
Dira menjemput caera dan membawanya ke rumah bukit. pasti deva ada di sana. caera sengaja tidak menghubungi Jacko dan Deva. caera ingin memukul lelaki itu dengan keras.
keluar dari mobil, dan seketika angin semilir beraroma Pinus menerpanya. menarik napas dalam-dalam dan hembuskan perlahan. dia rindu aroma ini.
bergandengan tangan melangkah bersama Gino masuk ke rumah. Jacko menyambut mereka. dengan senyum lebar yang belum pernah Jacko berikan pada caera.
"selamat datang kembali nona" sapa Jacko.
caera melengos. jengkel melihat Jacko.
"kau tunggu giliran mu tuan asisten. aku akan menghukum mu setelah menghukum tuan mu yang pengecut itu" ujar caera judes.
"hahaahaaa"
Jacko hanya terbahak. tidak menghiraukan ancaman caera padanya.
dia bahagia. dia tahu caera adalah wanita unik yang istimewa. tidak akan sepicik itu meninggalkan Deva sendiri.
"kekasih mu sedang menangis di atas" ujar Jacko melirik ke lantai atas.
caera tidak menjawab. hanya melangkahkan kakinya naik ke tangga menuju lantai atas. Gino pergi bersama Jacko.
tanpa mengetuk terlebih dulu, caera langsung membuka pintu kamar. tapi keadaan gelap. Deva tidak menyalakan lampu. caera mencari saklar lampu ingin menyalakannya. tapi dari arah jendela, suara Deva terdengar lemah.
"jangan nyalakan Jack. biarkan gelap begini"
caera menghentikan niatnya. menajamkan penglihatan nya menatap ke arah jendela. tapi tidak ada orang di sana.
caera melihat ke arah pintu kaca besar yang menghubungkan ke balkon kamar. tampak siluet Deva hanya di terangi cahaya bulan dari luar. menghadap keluar balkon. membelakanginya.
caera terenyuh. apa yang di pikirkan pria ini sampai dia menyendiri di dalam kegelapan? Deva mengira Jacko yang datang. dia tidak tahu caera lah yang masuk ke kamarnya.
caera menutup pintu. gelap makin menerpa. tapi siluet Deva masih jelas.
"dia benar memilih untuk kembali pada cintanya kan Jack? aku tahu. masih ada cinta untuk Arya" ujar Deva bergetar.
hati caera berdenyut sakit. begitukah yang di pikirkan pria ini? dia kembali pada Arya?
"hhh... aku sendiri lagi Jack. apa aku begitu tidak beruntung dengan cinta, Jack? sampai orang yang ku cintai selalu menjauh?"
caera tidak tahan. caera tidak bisa mendengar itu lagi. lelaki ini sungguh baik. cinta mana yang tidak bisa melekat padanya? hanya orang yang tidak beruntunglah yang tidak mencintainya.
caera berdiri di belakang Deva. menghadap tubuh tinggi di depannya. menelusupkan tangannya memeluk dada Deva. menyandarkan kepalanya di punggung Deva.
Deva menegang. memegang tangan lembut di dadanya. meremas tangan caera kuat. terkejut ternyata bukan Jacko yang datang.
"aku memang kembali pada cinta ku. dan dia bukan Arya. tapi seorang lelaki berhati syurga. dia sangat baik. sangat lembut memanjakan ku. yang lebih penting, dia mencintai ku"
ujar caera bergetar halus. hatinya terenyuh melihat Deva terpukul memikirkannya kembali pada Arya.
Deva berbalik. menatap caera dalam kegelapan. keremangan kamar tak dapat menghilangkan bayangan wajah cantik di depannya. tersinari cahaya bulan di langit malam.
"caera. kau kembali? atau... aku mengigau?"
Deva meraba-raba wajah caera. membuat caera ilfill.
dia pikir aku hantu apa? segitunya tidak percaya akan cinta ku.
"iiihh.. kau belum tidur Dev! bagaimana bisa mengigau? caera menghempaskan tangan Deva dari wajahnya.
Deva bergerak menjauh. caera menggapai-gapai mencari Deva. tapi tidak dapat.
blaaarrr...
lampu menyala. Deva sudah ada di sana. berdiri mematung. tapi tak lama, wajah itu tersenyum cerah. lalu berlari menghambur ke dekat caera.
"astaga!! kau benar caera! haha... sayang kuuu!!"
Deva memeluk caera kuat. memutarnya seperti gasing. caera berpegangan erat. takut kalau sampai di terpelanting jatuh dari pelukan Deva.
"aduuhh.. hentikan Dev. aku pusing!"
caera memeluk leher deva erat. menyembunyikan wajahnya di pundak Deva. deva berhenti. menurunkan caera dengan hati-hati.
"hehe.. aku pikir kau meninggalkan ku sayang"
"kau yang meninggalkan ku. aku kan jadi bingung pulangnya. untung ada Dira"
caera cemberut. kesal pada Deva.
"habisnya.. kamu tadi pakai nempel sama mantan mu itu sayang"
__ADS_1
"sakit? cemburu?" caera mencebik.
"ya iyalah sayang. cemburu berat"
"begitu yang aku rasakan waktu kamu peluk dan cium Gisel di depan banyak orang" ujar caera judes.
"itukan aku sengaja biar kamu cemburu"
"apa?!"
"ehh.. maksudnya aku cinta kamu sayang" Deva nyengir.
"oohh.. jadi tadi kamu juga sengaja ninggalin aku tadi, begitu? biar aku pulang sendiri jalan kaki? kamu memang mau aku balik sama Ar..."
Deva menutup mulut caera dengan tangannya. menatap mata caera.
"jangan bilang itu lagi. aku tadi benar-benar cemburu sayang"
mata mereka bertemu. menatap satu sama lain. Deva menurunkan tangannya. menarik caera lebih menempel padanya. mengecup kening caera dengan segenap perasaan cinta yang teramat dalam.
"terima kasih kamu kembali pada ku Ra"
memeluk caera dengan erat. mengelus rambut panjang bergelombang milik wanitanya.
"aku mau kemana lagi Dev? aku hanya melihat cinta di sini. tidak di tempat lain"
Deva merenggangkan pelukannya. menatap Caera penuh cinta. mendekat ke wajah caera. menge cup bibirnya sekilas.
"tetaplah mencintaiku. jangan pernah berubah. hati ku sebelahnya sudah pernah tersakiti. tapi yang sebelah lagi, aku menyerahkannya pada mu. dan tak akan pernah membaginya pada yang lain"
"Dev, aku menyerahkan seluruh hati ku pada mu. dan tolong. jangan pernah curangi aku"
"tidak akan sayang. aku pernah tersakiti. aku tahu apa rasanya sakit di hianati"
mengusap wajah caera dengan sayang.
"tapi, setidak percaya itukah kau pada cinta ku Dev? sampai kau tega meninggalkan ku?"
caera merengut kesal. Deva tertawa lucu melihat caera menekuk wajahnya. wajah itu sangat menggemaskan.
"aku mencintai mu. aku tidak ingin kau bersedih sayang. cinta itu adalah bahagia ketika melihat cintanya bahagia"
"ah.. yang benar kamu?" caera mencubit perut Deva. "itu gombalan basi Dev"
"iya dong. gimana kalau aku bahagia kembali pada Arya? apa kamu mau?"
"eehh.. tidak sayang! jangan pernah berpikir begitu" Deva buru-buru menolak.
"nah.. itulah gombalan basi. mana ada orang cinta, tapi memberikan kekasihnya pada orang lain?"
"tapi aku memberi Gisel pada Keenan. dan kamu juga memberi Arya pada Vivi. itukan sama saja sayang"
kini caera yang diam. berpikir keras menemukan jawaban.
"iya juga ya"
laaahhh.. malah caera yang bingung sekarang. terlihat linglung.
"hahaaa.. caera Anaya.. sungguh kau sangat menggemaskan karena kepolosan mu"
Deva mendusalkan wajahnya di rambut caera. terkikik geli melihat caera sekarang bengong.
"sayang, apapun cinta itu, tetaplah bersama ku. hmm? aku tidak akan bisa hidup tampa mu"
Deva menatap caera lagi. meraih dagunya dan menghadapkan ke wajahnya.
"aku mencintai mu Dev. mencintai mu"
kata-kata caera, bagaikan air gunung yang menyirami gurun Sahara yang gersang di hati Deva. anyeeessss.. segar.. menyejukkan.
"aku lebih mencintai mu sayang"
"asalkan kau tidak selingkuh di belakang Ku. kali ini aku akan membunuh mu. tidak akan memberi ampun!" ancam caera.
"aaawwhhh... atuuuutt.." Deva bergidik ngeri mendengar ancaman caera. "wanita ku kenapa jadi berani begini?"
"karena aku mencintai mu"
"akulah pria paling setia di muka bumi ini saayang"
caera mendelik.
__ADS_1
narsis sekali dia
"apa aku bisa menjamin itu?"
"he'em"
"awas saja jika kau macam-macam"
"macam-macam yang ini boleh kan sayang?"
Deva menunjuk bibir caera. caera menepisnya.
"kau tak pernah bosan Dev?"
"itu malah memberi ku semangat sayang"
"hmmm.. kau mulai lagi"
"aku akan memulai terus sayang"
Deva menarik caera ke sofa. sama-sama terduduk di sana. tapi caera berada di pangkuannya.
caera panik. pasti mesum lagi. begitu pikirnya.
"deeevv.. kau mulai lagi iihh..."
caera memukuli pundak Deva. Deva hanya tertawa saja. memegang erat kedua tangan caera erat. membuat caera jadi sulit bergerak.
Deva terkikik geli merebahkan tubuh caera di pangkuannya dengan kepala menyandar ke sandaran sofa. kaki caera jadi menjulur lurus kebawah untuk menahan tubuhnya. membuat dia seolah seperti kambing guling yang siap di santap bulat-bulat.
caera mendelik menatap Deva. gusar setengah mati takut Deva memperkosanya sekarang juga.
"sayang, mau kita ulangi yang kemarin?"
Deva merentangkan kelima jarinya.
"kamu pilih sayang. mau pakai jari yang mana?" Deva tersenyum lebar dan menggerak-gerakkan kedua alisnya naik turun. menggoda caera.
wajah caera merah padam. ingat waktu itu. ingin rasanya dia getok kepala Deva. tapi apalah daya. berniat ingin menghajar Deva, tapi malah dia yang terjebak sekarang.
"Dev, jangan macam-macam kamu"
"sedikit sayang"
"tidak Dev!"
"heemm" Deva mengarahkan tangannya kebawah. mengarah bagian inti caera. dengan senyum menggoda. senang melihat caera gusar melotot padanya.
"Deva!"
"ya sayang.. panggil nama ku"
caera makin melotot marah.
ceklek!!
"Daddy...."
tiba-tiba pintu terbuka. Gino muncul. reflek Deva melepaskan tangan caera. dan mendorong tubuh caera agar bangkit dari pangkuannya.
"Daddy sama mama ngapain?" Gino heran melihat mereka berdua.
dengan gugup caera bangkit berdiri. memalingkan wajahnya tidak mau melihat ke arah Gino. malunya setengah mati. wajahnya memanas tak terkira.
"ehhmm.. Gino belum tidur?" tanya Deva mengalihkan perhatian Gino.
Gino mendekat dan hanya menggeleng. tapi bocah lelaki itu masih penasaran dengan kelakuan Daddy dan mamanya tadi.
"Daddy.. tadi ngapain?"
aduuhh... caera menghindar. menjauh dari Gino dan Deva.
"itu.. tadi mama sakit pinggang"
"kenapa?"
"jatuh. karena jaged pargoy.. iya pargoy, Gino"
"oohh.. besok kita buat tok tok sama mama ya Daddy.. pargoy lagi"
"eehh.. ya ya.. boleh"
__ADS_1
Deva mengangguk-angguk dengan membuang wajahnya melirik caera. caera hanya terkikik mendengar jawaban Deva.