DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 154


__ADS_3

Bahagia.


Itulah kata yang tepat untuk Caera dan Deva saat ini. Semua orang memanjakan Caera. Semua orang berebut ingin bersamanya. Apalagi Deva. Belum apa-apa, dia sudah memborong baju bayi dan perlengkapannya sekalian.


Kehamilan Caera berjalan lima bulan. Tapi keluarga besar Deva sudah heboh berebut ingin memberi nama si jabang bayi.


Caera sangat bahagia. Tidak ada lagi keresahan di dalam hatinya. Akhirnya dia bisa menjadi seorang ibu seutuhnya.


Selama ini, kata mandul di sematkan padanya. Dan itu terbantahkan. Sekarang dia bisa berbangga hati dengan perut buncitnya. Sangat menjaga kehamilannya dengan baik.


Deva ngidam dan sering muntah sampai dua bulan lamanya. Tapi itu tidak membuat Deva menjadi gentar. Ia malah sanggup muntah sampai sembilan bulan jika itu bisa membuat Caera nyaman.


Malah caera tidak merasakan muntah itu dari sejak awal kehamilan. Tapi ngidamnya tidak bisa di bilang wajar, ada-ada saja yang di inginkannya. Tapi Deva selalu menyanggupi.


Seperti halnya sekarang ini. Caera kepingin makan ubi jalar. Caera minta Jacko dan Deva yang mencarinya, dan sekaligus memasaknya.


Jacko sampai memberengut saking kesalnya. karena dia dan Deva harus mencari ibu jalar itu sampai ke pasar tradisional.


"Jack, cari di sebelah sana" tunjuk Deva ke arah seberang pasar.


"Gila kau! mana ada di tempat penjual ayam begitu" keluh Jacko menolak pergi sendiri.


"Jadi bagaimana ini?"


ujar Deva sambil membuka jasnya dan menaruh di kepalanya. gerimis mulai turun.


Deva sudah bermandikan keringat saking capek mencari. Apalagi Jacko, dia Sampai menggulung celananya karena keadaan jalanan pasar yang becek.


"Aahh.. ayolah cari lagi" Jacko menarik tangan Deva.


Mereka bercalan berjinjit dan melompati jalan yang tergenang air karena banyak lobang di sana sini.


Banyak orang yang memperhatikan mereka berdua. Bayangkan saja, dua pria berjas lengkap sedang menyusuri pasar. Yang satu menggulung celana panjangnya sampai ke betis. Yang satu lagi mengudungkan jasnya di kepala untuk menaungi kepalanya dari gerimis.


Sampai ada yang bergumam terkikik melihat dua pria berdasi sibuk mencari ubi yang sedang tidak musim. Mereka berhenti di kios penjual buah.


"Pak, bapak jual ubi?" tanya Jacko.


Penjual pisang menatap mereka terheran. Penampilan mereka tidak biasa bagi orang pasar. tampak begitu mencolok.


"Waaahh.. tidak tuan, saya jual pisang ini"


"Dimana ya pak pedagang penjual ubi?" Deva menimpali.


"Oohh.. itu tuan.. bapak Sudi biasanya dagang ubi"


Pedagang buah itu menunjuk seorang bapak yang sedang ngopi di sebuah kios. Deva dan Jacko langsung menghampiri lelaki itu.


"Maaf, bapak Sudi?" tanya Deva.


Lelaki yang bernama pak Sudi menatap Deva dan Jacko dengan pandangan heran.


"Ya saya. Ada apa tuan?"


"Bapak dagang ubi?"


"Masih belum panen tuan"

__ADS_1


"Aduh sayang sekali"


Deva dan Jacko lemas. Kemana lagi harus mencari ubi jalar yang di maksud caera.


"Tapi, kalau tuan mau, ayo tuan keladang ubi saya. Bisa panen langsung"


"Benarkah?" serempak mereka berdua berseru.


"Ya tuan. ayo ikut saya"


Pak Sudi membawa mereka berdua menuju kebun ubi jalarnya. Jacko dan Deva naik ke mobil. Sementara pak Sudi naik sepedanya.


Mengikuti lelaki setengah baya itu dari belakang. mobil berjan lambat karena pak Sudi juga mengayuh sepedanya dengan lambat.


Deva dan Jacko saling pandang. melihat ke depan jalan.


"Aku rasa, kita akan sampai rumah tengah malam Dev" ujar Jacko.


"Mungkin Minggu depan" jawab Deva menghela napas bosan.


Tak sabar, Jacko menyalip sepeda pak Sudi. berhenti di depannya. seketika pak Sudi berhenti. Jacko keluar dari mobil.


"Ada apa tuan?" tanya pak Sudi heran.


"Masih jauh kebunnya pak?"


"Lumayan jauh tuan"


"Ya sudah. Pak Sudi naik ke mobil saja"


"Laahh.. ini sepeda saya gimana tuan?" tanya pak Sudi keberatan.


Karena sepeda itu lumayan besar, jadi Jacko membiarkan bagasi mobil tetap terbuka. lalu menyuruh pak Sudi masuk ke mobil.


"Aahh.. kalau dari tadi begini, kita sudah sampai Dev"


gumam Jacko jengah. Deva hanya tertawa melihat Jacko kesal.


****


Mereka sampai di hamparan kebun yang luas. sejauh mata memandang, hanya hamparan tanaman ubi.


"Ini kebun bapak semua?" tanya Deva.


"Tidak tuan. punya saya ada di tengah" jawab pak Sudi menunjuk bagian tengah kebun.


"Apa? di tengah sana?" Jacko terlonjak melihat bagian tengah yang jaraknya masih jauh.


"Iya tuan"


"waduuhh.. jauh itu pak. Yang bagian sini saja pak" Jacko merasa keberatan.


"Jack, biarlah. Biar cepat selesai" ujar Deva.


"Aahh.. kau ini! ada-ada saja istri mu ngidam"


"Kau mau bertanggung jawab kalau anak ku nanti ileran?"

__ADS_1


"Ck.. iyaa.. iyaa"


Jacko mengalah. Mengikuti pak Sudi yang sudah berjalan lebih dulu. Menyusuri betengan kebun.


beberapa kali Deva terpeleset karena betengan kebun berumput yang licin. Sampai celananya kotor di bagian pantat dan lutut. Jacko terkekeh geli melihat Deva sudah cemong dengan tanah lumpur.


Saking gelinya Jacko terkekeh, dia tak menyadari di depannya ada aliran air yang membelah betengan kebun. Sehingga dia terperosok tercebur kubangan air yang mengalir ke bawah.


Bbyyuuuurrr...!!!


"Wahahhhahhhaa..."


Deva tertawa terbahak-bahak melihat sekujur tubuh Jacko terendam lumpur di bawah gerojokan air. Jacko megap-megap membersihkan wajahnya dari air lumpur.


"Kualat kau mengejek ku. wahahaa.."


Jacko tampak sangat jengkel. Deva berlalu menyusul pak Sudi yang sudah berjalan jauh. tadi lelaki itu mengayuh sepeda sangat lambat. tapi kenapa sekarang jalannya sangat cepat? kalau tahu tadi dia suruh jalan saja.


"Sini tuaaan.. ini kebunnyaaa" seru pak Sudi menggerakkan tangannya memanggil Deva dan Jacko.


Setelah dekat, Deva melihat tanaman ubi jalar yang siap di panen. tersenyum senang melihat kebun yang luas dan subur.


"Ini tuan"


pak Sudi menyerahkan cangkul pada Deva. Deva menatap cangkul itu.


"Ini untuk apa pak?"


"Untuk panen tuan. masak iya itu untuk bantal?"


Deva terkekeh. lalu menyerahkan cangkul pada Jacko.


"Kenapa aku?" Jacko keberatan.


"Kau mau aku yang menggali?" Deva menaikkan alisnya.


"Aahh.. dasar!"


Jacko merampas cangkul itu dan mulai memilih tanaman yang bisa di panen. pak Sudi mengarahkan Jacko.


Jacko mencangkul tanah dan mengoreknya lebih dalam. Deva dan pak Sudi hanya memperhatikan.


Pak Sudi tak lepas memperhatikan kedua orang aneh ini. berjas lengkap dengan tidak memakai sepatu, baju berdasi dan juga celana bahan yang sudah kotor karena lumpur. Itu pemandangan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.


Jacko menarik pohon ubi jalar Dangan keras. membuat tangkai yang menyambung ke ubi di dalam tanah patah.


"Waaahh.. patah Jack" ujar Deva.


"Di korek saja tanahnya tuan. ibunya ketinggalan itu" ujar pak Sudi.


Deva membantu Jacko menggali tanah. mencari ubi yang tertinggal di dalamnya. mereka berdua sudah terlihat seperti penggali tambang di tengah hujan gerimis. membuat pak Sudi terkekeh geli.


"Waaahhh.. aku dapa jaaackk!!!" seru Deva kesenangan.


"Wuuhuuuuu.. aku juga deeevv!!" seru Jacko juga.


Mereka tertawa kesenangan. berhasil mendapat ubi jalar madu dari dalam tanah. Pak Sudi makin terkekeh geli melihat Deva dan Jacko menggali dengan bersemangat.

__ADS_1


"hehee... ini baru cocok di sebut pertani berdasi. hahaaa.." ujar pak Sudi tergelak


__ADS_2