DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 62


__ADS_3

suasana rumah duka sudah ramai. banyak sekali kendaraan terparkir berjejer. pengamanan juga sangat ketat. terlihat banyak polisi yang memberi pengamanan dan banyak pria-pria berpakaian kemeja hitam berjejer mengatur kondusifitas area rumah duka.


mansion itu sangat besar. terlihat sangat megah. halaman luas yang telah di pasangi tenda-tenda besar, banyak kursi berjejer di dalamnya.


seorang keamanan memakai id card yang dikalungkan di lehernya menyapa caera dan Dira. membawa mereka masuk dalam keramaian orang-orang di dalam tenda yang ada di halam mansion.


dan berjalan lagi masuk ke dalam mantion yang telah banyak orang di dalamnya. caera sampai gemetar melihat banyak pejabat penting yang datang. bingung memikirkan kenapa dia harus berbaur dengan orang-orang ini.


terlihat banyak orang duduk di permadani yang terbentang luas memenuhi seluruh lantai bawah mansion yang luas ini. kumpulan wanita ada di sebelah kanan, dan yang pria ada di sebelah kiri.


caera bisa bernapas lega karena Deva memberi pakaian yang tepat untuknya. banyak dari kaum perempuan yang memakai hijab. dan pakaian caera tertutup seluruhnya. dan bersyukur kerudung pasmina melekat di kepalanya.


caera tidak mengenali sebagian dari mereka. bahkan hampir seluruh pelayat yang barada di sana caera tidak kenal. hanya beberapa wajah yang caera kenal sebagai pejabat penting negara.


caera makin lega ketika jacko datang menghampiri. seperti ada penyelamat yang akan membawanya ke tempat aman. caera mesih menggenggam tangan Dira. takut jika terpisah dan caera tidak tahu harus apa.


"nona caera. mari ikuti saya"


ajak Jacko untuk caera mengikutinya.


caera mengangguk dan menarik tangan Dira di genggamannya. mengikuti Jacko sampai masuk ke tengah-tengah ruangan.


tampak Deva duduk di dekat sebuah ranjang yang di tengahnya tubuh kaku tuan Nugraha di baringkan. tertutup kain selendang putih yang menutupi bagian wajahnya dan kain jarik panjang di seluruh tubuhnya. deg degan caera melihat itu


di sebelahnya ada Richard dan Zaki. dan seterusnya caera tidak mengenali. di seberang tempat tidur jenazah itu, tampak Gisel masih menangis tersengguk dan ada beberapa wanita paruh baya yang juga sama sedang menangis sedih.


timbul rasa gugup di hati caera. bagaimana dia bisa berhadapan berbaur dengan orang-orang yang tak di kenalnya sama sekali. bingung harus berbuat apa. ia meremas tangan Dira di genggamannya. seperti mencari pegangan untuk tumpuan kekuatan. Dira juga menggenggam tangan caera erat.


caera di beri tempat di dekat Deva. tidak terlalu dekat tapi masih dalam satu jangkauan. duduk bersimpuh di sana bersama Dira. begitu ia menghenyakkan pantatnya di ambal empuk itu, Deva menoleh menatapnya. tersenyum seakan menyatakan terima kasih ia sudah mau datang.


caera menatap mata Deva. mata itu menampakkan rasa rindu dalam kesedihan. tersenyum sangat menyiratkan rasa sayang yang dalam.


caera sampai terpaku melihat pemandangan itu. tak percaya mata Deva menyiratkan cinta untuknya. hatinya bergetar. ada rasa haru di hatinya. dia menyunggingkan sedikit senyum membalas Deva. lalu menunduk karena gugup telah menafsirkan sendiri arti tatapan mata Deva.


caera merasa seperti orang asing yang terdampar di lautan manusia yang tidak di kenalnya sama sekali. hanya ada dua titik cahaya yang tetap menjadi pegangannya di sana. Deva dan Jacko. selebihnya, caera pasrah.


seorang lelaki berdiri menyampaikan akan memandikan jenazah. semua orang berdiri termasuk caera dan Dira. Jacko, Zaki, Richard dan beberapa orang lainnya, mendekat akan mengangkat jenazah untuk di mandikan.


Deva mendekat padanya. dan berbisik sesaat.


"tetaplah di sini. nanti aku akan kembali"


ujar Deva berbisik di dekat caera.


caera tidak berani mendongak menatap Deva. ia hanya mengangguk mengiyakan. terlihat dari sudut matanya, Gisel melihat ke arah mereka. ada rasa tak enak di dalam hati caera. gelisah itu muncul.


Deva pergi menggotong jenazah tuan Nugraha untuk di mandikan. Deva ingin ia yang berperan langsung dalam jalannya prosesi pemakaman pamannya.

__ADS_1


kini tinggallah caera dan Dira yang duduk saling merapat. rasa minder bergayut di hati mereka berdua.


seorang wanita paruh baya mendekati caera. menyapa caera dengan ramah.


"kamu caera?"


tanyanya.


caera menatap wanita itu. wanita paruh baya dengan wajah oval dan bermata coklat terang. masih terlihat sisa kecantikan yang cemerlang tersenyum padanya. matanya sembab tapi tidak menghilangkan aura anggun seorang ibu.


"ya nyonya, saya caera"


jawab caera halus dan sopan.


wanita itu tersenyum senang. ada siratan bahagia di wajahnya.


"saya Soraya, ibunya Deva"


ujarnya mengulurkan tangan.


caera terkejut. wanita ini adalah ibunya Deva. berdebar hati caera. cepat ia menyambut uluran tangan itu dan mencium punggung tangannya.


Soraya tersenyum hangat. sangat merasa senang dengan perlakuan sopan caera.


"ayo, duduk sini bersama ku"


caera menurut. duduk di sisi Soraya. caera menunduk gugup duduk bersebelahan dengan ibunya tuan Deva bos perusahaan. mungkin akan banyak lagi orang-orang yang akan mengupatnya sinis, Jika melihat ini.


tampak Gisel menangis di pangkuan seorang wanita yang tak kalah cantik dengan Soraya. caera dapat menebak pasti lah wanita itu ibunya Gisel.


sungguh caera merasa canggung berada di sini. dia tahu siapa Gisel, wanita yang pernah mengisi hidup Deva. sedang menangis sedih karena ditinggal ayah tercinta, melihat caera di perlakukan seperti orang yang istimewa, itu akan makin melukai hatinya bukan? caera merasa insecure. berpikir momen yang tak tepat ini agar cepat berlalu.


tiba-tiba soranya menyentuh tangan caera. menggenggamnya erat. caera mendongak menatap mata nyonya Elliot ini.


soraya tersenyum. memancarkan aura seorang ibu yang melindungi putrinya. soraya mengangguk dengan senyum yang menenangkan dan memejamkan matanya sesaat. membukanya dan menatap lurus ke mata caera. seakan bilang, semua baik-baik saja.


aaahhh nyonya.. kau baik sekali ..


menenangkan kegelisahan ku


terharu rasanya melihat soraya melindunginya. duduk di sampingnya menjadi tameng agar caera tidak merasa asing.


caera membalas senyum soraya dan memegang tangan soraya dengan tangan kirinya. menumpuk tangan itu seakan bilang, aku baik-baik saja.


aahhhh...


dada caera lega rasanya. ada seorang ibu yang memberinya semangat untuk merasa aman. sebagian para pria yang mengurus keperluan untuk jenazah, bergerak ke tengah membentangkan kain kafan. menyusunnya sedemikian rupa. menaburkan bedak putih dan bubuk Cendana.

__ADS_1


hati caera bergetar melihat itu. nanti semua manusia akan berakhir di sana. ia melihat ke adaan dirinya. bagaimana rasanya jika tubuhnya yang berbaring di sana? sungguh mengerikan membayangkan itu.


setelah beberapa saat, jenazah kembali di bawa masuk kedalam setelah selesai di mandikan. dan langsung di baringkan di kain kafan itu. para pria berdiri berkeliling membentangkan kain panjang, menutupi jenazah yang di Kafani.


Deva pergi entah kemana bersama yang lain. mungkin mengganti pakaian karna basah saat memandikan jenazah tadi.


Dira mepet ke tubuh caera. caera menoleh merasa heran kenapa Dira mendusal ke dekatnya.


"kenapa dir?"


tanyanya.


"aku takut kak"


jawab Dira menyembunyikan wajahnya di balik badan caera.


caera tersenyum saja melihat Dira ketakutan di balik tubuhnya. Deva kembali lagi bersama ke Jacko, Zaki, dan Richard. caera sempat memikirkan ternyata Richard juga mengenel Deva. ada banyak pertanyaan di dalam benaknya. tapi cepat ia menyingkirkan itu. sangat tidak tepat memikirkan sesuatu yang tidak penting di saat seperti ini.


setelah semua proses jenazah selesai, mereka semua keluar dari mansion dan bersiap ke pemakaman untuk mengebumikan tuan Nugraha.


mobil ambulan dan banyak mobil yang akan mengiringi. Deva menarik tangan caera untuk ikut bersamanya. caera menatap Soraya seakan protes kenapa di pisahkan. tapi Soraya hanya mengangguk saja.


semua orang berpencar ke kendaraan masing-masing. caera sudah duduk bersama Deva di sampingnya dan Jacko di depan kemudi. caera sempat celingak celinguk mencari Dira. dia sampai lupa dira di mana ketika Deva menariknya tadi.


"tuan Deva, saya tidak lihat Dira di..."


belum sempat caera melanjutkan kata-katanya, Deva mendekap tubuh caera. merebahkan kepalanya dan mendusal di ceruk leher caera.


tubuh caera menegang sesaat. tak menyangka Deva melakukan itu. ia melirik ke depan melihat Jacko. tapi Jacko tidak memperhatikan mereka. hanya fokus melihat kedepan saja.


"peluk aku Ra"


bisik Deva.


caera bingung. canggung rasanya mau melakukan itu. ada Jacko pula di depan mereka. tapi Deva terlihat sangat lelah. merasakan kesedihan yang dalam atas kepergian pamannya.


pelan-pelan caera memeluk tubuh besar di sampingnya. agak memiringkan tubuhnya agar dalam posisi nyaman dapat merengkuh tubuh besar Deva.


Deva makin menyusupkan wajahnya. seperti mendapatkan kenyamanan disana. memejamkan matanya. tangannya melingkari pinggang caera.


caera agak risih setengah mati. mencoba meredam rasa canggung. berpikir kenapa Deva melakukan ini semua. sebenarnya menurut caera agak tidak tepat Deva membawanya berbaur di acara pemakaman tuan Nugraha. karena ini momen kesedihan yang mendalam dan ia masuk di saat yang kurang tepat.


lain lagi dengan Deva. di mau membawa caera dalam momen ini, karean ia ingin caera ada bukan hanya di saat senang. tapi di saat sedih yang tak dapat di ungkapkan pun, caera bisa memberinya kenyamanan.


mereka berdua saling berpelukan. iring-iringan mobil menuju pemakaman. semua berjalan dengan semestinya. Deva telah menemukan tautan hati. yang tidak bisa di ganti lagi.


🌹thx buat readers setia caera ❀️❀️ jangan bosen mampir di sini ya 🀭 maaf part ini agak mbosenin πŸ˜πŸ™

__ADS_1


__ADS_2