DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 86


__ADS_3

Deva duduk di meja kerjanya. dan Keenan duduk di depannya. cukup lama mereka tidak saling berbicara. hanya menatap satu sama lain.


wajah Deva dingin dan keras. sementara Keenan, hanya duduk tenang dan menyunggingkan senyum. Jacko dan Alex asisten Keenan, tegak berdiri di belakang boss mereka masing-masing dengan sikap waspada.


"suasana kantor mu sudah berubah Dev"


ujar Keenan memecah kesunyian.


Deva tak menjawab. menatap Keenan dengan tajam. mencoba bersikap tenang di depan Keenan.


"sama dengan mu. banyak berubah"


sambung Keenan lagi.


Deva menarik napas dalam, dan menghempaskannya perlahan. menyandarkan punggungnya di sandaran kursi.


"apa yang kau inginkan ken?"


suara Deva dingin.


"haha.. jangan terlalu tegang Dev"


tawa Keenan seperti melecehkan. Deva berusaha menahan diri untuk tidak meninju wajah keenan saat ini juga.


"aku sibuk. ku harap kau tidak membuang waktu ku percuma"


Keenan berhenti tertawa. hanya menyisakan senyum simpul.


"tidak banyak" Keenan melenyapkan senyumnya. "aku hanya mau, kau menjauhi istri ku"


wajah Deva makin menggelap. memicingkan matanya menatap benci pada Keenan.


"jika kau tidak mau aku dekat dengan istri mu, maka jagalah dengan baik"


ujar Deva sedingin es.


"aku bisa membantunya mengelola perusahaan. kau tidak perlu turut campur"


kini suara Keenan sama dinginnya dengan Deva.


"hhh.. benarkah? ku kira ingatan mu sudah menurun. kau lupa, aku juga pemilik saham di perusahaan paman Nugraha. aku hanya membantu agar saham ku tidak sia-sia di sana"


Deva tersenyum smirk.


"jauhi Gisel, Dev. jangan pernah mencoba menolongnya"


suara keenan penuh dengan penekanan.


"jangan terlalu percaya diri Ken. aku tidak pernah berniat mendekati Gisel"


"aku rasa... aku sudah bosan pada Gisel"


Keenan mulai memainkan emosi Deva.


"itu urusan mu"


sinis Deva berkata.


"haha.. kau tahu, wanita mu itu sangat bodoh. dia terlalu mencintai ku Dev. kau tahu itu kan? Gisel menangis tidak ingin ku ceraikan"


Keenan tertawa penuh dengan ejekan.


"ahh.. ku kira Gisel dan asisten mu ini masih menyembunyikan kenyataan"


Keenan menyilangkan kakinya.


Deva melirik Jacko di belakangnya. Jacko mengetatkan rahangnya. menatap Keenan. datar.


wajah tampan Keenan kini terlihat sangat memuakkan di mata Deva. setengah mati Deva menahan emosinya. Keenan akan lebih merasa menang jika Deva terpancing.


Deva diam saja. tak menjawab apa yang di katakan Keenan. tapi wajahnya tak bisa berbohong. ada sedikit rasa terkejut di sana. Keenan melihat itu.


"asisten mu sangat menjaga kesehatan hati mu rupanya. dia tidak mengatakan apapun tentang Gisel pada mu?"


Keenan mencondongkan tubuhnya ke depan. sangat terlihat jika ia ingin menguras emosi Deva sampai di ambang batas kesabaran.


"aku tidak peduli lagi tentang itu"


ujar Deva masih dengan sikap dinginnya. masa lalu yang kelam itu kembali berseliweran di otak Deva.


"kau masih peduli pada Gisel. aku tahu itu"


Keenan memperhatikan expresi Deva. ia tahu Deva sangat tidak suka mengingat masa lalunya dengan Gisel. karena itu Keenan mengusiknya lagi. ia ingin Deva mengingat itu. kekalahan Deva dan kemenangan di tangannya.


"kau ingin mengadakan pesta reuni?"

__ADS_1


ujar Deva skeptis.


"hhh... sebenarnya, yah begitu lah. reuni bagaimana aku mengambil cinta mu"


ujar Keenan sarkas.


rahang Deva mengetat. kemarahannya sudah di ubun-ubun. emosinya terpancing. Keenan si perebut wanitanya. yang membuatnya malu di hadapan publik. entah apa maunya lelaki yang satu ini. mengapa ia datang lagi setelah semuanya di kubur Deva di dasar bumi agar dia tidak mengingat itu lagi.


"haha... wajah mu menunjukkan kau masih mengingat semuanya Dev" Keenan berdiri. " Gisel ada di tangan ku. aku bahagia membuatnya menangis"


Deva makin memerah wajahnya. ingin menerjang tubuh tinggi di depannya. tapi Jacko segera memegang pundaknya. menekan agar Deva tenang dan duduk kembali.


"baiklah. aku permisi"


Keenan berjalan ke pintu di ikuti asistennya. dan melirik Deva tepat ketika dia akan keluar.


"aku rasa... sekertaris mu cukup menggoda. aku suka dia"


"keenaaaannn...!! ba jingaaaannn kau!!"


teriak Deva dengan kencang. suara Deva menggelegar di seluruh ruangan. emosinya meledak ketika mendengar kata-kata Keenan yang terakhir.


Deva bergerak maju. menghempaskan tangan Jacko di pundaknya. berlari mengejar Keenan di pintu.


jacko cepat berlari menangkap dan mendekap tubuh Deva yang sudah tak bisa di kendalikan, ingin menghajar Keenan.


"lepas Jack!!"


Deva melotot pada Jacko agar melepaskan dekapannya. tapi Jacko tetap bertahan.


"tenanglah Dev. tolong. dia hanya memancing mu"


Jacko mencoba menenangkan Deva.


tapi Deva tetap berontak. ingin mengejar Keenan dan menghajar mulut kotornya yang telah berani mengatakan kalau caera cukup menggodanya.


"hahaaahaa..."


Keenan tertawa kencang. puas berhasil memancing amarah Deva.


"sampai bertemu lagi Dev"


Keenan pergi. tak menghiraukan teriakan Deva yang bisa membuat seluruh karyawan di kantornya bergidik ngeri. keenan cukup puas kali ini bisa membangkitkan emosi Deva yang telah lama di rindukannya.


Jacko keluar dari ruangan Deva. membiarkan Deva sebentar. ia pergi memeriksa Keenan. tapi lelaki itu sudah tak terlihat lagi.


Jacko pergi ke ruangan Dira. mengetuk dan menunggu Dira keluar. pintu terbuka dan Dira muncul.


"bagaimana nona caera?"


tanyanya datar menatap tajam pada Dira.


"nona caera masih di dalam tuan"


jawab Dira dan sedikit bergeser agar Jacko bisa melihat caera di dalam.


Jacko melirik caera yang duduk di mejanya. mata mereka bertemu. Jacko menatap caera cukup lama. dan caera pun hanya diam. ia mendengar suara Deva berteriak kencang tadi. caera tahu, telah terjadi sesuatu yang buruk antara Deva dan pria tadi.


"baik lah"


Jacko mengalihkan pandangannya pada Dira lagi.


"jangan lengah"


setelah mengatakan itu, Jacko beranjak ke lift. turun ke lobi kantor. bertemu Sisil yang sudah ketakutan lebih dulu, begitu melihat Jacko mendekat dengan wajah di balut kemarahan.


Jacko berdiri di depan meja resepsionis. menatap Sisil dengan marah. gadis itu langsung berdiri bersama seorang temannya.


"siapa yang mengizinkan tuan Keenan masuk?"


suara Jacko datar dan menusuk.


"maaf tuan" Sisil membungkuk dan menunduk takut. "tuan Keenan tidak peduli dengan larangan kami" bergetar suara Sisil.


"kenapa kalian tidak mengkonfirmasikan dengan cepat?"


"sudah tuan. tapi tuan Keenan marah tadi"


Lusi menjawab dengan menunduk ngeri tak benari menatap Jacko.


braaakk!!!


Jacko menggebrak meja resepsionis dengan keras. sampai Sisil dan Lusi terjengkit kaget. orang-orang yang ada di lobi juga hanya berdiri menunduk tak ada yang berani melihat ke arah jacko.


"kalian tidak becus!" teriak Jacko marah. "siapa sebenarnya bos kalian?! tuan Deva, atau siapa?! hah?!"

__ADS_1


"maaf tuan"


Lusi menangis tersengguk pelan. sangat takut melihat Jacko marah. sedangkan Sisil sudah menggigil ketakutan.


"jangan ulangi lagi! atau kalian di pecat!"


jacko berbalik bergerak menuju lift lagi. naik ke lantai atas. masuk ke ruangannya, dan keluar lagi dengan beberapa map di tangannya.


masuk ke ruangan Deva yang sekarang terlihat seperti kapal pecah. deva marah dan menghancurkan segalanya. menyalurkan emosi yang membara.


Deva duduk di sofa dengan kedua tangan meremas rambutnya. dan menumpukan siku di kedua pahanya. terlihat frustasi karena tidak bisa menghajar keenan.


Deva berdiri tegak dalam diam. menunggu reaksi Deva selanjutnya. Jacko tahu Deva pasti akan marah padanya.


Deva mendongak dan menoleh menatap Jacko dengan tajam. terlihat Deva memendam marah yang di tahan habis-habisan pada Jacko. Jacko hanya diam saja dan membalas tatapan Deva dengan tenang.


Deva bergerak bangkit. melangkah lebar-lebar mendekati Jacko dan langsung menarik kerah jas Jacko dengan kencang.


"apa yang kau sembunyikan dari ku Jack!"


suara Deva mengeram dengan kasar. wajahnya marah ingin segera menghancurkan.


"tentang Gisel. Keenan mempermainkan hatinya"


jawab Jacko tenang.


sejenak, Deva menatap mata Jacko dengan marah. lalu menghempaskan kerah jas Jacko kasar sampai Jacko terhuyung lalu kembali membenarkan posisinya berdiri lagi. Deva berjalan ke arah jendela dan berdiri membelakangi Jacko.


"sebanyak itu kau tutupi dari ku?"


Deva melirik Jacko di belakangnya.


"itu yang Keenan inginkan. dia mau kau semakin menderita" Jacko masih dengan sikap datarnya. "kau bisa periksa ini"


Jacko meletakkan beberapa map di meja kerja Deva yang sudah berantakan akibat kemarahannya. Deva melirik lagi, lalu beranjak ke meja memeriksa apa yang di serahkan Jacko.


banyak foto Gisel dengan memar di wajah, dan beberapa foto Keenan di club malam dengan beberapa wanita. dokumen rumah sakit yang menyatakan kondisi Gisel, dan beberapa berkas tentang kehidupan Keenan.


"Keenan rela membuat wanita yang di cintainya menangis, hanya untuk membuat mu mendengar itu. dan dia ingin kau membuat serangan balasan padanya. aku tidak mau itu terjadi. Keenan selalu berusaha menyusupkan berita Gisel pada orang-orangnya ke sini. agar kau melihat itu. dan aku menyembunyikannya"


Jacko menjelaskan panjang lebar.


Deva masih diam. memandang semua berkas yang di bawa Jacko tadi dengan mata nanar dan hati berdenyut sakit. semenderita itu kah Gisel bersama Keenan? Deva memilih membiarkan Gisel pergi hanya karena alasan cinta. ingin melihat wanita itu bahagia dengan pilihannya.


tapi apa kenyataan yang di lihatnya sekarang? sangat terlambat dia mengetahui ini setelah empat tahun berlalu.


"aku menyembunyikan dari mu karena aku tidak mau Keenan makin menekan mu Dev. dia sangat ingin membuat mu tumbang lagi. setelah mengetahui kau kembali bekerja, dia makin gencar memasukkan penyusup di lingkungan kita"


sambung Jacko lagi.


mata Deva memanas. tak tahan melihat wajah Gisel di dalam foto dengan banyak luka memar, dan wajah sembab di penuhi air mata.


hatinya seperti di cabik kuku tajam dengan ganasnya. sangat terluka. air mata itu luruh. karena kebencian Keenan padanya yang membuat Gisel seperti itu.


"begitu bodoh kah wanita ini sampai ia masih bertahan karena cintanya?"


ujar Deva dengan air mata menetes di pipinya menyadari kebodohan Gisel masih mencintai monster yang mengerikan seperti Keenan.


"dan kini, Keenan mengincar caera. dia yang mengirim semua bunga dengan memasukkan penyusup di kantor kita"


ujar Jacko lagi.


Deva mendongak. tampak mimik geram di wajahnya.


"siapa penyusup itu?"


"ada tiga orang lagi yang belum aku basmi. aku menunggu langkah yang tepat. harus menjaga reputasi perusahaan kita juga. jangan sampai ini tersebar luas"


Jacko duduk di depan Deva. menatap lelaki yang kembali rapuh dengan apa yang telah di beberkannya sekarang.


"Dev"


Jacko menyentuh lengan Deva.


"aku menyimpan ini sangat lama. ayah juga berpikir sama dengan ku. ayah meminta ku untuk menyembunyikan tentang Gisel dari mu. aku tidak mau kau goyah lagi. dulu ketika kau pergi karena Gisel, aku tidak bisa langsung mengatakannya pada mu. tapi kini aku berani karena aku tahu kau sudah punya caera"


Jacko berhenti sejenak. menatap Deva menyalurkan kekuatan di hati sahabatnya ini.


"Keenan tahu tidak akan pernah berhasil menjegal mu dalam urusan bisnis dan perang. karena dia tahu kapasitas mu. Keenan tidak bisa melampaui itu. dan dia mengincar perasaan mu dengan mempermainkan wanita yang kau cintai"


"dan setelah orang-orangnya mengatakan kau memiliki caera, maka dia kembali dan turun tangan langsung karena merasa tidak berhasil mendekati caera dengan kiriman-kiriman bunga, dan penyusup yang di kirimnya"


"aku yakin caera tepat untuk mu. aku tahu kau kuat Dev. ayo kita sama-sama berjuang"


Deva membalas tatapan Jacko. sangat terharu dengan ketegaran sahabatnya ini. mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Jacko.

__ADS_1


__ADS_2