DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 54


__ADS_3

"sariiiiii..."


dorr.. doorrr.. doorrr...


gedoran pintu itu begitu keras. sampai menggetarkan kaca jendela nako di sampingnya.


Maya tampak geram membangunkan sari, pembantu di rumah anaknya ini.


"heeehh... bangun kamu! sudah mati kau rupanya di dalam! saaariii...!!"


doorr.. doorrr.. doorrr...


nyaring suara itu melengking. wanita berumur lima puluh lima tahun itu sangat jengkel karena belum ada jawaban dari dalam. dari semalam sore sari bilang tidak enak badan, masak sampai pagi ini tidak keluar kamar.


geccrreekk.. geccrreekk...


Maya menaik turunkan handel pintu agar terbuka. tapi pintu itu terkunci. ia mengintip dari lubang kunci ke dalam kamar. kunci pintu tidak ada di lubangnya. itu berarti kuncinya di lepas. tapi tetap saja ia belum bisa melihat ke dalam dari lubang kunci itu.


bergegas ia masuk lagi ke dalam rumah dari arah dapur. karena kamar pembantu terpisah dari rumah induk.


mengambil kunci cadangan yang ada di laci lemari ruang tengah. setelah menemukan kunci, ia kembali lagi ke sana.


membuka dengan terburu-buru pintu kamar itu. tapi begitu di buka, ia sangat terkejut karena sari tidak ada di dalam kamar. kamar itu kosong.


ia bergerak ke lemari pakaian di sebelah ranjang. membukanya kasar. dan benar saja perkiraannya. lemari itu sudah kosong melompong. tidak ada sehelai kain pun di sana.


"brengsek! pembantu sialan itu kabur rupanya"


Maya menggeram marah. sari sudah berani kabur tanpa permisi. Maya keluar dari kamar itu dengan marah yang memuncak. melangkah lebar-lebar menaiki lantai atas.


tookk.. tookk.. tookk ..


"vivi... buka pintunya!!"


teriaknya melengking.


wanita dengan gaya rambut bouffant yang bervolume itu menunggu pintu kamar terbuka.


dengan malas dan mata masih terpejam setengah, Vivi muncul di ambang pintu. terlihat dia baru bangun tidur karena terganggu suara keras ketukan pintu.


"ada apa sih bu?"


"heh, kamu tidak lihat itu pembantu mu sudah kabur?"


ujar Maya judes.


"kabur kemana sih? mana berani dia minggat"


tanya Vivi malas seraya mengelus perut buncitnya.


"e..ee..eeee.. kamu gak percaya? lihat sana sendiri!"


"alah biarin lah Bu. kita cari babu lain. susah amat"


Vivi cuek saja.


"eeehhh... kamu ini ya. nanti kalau Arya tanya gimana? trus kalau sampai sari mengadu yang tidak-tidak, gimana kamu?"


"ya, bilang aja dia yang kabur sendiri. bila perlu bilang dia curi sesuatu, gitu"


Vivi masuk lagi ke kamarnya. Maya mengikutinya masuk. masih jengkel dengan sikap Vivi yang tidak mau tahu.


"Vivi! kamu itu terlalu tidak mengurus rumah tangga mu. gimana Arya mau betah di rumah kalau sikap mu begini?"


"Bu, aku di bayar bukan untuk jadi babu! kan ada yang kerja. jadi ngapain aku harus ngurus segalanya?"


Vivi duduk di tepi ranjang dengan santai.


"heeehh... kamu itu hamil. jangan terlalu malas. nanti cucu ku itu jadi tidak sehat"

__ADS_1


Maya bicara sambil menuding-nuding perut Vivi yang sudah terlihat membuncit.


"alaaahh... sehat tidak sehat yang penting bayi. ibu kan maunya cuma bayi. bukan bayi yang sehat atau apalah itu"


Vivi melengos. sangat malas menanggapi ibu mertuanya ini.


"aduuuuhh... denger kamu ya. awas kalau sampai bayi itu tidak sehat atau terjadi apa-apa. aku tidak akan membayar mu sepeserpun!"


Maya meradang.


Vivi memutar bola matanya malas. membuang pandanganya ke samping. muak mendengar ibu mertuanya itu kalau sudah mengoceh dengan judes.


"mana Arya?"


"dia tidak pulang lagi"


"kenapa kamu tidak menyuruhnya pulang?"


"dia itu malas dengan ocehan ibu. makanya dia sering tidak pulang"


"eeeee... langcang benar mulut mu ya. kamu itu sebenarnya cinta atau tidak sih sama Arya? kalau sampai dia kembali sama wanita mandul itu lagi, gimana kamu?"


Vivi terdiam. memikirkan apa yang di katakan Maya barusan.


"aku masih bisa menghalanginya sejauh ini. kamu harus buat Arya betah di rumah"


Maya memberi peringatan.


"bukannya ibu juga suka Arya tidak di rumah? biar teman-teman ibu juga bebas datang kan?"


ujar Vivi sarkas.


"heh, itu bukan urusan kamu. kerjakan saja tugas mu dengan benar"


Maya pergi keluar dari kamar. sementara Vivi menatap benci pada ibu mertuanya itu.


"cerewet!"


****


awal hari ini caera sedikit kerepotan dengan Gino. bocah itu merengek minta caera yang mengantar ke sekolah. menangis dan merajuk tidak mau Bima yang mengantarnya.


untung saja ada sari yang membujuk, kalau bik Sari juga ikut ke sekolah dan akan menungguinya sampai jam pulang sekolah. bocah itu menurut walaupun masih dengan segala drama meminta caera menyuapinya sarapan.


caera terlambat sampai ke kantor. belum lagi kesal dengan kemacetan di jalan. pasti Deva dan Jacko sudah lebih dulu datang.


dengan terburu-buru caera masuk ke dalam lift. sampai dia tidak menyadari ada seseorang yang akan keluar dari lift.


brruugghh...


"aawwwhh"


mereka berdua bertabrakan. jatuh bertumpuk di dalam lift. caera menindih tubuh besar itu, karena kehilangan keseimbangan tubuhnya.


"aaduuuhh"


lelaki itu meringis kesakitan memegangi kepalanya. kepala itu terantuk dinding lift dengan keras.


"eh.. tuan, Anda tidak apa-apa? maaf tuan, maaf"


dengan panik, caera memegangi tangan lelaki itu. merasa bersalah telah menabraknya dengan keras sampai mengakibatkan kepala pria itu menghantam dinding.


lelaki itu membuka matanya, menaikkan kepalanya sedikit dan menatap caera yang masih setia berada di atas tubuhnya.


"aku ada apa-apa nona"


katanya sambil meringis.


"ya ampun, kepala mu sakit ya tuan?"

__ADS_1


makin cemas caera menatapnya.


"bukan itu. tapi kau berat nona"


lelaki itu meletakkan kepalanya lagi di lantai lift.


deg..


caera melihat apa yang ada di bawah tubuhnya. astaga!! dia masih menindih tubuh lelaki ini. saking kaget dan cemasnya dia tidak menyadari itu. cepat-cepat ia berdiri, dan merapikan bajunya.


lalu mengulurkan tangan menarik lelaki itu dari lantai lift. pria itu masih memegangi kepalanya meringis kesakitan. dan mengusap-usapnya untuk mengurangi rasa sakit.


lelaki ini terlihat lumayan tampan. dengan cambang tipis yang tertata rapi dan tampak sangat cocok di wajahnya, menghiasi dagu dan rahang tegasnnya.


"maafkan saya tuan. saya terburu-buru"


caera membungkuk memohon maaf.


"ya, tidak apa nona..."


"caera"


lelaki itu terdiam sejenak, memperhatikan caera.


"anda sekertaris tuan Deva kan?"


caera hanya mengangguk.


"ah, perkenalkan. saya Nixon, dari divisi personalia"


Nixon mengulurkan tangan mengenalkan diri.


mereka berjabat tangan. saling tersenyum. Nixon memandangi caera tak berkedip. sampai risih rasanya.


Ting...


pintu lift terbuka lagi. Nixon memandang ke luar lift. terlihat karyawan di ruangan divisinya sedang sibuk.


"nona, saya permisi dulu. nanti kita bertemu lagi"


Nixon tersenyum dan pergi keluar dari lift.


caera diam saja. sampai lift menutup lagi, caera masih terbengong.


drrrrttt.... drrrrttt...


ponselnya bergetar. caera sedikit tersentak dan cepat-cepat mengambil ponselnya di saku roknya.


Dira


gadis itu menelponnya. tapi belum sempat di menggeser lingkaran hijau di ponselnya, pintu lift sudah terbuka.


Ting....


caera membulatkan matanya sempurna. menahan napas saking kagetnya. sosok tinggi tegap berdiri di luar lift dengan menaruh sebelah tangannya di dinding samping lift. menatapnya tajam tanpa berkedip.


seketika tubuh caera bergidik ngeri. bergetar takut melihat mata yang tampak tajam seperti mata elang itu. mata coklat terang itu mengintimidasinya. seakan mengajukan sejuta ancaman setelah caera keluar dari lift nanti.


reflek tangan caera memijit tombol lift agar segera menutup lagi. ia ingin kabur. dadanya sesak melihat tubuh tinggi itu akan meremukkannya nanti. ingin menyingkir dari lelaki kekar dengan sejuta pesona itu.


tapi sebelum pintu lift menutup kembali, tangan kekar itu memegang pintu lift dengan kuat, sampai tangannya terhimpit pintu lift yang akan menutup kembali. merenggangkan pintu itu dengan keduan tangannya dari celah yang terbuka di antara pintu.


dia menggeram jengkel melihat wajah caera yang sudah seputih kapas. caera makin gemetar ketika lelaki itu mengerakkan dagunya memberi isyarat agar dia keluar dari lift.


lutut caera lemas. sendi lututnya seperti lumer. tempurung lututnya terasa seperti agar-agar saja rasanya.


dengan takut bercampur malu, caera melangkah tertunduk melewati tubuh yang menjulang di depannya. keluar dari lift dengan lamban karena gemetar. malu karena tidak berhasil kabur.


tuhaaaannn... tolong lah aku

__ADS_1


😖😖😖😖😖


__ADS_2