
readerrsss... kita panas-panasan lagi yaaaakk.. siap siap sesi bulan madu segera berakhir ๐ฅฐ๐ฅฐ๐๐
yang gak kuat panas, skip aja....
banyak baraaaahhh membakhhhhaarrr...
๐ก๏ธ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐ฅ๐๐๐๐๐โ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโ๏ธโกโกโกโกโก
warna oranye bersemburat jingga mendominasi di langit barat cakrawala. memendarkan syahdu temaram yang menyambut kelam malam yang siap menjelma. senja sebentar lagi akan berganti temaram langit di penuhi kerlip kejora.
menghadirkan rasa sejuk memikat dari alam. menggantikan terik mentari siang tadi. kenikmatan alam ini tak di sia-siakan Deva dan caera. duduk berdua menyaksikan tenggelamnya mentari senja.
menampilkan siluet diri di garis hitam langit temaram. saling merengkuh kasih yang selalu terpatri di hati masing-masing.
Richard dan Dira tidak terlihat. dan Deva juga sudah tidak membiarkan caera keluar lagi. besok rencananya mereka sudah akan pulang. jadi Deva ingin menghabiskan waktu dengan istrinya sepuas-puasnya.
"ini sangat indah Dev" ujar caera lirih.
Deva memeluk istrinya dan bersama menatap tenggelamnya sang Surya.
"ya. indah sayang. tapi itu karena aku melihatnya bersama mu sayang"
caera mendongak. melihat wajah tampan suaminya di temaran cahaya.
"jangan pernah meninggalkan ku Dev"
"tidak akan sayang. kita hanya akan terpisah oleh maut"
"sssttt" caera menutup bibir Deva dengan jarinya. "jangan bilang begitu" lirihnya.
Deva tersenyum. mengecup jari caera yang ada di bibirnya.
"aku cinta kamu Dev"
"i love you more caera"
saling menyatukan bibir mereka. mema gut dalam rasa cinta. di saksikan alam dan tenggelamnya Cakrawala.
(ada yang pernah ngerasain ini gak sih? ๐ฃ otor ngiriiii... kanannya buntu๐)
claaapppp!!!
lampu menyala terang. menghiasi sekeliling tempat Deva dan caera sekarang. lampu taman yang dekat kolam renang. redup-redup berpendar.
Deva merenggangkan pelukannya. melihat air kolam yang memantulkan cahaya bohlam di sekeliling taman.
"sayang, ayo kita berenang" ajak Deva.
"tidak Dev. dingin" caera menolak.
"tidak. nanti hangat" bujuk Deva.
"gimana hangat Dev? ini lagi dingin udaranya"
"hehe.. hangat sayang. ayolah"
Deva menarik tangan caera. membujuk untuk caera berenang bersamanya. dengan berat hati caera mengikuti langkah Deva.
sampai di tepi kolam, Deva langsung membuka semua pakaiannya. hanya tinggal dala man saja.
byuuurrr...
langsung mencebur ke kolam. caera masih diam saja memperhatikan. enggan sekali rasanya berenang di jam seperti ini. apalagi angin sepoi-sepoi menyapu dengan lembut. kalau kena air pasti semakin terasa dingin.
Deva timbul di permukaan, mengusap wajahnya lalu menatap caera. menggerakkan tangannya mengajak caera masuk ke air.
tak ingin mengecewakan suaminya, pelan-pelan caera membuka satu persatu pakaiannya. Deva terpaku memandangi istrinya.
di terangi cahanya redup, caera terlihat bergerak seperti Dewi kayangan. dengan rambut panjang yang tergerai tertimpa cahaya lampu, membuatnya seaakan menghasilkan cahaya berpendar dari tubuhnya yang indah.
berdiri di sisi kolam renang dengan menyilangkan sebelah tangannya di dada. menepis rasa dingin yang menyapu kulitnya. tubuh polos yang hanya di tutup bikini mungil, membuat semakin indah di mata Deva.
Deva begerak berenang mendekati caera. mengulurkan tangannya untuk membawa caera masuk ke air.
caera menyambut tangan Deva dan bergerak lebih ke sisi kolam. turun ke bawah dari tangga. bergidik karena dingin yang menyerang kakinya.
"Dev, diinngiinn.. hiih.." ujar caera bergetar.
Deva hanya tersenyum. lebih menarik tangan istrinya untuk lebih masuk. begitu caera masuk ke kolam, langsung saja di tangkap Deva. memeluk tubuh ramping istrinya.
"aduuh.. sayang. dingin banget ini" keluh caera.
"tetaplah memeluk ku. kau akan tetap merasa hangat"
caera memeluk leher Deva erat. malas untuk berenang sendiri. Deva melingkarkan tangannya di pinggang caera. membawa istrinya ke tengah kolam.
"hangat kan sayang? hmm?"
caera mengengguk. memeluk Deva. merapatkan tubuhnya. Deva membalas memeluk caera. mengecupi telinga caera.
"Dev, geli" caera mengedikkan kepalanya.
__ADS_1
Deva tertawa. lalu mengecupi pipi istrinya.
"kalau bibirnya tidak geli kan sayang?"
"kalau itu sih memang hobi mu deeev" caera mencubit pipi Deva.
"hahaa.." gelak Deva. "sayang, coba deh aku lihat. itu di lidah kamu ada tahi lalatnya ya?"
"ah apa iya? aku gak pernah lihat Dev" caera mengernyitkan alisnya.
"iya.. itu sayang. di ujung dan di samping. coba kamu keluarkan"
Deva menatapi mulut caera serius. membuat caera yakin melihat mimik wajah Deva. dengan patuh, caera menjulurkan lidahnya sedikit.
"emm"
"yaaahh.. cuma sedikit ya tidak nampak dong sayang yang di samping. coba keluarin yang banyak" bujuk Deva.
"eeeeng"
caera menjulurkan lidah seluruhnya. ikut melirik ke arah ujung lidah di depannya. menggerak-gerakkan lidahnya agar terlihat tahi lalat di sana.
"jangan bergerak dulu sayang. biar aku periksa"
Deva menyuruh caera diam tidak menggerakkan lidahnya. dia mendekatkan wajahnya dan memeriksa lidah caera. sedikit menyentuh lidah itu.
"aaana eenyak eh?
caera bertanya dengan lidah yang terjulur. membuat vokalnya menjadi tidak jelas. tapi Deva bisa mengerti apa yang di tanyakan caera. "ada tidak sih?"
"sebentar sayang. sepertinya tadi aku lihat di sini"
dengan serius, Deva lebih mendekatkan wajahnya lagi. tapi bukannya mencari, kini malah menge mut lidah itu. menye sap nya lembut.
"eemmpp"
caera kaget. dasar usil, Deva hanya ingin menikmati lidahnya. tapi pakai drama segala.
tak puas hanya menyesap, Deva malah menelusup masuk dan bermain di rongga mulut caera. kepalang basah, caera juga menyambutnya.
saling membelit menari dengan suara decak Saliva yang basah. Deva sangat lihai membuat istrinya menyerah. mengabsen setiap inci bibir dan dalam mulutnya.
rasa dingin tak di hiraukan lagi. yang ada air itu menjadi terasa hangat. berpelukan erat. caera melingkarkan kakinya di pinggang Deva. dengan nakal, Deva menaik turunkan pan tat caera. menggesek bagian batang ular naga.
caera melepaskan pa gu Tan mereka. dengan napas tersengal caera menatap mata Deva.
"itu sudah bangun Dev?" lirihnya.
Deva tersenyum. caera mencubit dada Deva. licin. tidak bisa di cubit. Deva malah gantian mencubit ujung dada caera yang masih tertutup dengan kain mungil itu.
"aduh" caera terjengkit.
"enak sayang?"
"kaget"
"tapi enak kan?"
"he'em"
caera mengangguk malu. Deva semakin senang ketika istrinya malu-malu tapi ketagihan. melepas ikatan tali kecil di belakang punggung caera.
"Dev, jangan"
"hmm? kenapa sayang?" tanya Deva dengan suara berat.
"nanti ada yang datang"
"tidak ada sayang. kalaupun ada, biar mereka lihat bagaimana istri ku mendesah karena enak"
"gila kamu"
caera memukul pelan pundak Deva. suami jahilnya ini hanya tertawa senang.
Deva memi Lin ujung pinky yang kini tegak karena sentuhan tangannya. caera menggeram menatap sayu wajah Deva.
"kamu suka sayang? hmm?"
caera malu. tidak menjawab. hanya mendusalkan wajahnya di ceruk leher Deva.
"Ra, kua selalu membuat naga ku tegak berdiri"
bisik Deva di telinga istrinya. seraya menggeser bikini mungil di bawah caera. caera menegakkan kepalanya. menatap Deva dengan mata yang terbuka lebar.
tapi Deva tidak peduli. menurunkan dala Mannya juga lepas dan membiarkan mengambang di permukaan air. caera melihat itu dengan kaget. Deva sudah polos.
Deva menggesek naganya ke bibir inti caera. menggeram dengan napas memburu. mendorong sedikit membuat caera makin mendelik.
"jaangaan di.. di sini Dev..aaawwhh"
terlambat. naga itu sudah melesak ke dalam. membuat caera mendongak merasakan sesak di bagian bawahnya.
__ADS_1
Deva diam tidak bergerak. membiarkan inti caera terbiasa mendapatkan serangan tiba-tiba.
caera menatap mata Deva. menggigit bibir bawahnya. tatapannya sayu mendayu. dan Deva mulai bergerak pelan-pelan sekali. membuat caera mengerutkan alisnya merasakan sensasi nikmat tiada Tara.
"ehhhhggg... deeeevvv" lenguh caera.
"hmmm?"
Deva tetap bergerak lambat. memegangi bo Kong istrinya. menggerakkan maju mundur. caera makin menggeliat.
"apa sayang? hmm?" tanya Deva lagi.
"aaduuuhh deevv.."
caera melengkungkan badannya. dadanya yang bulat nan berisi itu jadi terlihat dari permukaan air. membuat bi rahi Deva makin melonjak kuat.
"ya sayang? kenapa? hmm? enak?"
tanya Deva masih memaju mundurkan pan tat caera pelan. lalu menghujaninya keras.
"aaahhhh... devaaa.."
pekik caera meringis. mermas rambut belakang Deva dengan tangan bergetar.
"enak Ra? kau suka begini?"
"aaahhaggg... Dev..aaahh"
napas caera tersendat-sendat. merasakan nikmat Hujaman Deva.
"katakan sayang.. uuhhh... sshh.. kau suka sayang?"
caera mengangguk mengiyakan. menggigit bibir bawahnya gemas. saling menatap sayu satu sama lain. bergerak perlahan yang memberi sensasi sempit yang menjepit. Deva menghentak lagi dengan keras.
"oowwwhh.. deevv.. ituu.. aaduuuhh.."
"sakit sayang?"
"ituu.. eeennnaaahhhkkk..ssshhhh"
caera mengejang. memeluk leher Deva erat. tubuhnya menyentak-nyentak merasakan pelepasannya.
Deva tersenyum. senang istrinya puas.
,"hmmm.. kau berdenyut sayang"
Deva membiarkan sejenak. naganya masih di dalam mengegang kencang. memilin ujung dada caera gemas.
"mau lagi Ra?"
"uuhh.. tunggu Dev.." caera mendorong dada Deva. ingin menyudahi. " pause dulu"
"hahahaa.." Deva tergelak.
tapi tak menghiraukan caera yang menolaknya. Deva membalikkan tubuh caera. menghadap ke dinding kolam. caera berpegangan di sisi kolam. dan Deva menarik pinggul caera.
menempatkan sempurna. lalu mendorong masuk seutuhnya.
"aaahhhh..."
caera mele nguh mendongakkan kepalanya. sensasi kali ini lain lagi. rasanya makin menggelitik dan tak dapat di cegah lagi.
"hhmmmhgg.. kau selalu membuat ku gila sayang. aahhkm.. ini nikmat sekali.."
geram Deva. memulai ritme yang di inginkannya. menghujam maju mundur dengan hentakan nyata.
mata caera merem melek. Hujaman itu membuat sesak sampai ke perutnya. meraih kepala Deva di belakangnya. berpegangan erat di sana.
tubuhnya jadi melenting ke depan. membuat dada indah itu bergoyang beraturan sesuai ritme hentakan Deva di belakangnya.
Deva meraih ujung pinky itu dan me mi Lin lembut. menarik-narik pelan sampai caera kelojotan.
kecipak air kolam karena gerakan keduanya menambah kesan menggoda. rinti Han dan Leng uhan mereka berpadu dengan era Ngan memabukkan mendengarnya.
"ayo sayang.. aahh.. sshh.. ini nikmat sekali.. oowjj.. raaaa.. istri kuuhh.. ayo sayaaaahhng"
Deva menghujam lebih dalam. caera merasakan denyutan naga itu yang batangnya makin menggembung panas.
"ddeeehhvvv... akuuu.. mauu"
"yyaahh sayang.. ayo.. aaaahhhhggg"
memekik dan menggeram keduanya mengejang nik mat. Deva meraih bibir caera dan me lu matnya mesra. tiada hari tanpa panas yang menggelora. tiada hari tanpa ramuan obat yang di beri ziana.
harus! harus!! haaruusss!!
biarlah readers juga ikut merasakan panasnya cinta Dedev dan Rara.
paaannaaahhsss...
๐คค๐คค๐คค๐คค๐คค eesss eesss ssshhh.. otossss butuuhh eesss
__ADS_1