DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 67


__ADS_3

caera jadi tidak fokus bekerja. pikirannya melayang sibuk memikirkan Della si gadis macan tutul. belum lagi memikirkan Deva selalu dekat dengan Gisel, membuat otaknya oleng.


(sama kayak otornya nih sekarang otaknya lagi oleng 😂😂😂)


tubuhnya ada di cafetaria kantor. tapi pikirannya terbang melayang ke langit gelap yang ada awan cumulonimbusnya, siap sedia menghasilkan hujan di sertai angin dan petir.


caera tak berselera menyantap hidangan lezat yang ada di depannya. hanya mengaduk-aduk tanpa berniat menyuapkan ke mulutnya.


"kak, kenapa tidak makan?"


Dira menegurnya.


caera mendongak. menatap Dira dengan pandangan kosong.


"nanti saja dir"


jawab caera lemas.


"itu kan makanannya sudah ada kak. kenapa nanti?"


"tidak enak"


"punya Dira enak kok ini. kenapa punya kakak tidak enak?"


Dira menatap caera ragu.


"iya nanti dir"


aneh Dira menatap caera yang menjawab sekenanya saja. Dira menyendok makanan yang ada di piring caera. dan menyuapkan ke mulutnya. mengunyahnya sambil mengernyitkan dahi. membandingkan rasa makanan caera dengan makanan yang ada di piringnya.


"hmm enak kok ini. sama saja sama punya Dira ini kak"


"iya sama"


jawab caera mengambang.


kelihatan sekali sebenarnya pikiran caera tidak dalam keadaan sinkron.


"mikirin nona Della ya kak?"


tebak Dira.


caera menoleh. menatap manik mata Dira. lalu menunduk lagi memandangi daging rendang di piringnya dan menusuk-nusukkan garpunya di sana.


"hmmmm... pasti itu"


Dira mencebik.


caera diam saja. tidak menyahuti omongan Dira.


"nona Della itu putrinya tuan Yuda. dia itu jebolan S2 Canada"


Dira menjelaskan.


"trus?"


caera terlihat agak merespon.


"sudah tiga kali nona Della meminta bertemu tuan Deva. tapi tuan Deva terus mengulur-ulur waktu. kata tuan Deva, hanya mau mengadakan rapat dengan tuan Yuda saja"


"tapi kenapa nona Della itu yang datang?"


caera mulai menunjukkan minat bertanya.


"yah.. begitu lah. nona Della selalu bilang kalau tuan Deva itu kekasihnya. padahal baru ketemu dua kali"


"eh.. kapan itu?"


antusias caera bangkit.


"pernah waktu itu ada acara peresmian lapangan golf baru. nah di situ nona Della bertemu tuan Deva"


"ngapain?"


"hah? apanya yang ngapain kak?"


Dira bingung dengan pertanyaan caera.


"eh.. itu.. maksud ku, mereka ngapain saja?"


caera gugup menjelaskan maksudnya.


"ha ha.. ya tidak ada lah kak. itu kan peresmian lapangan golf. jadi acaranya outdoor. ya tidak ngapa-ngapain"


Dira tertawa geli melihat caera salah tingkah ingin tahu Della sudah berbuat apa saja dengan Deva.


iisshh.. ya siapa tahu sama seperti yang di lakukan pada ku. main cium sembarangan


caera diam lagi. Dira tak lagi menghiraukan caera. dia sibuk menikmati makanannya. caera melihat ke arah sudut cafetaria. agak kaget melihat Nixon sedang mencuri-curi pandang padanya.


begitu mata mereka bertemu, Nixon langsung tersenyum lebar dan melambaikan tangannya. tanpa berpikir yang macam-macam, caera juga tersenyum pada Nixon.


Dira menoleh ke belakang. melihat Nixon masih tersenyum-senyum kecil melihat ke arah caera. Dira mengalihkan pandangannya pada caera. caera tersenyum geli melihat tingkah Nixon.

__ADS_1


"Nixon lagi"


kata Dira jengah.


"kenapa dir?


tanya caera penasaran.


"Nixon ada pacarnya kak"


"oh gitu. karyawan sini?"


"he'eh"


Dira menyeruput es lemon teanya.


"siapa?"


tanya caera berbisik.


caera agak mengintip sedikit ke arah Nixon lagi, lewat punggung Dira. astaga! Nixon masih mencuri-curi pandang ke arah mereka.


"bukan pacar sih sebenernya. tapi lagi pedekate gitu"


"iya, tapi siapa?"


caera penasaran.


Dira menoleh ke kiri dan kanannya. memastikan tidak ada yang mendengar mereka.


"Kiki. dari divisi umum"


ujar Dira dengan berbisik.


"oohhh..."


jawab caera seraya menegakkan tubuhnya setelah mendengar bisikan Dira.


caera melirik ke arah nixon lagi. laki-laki itu masih curi-curi pandang ke arahnya. lalu caera mengedarkan pandangan matanya ke sekeliling cafetaria. ia mencari sosok Kiki yang di sebut Dira.


caera ingat dia pernah bertemu tiga karyawan di dalam lift. salah satunya bernama Kiki. gadis cantik berambut pendek.


pandangan caera terpaku di meja yang agak jauh dari meja Nixon. ada Kiki di sana. Kiki sedang memperhatikan Nixon sambil tersenyum-senyum centil. lagi mengobrol dengan ke tiga teman-temannya.


caera mengalihkan pandangannya pada Dira lagi.


"Kiki itu, yang duduk di dekat tiang itu kan dir?"


tanya caera memberi isyarat agar Dira melihat ke arah tiang sebelah kanannya.


"kakak kenal?"


tanya Dira.


"ya tidak juga. tapi pernah satu lift. aku lihat id cardnya"


"hmmm iya. itu Kiki"


jawab Dira.


"kamu sendiri, sudah punya pacar dir?"


raut wajah Dira langsung berubah. ada sedikit rasa tegang di wajahnya.


"tidak ada kak"


"kenapa?"


"ya tidak ada yang mau"


"ah masak?"


"di dapur kak?"


"kok di dapur?"


"kan masak"


"iihhh.."


caera mencubit tangan Dira. Dira tertawa renyah.


"dir, nanti kita jalan yuk?"


"kemana kak?"


"ya kemana saja. aku lagi pingin keluar"


"mau ke mall?


"boleh"


mereka berdua sepakat. nanti setelah usai jam kantor akan jalan ke mall.

__ADS_1


****


caera sangat menikmati pergi dengan Dira. gadis ini selain periang juga enak di ajak ngobrol. selalu bisa mengubah suasana hati caera. caera suka berteman dengan Dira.


tapi sikap over protektifnya Dira pada caera tidak bisa di hilangkan. selalu saja Dira menyangkut pautkan Deva dengannya. dan selalu bilang nanti tuan Deva marah. caera agak kesal juga kalau apa-apa yang dia buat, pasti Dira akan memberi peringatan.


mereka ada di sebuah butik. caera ingin membeli beberapa pakaian kantornya. Dira juga memilih-milih pakaian.


"dir, yang ini bagus tidak?"


caera menunjukkan blus warna biru berlengan pendek.


"jangan yang itu kak. tangannya terlalu pendek. nanti tuan Deva tidak suka"


jawab Dira.


caera memutar bola matanya malas. lagi lagi tuan Deva. sudah beberapa baju yang caera tunjukkan pada Dira. tapi Dira bilang tidak bagus.


"Dira. kamu itu sebenarnya apanya tuan Deva, atau siapa sih? tau benar seleranya?"


caera kesal.


sontak Dira menoleh menatap caera. lalu nyengir kuda.


"Dira sekertaris nya tuan Deva kak"


"aku juga sekretarisnya. apa pakaian mu tuan Deva yang pilihkan?"


"ehhh..." Dira kaget caera bicara begitu. " ya tidak lah kak!" serunya.


"kalau begitu, jangan sebut tuan Deva lagi untuk selera pakaian ku Dira"


jengkel caera. dari tadi tuan Deva melulu yang di sebut Dira. padahal si tuan sendiri entah ingat entah tidak padanya.


"hehe... iya deh iya. Dira cuma takut nanti kakak di tegur tuan Deva kalau di kantor"


Dira cengengesan.


"memangnya selera tuan Deva itu yang gimana sih Dir?"


"naahh... bentar Dira Carikan ya. ayo sini kak"


dengan wajah berbinar, Dira menarik tangan caera ke tempat lain di butik ini.


mereka menaiki lantai atas. di lantai atas, ada meja resepsionis yang menanyai mereka tentang kartu member. Dira mengeluarkan sebuah kartu dan menyerahkannya pada pelayan toko.


lalu mereka mengembalikan kartu itu pada Dira dengan senyum ramah.


"silahkan nona"


"terima kasih"


Dira menarik tangan caera lagi. mengajaknya ke deretan pakaian wanita. ternyata lantai atas ini menyediakan pakaian bermerek yang harganya selangit. caera sampai menelan salivanya susah melihat harga mentereng yang di bandrol di setiap helai baju.


"dir, ini kemahalan"


caera protes.


"ini yang tuan Deva suka kak"


"iya. tapi ini berlebihan Dira. kita turun lagi yuk"


caera menarik tangan Dira mengajaknya turun ke lantai bawah.


"jangan kak. sudah di sini saja kak"


Dira menolak.


"ini kemahalan Dira"


"kan kakak punya kartu yang di kasih asisten Jacko, di sini itu berguna kak"


caera berpikir sesaat. bagaimana Dira bisa tahu itu? apa Dira di beri fasilitas yang sama dengannya? black card itu yang di maksud Dira.


"tidak ah. tidak pantas rasanya aku pakai kartu itu"


tolak caera.


"kenapa?"


"kalau aku pakai kartu itu, otomatis yang bayar kan tuan Deva. atau perusahaan. masak kita beli baju kantor yang bayar perusahaan?"


Dira tersenyum geli. polos sekali nona caera ini. dia tidak tahu itu black card memang khusus untuknya. calon istri CEO pemilik perusahaan. tidak hanya butik tempat mereka berpijak sekarang, tapi mall ini juga punya Deva.


Dira geleng-geleng kepala memikirkan itu. dia gemas melihat kepolosan caera.


"tidak apa kak. itu memang sudah jadi hak kakak. ayo kita pilih dan beli apapun yang kakak suka"


Dira tertawa ceria. caera menghela napas. dengan terpaksa, caera mengikuti saja kemauan Dira.


selagi caera sibuk memilih pakaian, Dira memeriksa ponselnya. membacanya sejenak lalu membalas pesan.


siap laksanakan tugas tuan.

__ADS_1


dan berhasil 😉👍


__ADS_2