
❤️Di mansion.
Caera bersama ibu mertuanya, duduk memeriksa barang yang baru di antar orang-orangnya Jacko. Baju baby lagi. pasti itu kerjaan Deva.
Tapi dengan senang hati Caera dan Soraya memeriksa. Dira juga ikut bergabung.
"Ra, nanti ibunya Jacko sampai" ujar Soraya.
"iya, Bu"
"Tadi ibu sudah suruh pak Dirman menjemput"
"bibi sendirian Bu?"
"Tidak. Dia datang sama Neneng"
"Neneng? siapa Neneng, Bu?" tanya Caera merasa asing dengan nama Neneng.
"iya, Neneng. Yang mengurus ibunya Jacko selama ini"
"Oohh.. begitu"
"Tapi kamu jangan bilang dulu sama mereka berdua ya.. Ibu merahasiakan dari Jacko"
"Tapi, kenapa Bu?" tanya Caera lagi.
"Jacko tidak pernah mau kalau di suruh pulang. Alasannya sibuk terus. heheee... sekalian ibu suruh ibunya Jacko tinggal di sini saja. Biar tahu rasa itu si black"
"hihihi.."
Caera terkikik melihat keusilan ibu mertuanya. Dira hanya tersenyum mendengar itu. Ia tahu Neneng. dulu Dira pernah bertemu dengannya sekali. Dan dia tahu, kalau Jacko sangat menghindari bertemu Neneng.
"Ini.... kenapa Deva lama sekali pulang?" tanya Soraya sembari melirik jam.
"Tuan Deva dan tuan Jacko lagi cari ubi jalar nyonya" jawab Dira.
"Mereka cari dimana ya? kok sampai sore begini belum pulang?"
"Tidak tahu Bu. Sampai rasa ngidam Rara sudah hilang" keluh Caera.
"Mungkin sebentar lagi pulang nona" Dira mencoba menenangkan Caera.
Tin.. tin..
Suara klakson mobil di depan mansion. Soraya menyuruh pelayan untuk melihatnya.
"Nyonya Meta, sudah datang nyonya" pelayang memberi tahu.
"Aahhh.. akhirnya dia sampai juga"
Soraya langsung menuju ke depan mansion. terlihat wanita setengah baya yang masih kelihatan cantik, duduk di kursi roda datang dengan seorang gadis di belakangnya. gadis dengan wajah lugu dengan mata berbinar cerah. tampak sekali gadis itu seorang yang periang dan lincah.
"Metaaaa... sudah lama aku merindukan mu" Seru Soraya memeluk Meta.
"Kau terlihat lebih cantik Nyonya" Meta membalas memeluk Soraya.
Lalu Soraya melihat ke arah gadis di belakang Meta. tersenyum padanya. gadis itu tampak tersipu malu dengan wajah imutnya.
"Kau makin cantik Neneng"
Soraya memeluk Neneng. Dengan senang hati Neneng membalas pelukan Soraya.
"Ayo masuk. Kau harus bertemu menantu ku"
Soraya mempersilahkan Meta dan Neneng masuk. Caera berdiri dan menyambut ibunya Jacko.
Meta tersenyum menatap Caera.
"Menantu mu cantik sekali nyonya" ujar meta..
"ya, dong. Siapa dulu mertuanya" jawab Soraya.
Caera memeluk Meta.
"Apa kabar bibi?"
"Seperti yang kau lihat nona. Jacko tidak pernah mengurus ku" ujar Meta dengan wajah di buat sedih.
"Tuan asisten hanya sibuk, bibi"
Meta tersenyum. Dan caera melihat ke arah Neneng. Gadis itu langsung mendekat kepadanya. menjabat tangan Caera erat.
"Nona Caera, kau cantik sekali" ujarnya berbinar.
"terimakasi... siapa nama mu?"
"Aku Neneng, nona"
"Aahh.. ya. Terima kasih Neneng. Kau juga manis sekali"
"Boleh aku memeluk mu, nona?" tanya Neneng berharap.
"haha.. tentu saja"
__ADS_1
Neneng memeluk Caera erat. sampai Meta menariknya. agar tidak menggencet perut buncit Caera.
Mereka tertawa melihat tingkah Neneng yang terlihat lebih agresif. gadis lugu yang periang.
"Nyonya, itu aku bawakan ubi jalar dari kampung. kebetulan tetangga ku sedang panen. Nyonya bilang menantu mu sedang ngidam ubi" ujar Meta menunjuk karung kecil di depan pintu.
"Waaahh.. kau selalu perhatian Meta. terimakasih ya"
"Ibu, aku mau ubi itu" ujar Caera berbinar melihat ubi jalar yang di buka Neneng dari dalam karung.
"Baiklah. Biar Meri yang mengolahnya" ujar Soraya.
Pelayan membawa semua barang bawaan Meta ke dalam. sementara mereka duduk mengobrol di ruang depan.
"Kemana pria-pria usil itu? aku tidak melihatnya?" tanya Meta.
"Biasalah.. mereka sedang kerja bakti" jawab Soraya.
"Kerja bakti? dimana?" Meta heran.
"Hahaa.. biarkan mereka sibuk mencari ubi. padahal kau sudah membawanya Meta" Soraya tergelak.
"Aaahh.. biarkan saja mereka"
Meta tampak tak peduli lagi. mereka mengobrol santai dengan candaan. sampai Meri menghidangkan cake yang berbahan dasar ubi yang di bawa Meta tadi.
Caera langsung berbinar melihat cake yang kelihatan menggoda selera.
"eemmm.. ini enak sekali. terima kasih Meri"
"itu hanya untuk mu nona muda" Meri tersenyum senang.
Caera menyantap cake buatan Meri dengan lahap. kelihatan sangat suka. tadinya dia ingin ubi itu hanya di goreng polos. tapi begitu melihat cake buatan Meri, Caera sangat menyukainya.
""nona Caera, aku juga bisa memasak" celetuk Neneng.
"Oh ya?"
"Iya nona. nanti aku akan memasak untuk mu" ujarnya ceria.
"terimakasih Neneng. aku akan sangat suka itu" Caera tersenyum pada Neneng.
"dan aku juga akan masak untuk yayang" sambung Neneng tersipu.
"yayang?" Caera merasa heran. "Siapa yayang?"
"Jacko. dia memanggilnya yayang" jawab Soraya.
gadis itu tersipu malu. pipinya bersemu merah. Caera sangat menyukai itu. ada seorang gadis yang sangat mengidolakan tuan asisten yang kaku itu.
Dira juga terkikik geli. dia sangat tahu kalau Neneng menyukai Jacko. tapi Jacko selalu menghindar.
tin.. tin.. tiiinn...
klakson mobil menggema di depan mansion. membuat mereka berhenti ngobrol dan melongok ke depan.
"hmmm.. pasti itu mereka" ujar Soraya.
"Sayaaaang... Raraaaa... "
terdengar suara Deva kencang memanggil istrinya. Caera bangkit berdiri dan berjalan ke arah pintu.
tapi begitu kagetnya dia melihat penampilan Deva. dan Jacko menyusul di belakangnya.
"deeevv.. ada apa dengan mu?!" Caera melotot melihat mereka berdua.
dengan bangga Deva merentangkan tangannya, karena sudah berhasil membawa pulang ubi jalar permintaan istrinya. ingin memeluk Caera. tapi cepat-cepat dia menghindar.
keadaan Deva dan Jacko terlihat sungguh mengenaskan. bajunya penuh lumpur. tangan dan kakinya sangat kotor. apalagi Jacko, dari kepala sampai kaki semua lumpur. dia memangguk sekarung ubi di pundaknya.
"Sayang.. ayo peluk aku" ujar Deva mendekat.
"tidak Dev. kau sangat kotor"
Caera menghindar masuk ke dalam. Deva mengikuti. tapi begitu melihat Meta dan Neneng, Deva berhenti. tersenyum lebar lalu menghambur memeluk Meta.
"bibiii.. kau datang? kenapa tidak menelpon ku dulu?"
"kau sama saja dengan teman mu itu" jawab Meta cemberut.
Deva memeluk Meta erat. dan Jacko, setelah meletakkan karung yang berisi ubi di depan pintu, ia berhenti terpaku di depan pintu. menegang melihat ibunya dan Neneng sudah ada di mansion.
mata Neneng langsung berbinar lebih cerah. melihat ke arah Jacko seperti macan yang ingin memangsa. sampai Jacko ngeri melihatnya. dia bergerak ingin berbalik dan kabur.
tapi sebelum itu terjadi, Meta berseru kencang memanggilnya.
"Jackooo... "
deg!
Jacko tercekat. berhenti bergerak ingin kabur. pelan-pelan menoleh kebelakang dan nyengir lebar melihat wajah marah ibunya.
"kemari kau!"
__ADS_1
Meta menggerakkan jari telunjuknya menyuruh Jacko mendekat.
MAMPUS!!! Habislah sudah! hilang harga dirinya di depan Caera dan Dira. kedua macam betina dari kampung sudah datang menyerbunya.
dengan kepala tertunduk, Jacko datang mendekat ke arah ibunya. Caera sampai ternganga mulutnya melihat itu. baru kali ini dia melihat Jacko tertunduk lesu.
wow pria robot ini seketika lunak di depan bibi meta. astaga! baru kali ini aku melihat pemandangan yang luar biasa!!
hati Caera menjerit senang. takjub melihat Jacko lumer dan tidak lagi menunjukkan sikap kaku yang terlihat keras.
"ibu" Jacko menyalami tangan ibunya.
tapi tidak dengan Meta. dia langsung menjewer telinga Jacko kencang.
"kau sudah bohong pada ibu. kau tidak pernah mau pulang. kau tidak membawa ibu ketika tuan Deva menikah! kenapa kau jahat sekali?!" bentak Meta.
"aaww.. aduh Bu.. sakit.. lepaskan Buu"
Jacko meringis kesakitan. memegangi telinganya yang kena jewer ibunya. melihat itu, Caera seakan melihat pemandangan yang menakjubkan. tak percaya Jacko merasakan sakit di jewer ibunya. padahal sewaktu Caera menginjak kakinya di kantor waktu itu, Jacko tidak bergeming.
lain lagi dengan Neneng. gadis itu semakin tersenyum senang. ia rindu melihat ini. yayang jackonya seperti kucing penurut. Deva dan Soraya tergelak melihat itu. sementara Dira terkikik di tahan. Meta melepaskan jewerannya.
"maafkan aku Bu. aku sangat sibuk" ujar Jacko sambil mengusap telinganya.
"alasan!" Meta cemberut.
"tidak Bu. itu benar. tanyalah Deva" Jacko menunjuk Deva. mencari perlindungan.
"tidak bibi. dia bohong" ujar Deva.
jangkel Jacko melotot pada Deva. Deva makin tergelak melihat wajah marah jacko.
"awas kau kalau bohong lagi?" ancam Meta.
"iya Bu" Jacko mengalah.
"yayang"
tiba-tiba Neneng nyeletuk. membuat semua orang langsung melihat kearahnya. Jacko mendelik melihat Neneng yang tersenyum lebar menampilkan wajah polos yang tidak berdosa.
"Jack, di panggil calon istri itu" Deva menyenggol tangan Jacko.
"brengsek kau!" maki Jacko tertahan.
"yayang ngejack kenapa kotor?" tanya Neneng lagi.
dengan wajah marah, Jacko melihat Neneng. sangat jengah bertemu dengan gadis agresif ini.
"heh.. bisa tidak memanggil ku dengan benar? jaaacckooo.. tidak pakai ngeeee!!" bentak Jacko.
Neneng mendekat pada Jacko. membuat Jacko berjengkit kaget. tapi Neneng tidak peduli. tetap saja mendekat dan memegang lengan jacko.
"buat Neneng mah.. tetep aja yayang ngejack. bukan yang lain" ujar Neneng malu-malu sambil mencubit kecil lengan Jacko.
"hhhheee.. awas! jangan pegang-pegang!" sentak Jacko menghempaskan lengannya.
semua orang jadi tertawa melihat tingkah mereka berdua.
"hey.. kalian berdua. kenapa sangat kotor begini? baru dari sawah?" tanya Soraya.
"aahh.. ini Bu. Deva cari ubi. dan berhasil"
Deva beranjak mendekati karung yang berisi ubi jalar. mengambil ubinya, dan mengacungkan ubi itu dengan rasa bangga.
"ini untuk mu sayang" ujar Deva. menyerahkan ubi yang masih banyak tanahnya.
"tapi Dev.." Caera tidak tega mengatakannya.
"apa sayang?" Deva menatap istrinya dengan heran. "Bukannya kamu minta ubi?"
Caera menatap semua orang dengan kikuk. tidak enak hati pada Deva dan Jacko yang sudah bersusah payah mencari ubi sampai penuh lumpur.
"tadi bibi Meta bawa ubi sayang. jadi aku sudah makan"
"apa??!!"
serempak kedua pria itu terlonjak kaget. apalagi Jacko. melotot ngeri mendengar itu.
"maaf sayang. aku sudah tidak selera lagi"
"hhhhhhh...."
keduanya lunglai. terduduk lesu di lantai. para wanita hanya terkikik geli.
"Dev, ini hari yang sangat berat bagi ku. bahkan sangat buruk" ujar Jacko lemah.
"benar Jack. aku lemas sekarang" jawab Deva.
"sudah panen ubi, pulang malah bertemu macan agresif, jatuh harga diri ku Dev. aku selalu kalah sama emak-emak" ujar Jacko lirih.
"kita harus bersabar Jack. ini ujian"
😌😌😌😌😌
__ADS_1