
hari ini cuaca agak terik. matahari menyinarkan sinarnya dengan berani. caera mengendarai mobilnya menuju kantor Richard. pria itu memintanya datang untuk bertemu. kata Richard hakim telah memutuskan perceraiannya dengan Arya.
jalanan agak macet. caera mengeluh karena lambatnya kendaraan merayap di jalan kota. pasti Richard sudah menunggu lama. caera tidak enak hati jika Richard menunggunya. ia tahu Richard adalah pengacara yang super sibuk.
sesampainya di depan kantor Richard, caera menemui resepsionis. mengatakan sudah ada janji dengan Richard siang ini. resepsionis menghubungi Richard. sambil menunggu, caera memandang sekeliling.
kantor Richard besar dan luas. pastilah Richard pengacara yang handal dan terkenal. dari penampilannya saja sudah menunjukkan siapa dia.
"silahkan anda naik ke lantai lima nona. di sana ada asisten tuan Richard yang akan membawa anda"
resepsionis cantik itu tersenyum ramah pada Caera. menunjukkan jalan untuk masuk ke dalam dan naik ke lift menuju lantai atas.
"terima kasih"
caera membalas senyum gadis itu dan berlalu menuju lift.
lift terbuka di lantai lima. caera keluar dan sudah ada Milan di sana. mengangguk hormat dan membawa caera ke ruang kerja Richard.
tok.. tok.. tok..
Milan mengetuk pintu dan menunggu sesaat.
"masuk"
terdengar suara Richard dari dalam. dan Milan membuka pintu. terlihat Richard sedang sibuk di meja kerjanya. pria tampan itu mendongak menatap caera dan tersenyum.
bergerak berdiri dan menyalami caera. mempersilahkan duduk di sofa besar.
"maaf tuan, membuat anda lama menunggu"
ujar caera meminta maaf.
"tidak apa-apa. saya juga sedang tidak terlalu sibuk hari ini"
jawab Richard tersenyum menampilkan wajah tampan paripurna.
"nona caera mau minum apa?"
tanya Richard.
"tidak usah repot-repot tuan. saya hanya sebentar"
caera agak kikuk menghadapi Richard. pria itu seperti tebar pesona.
"tidak baik jika saya tidak menjamu tamu bukan?" Richard tersenyum lagi. memamerkan barisan gigi putihnya. "Milan, sediakan minuman untuk nona caera. jangan sampai ada komplin nanti"
"baik tuan"
Milan kembali keluar. tinggal caera dan Richard saja di ruang kerja itu.
"siapa yang komplin tuan? saya tidak akan komplin pada anda hanya karena minuman bukan?"
caera mengerutkan dahi.
"haha.. bukan apa-apa nona. lupakan lah"
Richard tertawa seraya mengibaskan tangannya.
kau tidak tahu saja nona, pastilah dewa posesif itu yang akan menyemprot ku habis-habisan karena tidak menservis kedatangan mu di kantor ku.
"selamat nona caera, hakim sudah memutuskan perceraian anda. dan kita menang"
Richard mengulurkan tangan dan caera menyambutnya. ada rasa nyeri di hati caera ketika Richard mengatakan itu. perceraian. sungguh caera sebenarnya tidak suka kata itu. tidak pernah bermimpi akan berpisah dari Arya dengan secarik kertas yang di atasnya ada tulisan tebal dengan embel-embel kata perceraian.
Richard mengambil map dan membukanya. menyerahkan pada caera di atas meja. caera mengambil dan membacanya.
__ADS_1
"mantan suami anda menyerahkan hak asuh anak jatuh ke tangan anda. dan memberikan sebuah rumah dan dana kompensasi untuk anda Nona"
Richard menunjuk map yang ada di tangan caera. caera membaca dengan seksama.
"tapi saya tidak meminta yang dua itu. saya hanya meminta hak asuh anak saja"
"mantan suami anda sudah berbaik hati. jadi nona nikmati saja"
Richard menyilangkan kakinya. duduk santai sambil memandangi caera di depannya.
mau apa lagi? jika sudah di putuskan begitu, caera hanya bisa menerima. lagi pula, keputusan itu tidak merugikan dirinya sama sekali.
"Anda setuju bukan?"
caera mendongak menatap Richard.
"baik lah saya setuju"
Richard menyerahkan pena pada caera. dan caera membubuhkan tandatangan di akta perceraian itu.
"jadi mulai hari ini anda resmi telah berpisah"
hati caera menjerit sakit. terasa ada yang terbang dari dirinya. hatinya terasa kosong. terngiang-ngiang kata cerai dan berpisah di telinganya.
"nona.."
Richard memanggil caera. wanita itu tampak hampa. termenung menerawang jauh. Richard dapat mengerti perasaan caera.
"Anda baik-baik saja nona caera?"
Richard menyentuh tangan caera. menyadarkan caera dari lamunannya.
"ah ya? maaf"
caera tersenyum canggung.
Richard terdiam sejenak. berpikir bagaimana caranya jangan sampai caera curiga kalau masalah ini Deva yang mengurus semuanya.
"saya sudah bicarakan ini dengan Demian. Demian meminta saya membantu anda. jadi serahkan saja pada Demian"
"kenapa? tapi kan saya yang bertanggung jawab"
caera agak bingung kenapa jadi urusan Demian soal bayaran Richard?
"begini nona, Demian meminta saya membantu. jadi sebagai teman, saya membatunya dan juga anda. sudah jangan di pikirkan"
"tapi..."
ucapan caera menggantung. Richard cepat-cepat memotongnya.
"baik lah, sebagai bayarannya, bagaimana jika anda makan siang dengan saya?"
"apa?"
caera melongo. pengacara seperti Richard hanya mendapatkan bayaran makan siang? apa tidak salah?
"yah.. sebagai ucapan terima kasih saja nona. saya tidak enak jika melangkahi Demian yang meminta bantuan saya"
Richard memutar otak mencari alasan. padahal hatinya sudah menyumpahi Deva berkali-kali. jika tidak karena Deva, tanpa pikir panjang dia pasti sudah merayu caera.
dan caera makin melongo. ada yang salah ini. bukannya seharusnya caera yang menawarkan itu sebagai rasa terima kasih? ini kenapa yang di pakai jasanya yang menawarkan bayaran makan siang?
ah tapi, kenapa tidak? Richard sudah membantunya. dan tidak ingin di bayar. biar lah jika hanya sekedar makan siang hari ini. toh tidak akan merugikannya juga.
"baik lah tuan. ayo kita makan siang"
__ADS_1
ujar caera akhirnya.
Richard bisa bernapas lega. caera tidak memperpanjang pertanyaannya lagi. dia setuju. paling-paling nanti Deva yang kesurupan karena tahu caera makan siang dengannya.
****
suasana restoran terlihat ramai. banyak pengunjung menyantap makan siang dengan rekan dan pasangan mereka siang ini.
caera dan Richard duduk di meja agak di sudut. beberapa gadis menatap ke arah mereka. mungkin mereka mengenal Richard. mereka berkasak-kusuk heboh. caera agak jengah di perhatikan begitu. tapi Richard bersikap biasa-biasa saja.
sesekali Richard membalas tatapan mereka dan tersenyum sambil menggerakkan kedua alisnya. menggoda gadis-gadis itu. caera hanya tersenyum lucu melihat ulah Richard.
"Anda terlalu tampan tuan, sampai mereka salah tingkah begitu"
bisik caera.
"haha.. bukan saya. tapi mereka iri melihat saya lebih memilih duduk dengan wanita cantik seperti anda"
caera tersipu. Richard ini benar-benar seorang Casanova tulen. bisa saja merayu dengan jitu.
"apa rencana anda ke depannya nona?"
tanya Richard sambil menyantap hidangan di depannya.
"saya sudah melamar pekerjaan. saya akan mulai bekerja jika ada yang menerima"
"kenapa tidak di kantor saya saja?
" tapi itu bukan bidang saya tuan Richard"
"tidak ingin menikah lagi dalam waktu dekat ini?"
caera terdiam. menikah? buang pikiran itu jauh-jauh. hanya akan ada rasa sakit lagi. caera menatap Richard seraya menggeleng.
"pasti banyak antrian untuk melamar anda"
caera hanya tersenyum. memainkan sendok mengaduk-aduk nasi di piringnya.
"Anda sendiri? sudah punya pendamping?"
caera balik bertanya.
Richard tersenyum. menghentikan makannya dan meneguk air putih.
"masih belum ada yang cocok"
jawabnya.
sejenak mereka berdua terdiam. sibuk dengan pikiran masing-masing. sampai Richard menatap ke pintu masuk restoran.
"sepertinya akan ada sedikit gangguan"
ujar Richard.
caera mendongak menatap Richard. mengikuti arah pandangan Richard melihat ke arah pintu masuk. terlihat Arya ada di sana. timbul rasa gelisah di hati caera. dan Richard menyadari itu.
Arya datang sendiri. langsung memesan makanan. begitu berjalan ke arah meja, pandangan mereka bertemu. Arya menghentikan langkahnya. rahangnya mengetat menatap Richard dan caera bergantian.
caera membuang muka. menatap Richard lagi. sejenak tatapan mereka bertemu. Richard menaikkan bibirnya sedikit. menyunggingkan senyum seakan berkata semua baik-baik saja. memberikan ketenangan pada caera. dan caera kembali menunduk melihat makanannya di meja.
Richard diam saja. pandanganya bersirobok dengan Arya. yang satu memandang dengan marah, yang satu lagi menatap penuh ketenangan.
caera merasa jengah. dia hanya diam menunduk. menantikan apa yang terjadi.
BRAAAKKK...
__ADS_1
Arya menggebrak meja di sampingnya. beberapa pengunjung terjengkit kaget dan berkasak-kusuk membicarakan arya. arya bergerak memutar badan ke arah pintu masuk. membatalkan pesanannya dan pergi keluar meninggalkan caera dan Richard yang saling pandang.
tanpa mereka tahu, bukan hanya Arya yang marah. tapi Deva juga sudah marah besar begitu mendapat informasi dari Ari yang mengatakan caera makan siang sekarang dengan Richard.