
canggung sekali rasanya berdua saja dengan Deva di dalam rumah yang tidak ada seorang pun bersama mereka.
kemarin di rumah bukit, Deva membiarkan caera tidur dengan Gino di kamarnya. sementara Deva tidur di kamar yang lain.
tapi sekarang, caera bingung harus memberi Deva kamar yang mana? rumahnya tak terlalu besar. hanya satu lantai dan ada tiga kamar. kamarnya, kamar Gino dengan tempat tidur ukuran anak-anak, dan kamar bik Sari di belakang.
caera belum merasa mengantuk. karena dia juga baru bangun tidur tadi. tapi Deva pasti sudah lelah. baru keluar kota dan langsung ke rumah caera.
untuk menghilangkan rasa canggung, caera menyalakan televisi. duduk menyaksikan acara televisi. deva masih di kamar mandi. dari tadi dia belum mandi karena menunggu caera bangun dan menyuapinya lebih dulu.
tak habis pikir dengan jalan pikiran Deva. pria itu selalu memberi kejutan dengan sikap konyolnya. tapi kenapa orang-orang di kantor selalu bilang Deva itu kejam dan dingin? padahal caera tidak pernah melihat Deva marah.
"sayang... tolong aku!"
Deva berseru dari dalam kamar.
caera menegang. ngapain lagi tuan sinting itu memanggilnya? di kamar lagi. caera bingung. mau menuruti, atau membiarkan saja.
"sayang.."
Deva kembali memanggilnya.
"ada apa tuan Dev?"
caera masih tetap tidak beranjak. masih duduk di sofa depan televisi.
"tolong aku sebentar.."
seru Deva lagi.
ya ampuuunn .. aku bisa mati kalau begini
caera ingin menangis saja rasanya. belum apa-apa wajah caera sudah mewek. kesal sekali melihat tingkah Deva. lelaki itu selalu jahil padanya. caera takut Deva akan melu matkannya hingga hancur berkeping-keping malam ini.
"cepat lah sayang"
Deva memaksa.
dengan berat hati caera mematikan televisi dan beranjak melangkah ke kamarnya. membuka pintu kamar tidurnya perlahan. melongokkan kepalanya kedalam.
dan... benar saja. terlihat Deva sedang duduk di kursi kecil di depan meja rias. rambutnya basah masih meneteskan air.
dan yang paling parah, Deva ber telan jang dada. tidak memakai baju dan hanya memakai celana boxer pendek sebatas paha.
caera memalingkan wajahnya. tak mau melihat Deva dalam keadaan hampir te lan jang.
dueerrr...
caera membanting pintu. kesal sekali melihat Deva seperti itu. bagaimana dia bisa masuk ke dalam kamar kalau begitu.
"Ra, kenapa di tutup pintunya?"
tanya Deva dari dalam.
"pakai dulu bajunya. aku tidak mau masuk!"
jawab caera ketus.
"cepat lah. aku sudah kedinginan"
Deva masih memaksa.
"tidak mau!"
caera bertahan. hanya berdiri di ambang pintu yang tertutup.
"ya ampuunn.. baiklah baik. aku pakai baju dulu"
Deva terdengar kesal. caera masih menunggu di pintu. hening sesaat. caera pikir Deva pasti sudah pakai baju sekarang.
"sudah sayang. masuk lah"
ujar Deva lagi.
pelan-pelan, caera membuka pintu lagi. memeriksa keadaan kamar. Deva tak terlihat. mungkin dia masuk ke kamar mandi.
caera melangkah hati-hati masuk ke dalam kamar. ingin menghampiri pintu kamar mandi. tapi tiba-tiba dia mendengar suara kunci di putar di pintu kamar.
klek!
sontak caera terlonjak kaget dan membalikkan tubuhnya menghadap ke pintu kamar. terlihat Deva masih belum memakai baju. masih mempertontonkan dada bidang berotot, yang sekarang terlihat mengkilap karena basah terkena lelehan air dari rambut basahnya. pemandangan roti sobek langsung menjadi santapan mata caera.
caera merutuki dirinya yang tidak memeriksa belakang pintu tadi. ternyata Deva bersembunyi di sana.
"aaaaaaa.."
__ADS_1
caera menjerit dan menutup wajahnya dengan kedua telapak tangannya. tak mau melihat keadaan polos Deva.
"kau jahat sekali tuan deeeev..."
caera menjerit dengan suara terbenam karena ia menutup seluruh wajahnya dengan telapak tangan.
"hahaaa"
Deva terbahak.
caera makin kesal saja. Deva sudah makin mesum saja belakangan ini. masih menutupi wajahnya. tidak berani mengintip sedikit pun.
"sudah lah sayang. mau sampai kapan menutupi wajah mu? aku sudah kedinginan. cepatlah keringkan rambut ku"
tahu-tahu suara Deva sudah ada di sampingnya. sepertinya Deva sudah duduk lagi di depan meja rias.
caera membuka wajahnya. melirik Deva yang duduk menatapnya dari meja rias.
"cepat lah sayang"
rengek Deva dengan wajah memelas.
caera melihat wajah itu dengan jengkel. lalu mendekat seperti antara rela dan tidak.
"kenapa tidak pakai baju sih?"
"kan sudah kotor sayang. aku tidak ada baju lagi"
jawab Deva sambil menjulurkan handuk meminta caera mengeringkan rambutnya.
"huh"
dengan hati mangkel, caera menerima handuk itu, lalu mendekat ke tempat Deva. berdiri di belakang tubuh tegap itu.
Deva memandanginya dari pantulan cermin. tersenyum melihat caera cemberut. caera melirik Deva di pantulan cermin, sambil menggunyar rambut basah Deva dengan handuk.
menggeseknya sedikit kencang dengan kesal. berharap rambut Deva berguguran Hinga botak saja. agar kerjanya lebih cepat selesai.
"rambut ku kuat sekuat hati ku sayang. tidak akan botak"
ujar Deva masih menatap caera di pantulan cermin.
huh! sok tahu sekali kamu apa isi hati ku
setelah di rasa rambut Deva sudah cukup kering, caera menghentikan kegiatannya. meninggalkan Deva dan menjemur handuk itu di jemuran handuk dekat kamar mandi.
lalu berjalan melenggang menuju pintu. Deva sudah beranjak dari meja rias, lalu setengah membaringkan tubuhnya di tempat tidur. menyandar dan memperhatikan caera melangkah ingin keluar kamar.
ceklek.. ceklek..
terkunci.
kunci pintu tidak ada di tempatnya. caera menegang. terperanjat memikirkan Deva menyembunyikan kuncinya.
secepat kilat menoleh pada Deva dengan mendelik gusar.
Deva menahan tawanya. hanya diam melihat caera mendelik padanya. dengan rambut berantakan tidak di sisir, Deva jadi terlihat lebih menggemaskan. caera merutuki dalam hati.
astaga! kenapa dia bisa setampan itu sih!
"mana kuncinya tuan Dev!"
Deva diam saja
"jangan bercanda tuan Deva! mana kuncinya?"
makin gusar saja caera di buat Deva.
Deva hanya melirik kebawah sejenak. mengisyaratkan kalau kunci itu ada di kantong boxernya.
"uuuhhh"
caera menghentakkan kakinya ke lantai dengan jengkel.
kesal sekali Deva selalu menggodanya begitu. Deva hanya tersenyum lebar dangan menggigit bibir bawahnya. merasa senang sesenang senangnya.
nekat, caera mendekat ingin memeriksa kantong celana boxer Deva. dia harus sesegera mungkin keluar dari kamar.
"jangan bercanda tuan Deva. berikan kuncinya"
sekali lagi caera memohon Deva berhenti menjahilinya dan menyerahkan kunci pintu kamar. mengulurkan tangannya meminta.
"ambil sendiri"
ujar Deva. ingin ia tertawa terbahak melihat wajah cemberut caera karena kesal.
__ADS_1
caera melirik paha Deva. besar dan berbulu halus. caera setengah mati menahan malu. wajahnya sudah di penuhi semburat merah. dengan nekat yang berlebih, membungkukkan badannya dan meraba sisi celana boxer Deva di kiri dan kanan. wajahnya tepat di depan wajah Deva. dengan pasrah, Deva membiarkan caera merabai celana pendeknya.
"aahh.. nik mat sayang"
Deva me le nguh lirih dan memejamkan matanya, mendongak keatas sambil menggigit bibir bawahnya.
setengah mati caera mendelik tambah gusar melihat expresi wajah Deva. menggodanya terlalu jahat. caera tahu Deva hanya melebih-lebihkan expresinya agar caera makin blingsatan. karena ia hanya meraba sisi celana boxernya saja.
makin melotot saja caera. ternyata celana pendek itu tidak ada kantongnya. caera sudah terjebak dan tertipu. Deva sungguh menjahilinya habis-habisan.
"hahaaha... kau lucu sekali sayang"
Deva tidak bisa menahan tawanya. terbahak sekencangnya. caera menegakkan badannya lagi. tertegun melihat Deva tertawa terpingkal-pingkal sambil meringkuk memegangi perutnya.
"kau jahat"
lirih ucapan caera. hatinya sangat kesal pada Deva. wajahnya mewek menahan tangis. air mata sudah penuh menggenangi kelopak matanya.
seketika Deva menghentikan tawanya. melihat caera menangis, Deva langsung bangkit dari ranjang dan berdiri meraih caera dalam pelukannya. merasa bersalah sudah menjahili caera sampai membuat wanita itu menangis.
"sudah sudah. jangan menangis. aku hanya bercanda"
Deva mendekapnya erat. mengusap kepala caera dengan sayang. menge cup puncak kepala wanita itu berkali- kali.
"cup cup cup.. sudah sayang jangan menangis. maafkan aku. aku hanya ingin tidur di sini sambil memeluk mu sayang"
"kau jahat tuan Dev"
lirih suara caera terisak di pelukan Deva.
"aku hanya bercanda sayang. sudah lah jangan menangis lagi. ayo sini.. tidur di sini"
Deva melepaskan pelukannya dan mengajak caera ke tempat tidur. tapi caera menolak. tubuhnya kaku.
"tidak mau. nanti kau macam-macam lagi. aku tidak percaya"
caera menepis tangan Deva.
"tidak sayang. hanya tidur. tidak lebih. aku tidak akan macam-macam"
Deva memelas. meyakinkan caera bahwa dia hanya ingin tidur dan tidak akan jahil lagi.
caera masih berdiri saja. menatap manik mata Deva. meragu dengan kata-kata Deva barusan.
"aku janji. ayo sini"
Deva menarik tangan caera lagi. wanita itu menurut. beranjak membaringkan tubuhnya ke tempat tidur.
meringkuk membelakangi Deva. Deva menyusul berbaring di belakang caera. menarik selimut dan menyelimuti mereka berdua.
memeluk tubuh ramping wanitanya dengan nyaman. mendekatkan wajahnya ke belakang kepala caera. ikut meringkuk menyamai tubuh caera. memeluknya erat.
"sayang, kenapa aku cuma di beri bagian belakang saja?"
bisik Deva.
"geser sedikit. jangan macam-macam"
caera menyikut pelan perut Deva di belakangnya. mengancamnya lagi.
Deva tersenyum di belakang caera. tak menghiraukan wanita itu dengan sejuta ancaman.
makin mengetatkan pelukannya. melingkarkan tangannya di perut caera.
"bagaimana aku bisa tidur kalau sesak begini?"
caera protes.
Deva tersenyum lebar. mengendus aroma rambut caera. tak menghiraukan protes caera karena pelukannya yang makin ketat dan merasa gemas. menge cupi telinga dan tengkuk caera.
"sepertinya aku tidak bisa menepati janji ku kali ini sayang"
Deva menggeram berat.
caera tersentak. bangkit bangun dan menghempaskan tangan Deva kebelakang, menjauh dari perutnya.
"kau masih saja jahil!!!!"
teriak caera sekencangnya.
"buuaaahhaahhhaahh"
🤲😓 maafin otor ya Allah. 😓🙏 otor kasih bab ngesiln caera siang-siang. udah puasa, pas hari Jum'at lagi.
🙏🤦 ampuni otor
__ADS_1