
Zaki melangkah tergesa menemui Deva dan Jacko yang telah menunggu. terlihat Deva duduk menyesap rokoknya dalam. wajahnya muram. Jacko duduk di sebelahnya.
"bagaimana Dev?" Zaki duduk bergabung.
"aku ingin tahu apa pendapat mu zak"
"ceritakan pada ku. mungkin aku bisa membantu. steven tidak bisa datang. ayahnya sedang sakit"
"baiklah, tidak apa-apa. aku harap kau bisa memberi solusi yang tepat"
Deva mulai bercerita tentang masalah caera. wanita itu sampai sekarang masih belum mau membuka pintu kamar. bukannya Deva tidak bisa membukanya sendiri, tapi butuh pertimbangan matang.
"Dev, caera hanya tertekan. merasa bersalah karena dia pikir, dialah penyebabnya semua itu terjadi" ujar Zaki.
"aku harus bagaimana zak. aku takut caera malah semakin marah jika aku mendekatinya" Deva terlihat frustasi.
"rasa bersalah yang berlebihan (guilt complex) dapat dikategorikan sebagai salah satu tanda dari depresi" sambung Zaki.
"hey.. hey.. kau jangan menakuti ku" Deva tidak terima mendengar kata depresi.
"ya Dev. tapi, aku rasa depresi yang terjadi pada caera masih terbilang awal. dia merasa bersalah karena menganggap dirinya lah pemicu masalah itu terjadi. jadi, kau harus dapat meyakinkan dia bahwa dia tidak bersalah"
"tapi bagaimana? dia menolak ku mendekatinya"
"bentindak lah lembut. pelan-pelan Dev. pendekatan yang tepat. ajak dia bicara. buat dia merasa kau lah orang yang tepat untuk dia menceritakan segalanya. kau harus jadi pendengar yang baik"
"hhhhhhhaahh... aku takut dia semakin tertekan" Deva mengusap wajahnya kasar. meremas rambutnya bingung harus bagaimana.
"bertindaklah cepat Dev. jangan biarkan dia sendiri memikirkan kejadian itu. apalagi sekarang caera sendiri bukan?"
"iya. dia sendiri di kamar"
"zak, bisakah aku bawa Gino menemuinya?" tanya Zaki.
"naahh.. itu mungkin dapat membantu. bawa Gino padanya. katakan Gino membutuhkannya" jawab Zaki. merasa ide Jacko sudah tepat.
"baiklah. aku akan jemput Gino sekarang. Dev, kau bergeraklah sekarang. dekati caera dulu"
Jacko langsung berdiri. melangkah pergi meninggalkan Deva dan Zaki.
"Dev, aku yakin kau bisa. cobalah"
Zaki menepuk pundak Deva memberi keyakinan bahwa Deva bisa mendekati caera. Deva menarik napas panjang dan menghempaskannya perlahan. meyakinkan diri dia bisa melakukan itu.
"baik lah. aku bisa"
Deva berdiri. dia akan menemui caera di kamar.
"tapi kau jangan pergi dulu sebelum Jacko datang"
"aku disini. aku yakin gaji ku akan naik" Zaki nyengir.
"diam kau brengsek!"
****
__ADS_1
Deva memutar kunci cadangan itu pelan-pelan. membuka pintu sangat hati-hati agar caera tidak merasa terganggu.
melongokkan kepalanya kedalam kamar. caera tidak terlihat. melangkahkan kakinya hati-hati. Deva menghentikan kakinya di dekat ranjang. tertegun melihat caera di pojok kamar meringkuk memeluk lututnya. menunduk menyembunyikan wajahnya.
tampak pundaknya terguncang halus. astaga... wanita itu masih menangis sampai sekarang. hati Deva sangat sakit melihat itu.
pelan-pelan Deva mendekat. berjongkok di depan caera. menyentuh kepala wanita itu. mengusapnya pelan.
"sayang"
bahu caera berhenti berguncang. ia menghentikan tangisnya. pelan-pelan mengangkat kepalanya. mendongak menatap Deva.
jantung Deva berhenti berdetak seketika. rasa nyeri menyerangnya melihat wajah sendu penuh kesedihan di depannya, dengan mata sembab karena terlalu banyak menangis. mata itu sampai jadi terlihat sipit karena sembab yang besar.
"sudah sayang. jangan menangis lagi" Deva mengusap air mata yang mengalir di pipi caera.
caera masih diam menatap Deva. hanya air matanya yang tak berhenti mengalir.
"sayang, aku tahu kau wanita tegar yang tidak mudah tumbang. aku mengenal mu dengan baik. hati mu tidak sejahat itu"
Deva mengusap lembut pipi yang basah itu. menatapnya lembut penuh cinta dan kekhawatiran sekaligus.
air mata caera makin mengalir deras mendengar kata-kata Deva. terisak sangat pilu.
"Ra, itu sudah takdir. itu sudah terjadi. jangan melihat kebelakang lagi. masih ada aku, Gino, ayah, ibu, dan masih banyak orang yang percaya pada mu. jangan menyalahkan diri mu dengan takdir yang harus terjadi. itu sudah kehendak Tuhan, Ra. kita tidak bisa mengubahnya"
"Dev" itu yang terucap dari bibir caera.
"ya, sayang"
"tidak sayang. itulah yang terjadi. itu takdir ra. itu bukan salah mu"
"apa.. hiikkss.. aku jahat Dev?"
"bagaimana aku bisa berpikir begitu pada wanita selembut dan sebaik diri mu? ayo, sini. duduk bersama ku"
Deva menarik tangan caera Pelan. mengajaknya berdiri dan membawanya duduk di tepi tempat tidur. caera mau. menuruti ajakan Deva.
"sayang, dengarkan aku"
Deva membenahi rambut caera. menatapnya lagi.
"bayangkan sayang. jika bayi itu masih ada di perut Vivi, dan dilahirkan ke dunia, dia akan menjadi alat untuk merebut harta orang tua ibunya Arya. lalu dia akan bersedih karena Arya tidak menginginkannya. dan Vivi, mungkin tidak sayang padanya karena dia hanya ingin mengandung karena bermaksud memiliki Arya. apa kau tidak sedih melihat itu Ra?"
caera diam. menyimak dengan teliti apa yang di katakan Deva.
"Tuhan lebih menyayangi bayi itu, sayang. mengambilnya sebelum dia menanggung dosa dan sakit hati karena ulah orang-orang di sekelilingnya. itu takdir baginya. takdir itu harus terjadi dengan perantara orang lain bukan? hmm?"
caera menunduk. terisak sedih. Deva merengkuh pundak Caera. merapatkan ke dadanya. memeluk memberikan kenyamanan.
"aku sedih Dev. aku tidak bisa berbuat apa-apa untuk menyelamatkan bayi itu"
"Ra, siapa yang bisa mengubah takdir tuhan? tidak seorangpun bukan? jadi jangan merasa kau adalah penyebabnya. tapi memang begitulah yang seharusnya terjadi. kita hanya pion yang harus menjalani permainan takdir sayang"
"Dev"
__ADS_1
caera memeluk Deva. menangis di dada Deva. Deva mengusap punggung caera dengan sayang.
"maafkan aku Dev"
"untuk apa?"
"aku bodoh"
"hhh.. kau bukan bodoh sayang. aku tidak akan jatuh cinta dengan permpuan bodoh. tapi kau istimewa. hati mu terlalu bersih. tidak pernah berpikir jahat pada orang lain"
Deva memeluk caera erat. mengusap punggungnya pelan. mengecup puncak kepanya penuh rasa sayang.
"kau tahu Ra, sebagian orang berpikir orang baik itu bodoh. tidak mau membalas kata-kata kotor dengan hal yang sama. dan sebagian orang berpikir, orang jahat itu cerdas. membalas perbuatan jahat dengan yang lebih jahat. tapi mereka tidak menyadari. sebenarnya orang yang berpikir begitulah yang jahat. di hati mereka penuh dengan kekejaman. hanya bisa menghakimi orang lain"
"dan kau, kau hanya wanita polos. lidah mu tidak di didik untuk memaki. lebih baik menghindari masalah dari pada harus terjebak dalam masalah. karena itu aku mencintai mu"
"Dev.. " caera mendongak menatap mata Deva. "terimakasih kau mau mencintai ku"
"aku benar bukan? tidak ada yang bisa melawan takdir. pilihan ku jatuh pada mu. siapa yang menyangka aku malah jatuh cinta pada mu?"
ya. Deva benar. siapa yang bisa melawan takdir? tidak seorang pun.
"ayo sayang. aku bersihkan diri mu. kau berantakan sekali. wanita ku harus tetap cantik"
Deva tersenyum menatap caera. caera mengangguk. hatinya lega kini. dia bukan penjahat. itu adalah takdir yang harus terjadi. dan itu sudah terjadi. itu bukan salahnya.
Deva membantu caera membersikan diri. kali ini tanpa keusilan. dengan telaten, Deva membasuh wajah caera yang penuh noda darah yang sudah mengering.
membantu memakaikan pakaian bersih. caera hanya bisa menatap wajah Deva dengan tatapan cinta. tak percaya lelaki ini sampai begitu besar memberi perhatian padanya.
menyuruh endang menyiapkan makan malam untuk caera. menyuapi caera dengan telaten. sampai Gino datang dan menghambur memeluk caera. bocah itu juga mendengar keributan waktu itu. untung ada bik Sari yang memeluknya karena menangis ketakutan.
"mata mama kenapa?" tanya Gino menyentuh mata caera yang bengkak sembab.
"mata mama sakit sayang"
"tidak. mama nangis ya?"
"tidak sayang. mata mama sakit" ujar Deva.
"Daddy.. Gino sering lihat mata mama begini kalau habis nangis" polosnya Gino.
"kapan? mama Gino masih suka nangis?"
Gino menggeleng. lalu menatap caera.
"dulu. waktu Gino pergi dari rumah papa"
caera terhenyak. ternyata Gino memperhatikan itu. dan masih mengingatnya sampai detik ini.
Deva meraih tubuh Gino kepangkuannya. menatap bocah itu dengan sayang. bocah kecil yang masih mengingat mamanya sering menangis karena pergi dari rumah papanya.
"Gino, sekarang mama dan Gino bersama Daddy. mama tidak akan pernah menangis lagi. Daddy janji"
"Daddy.. Gino sayang Daddy"
__ADS_1
bocah itu memeluk Daddynya erat. Deva membalas pelukan itu. berjanji dalam hatinya tidak akan membuat Gino dan caera menangis atau bersedih.