
pagi menjelang dengan sinar mentari cemerlang. menjanjikan hari ini akan cerah. caera memakaikan dasi Deva. sambil sesekali Deva mengelus perut buncit istrinya.
"dia bergerak sayang?"
"ya Dev. tadi barusan bergerak"
"kok sekarang diam?"
"iihh.. kamu. emang anak mu pemain bola?"
"hahaaa.."
Deva tergelak mendengar jawaban caera. dia selalu ingin baby-nya bergerak ketika ia menyentuh perut caera.
"kapan jadwal cek nya sayang?"
"besok. kamu bisa menemani aku Dev?"
"yah, aku usahakan"
caera tersenyum dan selesai memakaikan dasi. bergandengan tangan keluar kamar menuju ruang makan.
ibu dan yang lainnya sudah menunggu di sana. Deva menarik kursi untuk istrinya dan dia duduk di sebelahnya.
"pengantin baru belum muncul Bu?" tanya Deva pada Soraya.
"hihihii.. pasti Jacko kelelahan"
Soraya terkikik mengingat tadi malam adalah malam pertama untuk Jacko dan Neneng. dan Jacko belum muncul seperti biasanya.
caera mencubit lengan Deva. mengingatkan suaminya jangan selalu menggoda Jacko.
"bibi Meta, nanti bilang pada Jacko untuk menempati rumah baru saja. jangan di apartemen lagi" ujar Deva pada Meta.
"terserah Jacko saja tuan Dev. bibi di mana pun tidak masalah" jawab Meta tersenyum pada Deva.
"kau yang harus bilang padanya Dev. dia hanya mendengar mu" Soraya menimpali.
"sepertinya aku tidak akan berjumpa dengannya hari ini Bu. biarlah dia libur dulu" jawab Deva seraya menyuapkan sarapannya.
"ah ya bagus lah. biar Jacko libur dulu. dia tidak pernah libur bukan? sekalian saja bulan madu. biar Meta segera punya cucu" Soraya menyenggol Meta disampingnya.
"Aku sangat menginginkan itu" jawab Meta tersenyum pada Soraya.
"Sabarlah. sebentar lagi pasti Neneng langsung hamil"
Soraya menepuk-nepuk punggung Meta. membuat Deva dan caera tertawa. Soraya seakan bilang, besok Neneng sudah hamil.
Meri dan Neneng datang dari dapur. membawa teh untuk semua orang. membuat mereka terheran-heran.
"loh!! Neneng. kamu dari mana?" Soraya menatap Neneng dengan kaget.
"Neneng dari dapur, nyonya. ada apa atuh?"
Neneng jadi merasa tak enak hati karena semua orang menatapnya heran. apalagi caera. memperhatikan Neneng dari atas kebawah.
Otak Caera jadi ngeres. dia berpikir, Neneng tampak biasa saja. tidak tampak kelelahan atau susah berjalan. tidak seperti waktu dia di gempur Deva di malam pertama. walaupun sudah bukan pertama kali baginya, tapi Deva seperti kecanduan meminta jatah. ini kenapa Neneng terlihat seperti tidak terjadi apa-apa?
"sudah dari tadi kamu di dapur?" tanya Meta.
"iya Bu. dari pagi subuh tadi Neneng teh sama Bu Meri. iya kan Bu Meri?" tanya Neneng pada Meri. dan Meri mengangguk mengiyakan.
__ADS_1
"Neneng tidak kemana-mana atuh Bu" ujar Neneng lagi.
"astaga Neneng!" Soraya terjengkit kaget.
"eh.. ada apa atuh nyonya? aduh, Neneng teh buat salah ya?" Neneng jadi semakin takut.
"terus suami mu gimana? kamu tidak urus dia?" ujar Soraya lagi.
"oohh.. yayang?" Neneng meyakinkan kalau yang di tanya itu Jacko. "yayang ngejack teh, masih tidur nyonya. baru bisa tidur pas subuh tadi" ujar Neneng dengan polosnya.
"oooohhh" serempak Soraya dan Meta menyahut.
Deva dan caera mengulum senyum geli. membayangkan Jacko yang kelelahan baru tidur setelah subuh.
"ya sudah. sini sarapan" Soraya mengajak Neneng bergabung.
"tidak usah nyonya. Neneng sudah sarapan tadi di dapur" Neneng menolak.
"kenapa di dapur?"
"hehee.. Neneng mah sudah biasa nyonya" jawab Neneng cengengesan.
Tiba-tiba Jacko muncul dengan tergesa. Sudah memakai setelan jas lengkap. seperti nya dia memutuskan masuk kantor hari ini. Samua orang menoleh menatapnya dengan pandangan senyum di kulum.
"selamat pagi" sapa Jacko datar.
"eheemm!! selamat pagi Jack" jawab Deva dengan embel-embel deheman menggoda Jacko.
Jacko tidak melihat kearah Deva. hanya diam dan menyendok nasi goreng ke piringnya. tapi belum sempat dia melakukan itu, Neneng lebih dulu menarik piring Jacko. lalu mengambil sendok nasi dari tangan Jacko. dan menyendokkan nasi goreng ke piring Jacko.
Jacko diam saja. tidak menolak, tapi juga tidak terlihat senang dengan apa yang di lakukan Neneng.
"naahh.. ini untuk yayang"
"Jack, lebih baik kau libur seminggu ke depan" ujar Deva.
Jacko mendongak. menatap Deva dengan tatapan yang sulit di artikan Deva.
"Kenapa?" tanyanya.
"Antarlah dulu bibi dan istri mu ke rumah baru. Dan sekalian bulan madu" jawab Deva.
Jacko melengos. menunduk lagi melanjutkan sarapannya. Semua orang saling tatap satu sama lain. Sikap Jacko tampak aneh. Tapi Neneng tampak biasa saja.
Sumpah!! mereka ini sungguh pasangan yang aneh!
Caera tidak mengerti melihat pasangan yang satu ini. Sama-sama aneh menurutnya. Jacko menyudahi sesi sarapannya. langsung bangkit dan beranjak keluar. bersiap menunggu Deva berangkat ke kantor.
Mereka semua tak dapat berbuat banyak. Caera menatap Deva seakan minta penjelasan. Tapi Deva hanya mengedikkan bahu.
"Neneng, antar suami mu berangkat kerja" ujar Meta.
Neneng mengangguk. beranjak menyusul Jacko di luar. Dan Deva juga sudah selesai sarapan. Caera menggandengnya keluar mansion.
"Kau tidak melihat mereka aneh Meta?" tanya Soraya.
"Jacko memang begitu, nyonya. Biarkan saja" jawab Meta.
Kedua wanita itu hanya bisa menghela napas melihat sikap Jacko yang masih saja kaku dan dingin.
Sementara di luar mansion, Neneng hanya berdiri memperhatikan apa yang di lakukan Caera dan Deva ketika akan berangkat kerja. Dan Jacko, hanya berdiri di samping pintu mobil yang telah terbuka untuk Deva.
__ADS_1
"Aku berangkat dulu ya" ujar Deva seraya merangkul pundak istrinya. dan mengecup puncak kepala Caera.
"Ya sayang. hati-hati ya"
Caera tersenyum. Menghadap Deva dan membetulkan letak dasinya. Deva mengecup kening Caera dan menyentuh pipinya.
"Jangan lakukan yang berat-berat. Hati-hati kalau naik tangga. hmm?" ujar Deva lagi.
"Iya, sayang"
caera mengecup bibir Deva sekilas. Lalu Deva segera bergerak ke pintu mobil.
"Yayang" celetuk Neneng.
Mereka menoleh menatap Neneng. Neneng tersipu malu melihat Jacko. Jacko hanya meliriknya.
"Yayang"
Panggil Neneng lagi. Jacko terlihat malas menanggapi Neneng.
"Ada apa?" tanya Jacko dingin.
"Ini" Neneng menunjuk keningnya.
Jacko mendelik. Ia tahu apa maksud Neneng. gadis itu minta di cium kening seperti yang di lakukan Deva pada caera.
"Mppphhtt.." Deva menahan tawa gelinya.
caera hanya tersenyum lucu melihat wajah Jacko langsung berubah merah. Dengan gugup, Jacko melirik pada Deva dan Caera. Lalu dengan berat hati, pria black sweet itu melangkah mendekati Neneng.
"Apa?" tanyanya pura-pura tidak mengerti.
"Yayang ngejack kenapa tidak cium kening Neneng dulu atuh yang. Ayo yang" ujar Neneng sambil menarik lengan jas Jacko.
Wajah Jacko semakin merah padam. Sangat malu di depan Caera dan Deva yang masih menatapnya.
"Nanti ada yang akan menjemput mu dan ibu. bersiaplah" Jacko mencoba mengalihkan pembicaraan Neneng.
"Kemana yang?"
"Bersiap saja. Bilang pada ibu. Birsiaplah"
Neneng hanya mengangguk. Dan Jacko masih berdiri di depan istrinya. Bingung bagaimana memulai cium kening.
melirik Deva sejenak. Deva sudah masuk ke dalam mobil. Tapi Caera masih menatap mereka dari teras.
Jacko menempelkan telapak tangannya di bibir. mengecup telapak tangannya sendiri. lalu menempelkan telapak itu ke kening Neneng.
"eh.." Neneng kaget.
"Itu cium kening mu"
Ujar Jacko langsung berbalik dan masuk ke mobil. menjalankan mobil meninggalkan mansion.
Neneng masih terkesima dengan memegangi keningnya, bekas tangan Jacko di sana. Sumpah caera ingin terpingkal melihat itu. Tapi takut Neneng tersinggung.
"Ayo masuk neng" panggil Caera pada Neneng.
"nona. itu mah bukan cium kening ya? itu teh telapak tangan nempel di kening"
ujar Neneng begitu menoleh menatap Caera dengan wajah bingung.
__ADS_1
"hahaaa..." Caera tertawa geli melihat wajah Neneng yang terlihat bingung.