DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 74


__ADS_3

"paman supermaaaan..."


seru Gino berteriak dan menghambur menyambut Deva. memeluk pria itu erat. Deva tertawa dan menyambut hangat pelukan Gino. mencium pipi gembul bocah Lima tahun itu.


"hai jagoan. kita bertemu lagi"


"paman Superman lama sekali datangnya"


"iya. paman sibuk bekerja. sekarang paman di sini"


Gino sangat senang bertemu Deva. memeluknya lagi dengan erat. Deva mengangkat dan mendekap Gino di gendongannya. melangkah masuk ke dalam rumah, melewati semua orang yang ada di teras rumah. caera, jiya, dan Friska hanya menatap Deva dengan mulut terbuka 😮. sementara Dira, menunduk hormat.


Jacko mengikuti Deva masuk ke dalam rumah. lalu berdiri tegak, melipat tangannya ke belakang. bersikap waspada mengawal tuannya. Deva duduk di sofa baru yang masih tidak teratur letaknya. duduk begitu saja tanpa menghiraukan keadaan rumah yang masih berantakan.


caera bingung kenapa Deva sampai datang ke rumahnya. ini kan sudah habis jam kerja di kantor? apa dia ada tugas yang belum di selesaikan?


caera menyenggol Dira. menatapnya mengernyitkan dahi. Dira mendongak dan membalas menatap caera. caera menggerakkan dagunya dan melirik ke arah dalam rumah. mengisyaratkan bertanya kenapa Deva sampai datang ke rumahnya. tapi Dira hanya mengedikkan bahu. menyatakan ia tak tahu apa-apa.


sementara Friska masih melongo tanpa bisa berkedip melihat seorang pria dengan ketampanan paripurna datang bagaikan malaikat bersayap yang tiba-tiba muncul entah dari mana. jiya sampai mengguncang-guncangkan lengan Friska agar pria gemulai itu tersadar dari keterpukauannya.


mereka berempat ikut masuk ke dalam rumah. berdiri berjejer seperti hamba yang menghadap tuan besar karena akan di sidang atas kesalahan besar yang telah mereka perbuat.


Deva hanya duduk dengan santai. bercengkrama dengan Gino, seperti tidak melihat ke empat orang yang kebingungan di depannya.


"tuan Deva, ada apa kesini? apa kerja saya belum selesai?"


caera memberanikan diri bertanya pada Deva.


Deva menghentikan obrolannya dengan Gino. menoleh menatap caera. lalu menggerakkan tangannya mengisyaratkan caera untuk mendekat padanya.


caera menoleh ke kiri dan kanannya. melihat jiya dan Dira di sampingnya. tapi mereka berdua juga menoleh ke padanya. seolah-olah mengatakan kalau dialah yang di tunjuk Deva untuk mendekat.


caera memutar bola matanya malas. menjadi tertuduh yang di tunjuk Deva agar mendekat padanya. caera maju, mendekat ke depan Deva.


tapi Deva belum puas. caera hanya mendekat beberapa langkah. Deva menggerakkan tangannya lagi menepuk sofa di sampingnya. meminta caera duduk di sofa yang sama dengannya.


astaga! apa sih maunya lelaki ini?


caera melirik ke belakang. ada rasa canggung di hatinya. banyak orang yang menyaksikan Deva memintanya duduk dalam satu sofa.


Deva menepuk sofa itu lagi. caera makin blingsatan setengah mati.


"mama.. sini ma, duduk sama paman Superman "


ujar Gino sambil melambaikan tangan memanggil caera untuk duduk bersamanya dan Deva.


Deva tersenyum geli. melihat caera makin tegang saja. dengan langkah kaku, caera mengikuti apa yang di inginkan Deva. dia duduk di samping Deva.


"begini caranya menyambut kekasih mu?"


tanya Deva spontan.


"apa?!"


caera mendelik. tak menyangka Deva akan mengatakan itu. sementara Friska makin melebarkan mulutnya tak percaya Deva mengatakan kalau caera adalah kekasihnya.


"kau tidak senang aku datang sayang?"


tanya Deva lagi.


"eeehh.. hmm.. anu.. bukan begitu tuan"


caera gugup setengah mati. wajahnya memerah menahan malu. tak sanggup menoleh ke arah jiya, Friska, dan Dira. apalagi Jacko hanya berdiri tegak menatapnya. gemetar tangan caera Saking gugupnya.


"Gino, kenapa mama berkeringat?"


tanya Deva pada Gino. mulai dengan kesenangannya menggoda caera.


"mama kepanasan paman"

__ADS_1


jawab Gino dengan polosnya.


"hahahaa"


Deva terawa mendengar jawaban Gino.


wajah caera makin terasa panas. seperti ada api yang berkobar di bawah dagunya. otaknya berpikir, bagaimana caranya lepas dari Deva. ia teringat barang-barang pesanannya. bergerak berdiri dan ingin secepatnya meninggalkan Deva.


"maaf tuan, sebentar saya tinggal dulu. saya akan menelepon toko yang mengirim bar...."


belum sempat caera melangkahkan kakinya ingin menghindar, Deva sudah menarik tangannya. caera terduduk lagi di sofa dengan paksa.


"biar saja"


ujar Deva menatap caera lembut sambil tersenyum.


"tapi, mereka salah mengirim barang-bar... mmmmppphh"


"sssshhhtttt.."


DEG!


Caera menegang. menatap manik mata Deva dengan pandangan yang menyiratkan sejuta protes. Deva menutup mulut caera dengan satu jari telunjuk menempel di bibirnya. menatapnya masih dengan penuh cinta.


sumpah! caera ingin pingsan saja saat ini. tak sanggup menerima perlakuan Deva yang menunjukkan kepemilikan penuh atas dirinya di depan semua orang yang ada di situ.


pelan-pelan, caera melirik jiya, Dira, Friska, dan Jacko. ingin melihat apa reaksi mereka melihat apa yang di lakukan Deva terhadapnya.


jiya melotot 😳. Friska dengan mulut menganga dan meneteskan sedikit liur di sudut bibirnya 🤤. sedangkan Dira menutup mulutnya tak percaya Deva menunjukkan terang-terangan kalau dia pemilik wanita cantik ini 🤭. sementara Jacko, memandang lurus tanpa expresi 😐.


"kenapa sayang? kau tidak suka barang-barangnya?"


tanya Deva melepaskan jari telunjuknya dari bibir caera.


caera tidak sanggup menjawab. masih kaget dengan sikap manis Deva di depan banyak orang.


Deva mengeluarkan ponselnya bersiap menelepon untuk mengganti barang-barang yang sudah di turunkan dari truk.


"eeehh.. tidak tidak tuan. sudah tidak apa-apa. saya suka"


caera segera mencegah Deva melakukan hal gila lagi.


Deva mengulum senyumnya. mengelus pipi caera dengan sayang.


hiiihhh


caera bergidik di perlakukan begitu. meremang bulu kuduknya. sungguh gila tuan besar yang satu ini. caera sampai kehabisan kata untuk melarangnya berbuat mesra.


"siapa yang bertanggung jawab mendekor rumah ini?"


tanya Deva tegas menoleh menatap ketiga orang di depannya.


dengan masih terbengong yang belum habis-habisnya, Friska menaikkan tangannya ke atas. Deva menatapnya dengan datar. lalu melirik Jacko. yang di lirik bergerak mendekat. berdiri di depan jiya, Friska, dan Dira.


"ayo ikut aku"


ujar Jacko datar.


dengan menurut, ketiganya mengikuti Jacko ke luar rumah. caera tidak dapat berbuat banyak. hanya diam menyaksikan semua yang terjadi.


"kenapa sayang?"


tanya Deva.


"iihh.. kau ini" caera memukul lengan Deva. "kenapa sih berbuat yang aneh-aneh begini?"


caera cemberut.


"tidak aneh. ini hanya cinta"

__ADS_1


jawab Deva tenang.


caera melengos. tak habis pikir bagaimana Deva membuatnya tercengang dengan semua ini.


"kau tidak mau menerima rumah itu bukan? jadi aku menggantinya dengan semua perabotan rumah ini"


"tuan Dev, itu kan fasilitas dari perusahaan. tapi ini sudah keinginan pribadi mu"


protes caera.


"kau juga milik ku sayang"


"aaaiisshh"


caera menekuk wajahnya. cemberut jengkel karena Deva menganggap semua ini biasa-biasa saja.


"Gino kangen tidak sama paman?"


tanya Deva pada Gino mengalihkan pembicaraan caera.


"kangen paman"


Gino memeluk Deva lagi.


"mulai sekarang, Gino jangan panggil paman Superman ya"


"terus, Gino panggil apa?"


"sekarang Gino panggil DAAADDY"


Deva mendikte Gino.


"Daddy?"


Gino memiringkan kepalanya. merasa asing dengan panggilan itu.


"iya, daddy."


"Daddy itu apa?"


"Daddy itu artinya ayah. artinya papa juga bisa"


Deva menjelaskan.


Gino tampak berpikir sejenak.


"oohh.. paman Superman jadi papanya Gino?"


tanya Gino dengan polosnya.


"iya, jagoan. sekarang jangan panggil paman Superman lagi ya. sekarang panggil DAAADDY!"


"yyewyy... Gino punya Daddy!"


teriak Gino heboh.


"hahaahaa"


Deva tertawa senang bisa mempengaruhi Gino dengan mudah. mengangkat bocah itu naik ke pangkuannya dan menggelitik di perut Gino. Gino menggelinjang kegelian. mereka berdua tertawa bencanda dengan penuh keakraban.


caera hanya bisa menepuk jidatnya. pusing dengan kelakuan Deva yang menjungkir balikkan semua dunianya. tapi dari semua itu, caera mereasakan getaran hangat menyusup di hatinya. melihat Deva berjuang keras merebut hatinya.


melihat Deva dan Gino akrab seperti itu, caera terharu. Gino sangat merindukan belaian seorang ayah yang bisa menuntunnya. menapaki hidup yang keras penuh kerikil tajam berserakan siap menghujam apabila salah melangkah.


hatinya menjerit meminta segera di sembuhkan, agar dia bisa melihat segala pesona yang Deva tawarkan. seorang lelaki berhati Eden dengan segala kewangian semerbak melenakan jiwa yang gersang.


🤦 andai otor yang jadi caera.... otor terkam tu tuan Deva. tanpa ampun 🤭🤭🥰🥰❤️❤️🔥🔥


bagaimana dengan para readers setia?? apa sama dengan otak otor? 😂😂

__ADS_1


__ADS_2