
pagi-pagi setelah selesai sarapan, caera membawa Dira untuk berbelanja. tadinya Deva tidak mau ikut. tapi Richard memaksa menyusul mereka.
"ayolah Dev.. bagaimana kalau terjadi sesuatu dengan istri mu?" Richard mempengaruhi.
"aku sudah menyuruh orang ku untuk mengawasi. ada Dira juga bersama mereka" jawab Jacko.
Deva diam saja. memperhatikan Richard yang gelisah.
"kau meragukan kemampuan Dira?" tanya Deva pada Richard.
Richard tampak kikuk. ketahuan apa maksud hatinya. Deva si mata elang pasti tahu apa yang dia inginkan.
"baiklah. ayo berangkat"
Deva memutuskan menyusul caera dan Dira. dengan wajah bersinar, Richard tampak tergesa masuk ke mobil. Deva geleng-geleng kepala. begitu rupanya jika sedang jatuh cinta. semua orang akan terlihat seperti ABG.
Jacko melajukan mobil menuju tempat caera dan Dira berbelanja. menelpon Dira di mana posisi mereka saat ini.
setelah Dira mengirim serlok, Jacko segera mengarahkan mobil kesana. mencari agak dua lima menit. karena caera dan Dira sudah berpindah tempat belanja. sampai Richard terlihat jengkel.
"pasti mereka dapat cowok baru Dev" ujar Richard memprovokasi Deva.
"kau pikir istri ku seperti mu?" Deva melirik tidak senang pada Richard.
"siapa tahu Dev, kau lihat kan pengunjungnya ramai. masak tidak ada yang tampan melebihi mu di sini? selain aku tentunya" jawab Richard.
Jacko tertawa. sementara Deva menendang dari belakang kursi tempat Richard duduk.
"kita menunggu di kafe itu saja Jack. kamu serlok lagi sama Dira" Deva menunjuk cafeshop di depan.
Jacko menurut. menepikan mobil dan mereka turun, masuk ke kafe. mengambil tempat di pinggir. agar langsung bisa melihat keramaian di luar.
pelayan datang dan menanyakan pesanan mereka. setelah memesan dan menunggu pesanan datang, dasar Richard si Casanova, matanya langsung ijo melihat beberapa gadis cantik yang duduk di meja tidak jauh dari meja mereka. hanya berjarak 2 meja ke samping.
gadis-gadis itu saling berkasak-kusuk membicarakan mereka bertiga. Richard langsung pasang wajah cool nya. tebar pesona pada keempat gadis itu.
"Jack, kau pilih yang mana?" Richard menyenggol jacko.
Jacko memutar bola matanya malas. tidak mau menanggapi Richard. merasa tidak di respon, Richard menyenggol Deva.
"Dev, menurut mu mana yang cocok untuk ku?"
"itu"
Deva menunjuk ke meja lain. ada seorang nenek duduk di sana menunggu suaminya di meja kasir. mungkin ke sini untuk honeymoon ke tiga.
Richard melengos. melirik Deva jengkel.
"itu cocok untuk Jacko, Dev" ujarnya sengit.
__ADS_1
Deva hanya terkekeh geli. Richard langsung memasang wajah tebar pesona lagi pada keempat gadis di samping meja mereka.
seorang gadis berwajah cantik dan memakai pakaian minim, meluncurkan ciuman jauh untuk Richard. membuat Richard tersenyum bersemangat. tapi masih takut melirik jacko.
"urus teman mu ini Jack"
ujar Deva menepuk jidatnya. pusing melihat tingkah Richard. belum selesai dengan Dira, kini dia sudah tebar pesona dengan yang lain.
Jacko mengacungkan jempol sambil mengedipkan matanya pada Deva. ia ingin mengerjai Richard. mengambil ponselnya lalu memfoto Richard dari belakang. di layar ponsel Jacko, menampilkan gadis-gadis centil itu di depan Richard. membidik tepat sasaran. lalu mengirimnya pada Dira.
hhh.. mampus kau! Jacko tersenyum licik.
gadis itu semakin memancing Richard. karena gadis itu duduk paling pinggir, jadi dia bisa mengeksplor pancingannya dengan bebas.
Richard memperhatikan sambil senyum-senyum menggoda dan melambaikan tangannya sesekali. tampak gadis itu lebih maju duduknya. lalu tanpa di duga dia merenggangkan kedua pahanya.
karena hanya memakai hotpants mini dan tank top secuil, hanya menutupi area dadanya. membuat paha putih yang mulus itu membuka lebar dan menampilkan pemandangan indah di depan mata Richard.
Richard menelan salivanya kasar. has rat yang di pendam sejak lama karena ingin menaklukan Dira, kini membayang jelas di wajahnya.
apalagi ketika gadis itu menyentuh bibirnya dengan jari-jari lentiknya, lalu menurunkan jari itu lebih ke bawah, kebawah, dan kebawah lagi, sampai menyentuh intinya yang tertutup hotpants mini. lalu menarik jari itu ke mulutnya dan menge mut layaknya mencicipi rasa dari bagian bawahnya. lalu mereka terkikik-kikik berbarengan.
Richard mupeng. menggeleng-gelengkan kepalanya mencari kesadarannya yang hilang. Jacko melihat Richard rasanya ingin menggeplak wajah sayu dengan air liur yang sudah meleleh akibat melihat pemandangan syur di depannya.
seorang gadis yang lain menggerakkan jarinya memanggil Richard agar bergabung bersama mereka. Richard gelagapan. menoleh pada Jacko dan Deva. yang di lihat malah membuang muka.
Jacko menoleh. menaikkan alisnya menatap Deva sejenak. lalu menatap Richard lagi.
"masih. mungkin mereka akan datang tiga atau empat jam lagi"
"ahh.. masih lama. kalau begitu, tunggu aku oke. kalian berdua bisa santai dulu di sini"
Richard menggerak-gerakkan alisnya naik turun. mencoba bernegosiasi dengan Jacko.
"permisi kawan. aku harus mengenal gadis nakal itu. mempesona" ujar Richard dan langsung melangkah pindah haluan ke meja gadis-gadis cantik itu.
"biar tau rasa dia kena tendangan Dira" gumam Jacko. membuat Deva tertawa.
Richard tidak tahu kalau caera dan Dira sudah ada di area parkir. dia asik berkenalan dan berbincang nakal dengan gadis-gadis manis itu.
tampak wajah Dira merah padam. masuk ke kafe langsung menatap meja Richard dengan gadis gebetannya.
caera juga melihat itu. lalu melirik Dira yang sudah seperti banteng mengamuk. matanya merah menahan rasa terbakar di hati.
caera dan Dira langsung menuju meja Deva. caera duduk di sebelah Deva, dan Dira duduk di samping Jacko. dia tidak peduli lagi dengan siapa dia duduk saat ini.
Deva dan Jacko tersenyum simpul melihat kemarahan Dira.
"katanya benci. kenapa cemburu Dira?" tanya Deva menggoda Dira.
__ADS_1
Dira tersadar. menatap Deva sejenak dan langsung menunduk. menyadari dia duduk di mana sekarang. ingin bangkit berdiri dan berpindah tempat. tapi Jacko menahannya.
"silahkan hajar dia. ini kesempatan mu" ujar Jacko.
mendapat lampu hijau, Dira langsung menoleh menatap Richard yang memunggunginya. tidak menyadari kehadirannya. langsung saja ia bergerak maju mendatangi Richard.
berdiri tegak di belakang laki-laki Casanova itu. tapi yang di datangi masih belum ngeh. malah sudah berani tangannya hinggap di paha mulus gadis yang tadi. gadis-gadis itu menyadari kemarahan Dira. mereka semua terdiam. menatap Dira ngeri.
merasa di abaikan Richard, Dira meraih bangku di sampingnya. mengangkatnya ke atas. siap menggebrak.
Richard heran melihat gadis-gadis itu berhenti menggodanya dan diam melihat kebelakangnya dengan pandangan ngeri. pelan-pelan dia menoleh kebelakang dan melotot melihat siapa yang berdiri dengan kursi mengarah padanya.
BRAAAKKK!!!
"aaaaaaaaa...."
Dira membanting kursi ke meja. semua makanan dan minuman berserakan. semua orang menjerit berhamburan. menghindari isi meja yang berantakan.
Deva dan Jacko santai melihat itu. malah caera yang mendelik takut dan menutup wajahnya melihat kemarahan Dira yang belum pernah di lihatnya.
Richard mendelik takut. menelan salivanya kasar. melihat wajah Dira yang merah padam melotot kepadanya.
"heh! apa yang kalian lihat?? pergi!" teriak Dira pada gadis-gadis itu.
serempak mereka semua berhamburan dari dekat Dira. berlarian keluar kafe dengan teriakan ketakutan. banyak pengunjung menatap mereka heran dan bergumam. Dira tidak peduli.
Dira menoleh pada Richard lagi. dengan pandangan marah yang sudah sampai ke ubun-ubun. melotot melihat Richard yang wajahnya sudah seputih kapas. antara malu dan takut.
"masih begini saja tingkah mu ha?! dimana otak mu?" geram Dira.
Richard menelan salivanya kasar. melirik ke arah Jacko yang tertawa melihat kejadian ini. dia jengkel pada kedua pria itu. dia terjebak.
"Dira.. aku.. tidak.. hanya ingin berkenalan" jawab Richard gagap.
Dira makin marah. jelas-jelas dia melihat sendiri apa yang di lakukan Richard barusan. tanpa aba-aba, Dira merentangkan sebelah kakinya. lalu menendang dengan telak ke perut Richard.
bhuukk!!!
GUUUBBRRRAAAKKK!!!
"aaakkhhhggg"
Richard terjengkang ke belakang. menghantam meja dan berakhir ke dinding. memegangi perutnya yang terasa sakit luar biasa.
"itu hukuman mu"
Dira berbalik. berjalan ke luar kafe. menangis tersengguk dengan hati yang makin terluka parah.
belum lagi dia menerima Richard, malah lelaki itu sudah berbuat hal yang paling mengerikan. sikap playboy nya yang tidak pernah berubah. itu sangat menyakiti hati Dira. tapi untung saja sekarang dia bisa membalas Richard dengan ilmu beladiri yang ia miliki.
__ADS_1