
Dinda datang. caera sudah menunggu karena Dinda meneleponnya tadi. Dinda langsung menyerbu masuk dengan heboh. membuat caera tercengang saking kagetnya.
"raaaaa... Rara..."
Dinda memeluk Caera erat. mengguncang-guncangkan tubuhnya ke kiri dan kanan dalam pelukan.
"aaa.. aduuhh.. diin.. kenapa sih kamuuu.. aduuh"
caera terguncang kesana kemari. kepalanya sampai pusing. tapi Dinda tidak peduli. bersorak kegirangan seperti baru dapat hadiah berlian dari Alfian suaminya.
"iihhh.. aku bahagia Ra.. hihihii... "
melepas pelukannya sejenak lalu memeluk lagi lebih erat. terlihat sangat gemas ingin meremukkan tulang belulang caera.
"iya.. iya.. kamu senang. tapi.. aduuhh.. lepas dulu Din!"
caera menghentakkan Dinda melepas pelukannya. begitu pelukan terlepas, caera megap-megap mengambil napas panjang dan menghempaskannya lega.
"haaahhh... aduh kamu Din.. kenapa sih? baru dapat hadiah dari Alfi?"
"hihihi.. tidak"
"terus? mau liburan ke Jepang?"
"tidak juga"
"terus? kamu kenapa sampai heboh begini?"
"hihihii... kamu ini ya. gak update banget. sini deh.. "
Dinda menarik tangan caera duduk di sofa. membuka gawainya dan menunjukkan pada caera judul sebuah berita gosip infotainment terkenal di negeri ini.
WOW... MENGGEMPARKAN!! DEVA KAMRAN ELLIOT MENGGANDENG PASANGANNYA MALAM INI.
begitu bunyi judul berita dengan tulisan tebal dan besar itu. bukan hanya judulnya yang membuat caera kaget. tapi foto yang di tampilkan di bawah judul itu yang membuat caera mendelik.
itu dia dan Deva. memeluk pinggang caera, dengan pose mesra Deva sedang berbisik di telinga caera dan tersenyum. sementara caera merapat ke dada Deva dengan tangan kiri memegang dada Deva dan tersenyum juga.
"tampan dan cantik ya Ra?" Dinda memandangi wajah caera dengan senyum lebar. tampak antusias sekali.
caera menoleh menatap Dinda. tak menyangka beritanya akan tersebar cepat dan meluas begini.
"aku tidak nyangka kamu jadi tranding topik hari ini di seluruh penjuru negeri Ra. hihihi.. "
astaga.. ada apa dengan Dinda dan ibu hari ini? mereka jadi suka tertawa mengikik.
"penjuru negeri bagaimana Din? kan cuma di internet gini"
"aduuhh.. kamu ini. sibuk benar mata mu cuma mengarah pada tuan Deva. apa kau tidak lihat berita infotainment hari ini? sudah heboh Ra" Dinda ngotot.
"masak sih?"
"di kuali!"
"apa?"
"aahh.. ayo sini deh. biar kamu lihat"
Dinda menarik tangan caera dengan paksa. membawanya keruang tengah. mendudukkan caera di sofa. lalu Dinda menyalakan televisi. langsung membuka siaran infotainment siang.
caera sungguh tercengang melihat berita heboh hari ini. topiknya hanya caera dan Deva. mengulik hidup Deva dengan kesendiriannya beberapa tahun terakhir.
Dinda mengganti chanel lain. dan sama. beritanya itu juga. caera sampai tak berkedip memandangi berita itu. tapi anehnya, berita tentang kehidupan caera hanya sedikit yang mereka ketahui. mereka hanya mengatakan caera adalah sekertaris Deva di kantor. selebihnya tidak ada.
ibu datang dari dapur. mendengar Dinda heboh, ibu jadi mau ikutan nimbrung. caera ingat tentang lamaran yang di katakan ibu tadi. merasa tidak enak hati kalau sampai ibu tahu berita ini. ibu bisa sedih karena menganggap caera berbohong.
caera langsung merampas remote televisi dan mematikannya. Dinda sampai melotot padanya. tapi caera tidak peduli.
"ada berita apa sih Din?"
ibu melongok melihat televisi. tapi sudah di matikan caera.
__ADS_1
"itu bi, caera.. uummpphh!"
caera menutup mulut Dinda. lalu menatap ibu dengan nyengir kuda.
"hhhh... tidak ada Bu. Dinda cuma bilang ada barang bagus di aplikasi online"
caera menoleh pada Dinda. memelototi Dinda agar mau tututp mulut.
"ohh.. barang apa? cincin kawin?"
Dinda menarik tangan caera dari mulutnya. caera menatap mengancam pada Dinda.
"eehh.. bukan Bu"
"terus apa Ra?"
"baju Bu"
"ah, ibu kirain apa tadi" Rani pergi ke dapur lagi.
caera menarik napas lega. ibu tidak menanyakan lebih lanjut.
"kenapa sih Ra?"
"jangan beritahu ibu Din"
"iya. tapi kenapa?"
"aku tidak enak kalau ibu tahu tentang ini"
"ck.. tapi kenapa? bukannya lebih bagus kalau ibu tahu?"
caera menghela napas. lalu menarik tangan Dinda lagi menuju keluar rumah. duduk di bawah pohon mangga favorit mereka. agar ibu tidak mendengar pembicaraan mereka.
"ada apa sih Ra? aneh deh kamu" Dinda mengerutkan keningnya.
"aku tidak enak kalau ibu tahu tentang Deva Din"
"aduuhh... yang jelas deh kamu Ra. tidak enak kenapa?"
"apa?!"
Dinda melotot. caera cepat menutup mulut Dinda lagi. kesal suara Dinda kencang begitu.
"iiissh.. pelan-pelan dong Din. nanti ibu dengar"
Dinda menarik tangan caera dari mulutnya dengan tidak sabar.
"tapi sama siapa Ra?"
"kan aku sudah bilang tadi. aku tidak tahu dan tidak kenal"
"tapi aneh deh. kenapa bibi jadi begitu? biasanya bibi pasti tanya kamu dulu"
"itu yang aku heran Din. apalagi laki-laki itu anak temannya ibu lagi"
Dinda diam. berpikir sejenak.
"naaaahhh.."
"apa sih? bikin kaget kamu ihh!"
caera melotot kaget Dinda tiba-tiba nyeletuk.
"kan lebih baik kamu berterus terang sama bibi tentang Deva. jadi bibi tahu kamu sudah sama Deva, Ra"
lagi-lagi caera menghela napas berat.
"kamu tidak lihat gimana wajah ibu tadi. ibu bahagia banget Din. aku tidak tega ibu kecewa"
"terus, gimana dong?"
__ADS_1
caera menggeleng lemah. tidak tahu apa yang harus dia lakukan. ibunya sudah menyetujui lagi. kalau dia cerita sudah ada Deva di hatinya, apa ibu tidak kecewa dan marah?
tapi itu sungguh bukan sifat ibunya. kenapa sekarang ibu memaksakan kehendaknya pada caera? apa karena ibu mau suaminya nanti adalah pilihannya? karena dia sudah tidak percaya pilihan caera lagi?
"aku harus gimana Din?"
"kalau menurut ku sih, kamu terus terang saja sama bibi Ra. tuan Deva baik kok. kaya juga. malah pekerjaannya lebih dari bagus. bonusnya tampan"
"aku takut ibu kecewa. ini bukan bicara perkenalan. tapi sudah lamaran. aku bingung"
"kamu bilang sama Deva. datang menghadap bibi sama paman. tapi kamu yang bawa Deva"
caera menoleh. menatap Dinda.
"kenapa kamu tidak ngerti sih Din? aku sama Deva itu baru beberapa hari. gimana aku bisa memaksanya menghadap ibu? gila apa?! kayak gatel banget kesannya aku, Din"
Dinda tersenyum geli.
"kalau begitu, ya terima saja lah Ra, lamaran itu"
"aduuhh... pusing aku!"
caera menggeplak kepalanya sendiri. kenapa masalahnya jadi ruwet begini? dia dan Dave masih seumur toge baru tumbuh. masak iya dia minta Deva menghadap ibunya?
deeeevvv... tolong akuuu 😣😣😣😣
****
"aku mau nanti dekornya yang ini. jangan beri tempat duduk di sebelah sini. minta acara launching nya di sempurnakan lebih dulu"
Deva menunjuk beberapa gambar di meja kerjanya. Jacko memperhatikan dengan seksama.
"kau mau dia di sebelah mana bos?"
"dia harus duduk di bagian tengah. orang-orang mu harus berjaga ketat di sekelilingnya"
"hmmm.. baik lah" Jacko manggut-manggut.
"bagaimana pesanan ku? kau sudah memastikan itu?"
"sudah. aku menyimpannya dengan baik"
"dan kau? bagaimana?"
Jacko mendongak menatap Deva.
"aku?" Jacko menunjuk dadanya sendiri. "kenapa aku?"
" kapan kau menerima lamaran bibi"
wajah Jacko berubah datar. tidak senang mendengar Deva menanyakan itu.
"bisakah kau tidak membicarakan itu Dev?"
"bibi menelepon ku. meminta mu pulang dan menikah"
"katakan saja. aku masih terlalu kecil untuk menikah" jawab Jacko cuek.
"hhh... kau masih ingusan dan bau kencur? begitu?" Deva tertawa mengejek.
"ibu tidak suka kencur Dev"
"kau harus memikirkan itu. aku rasa, Neneng gadis yang baik"
"haaaduuhhh.. mendengar namanya saja aku ngeri" Jacko mengusap wajahnya gusar.
"kita bisa ganti namanya Jack"
"apa?"
"Doni"
__ADS_1
"f**k you!"
"hahaahaaaa"