
sebulan lebih pernikahan Deva dan caera berjalan lancar. tidak ada masalah berarti yang mereka hadapi. hanya sesekali caera merajuk karena Deva terlalu sering mesum di sembarang tempat.
pernah sampai kepergok Dira sewaktu di rumah bukit. untung belum sempat sampai polos dan menggen jot panas. masih tahap pemanasan. caera sampai mendorong Deva kencang Sampai Deva kepentok meja. dan Dira lari terbirit-birit.
sangat malu dan jadi kikuk bila bertemu Dira. tapi dasar Deva usil, dia selalu tidak mempedulikan orang lain. yang penting dia dan istrinya. yang lain hanya di anggap angin yang tak berbentuk.
tapi ada yang mengganjal di hati Deva. selama berumah tangga sebulan lebih, Deva belum melihat caera datang bulan. sampai-sampai Deva memeriksa itu pagi dan petang. tapi tidak bertanya karena takut akan menyinggung hati istrinya. takut caera akan berpikir Deva mengingikan dia hamil.
ziana sudah memberi warning agar jangan pernah memaksa atau membuat istrinya tertekan masalah itu. buang saja pikiran soal hamil dan punya anak. karena deva juga sudah membuat komitmen dengan istrinya untuk tidak pernah mempermasalahkan soal kehamilan.
"bagaimana ini zi?" tanya Deva pada ziana.
mereka bertemu di rumah sakit. kebetulan Deva sedang mengadakan rapat bulanan dengan semua staf rumah sakit.
"apanya?" ziana bertanya balik.
"ahh.. kenapa bertanya lagi? aku kan sudah menjelaskan tadi" Deva jengah.
"haha.. kau tanya saja lah pada caera. kenapa begitu pusing Dev?" Zaki menimpali.
"ck.. kau kan tahu istri ku. dia sangat perasa. aku takut dia jadi stress karena pertanyaan ku"
"Dev, saling terbuka itu lebih baik. tanyakan saja dengan gamblang kenapa dia belum menstruasi. kalau kalian bimbang, datanglah pada ku. aku akan meriksa kakak ipar" ujar ziana.
"hmm.. kau bodoh sekali. setelah kau membuatnya puas, lalu bertanya lah"
ujar Zaki seraya melirik Jacko yang pura-pura tidak mendengar obrolan mereka.
"oohh.. begitu ya.." Deva manggut-manggut.
"lihat Jacko. dia sangat mempesona dengan sikap masa bodohnya" Zaki mengedikkan dagunya menunjuk Jacko.
Jacko menoleh menatap mereka. tak acuh dengan apa yang di katakan Zaki tentangnya.
"kalian menyebalkan" ujar Jacko jengah.
Deva dan Jacko pergi setelah rapat selesai. masih banyak yang harus di kerjakan hari ini. belum lagi rencana keluar kota memeriksa pekerjaan yang tertunda.
****
caera merasa malas hari ini. lebih banyak tidur-tiduran di ranjang empuk yang nyaman. Dira sedang membereskan file berkas yang di berikan Jacko tadi pagi.
selain menemani caera, Dira juga membantu pekerjaan Jacko pada waktu senggang jika caera tidak pergi kemana-mana.
"Dira" panggil caera.
Dira mendongak. menatap caera yang berbaring di ranjangnya.
"ya kak"
"kau tidak rindu tuan Richard?"
Dira mengerutkan keningnya. tidak biasanya caera bertanya itu.
"kenapa kak?"
"sudah lama aku tidak pernah melihatnya. apa kau pernah bertemu dengannya?"
Dira menggeleng. caera bangkit dari rebahan. duduk di ranjang sambil memeluk bantal guling.
"kalian tidak pernah berkomunikasi?"
"ada sih kak. dia kirim pesan saja"
"naahh.. apa katanya?" caera tampak antusias.
"rindu"
"waaaahhh... dia rindu pada mu?" wajah caera berbinar dan bertepuk tangan bersorak mendengar itu.
"bukan pada ku"
"loohh.. jadi?"
"rindu karate Ku. dia bilang sudah belajar karate untuk menghajar ku"
"hah?!"
caera melotot. ngapain juga tuan Casanova itu ingin menghajar Dira? apa dia sudah gila?
"kakak mau lihat pesannya?" tanya Dira.
caera mengangguk. sangat penasaran bagaimana gaya Richard mengirim pesan pada Dira.
Dira bergerak mendekat ke ranjang. membuka ponselnya dan menunjukkan pada caera. caera tercengang membaca isinya.
Richard : hey perempuan kungfu!
Dira : apa mau mu?
Richard : aku rindu
Dira. : basi!!
Richard : jangan sok di cintai. aku hanya rindu karate mu.
__ADS_1
Dira. : ingin coba lagi?
Richard : tentu saja. aku sudah belajar karate. aku akan menumbangkan mu nanti. kau akan siap membuka paha mu untu ku.
Dira : pecundang
caera mendelik membaca itu. Richard masih saja ingin menumbangkan Dira hanya untuk membuka pahanya. astaga! keterlaluan Richard.
"begitulah Richard, kak. hanya mementingkan dirinya sendiri" ujar Dira lesu.
"jangan terlalu di pikirkan Dira. aku yakin, Richard tidak seperti yang kita bayangkan"
caera menepuk-nepuk punggung Dira. dan Dira hanya mengangguk tersenyum.
*****
Deva menjemput gino dari tempat lesnya. kebetulan lewat di jalan itu. sekalian saja menjemput Gino untuk pulang.
"bagaimana Gino? bisa mengikuti pelajarannya?" tanya Deva di dalam mobil.
"ya Daddy. Gino suka pelajarannya gampang"
"waahh.. anak pintar" Deva menggugat rambut Gino. tapi bocah itu agak sedikit mengelak.
"jangan Daddy. nanti rambut Gino rusak"
"eehh.. kenapa? biasanya juga tidak apa-apa?" Deva agak heran.
"Vio bilang, tidak suka melihat rambut Gino berantakan" jawab Gino sambil membetulkan rambutnya lagi.
"oh em jiiiii.. hahaahaaaa.." Deva terbahak kencang. membuat Gino memberengut kesal.
" anak Daddy jatuh cinta? hahaahaaa"
"tidak Daddy. Gino cuma tidak mau Vio mengejek Gino terus" jawab Gino kesal.
"oh ya? Vio bilang apa?"
"katanya, kalau rambut Gino berantakan, Gino jadi tambah tampan?"
"what???!" Jacko meradang.
"hahahaaa.." Deva makin terbahak mendengar itu.
tapi tiba-tiba saja...
"jaaack! tolong berhenti!!!
ciiiiiitttt....!!!!
"ada apa Dev? kau mengagetkan ku!" kesal Jacko.
"coba kau lihat" Deva mendekatkan kepalanya ke jendela mobil. melihat keatas.
"apa sih?" Jacko ikut-ikutan melongok ke atas.
"itu" Deva menunjuk sebuah pohon.
"kenapa?"
"mundur dulu Jack. biar jelas" ujar Deva.
Jacko menurut. memundurkan mobilnya dan menepi.
"naaaahh... lihat itu Jack. ada pohon mangga"
Jacko melongo. mau apa Deva sama pohon mangga?
"terus? mau apa kau?" tanya Jacko heran.
"aku mau mangganya"
"apa?! jangan gila Dev!" Jacko langsung melotot.
"kenapa? apa salah kalau aku mau mangga itu?" Deva tersinggung.
"kita beli saja"
Jacko memutuskan menjalankan lagi mobilnya. tapi Deva marah. ngotot mau mangga yang di pohon itu. terpaksa Jacko menuruti.
mereka keluar mobil. Gino juga ikut. pohon mangga yang ada di samping rumah orang. tapi sepertinya tidak ada orang di dalam rumah.
"permisi... tuaaaan!" panggil Jacko pada pemilik rumah. tapi tidak ada yang menyahut.
"Dev. tidak ada orang di rumah itu. lain kali saja aku ke sini. biar aku yang beli langsung"
"aahh.. payah kau. aku mau sekarang. kalau tidak ada orangnya, ya lebih baik kita ambil saja"
Deva nekat. ingin memanjat pagar.
"Dev!"
Jacko mencegah. menarik jas Deva agar tidak naik ke pagar. begitu Deva menoleh pada Jacko, pria black sweet itu melirik pada Gino.
"kau mau dia meniru aksi konyol mu ini?"
__ADS_1
"astaga. aku lupa"
Deva menepuk jidatnya. lupa kalau Gino sedari tadi memperhatikan. tapi sungguh, Deva tidak tahan melihat mangga yang bergerombol di atas pohon. rasanya dia ingin memanjat saja sekarang juga.
"tolong lah jack. aku ingin memanjatnya sekarang"
wajah Deva sangat memelas menatap Deva. Jacko sampai heran melihatnya.
"aahhkk.. dasar kau!"
Jacko meninju bahu Deva. Deva tidak peduli. dia terus mendongak keatas melihat mangga yang segar itu bergerombol seperti memanggilnya untuk di petik.
"Daddy" panggil Gino.
"ya Gino. ada apa?" sahut Deva tanpa melihat Gino. masih sibuk menghitung mangga di ranting.
"kalau tidak ada orangnya, biar paman Batman saja yang jadi orangnya"
Deva dan Jacko sepontan melihat ke arah Gino. tidak mengerti maksud bocah kecil itu.
"Gino pernah lihat teman Gino. bolanya masuk ke halaman rumah orang. terus, dia bisa jadi yang punya rumah. begini bilangnya.. permisi paman, ya, putra mau ambil bola, silahkan. begitu daddy. teman Gino jadi bisa mabil bolanya"
Gino menjelaskan panjang lebar. menirukan dialog satu orang dengan suara yang berbeda. Jacko dan Deva sampai mau terbahak mendengar itu.
tapi, Daddy yang usil itu merasa ide Gino sangat membantu. menoleh ke kiri dan kanan. memastikan tidak ada yang memperhatikan mereka.
"Jack. kau yang jadi tuan rumah"
"ah.. gila kau. aku tidak mau" tolak Jacko.
tapi Deva tidak peduli. sambil membuka sepatunya, dia bertanya pada Jacko.
"permisi pamaaan" serunya kencang.
mau tak mau, dengan wajah di tekuk, Jacko membalas dengan suara kecil seperti perempuan.
"ya ada apa?
"maaf paman. saya selera ingin mangga paman. saya ambil boleh ya?"
seru Deva lagi agak kencang. dan segera memanjat pagar. melompat kedalam halaman tepat di bawah pohon mangga.
"jangan! kau harus membayar!" jawab Jacko.
"baiklah paman. saya bayar nanti. sekarang saya ambil ya?"
"baiklah. ambil saja semau mu"
"hehehee..."
Jacko dan Deva terkekeh berbarengan. lalu Deva melepas jasnya. mulai memanjat pohon mangga yang tinggi itu.
"Dev! cepatlah. nanti kita di massa orang kampung ini" teriak Jacko tertahan. sambil matanya liar memperhatikan jalanan.
"diam kau! ini tinggi!" jengkel Deva.
bersusah payah memanjat pohon mangga yang diameternya sepelukan orang dewasa. baju kemeja Deva sudah kotor terkena batang pohon mangga. tapi dia tidak peduli. terus memanjat. dan cita-citanya terkabul. sampai pada mangga yang bergerombol.
langsung memutar ranting kerasnya. sampai putus. dan dapat mangga sekaligus banyak. memutar dua batang ranting yang isi buahnya banyak.
"hahahaa.. aku dapat jaaaack.. aku dapaaaaaatt!!!" teriak Deva kesenangan seperti anak kecil.
"Dev! diamlah!! kau mau kita tertangkap!!"
Jacko melotot marah. apa jadinya jika mereka tertangkap mencuri buah mangga. seorang asisten terkenal yang di takuti dan seorang CEO beberapa perusahaan yang kaya raya mencuri mangga!!!
"cepat turun Dev!"
dengan tergesa, Deva turun. tapi belum sampai di bawah, Deva langsung lompat. karena kesusahan memegang dua ranting yang banyak buah mangganya.
bruuukk!!
"aawwhh"
jerit Deva. memegangi tangannya yang menghantam tanah dengan keras. tapi masih mempertahankan mangga di tangannya.
"astaga!! bangunlah Dev! kau tidak apa-apa?"
Jacko berlari ke tepi pagar. memeriksa Deva yang terjatuh di bawah pohon mangga.
"tidak. ambil saja jas dan sepatuku"
Deva langsung berdiri dan memanjat pagar lagi. keluar dari halaman. langsung menarik Gino yang terbengong melihat kelakuan Daddynya.
masuk kemobil dan cepat menjalankan mobil itu. dengan jengkel Jacko melirik Deva yang kesenangan menatap banyak mangga di tangannya.
seperti melihat permata yang indah bernilai jutaan dolar saja. Jacko melirik Gino yang ternganga melihat tingkah Deva.
"Gino. tolong, jangan tiru adegan tadi. itu hanya di lakukan oleh profesional. kau masih perlu bimbingan orang tua. mengerti Gino??!" ujar Jacko memperingatkan gino.
"iya paman. tapi.. woww... tadi itu Daddy so emajjjiiing!!!"
pekik Gino bertepuk tangan. senang melihat Daddynya seperti Spiderman.
"ya Tuhan!!"
__ADS_1
Jacko menepuk jidatnya 🤦🤦🤦🤦🤦