
π£οΈπ’readeeerrrrsss...
π£οΈπ’ooyyyy readeeerrrrsss...
jangan lupa sajeeen yaaakk...
like dulu baru bacaaaa π€π€ sedekaaahh π₯°π₯°ππβ€οΈβ€οΈπππ
πΎππππΎπππππΏβοΈππππΎ
Dira langsung berdiri tegak. menyiapkan kuda-kuda waspada serangan Richard. ia ingat tadi di pesawat, Richard langsung menyerangnya.
"apa yang kau inginkan?" tanya Dira dingin.
"hhhh.. bodoh. menonton orang berpacaran"
Richard tidak menggubris sikap waspada Dira. dia melangkah ke kursi yang menghadap ke pintu kaca besar yang menghadap ke laut di depan. duduk di sana sambil mengambil sebatang rokok, mematik apinya lalu menyesapnya.
Dira menatap Richard kesal. mengendurkan sikap waspadanya.
tengil sekali sikap si Casanova satu ini. ngapain juga di ada di sini?
Dira memeriksa keadaan kamarnya. masih baik. lalu Richard masuk dari mana?
Dira berjalan ke arah pintu kaca. memeriksa kuncinya. di tersenyum skeptis melihat kunci pintu kaca yang telah lolos.
"selain pria cabul, kau juga jago jadi maling rupanya" ujar Dira sarkas.
Richard diam saja. masih menyesap rokoknya santai tanpa melihat ke arah Dira.
"di larang merokok di kamar ku. keluar lah"
ujar Dira lagi tanpa melihat ke arah Richard. Dira duduk di tepi ranjang. membuka sepatu sneakers putihnya. meletakkan di samping lemari pakaian.
lalu Dira duduk di sofa dalam kamar. menyelonjorkan kakinya dan dia rebahan. mencoba tidak menggubris Richard.
"kenapa kau tidak membatalkan kontrak kerja mu?" tanya Richard tiba-tiba.
Dira melirik Richard sejenak. lalu kembali menatap langit-langit kamarnya.
"tolong jangan menyentuh masalah privasi di tempat kerja ku" ujar Dira dingin.
Richard menoleh ke arahnya. menatap Dira cukup lama.
"aku tidak suka pekerjaan mu" ujar Richard lagi.
Dira bangkit. terduduk di sofa. menatap Richard dengan marah.
"hey.. kenapa sih kau selalu mengusik hidup ku? itu semua bukan urusan mu!" seru Dira.
Richard menggeram marah. mencampakkan rokoknya ke luar kamar begitu saja. melangkah lebar mendekati Dira.
"hidup mu adalah urusan ku!"
Richard melotot ke wajah Dira. tak mau kalah, Dira berdiri melotot menghadapi Richard.
"jangan mimpi! aku membangun hidup ku sendiri tanpa mu! kenapa sekarang kau datang ke dalam hidup ku lagi??!!" teriak Dira.
jarak mereka sangat dekat. saling menatap marah satu sama lain. sama-sama terengah memendam amarah. Richard sangat susah mengendalikan gadis yang satu ini. selalu menolaknya ketika Richard mencoba bersikap baik padanya.
"pergi!!"
Dira mendorong dada Richard. mengusirnya pergi. Richard mundur beberapa langkah. menyadari tenaga Dira tak bisa di remehkan. tapi dia diam saja tak ingin beranjak keluar.
"aku tidak menghajar mu seperti yang lain. jadi, tolong. menjauh lah dari ku. atau aku akan melumpuhkan mu" ancam Dira mencoba menakuti Richard.
"kau tidak menghajar ku karena kau mencintai ku" ujar Richard menggeram.
Dira melirik Richard jijik.
"ciihh... kata-kata mu menjijikkan!"
Dira melengos. beranjak ke luar pintu kaca. Richard hanya menatapnya dari belakang. sungguh gemas ia menghadapi gadis yang satu ini. terlalu berkeras hati.
"pergi lah. aku muak melihat mu" usir Dira lagi.
mendengar pengusiran itu, Richard meradang. melangkah lebar mendatangi Dira. menarik tangannya dan ingin memeluknya.
Dira sigap. menoleh dan menyerang Richard dengan cepat. meninju dada Richard denga. keras. lalu menendangkan kakinya kedepa dengan telak. paha Richard kena tendangan Dira hingga ia terhuyung ke belakang.
Dira kembali mengambil kuda-kuda bersiap menyerang Richard lagi. merasa terhina di tendang perempuan, Richard maju lagi. menyerang Dira, ingin mengunci gerakan Dira.
tapi dengan cekatan, Dira mengelak. menangkap tangan Richard memelintirnya ke bahunya dan mengangkat tubuh tegap Richard dari belakang ke depan.
bruuukk!!
"aaakkhhhggg"
__ADS_1
Richard terbanting ke arah depan. meringis kesakitan. Richard memang tidak bisa ilmu bela diri. tentu saja ia kalah masalah itu dari Dira. Dira jago di dunia karate dan taekwondo.
Dira hanya memandangi pemandangan yang membuatnya bangga. bisa membanting orang yang selama ini di bencinya.
Richard terlihat kesakitan. memegangi pinggang dan punggungnya. meringis kesakitan yang membuat dia tidak bisa bergerak sejenak.
"aku sudah bilang. pergi lah"
ujar Dira dingin. Richard masih berusaha bangkit berdiri. tapi ia terlihat seperti tak punya tenaga dan ambruk berkali-kali. Dira hanya menatapnya miris.
"baiklah" Richard menyerah. "aku akan pergi. tapi tolong aku berdiri. aku tidak bisa tegak" rintih Richard dengan meringis dan mengulurkan sebelah tangannya meminta Dira mendekat dan menolongnya.
Dira diam. menimbang sesaat. tapi melihat Richard merasa kesakitan dan tak bisa bangkit, Dira mengalah. mendekat dan mengulurkan tangan pada Richard.
Richard melirik tangan itu. seolah-olah berat menerima uluran tangan Dira. gengsi kan, pria tampan di gebuk seorang gadis karena tidak tahu bela diri. dan sekarang, malah di tolong berdiri lagi.
"cepatlah. jangan mengulur waktu" ujar Dira dingin.
dengan perasaan malu dan terhina, Richard meraih tangan lentik yang mematikan itu. berpegangan dan bangkit berdiri dengan kaku karena pinggang bagian belakangnya terasa seakan patah.
dengan diam seribu bahasa, Richard melangkah ke pintu.
"kau mengecewakan cloe"
ujarnya. lalu pergi meninggalkan Dira sendiri.
****
caera dan Deva sudah di dalam cotage. dan Jacko sudah pergi meninggalkan mereka. duduk berdua menyandar di ranjang empuk.
"kau bahagia bersama ku sayang?" Deva mengecup puncak kepala caera yang ada di pelukannya.
"lebih dari bahagia Dev. kau memberi ku banyak cinta"
Deva meraih dagu istrinya. menatap mata indah itu. tersenyum penuh cinta.
"akan selalu begini selamanya sayang"
menge cup bibir basah istrinya. caera menyambut kecu pan itu. memberi yang terbaik untuk pria yang telah memberinya banyak cinta.
melepaskan pa gu tannya dan mengusap bibir basah itu. menatapnya sayang.
"jangan pernah mengubah hati mu sayang. aku melabuhkan seluruh hati ku untuk mu"
"aku malah takut kau yang berubah Dev. banyak wanita yang memuja mu. aku tidak yakin bisa mengalahkan mereka semua"
"banyak godaan Dev. tapi aku berharap, kita bisa mempertahankan cinta ini"
"kau segalanya sayang"
Deva menge cup bibir caera lagi. men ji lat basah. caera mendorong dada Deva pelan. belum mau melanjutkan ciu man panas itu.
"Dev, aku mau tanya sesuatu. dan jangan mengelak lagi"
"apa sayang?"
"aku pikir, kau banyak tahu tentang Dira. aku penasaran tentangnya dan Richard"
"hahaa... sayang, kenapa memusingkan urusan orang lain?" Deva tergelak dan mencubit pipi istrinya gemas.
"iihh.. aku penasaran. Dira terlalu tertutup pada ku"
"tuntutan pekerjaan sayang. dia harus banyak merahasiakan diri"
"iya, tapi kenapa? sebenarnya Dira itu sekertaris mu atau apa sih? di jago bela diri"
Deva diam sejenak. menatap kedepan. sementara caera, masih bersandar di dada bidang suaminya. menggerakkan jarinya di sana mengukir dada Deva.
"dia anggota keamanan yang berlegalitas dan berprestasi. Jacko membawanya ke kantor untuk menyelidiki siapa saja penyusup yang masuk"
"benarkah?"
caera terkejut mendengar penjelasan Deva. mengangkat kepalanya untuk menatap wajah suaminya.
"iya. dan ketika kau datang, aku memberinya tugas untuk tetap bersama mu dan masuk dalam hidup mu sedikit demi sedikit"
"astaga. kau curang Dev"
"haha.. sedikit sayang. itu untuk membuka hati mu"
"tapi kenapa Dira tidak menunjukkan pada ku siapa dia sebenarnya?"
"hehee... sayang ku, istri ku tercinta, my life my darling..." Deva terkekeh geli melihat kepolosan istrinya.
"Dira itu anggota intelegen terbaik pilihan Jacko. dia bersikap menjadi gadis baik yang penurut pada mu agar dia bisa masuk dan kau menerimanya. jika dia langsung menjadi keamanan mu, pastinya kau akan kaget bukan? hanya seorang sekertaris tapi di lengkapi fasilitas keamanan yang ketat. yang ada, kau akan lari dari ku sayang" Deva menjelaskan.
"jangan kan bodyguard, mobil dan rumah yang ku berikan kau tidak menerima" lanjutnya.
__ADS_1
caera terdiam. begitu lembut Deva menantinya membuka hati. semua orang-orangnya di kerahkan, untuk membuatnya menyadari cinta Deva.
"lalu, apa hubungannya dengan Richard? aku melihat dia selalu bersikap aneh pada Richard"
"bagian yang ini, kau tanyakan langsung padanya sayang. aku tidak berhak membuka privasi mereka bukan?"
"deevv... sedikit sajaaa.." rengek caera.
"tidak sayang. aku hanya mau membuka baju mu"
Deva bergerak meremas gun Du kan di dada caera. mengecupi mata dan hidung istrinya. men ji lat bibir caera yang masih mengatup erat.
"Dev, jangan dulu. katakan sedikit saja. ayolaaahh.."
Deva tidak mempedulikan lagi. masih menge Cupi seluruh wajah istrinya.
"Dev... uuh.. katakan dulu"
caera kewalahan dengan serangan lidah suaminya. Deva menuju bibir yang cerewet itu. meng ulumnya lembut. menelusup ke dalam mulut caera. tak kuasa caera menolak lagi. dia menyambut lidah hangat yang basah nan menggoda itu.
Deva mengabsen setiap inci dalam mulut istrinya. yang selalu ia rindukan dan selalu saja membuatnya mabuk. sangat candu menye sap bibir dan lidah manis istrinya.
melepaskan pa gu Tan panas itu. sama-sama terengah kehabisan napas. menatap satu sama lain. mata sayu caera membuat gai rah Deva terbakar habis.
kini sasarannya leher jenjang istrinya. men ji lat basah membuat caera mengerang dan meremas bahu Deva. Deva men ji Lati sampai tulang selangka caera.
tangaannya bergerak membuka baju dan penutup dada caera. membuat dada polos itu menyembul keluar. mencuat menantang di depannya.
hembusan napas yang memburu menyapu ujung dada caera. dingin. membuat ia bergidik. Deva menelusupkan sebelah tangannya ke punggung caera. menaikkan, menahan sedikit keatas. membuat dada caera jadi melenting ke atas.
itu sungguh pemandangan yang sangat indah di mata Deva. di suguhkan gun dukan bulat dengan ujung pinky yang mencuat menantang.
"astaga... sssshhh.. ini indah sayang"
de sah Deva mengagumi daging bulat yang kenyal milik istrinya. caera menaikkan kepalanya menatap Deva di depan dadanya. pria itu masih menatap dadanya takjub. membuat caera malu dan wajahnya terasa panas.
Deva mendongak menatap wajah caera. menggigit kecil bibir bawahnya melihat mata sayu istrinya yang sangat menggoda.
sebelah tangannya menyentuk kecil ujung pinky caera. memilin sesaat.
"aaahhhh.. deeeevvv"
rintih caera menghempaskan kepalanya kebantal. tak kuasa merasakan sentuhan tiba-tiba dan menghilang lagi.
respon itu membuat Deva makin terbakar. menyentuh dan memilin lagi. caera tersentak merasakan nik mat di dadanya. menaikkan kepalanya melihat ke wajah Deva yang menggigit bibir bawahnya dan mengerutkan kening menatap mata caera.
"aahh.. sayaaang.. itu.. uuuhh" desis caera.
Deva tak peduli. ingin membuat istrinya makin megap-megap. men ji lat ujung pinky di depannya, menge mut dan menggigit kecil di sana. sementara yang sebelah lagi di pi Lin pelan dan lembut. membuat caera kehabisan napas yang sudah tersendat-sendat.
puas bermain di atas, Deva mengarah turun ke bawah. membuka semua yang melekat di tubuh istrinya. menyapu setiap inci kulit mulus itu dengan lidah basahnya.
caera melenting dan menggeliat tidak karuan. mulutnya terbuka kehabisan napas dan bergetar nik mat.
tiba-tiba merasakan lidah lembut menyapu intinya. mengorek dan menghujam. tangannya langsung turun kebawah meraih kepala Deva dan meremas rambut Deva gemas.
"aaauuuhhh.. deeevvvaaa.. ssshhhh.."
tubuhnya bergetar. seperti ada semut beriringan berjalan di setiap desiran darahnya. memacunya cepat bergerak dan berhenti di satu titik. membuatnya mengejang kencang menyemburkan pelepasan yang indah tak terbilang.
"deeeeevvvvv...." pekik caera.
Deva tersenyum menang. menyucup susu putih itu. menyeruput dan men ji lat habis. caera terengah-engah merasakan pelepasan yang selalu membuatnya ke tagihan. Deva selalu membuatnya terbang jauh di iringi kepuasan yang tidak pernah pudar.
Deva melepaskan semua yang melekat di tubuhnya. menantang istrinya dengan tong gak panjang berkepala naga.
menggesek dan menempatkan di tengah. lalu mendorong pelan sampai amblas seluruhnya. membuat caera mendelik menahan kenik matan yang menghempaskannya di surga terindah.
Deva membiarkan sejenak. rongga itu menangkup dan merapat menjepitnya hangat. dikira cukup, deva mengayuh pelan-pelan. menimbulkan sensasi indah tiada duanya.
saling menatap satu sama lain. tersenyum dan sesekali menatap sayu. mengayuh lebih cepat lalu pelan lagi. caera setengah mampus menahan ga irah yang memercik melepup sampai ke ubun-ubun.
menjerit, me le nguh, mende sah dan meracau tak jelas membuat Deva makin bersemangat. tubuh yang bersimbah peluh mengiringi pacuan hangat itu.
memom pa lebih kencang. menggiring caera dalam nik mat yang indah menghentakkan dirinya entah di pelepasan yang ke berapa.
menambah rasa yang membuncah. licin tapi padat. menciptakan rasa yang tidak ingin terlupa dan selalu ingin mengulangi.
caera menarik wajah Deva. Deva menjulurkan li dahnya lalu caera meng hisap madunya. meliuk dan men ji lat.
"deeeevvv... akuuhhh... aduuuhhh sayaaaanghhh"
"yaa.. sayang.. ayo.. bersaaammm aaaahhhhggg..."
terhempas pada gelombang dahsyat yang menghentak keduanya. memancarkan kehangatan di dalam caera. banyak dan meleleh keluar.
Deva ambruk di samping istrinya tanpa mencabut ular naganya. mengecupi punggung te lan Jang istrinya. memeluk erat penuh sayang dan kepuasan.
__ADS_1