
Jam lima sore setelah Dinda pulang, orang-orang MUA datang ke rumah caera. caera sudah sempat menolak. tapi mereka memaksa. mereka bilang, ini adalah perintah tuan Deva. jadi caera menerima juga. dia kesal dengan Deva. bukannya kasih kabar, malah sekarang giliran MUA yang datang.
Caera pikir, kalau hanya menghadiri peresmian kantor, dia masih bisa mengurus make-upnya sendiri. tidak usah pakai jasa MUA segala.
tapi, selama satu jam di dandani, caera menurut saja. dan hasilnya, hmmm caera melongo. merasa tidak mengenali pantulan wajahnya di cermin.
makeup yang smoothy tapi bisa mengubah wajahnya, seperti bukan caera lagi. apalagi di Padankan dengan gaun yang di kirim Deva siang tadi. penampilannya semakin memukau.
"waahh.. nona caera ini sudah cantik, jadi makin cantik. sangat mempesona"
mereka terus memuji caera, dan bangga dengan hasil kerjanya. caera tersipu di puji begitu. mereka bertahan di rumah Caera sampai Dira datang.
Gino juga sudah selesai lengkap dengan jas dan dasi kupu-kupu. bocah kecil yang tampan itu terlihat menggemaskan dengan rambut model mohak.
Dira sudah datang. kali ini penampilannya berbeda. ia memakai setelan jas ala lady boy. membuatnya terlihat seperti seorang anggota keamanan yang sangat eksklusif.
setelah semua di rasa siap, Dira membawa caera dan Gino pergi menuju acara launching perusahaan baru Deva. menjalankan mobil di tengah keramaian jalanan kota.
"Dira, kamu sudah bertemu tuan Deva?" tanya caera.
"tidak kak. hanya tuan Jacko yang bicara pada ku" jawab Dira masih fokus pada jalanan di depannya.
"terus, tuan asisten bilang apa?"
"tidak ada. hanya menyuruh ku menjemput kakak"
caera diam. tampak kesal dan menekuk wajahnya mendengar jawaban Dira. percuma bertanya pada Dira. sama saja tidak mendapat informasi yang berarti. melirik Gino yang santai seperti di pantai. tidak mempedulikan perasaan mamanya saat ini.
bocah lelaki itu hanya sibuk komat-kamit seperti menghapalkan sesuatu. caera hanya menatapnya dengan mengerutkan keningnya.
mereka sampai di depan gedung megah yang besar dan tinggi menjulang. caera sampai bergerak ke dekat jendela mobil untuk melihat puncak gedung tinggi itu setelah mobil berbelok memasuki gerbang masuk gedung.
sama seperti waktu itu, banyak wartawan media masa dan infotainment berkerumun di depan gedung. malah lebih banyak saat ini. Sampai anggota kepolisian turun langsung untuk mengamankan situasi.
caera gugup. ketika acara Bimo corp, ada Deva bersamanya yang bisa melindunginya. tapi sekarang, Deva tidak ada. bagaimana dia bisa mengatasi para wartawan itu? tangan caera mulai berkeringat karena gugup.
tapi seketika itu juga, kegugupan itu berganti menjadi bingung. Dira tidak menjalankan mobil menuju depan gedung. tapi membelokkannya ke area samping gedung menuju kebelakang.
"loohh.. Dira, kenapa kita tidak berhenti di depan itu?" caera menunjuk ke arah wartawan dengan heran.
"tidak kak. ini perintah tuan Jacko. katanya, tuan Deva tidak mau Kakak terlihat para wartawan itu"
astaga!! apa maksudnya coba?? tidak mau aku terlihat wartawan? bukannya waktu itu dia sangat bangga menunjukkan ku pada wartawan? kenapa sekarang dia tidak mau??
caera terhenyak mendengar jawaban Dira. dia sudah mau menangis saja rasanya. tapi di tahan.
"jadi kita lewat mana ini?" tanyanya lagi.
__ADS_1
"dari belakang kak"
ya ampuuunn... ngapain pake jasa MUA untuk dandan. ngapain kirim gaun indah segala? toh aku hanya lewat pintu belakang!!!
caera terdiam. menekuk wajahnya makin dalam. jengkel setengah mati pada Deva. apa maksudnya begitu? apa dia malu sekarang pada wartawan itu bahwa deva sudah menjalin hubungan dengan caera? tapi kenapa secepat itu berubah?
mereka sampai di bagian depan gedung. Dira turun dan membukakan pintu mobil untuk caera. setelah itu membukakan juga untuk Gino.
caera keluar dari mobil. melihat ke arah pintu masuk bagian belakang gedung. terlihat banyak keamanan berjejer di sana, untuk mengamankan kedatangan caera.
Dira melangkah lebih dulu. caera menggandeng tangan Gino dan melangkah mengikuti Dira. semua keamanan yang bertugas membungkuk hormat pada caera.
nagapin pake bungkuk-bungkuk??? aku tidak gila hormat!! aku hanya lewat pintu belakang tahu! kelas ku sebagai pacar tuan kalian dihargai hanya seperti orang tidak penting!!
caera melengos. terus berjalan mengikuti dira. mereka menyusuri lorong panjang. lalu berhenti di depan pintu. Dira membukanya. tapi masih ada tirai hitam lagi. Dira menyibak tirai itu.
tampaklah gedung aula yang besar dan megah. ada panggung besar di depan ini juga. dengan layar monitor yang sama besarnya dengan panggung itu.
caera takjub melihat dekor aula gedung ini. sangat megah dan wah sekali. banyak kursi berjejer tersusun rapi. di bagian depan tertulis VIP, untuk tamu kehormatan. dan sudah banyak tamu yang hadir.
tapi mereka seolah-olah seperti tidak melihat kehadirannya disana. mungkin karena banyaknya orang. jadi sibuk dengan urusan masing-masing.
Dira menarik tangan caera. melangkah di area pagar pembatas. caera bingung lagi. Dira tidak membawanya ke kursi paling depan di tempat VIP. tapi Dira membawanya ke bagian tengah aula.
caera menegang. sekelebat ia seperti melihat orang yang dia kenal. tapi cepat menghilang di kerumunan banyak orang. caera sampai celingak-celinguk mencari sosok itu. tapi tidak menemukan.
di situ sudah ada sofa besar bersandaran tinggi. dan di sekelilingnya banyak hiasan dekor bunga-bunga yang sangat apik dan indah. caera masih bisa melihat itu di keremangan cahaya aula.
"kak, kakak duduk di sini ya" ujar Dira.
"tapi kenapa tidak di bagian depan saja dir?"
"tidak kak. kata tuan Deva, Kakak jangan sampai terlihat oleh..."
"terlihat wartawan??"
caera cepat memotong kata-kata Dira. sangat gondok Dira selalu mengatakan itu.
"bukan kak"
"lalu?"
"jangan terlihat tamu VIP"
astaga!!! apalagi itu? di kursi itu apa ada pacarnya yang model cantik di foto tadi siang?? sampai hati sekali Deva
dengan jengkel, caera menghempaskan pantatnya keras di sofa itu. Dira hanya diam saja.
__ADS_1
"kak, aku bawa Gino kedepan dulu ya kak"
"loh, jadi aku sendiri?"
"kenapa kak? ini sofa kan nyaman" Dira menekan-nekan sofa. mengukur kenyamanan dan keempukan sofa itu.
"bukan masalah nyamannya Dira! tapi aku sendiri nih" caera gondok setengah mati.
"sebentar saja kak. nanti aku kembali lagi"
tanpa meminta persetujuan caera lebih lanjut, Dira sudah beranjak pergi bersama Gino. caera sudah ingin menangis saja rasanya. duduk sendiri di ruang aula yang begitu besar, di kelilingi orang yang tidak dia kenal, itu membuatnya frustasi.
memandang sekitar aula. terlihat banyak kamera dari beberapa stasiun televisi juga ikut meliput. pantas saja Deva menyembunyikannya di tengah-tengah keramaian ini. rupanya dia benar-benar tidak ingin caera di sorot kamera.
mungkin dia malu
begitu batin caera. memandang ke bagian depan lagi. mencari sosok Deva. tapi tidak ada. atau mungkin Jacko. tapi dia tidak melihat kemunculan Jacko. jangankan Deva dan Jacko, bahkan Gino pun entah dimana sekarang. apalagi Dira!
caera sedih. dia kesepian di tengah keramaian. apalah gunanya dia di undang ke sini jika hanya tak di anggap begini. tak ubahnya, dia diundang karena terpakasa. tidak ada fungsinya juga.
perasaan caera bercampur aduk. tempat yang ia duduki berpenerangan minim cahaya. tapi ia tak bisa berbuat apa-apa. acara sudah di mulai. dia tidak mungkin mengambil keputusan berjalan pulang, melangkahi tamu yang sudah duduk rapi semua.
host acara telah tampil di panggung. membuka acara dengan meriah. semua orang bertepuk tangan heboh. lalu host memanggil seorang penyanyi papan atas. menyanyikan lagunya dengan baik.
acara ini sungguh meriah. semua orang berbahagia dengan hiburan yang tersedia. hanya caera yang merasa sepi di tengah riuhnya suasana.
setelah penyanyi itu selesai, kini host memanggil salah satu orang penting perusahaan. lelaki itu naik dan menyampaikan visi misi perusahaan kedepannya.
lalu seorang lagi atasan perusahaan naik ke panggung. menjelaskan fungsi perangkat IT terbaru yang mereka punya. dan itu membuat caera makin merasa jengah.
caera jengah. beberapa waktu berlalu. tapi Dira belum datang juga. melirik orang-orang di kiri kanannya. tapi tidak ada yang caera kenal. sumpah!! menangis sepertinya enak tuh. ingin rasanya menjatuhkan air matanya saat ini juga. pasti tidak lucu kan, menangis di acara bahagia??
kini host tampil lagi. memanggil penyanyi papan atas lainnya. kali ini lagu dangdut. banyak hadirin yang berdiri dan bernyanyi bersama artis papan atas itu.
kalau tidak dalam keadaan bingung, pasti caera juga akan ikut berdiri dan berjoged bersama tamu yang lain. tapi ini, dia panik! artis papan atas itu jadi caera anggap jadi artis papan penggilasan!
ya ampuuunn... lama sekali waktu berlalu.. tuhaaann! tolong percepat waktu ini agar segera berakhir penderiaan kuuuuu...
caera meratap dalam hati. sangat tidak nyaman situasi ini.
setelah selesai artis itu bernyanyi, semua tamu bertepuk tangan heboh. kini host naik lagi ke panggung.
"dan sekarang.... inilah acara pamungkas kita.. untuk memotong tumpeng dan pengguntingan pita, mari kita sambuuutt... tuan Deva Kamran ellioooottt...!!!"
seluruh hadirin berdiri bertepuk tangan heboh. sangat riuh suara gema tepuk tangan di dalam aula gedung.
caera menegang. melihat kearah panggung dengan antusias. ini dia si tengil yang membuatnya sangat kesal beberapa hari terakhir ini!! terutama malam ini!!
__ADS_1
aku akan menjambak rambut mu Dev!!! menendang tulang kering mu!! meninju perut mu!! awas kau! kau merasa malu ya orang tahu aku ini pacar mu??!! tunggu saja kau!!