"sekarang, Gino dan Dedi masuk ke kelas ya"
ujar guru BK menggiring kedua bocah itu untuk masuk kelas dan mengikuti pelajaran.
setelah Gino dan Dedi pergi kembali ke kelas, Deva menatap Anggi tajam. yang di tatap makin salah tingkah. menyadari betul apa kesalahannya.
"tuan Deva, saya kira masalahnya sudah selesai sekarang"
ujar kepala sekolah memecah keheningan.
Deva masih menatap tajam Anggi. diam tak menyahut omongan kepala sekolah.
"anak-anak memang begitu. sebentar bertengkar dan sebentar lagi sudah berteman"
pak Akbar mencoba mencairkan suasana tegang.
"ini belum selesai" ujar Deva dingin. tak menghiraukan pak Akbar bicara.
"saya menyayangkan sikap nyonya Anggi sebagai orang tua murid yang harus memberi contoh sikap yang baik pada putranya" kata-kata Deva sedingin es. tajam menusuk.
"tapi.. tapi saya.. bicara yang sesungguhnya"
Anggi membela diri.
"ada apa sebenarnya?"
pak Akbar tampak tak mengerti apa yang di bicarakan keduanya. karena memang pak Akbar tidak tahu apa yang di katakan Anggi pada Gino.
__ADS_1
Jacko mengeluarkan sebuah map. menyodorkannya pada kepala sekolah. kepala sekolah membuka dan membaca isinya. tampak wajah kaget itu menghiasi wajahnya.
dokumen dalam map yang menyatakan Deva adalah orang tua wali dari Gino Marko. kepala sekolah semakin tegang. orang tua Dedi sudah membuat masalah pada anak pemilik sekolah.
dengan panik, Anggi menarik map itu. membaca isinya. dan melotot melihat ke arah caera.
"nyonya Anggi. saya tahu anda mengerti siapa Gino. tapi tidak seharusnya anda mengatakan itu pada anak sekecil Gino"
Deva masih menatap tajam Anggi yang wajahnya mulai memucat. sedangkan Rio suaminya, bukan hanya pucat, tapi sudah berkeringat dingin melihat Deva bersuara dingin dan tajam begitu. hancurlah riwayat karirnya. apalagi melihat Jacko. Rio makin gemetaran.
"anda bilang, Gino tidak punya papa dan mama. anda salah besar. Gino adalah anak saya. saya daddynya. saya pemilik sekolah ini. dan otomatis, Gino adalah penerus saya. jika anda sebagai orang tua yang bijak, tidak seharusnya anda mengatakan yang anda belum tahu pasti"
Deva mencondongkan tubuhnya. tampak tak sabar melihat sikap Anggi yang memucat dan gemetar. sementara caera kaget baru mengetahui jika sekolah ini adalah milik Deva.
"maafkan saya tuan. saya emosi saat itu"
ujar Anggi lemah.
"saya tidak butuh maaf anda. saya hanya mau, anda membersihkan nama anak saya dari fitnah anda. kalaupun benar yang anda katakan, tidak seharusnya sebagai orang tua, anda mengatakan hal itu pada anak-anak yang tidak tahu apa-apa"
"tuan, maafkan istri saya"
Rio memohon pada Deva. wajahnya sudah seputih kapas.
Deva hanya melirik Rio sekilas. tak menggubris permohonan Rio padanya.
"jadi, kalian semua sudah mengerti siapa Gino bukan? saya adalah Daddy nya"
ujar Deva lagi dengan tegas.
"saya tidak mau hal serupa terulang lagi. sekolah ini adalah sekolah unggulan dengan banyak prestasi. jika ada yang membuat suasana jadi tidak nyaman, saya harap bapak Akbar selaku kepala sekolah, harus mengambil tindakan tegas untuk mengeluarkan siapa saja yang bersikap kurang ajar"
ujar Deva masih belum mengalihkan mata tajamnya pada Anggi.
mendengar apa yang di katakan Deva, Anggi dan Rio makin gelisah dan hampir pingsan saja rasanya.
Deva berdiri. berjalan ke arah caera dan meraih tangannya. mengajaknya berdiri.
"saya harap sudah cukup. terima kasih"
Deva menarik tangan caera di genggamannya. dan berjalan keluar pintu di ikuti Jacko. sebelum meninggalkan ruangan, Deva membalikkan tubuhnya menatap punggung Rio yang tertunduk.
"saudara Rio"
Rio terperanjat lagi. menegakkan tubuhnya menoleh menatap Deva dengan tegang. yang tadinya sudah bisa bernapas lega karena Deva dan Jacko akan pergi, kini makin mendebarkan jantungnya. ia tahu akan segera tamatlah riwayatnya.
"anda di pecat!"
Deva pergi. meninggalkan sekolah dengan menggandeng tangan caera yang menatapnya tak percaya. semudah itu Deva menyelasaikan masalah.
seketika luruh tubuh Rio. yang di takutkan sedari tadi, kini menjadi nyata. Rio di pecat. dia bekerja di kantor cabang milik Deva. kini CEO sendiri yang turun tangan langsung memecatnya. itu semua gara-gara mulut bocor istrinya yang mengusik keluarga Deva Elliot.
Anggi, hanya bisa menangis tersedu karena kini harus menghadapi kenyataan, suaminya yang tidak punya pekerjaan lagi karena ulahnya sendiri.
"ini gara-gara kamu ma!"
bentak Rio pada istrinya.
"kurang ajar nyonya Maya. ini semua gara-gara dia!"
angggi bergumam marah dengan air mata berderai.
__ADS_1