DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 98


__ADS_3

hari demi hari berlalu. sedikit demi sedikit caera sudah lebih menuruti apa kata Deva. lebih menerima kekonyolan Deva, yang menghiasi hari-harinya.


ketika di lift bersama Dira pagi tadi, mereka bertemu dengan Nixon. dengan gaya maskulin, Nixon mengajak caera makan siang di cafetaria kantor siang ini.


caera ingat deva. lelaki itu pasti akan nekat lagi menghukumnya kalau ia menuruti ajakan nixon. dengan halus caera menolak. membuat Nixon tampak kecewa. caera takut Deva marah lagi. dan akan menghukumnya lebih banyak. Dira tampak lebih waspada ketika bertemu Nixon. tak ada senyum di wajahnya.


tapi yang membuat caera jengkel, setiap hatinya mulai luluh pada deva, pasti akan timbul masalah yang membuatnya jengkel setengah mati pada Deva.


keadaan selalu mempermainkan hati caera. seperti hari ini, baru saja sarapan mesra dengan Deva pagi tadi, tapi siang ini caera kembali merasa jengkel dengan kedatangan gadis macan tutul dengan dada bola basketnya.


kali ini datang tidak dengan motif macan tutul. tapi motif ular sanca. sepertinya gadis aduhai yang satu ini adalah pencinta hewan.


caera sampai menepuk jidatnya melihat gaya berpakaian nona Della yang hampir menonjolkan seluruh bagian tubuhnya yang membuat mata lelaki melotot tak lepas dari belahan dadanya yang seperti ingin tumpah.


ia berpikir, bagaimana Deva akan tahan jika di hadapankan dengan dada penuh milik Della? dengannya saja Deva sudah mesum begitu. apalagi dengan Della yang memiliki dada tiga kali ukuran caera? waaahhh alamat jadi banteng tuh tuan mesum.


begitu melihat Dira ingin mengantar Della ke ruangan Deva, langsung saja caera menarik Dira. menghentikan Dira dan meminta dia yang menggantikan mengantar Della ke ruangan Deva. caera sungguh terbakar hati mengetahui Deva bersedia menerima Della masuk.


"Dira, biar aku saja yang mengantar. kau kerjakan saja ini"


caera menarik tangan Dira. dan menyerahkan setumpuk berkas di tangan Dira.


"kenapa kak?"


Dira tampak heran. biasanya caera akan menolak dengan berbagai alasan jika Dira memintanya mengantar apapun ke ruangan Deva. tapi kali ini caera sendiri yang mengajukan diri.


"aku akan menghajarnya kalau macam-macam"


gumam caera pada diri sendiri.


tapi gumamannya di dengar Dira. dan Dira tersenyum penuh arti melihat caera mulai terbakar cemburu.


"ya sudah kak. kakak saja yang antar"


Dira mempersilahkan caera.


caera bergegas menemui Della di ruang tunggu. melihat gadis itu duduk santai sambil memainkan gawainya.


"nona Della, mari saya antar ke ruangan tuan Deva"


caera mencoba tersenyum ramah pada Della.


Della mendongak dan menatapnya. dia agak tidak suka caera yang mengantarnya pada Deva.


"kenapa bukan Dira saja?"


tanya Della masam.


"nona Dira sedang banyak pekerjaan. saya yang mewakili"


Della menatapnya lama.


"hmmm.. baiklah"


Della bangkit dan mengikuti caera yang telah berjalan lebih dulu. mengantarkan Della keruangan Deva.


tok.. tok.. tok..


caera mengetuk pintu ruang kerja Deva.

__ADS_1


"masuk"


itu suara Jacko.


caera membuka pintu. menghadap Deva.


menatap mata coklat pria itu dengan pandangan tajam. baru kali ini caera melakukan itu. hatinya di selimuti rasa panas.


"tuan, ada nona Della ingin bertemu"


mereka berdua saling pandang. ada sedikit senyum terukir di bibir Deva. tapi caera tak menghiraukan senyum itu.


"baik lah. suruh masuk saja"


ujar Deva datar.


apa?! berani sekali dia bersikap formal pada ku! mana sikap manja yang selalu di tunjukkan setiap hari pada ku???? apa karena akan bertemu si dada besar itu???!! ciihh..


caera agak memicingkan matanya menatap Deva. gemas hatinya melihat sikap Deva datar padanya.


caera berbalik. melebarkan pintu dan mempersilahkan Della masuk.


"silahkan nona Della"


Della melangkah masuk dengan gemulai. kaki jenjangnya melangkah dengan teratur seperti seorang model. pinggulnya melenggak lenggok menunjukkan kesan sensual. matanya langsung tertuju pada Deva dengan tatapan menggoda.


ya ampuuunn!!! kenapa aku tidak bisa begituuuu???


jiwa ganas caera meronta-ronta melihat gaya Della menemui Deva. ingin rasanya mendorong Della hingga tersungkur di lantai, lalu tertawa terbahak melihat Della kesakitan.


bukannya langsung pergi, caera malah berdiri agak ke sudut ruangan. memperhatikan apa saja yang akan mereka berdua becarakan. dan ingin tahu, bagaimana sikap Deva bertemu dengan gadis ulas sanca ini.


"hallo tuan Deva. selamat siang"


sapa Della dengan suara bernada manja pada Deva.


Deva tersenyum.


"selamat siang nona Della"


menjabat tangan Della.


ssiiiing...!!!


caera menatap jabat tangan itu dengan tatapan setajam pisau belati.


Della tak langsung melepaskan jabatan tangan itu. tapi malah menempelkan tangan yang satunya lagi ke tangan Deva.


"sudah lamaaa kita tidak jhummphaa thuuan"


ujar Della dengan suara desa han ala Syahroni.


huuweeekkk!!


caera ingin muntah rasanya. Deva hanya tersenyum dan melepas jabat tangan itu. dengan rasa kehilangan, Della juga melepas tangan Deva.


"jadi, bagaimana nona Della, apakah tuan Yuda bersedia dengan kesepakatan itu?"


tanya Deva tenang. sesekali matanya melirik caera di sudut ruangan.

__ADS_1


"aahh.. yeaahh.. tentang itu, sebaiknya anda pikhhirkan laghi thuuan Dev. apa tidak sebaiknya andhhaa membagi sekithhar dua phuuluh lima pershhen lagi?"


jawab Della dengan mulut yang diatur sedemikian rupa. sampai caera mengikuti mulutnya menyang-menyong.


"oohh.. begitu ya. hmm"


Deva seakan berpikir lagi.


Della bergerak mencondongkan tubuhnya lebih kedepan meja kerja Deva. itu membuat caera melotot setengah hidup! melihat dada besar setengah menyembul sesak itu di goyangkan halus di depan Deva.


"jhhangan lebih banyak berpikir tuan dhheev.."


Della meletakkan sebelah tangannya di meja. lalu mengambil pulpen dan meletakkan ke bibirnya. seakan pena itu adalah permen yang manis untuk di hisap.


seperti tak menghiraukan ada caera, Deva malah dengan tak tahu diri melihat gaya mesum Della di depannya.


kurang ajar!!! berani sekali dia!!


caera berteriak dalam hati. napasnya memburu menahan amarah yang berkobar di setiap aliran darahnya.


"oohh.. begitu ya. tapi jika dua puluh lima persen itu saya gelontorkan lagi, apa tuan Yuda akan bisa memegang janji?"


tanya Deva lagi. matanya menatap wajah Della yang masih memainkan pena di mulutnya. sedikit menjulurkan lidahnya seolah men ji lat dan meng hi sap pena itu dengan lembut.


hwaaaaaaaaa....


akan ku remas mata mu nanti tuan deeevvv!!!


napas caera makin ngos-ngosan. tangannya terkepal. sangat benci melihat Della dan Deva saling pandang dan melempar senyum satu sama lain. entah apa yang terjadi padanya. hatinya benar-benar terbakar melihat itu.


"thenthuu syhaajaa tuan dhheev.. kenapa tidak?"


Della mencopot pena dari mulutnya. lalu meletakkan pena itu ke depan Deva, dan mengetuk pena itu tiga kali dengan jari telunjuknya. seakan mengatakan pada Deva, kalau mau, silahkan anda **** itu ujung pena bekas lidah ku.


mata Deva mengikuti apa yang di lakukan Della. memandang pena itu agak lama. ada kilatan jijik dan benci di matanya. tapi secepat kilat hilang. lalu mengalihkan pandangannya lagi pada Della dengan senyum simpul.


melihat wajah Deva, caera makin tak tenang. ingin menerkam wajah tampan dengan senyum manis menatap gadis ular sanca itu. keringat mulai muncul karena menahan emosinya yang akan meledak.


Jacko hanya memperhatikan caera sambil tersenyum smirk. dan caera, tidak merasa penting dengan Jacko. dia menganggap Jacko itu hanya patung yang kebetulan tegak di situ saking emosinya.


Della beranjak dari kursinya. melangkah mendekati Deva dan duduk di pegangan kursi kerja Deva. memepet lengan Deva bagian samping. dan menumpukan paha kirinya ke paha kanan. menyilang dengan santai memperlihatkan paha mulus yang menggoda iman.


ekor mata Deva melirik caera. kesempatan itu tak di sia-siakan caera. ia langsung melotot pada Deva. menunjukkan kalau dia marah. tapi Deva cepat membuang pandangannya lagi. makin sibuk melanyani Della yang sudah sangat berani menggoda Deva terang-terangan. tak peduli masih ada orang lain juga di ruangan Deva.


caera menghentakkan kakinya dengan jengkel. tangannya mengepal kencang. ingin segera meneriaki mereka berdua yang tak tahu diri.


Della menoleh pada caera karena mendengar hentakkan kakinya. menatap caera sini.


"ada apa nona? dia kekasih ku. anda tidak suka?"


tanya Della skeptis. "dan kenapa masih di situ?"


astaga!!! keterlaluan!!!


dengan geram dan marah yang sudah di ubun-ubun, caera menghenakkan kakinya dan melangkah lebar-lebar pergi keluar ruangan. melirik Deva dengan marah. jijik melihat Della yang bersikap seperti gadis ja Lang.


dueeeerrr!!!


membanting pintu dengan kencang. tak peduli lagi dia akan di pecat atau di buang entah kemana, atau harus membayar denda seberapa pun karena Deva tersinggung akibat ulahnya.

__ADS_1


hatinya panas! terbakar! terhina! di bodohi!


__ADS_2