DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 163


__ADS_3

"Sayang, makasih ya"


"kenapa, Ra?"


"kamu izinkan aku bertemu mereka"


Caera mendusal manja di dada Deva. berdua di ranjang, bersandar di kepala tempat tidur.


"Itu sudah seharusnya bukan?" Deva mengusap lembut bahu istrinya.


Caera mencubit kecil dada Deva. membuat Deva kesakitan.


"Aduh! apa sih sayang? kok aku di cubit?" Deva mengusap-usap bekas cubitan Caera.


"hihihi.. sakit yang?"


"ya sakit Ra. jangan di sini nyubitnya"


Caera menatap Deva dengan heran.


"terus di mana?"


"di sini nih"


Deva menunjuk bagian bawahnya. Caera mendelik.


"iiihh.. kamu maunya ya"


Caera gemas makin mencubit paha Deva yang tidak tertutup. karena dia sudah memakai celana pendek saja.


"Awwwhh.. sakit Ra" Deva meringis sambil mengusap pahanya.


"rasain tuh. hihiii.." Caera terkikik geli melihat wajah Deva meringis kesakitan.


Deva menangkap tangan Caera. menaruhnya di bagian belakang badan Caera. membuatnya susah bergerak. Deva merangkak ke samping Caera. menatap wajah cantik istrinya yang pipinya sudah agak tembem.


"kamu cantik sekali sayang"


"bohong kamu. aku udah gemuk begini"


"bagi ku makin menggemaskan. pipi mu tembem sayang"


Deva mengecupi pipi Caera. Caera terkikik geli. Deva menghentikan kecupannya. menatap wajah Caera lagi.


"sayang"


"ya, suami ku"


"kenapa sih, kamu gak pernah minta apapun pada ku?"


"minta apa Dev?"


"yaahh.. apa lah gitu. minta berlian atau apa lah"


"hahaa.. untuk apa sayang? toh aku hanya di rumah. dan aku sudah punya berlian dari kamu kan?"


"mana?"


"ini"


caera menunjukkan cincin berlian sewaktu Deva melamarnya di acara launching perusahaan baru Deva.


"itu kan sudah lama sayang. minta yang lain Ra"


"Dev, aku tidak butuh apa pun. aku sudah miliki semua. tidak ada yang kurang. terlebih, aku sudah punya kamu, Gino, bayi ini, dan keluarga kita. itu sudah cukup, sayang"


jawaban Caera membuat Deva tersenyum. istrinya ini belum pernah meminta sesuatu padanya. kecuali ngidam. selalu Deva yang mengirimkan barang-barang. dan itu pun caera protes. katanya untuk apa.


"kamu bilang kan, semua sesuai kebutuhan. jadi untuk apa kita punya banyak dan berlebih? padahal kita tidak pernah pakai? itu sia-sia Dev"


"aaahh.. sungguh aku beruntung mendapatkan mu, Ra"


Deva mengecup bibir Caera dengan gemas. begitu rasa cintanya makin mekar bersemi. tidak salah dia memilih Caera dari sekian banyak wanita.


"sayang"


"ya, sayang" caera mengelus pipi Deva. menatapnya mesra.


"aku belum pernah bilang pada mu"


"apa itu Dev?"


"Sebenarnya, aku punya banyak anak"


"apa? anak?" Caera kaget.


"iya sayang. aku punya banyak anak"


"kamu serius?"


Caera menatap lekat mata Deva. membuat Deva jadi tersenyum geli melihat keterkejutan Caera.


"iya sayang. aku serius"


Caera terdiam. ada rasa sakit di hatinya. dan Deva semakin geli melihat itu. tapi dia tidak mau membuat rasa sakit di hati Caera.


"Jangan berpikir yang aneh-aneh dulu sayang"


Deva mencubit hidung mungil istrinya. lalu mengecupnya.

__ADS_1


"Aku punya banyak anak asuh, di beberapa panti asuhan. dan aku punya banyak anak didik berbakat yang aku sekolahkan khusus bagi siswa berprestasi yang akan bekerja di perusahaan milik ku"


"aahh.. kamu Dev!"


Caera memukul bahu Deva gemas. tadinya dia sudah berpikir jauh. Deva punya anak dari wanita lain di luar sana.


"hehehe..." Deva terkekeh.


"dan ada satu perusahaan ku yang aku buat untuk membiayai mereka"


"mereka berapa banyak, Dev?"


"ada ratusan. tersebar di beberapa daerah. aku dan Jacko memilih mereka secara langsung. menguji kemampuan mereka dan Jacko mendidik mereka dengan masing-masing kemampuan"


"kamu dan Jacko baik sekali sayang" Caera mengecup dagu Deva. " kamu dapat ide dari mana itu Dev?"


"dulu. sewaktu aku pergi dari rumah. jadi gelandangan. mereka menemukan ku dan menolong ku"


"mereka anak-anak yang baik"


"iya sayang. di situlah aku bisa melihat kehidupan yang keras dan kejam. mereka punya otak tapi tidak punya kuasa"


"dan kamu?"


"aku punya segalanya tapi bodoh"


"tapi kamu tidak bodoh Dev"


"aku menyia-nyiakan itu Ra. di situlah aku menemukan jati diri ku lagi. setelah Jacko menangis tentunya"


"apa? tuan asisten menangis?" Caera kaget mendengar itu.


"iya. Jacko meminta ku kembali. perusahaan Daddy sedang dalam fase terendah. dan aku tidak menyadari itu"


"dan ketika kau bersama anak-anak itu, kau menjadi sadar, sayang?"


Deva mengangguk. pandangannya menerawang jauh. seakan mengingat masa kelam hidup menggelandang di jalan dengan minuman selalu di tangan.


"dari mereka, aku jadi tahu rasanya kehidupan yang pahit. aku membuang hidup mewah, tapi mereka mengharapkan itu. aku membuang posisi baik ku, tapi begitu banyak orang yang mengharapkan tempat ku"


"dulu, aku tidak tahu bagaimana cara hidup hemat dan berbagi. tapi dengan aku hidup bersama mereka, aku jadi tahu rasanya makan nasi hanya dengan kecap dan kerupuk. itu juga di jatah. hehee"


Deva terkekeh jika mengingat itu. Caera ikut tersenyum. menjadi pendengar yang baik.


"setiap hari mereka menunggu sepiring nasi dengan harapan ada sepotong daging yang bisa memanjakan lidah. tapi tidak pernah ada. paling bagus mereka mendapatkan seekor ikan kecil di piringnya"


"aku bangkit Ra. aku punya segalanya. aku harus berjuang untuk mereka. aku harus mengubah takdir mereka yang buruk"


"dan kau berhasil sayang"


Deva menoleh menatap istrinya. tersenyum penuh rasa sayang di matanya.


"karena itu mobil mu cuma satu sayang?" tanya Caera.


"kamu pingin mobil baru?" tanya Deva.


"hihihi.. untuk apa sayang? toh aku pergi dengan mu juga"


"kita punya banyak mobil di showroom ku, sayang. kamu tinggal pilih mau yang mana. aku tidak menumpuknya di garasi. karena aku pikir untuk apa aku menyimpan begitu banyak mobil yang tidak pernah aku pakai"


"kita satu pemikiran, sayang" ujar caera. "tapi, kenapa tidak seperti orang-orang kaya yang lain Dev? mereka pamer banyak properti dan harta kekayaan. kok kamu malah cuma pakai satu mobil?"


"hahaaa.. kamu mau aku begitu, sayang?"


"yah.. siapa tahu kan? kamu punya segalanya. kan keren tuh pamer-pamer harta"


"hehehe.. yang pamer itu cuma punya kepentingan semata, Ra. kalau asli orang kaya, jarang lah pamer kekayaan. apalagi sampai di kontenin. yang ada di incar perampok, sayang. hahaa.." Deva tergelak.


"iya juga ya"


"iya sayang. yang pamer harta itu cuma mau jadi trending. agar namanya naik. ada kepentingan dagang. marketing, sayang. kita tidak pamer juga orang-orang sudah tahu kalau kita kaya"


"tapi aku lihat Dev, pakaian kamu kok gak banyak yang bermerek?"


"ahahhaahh... sayang, kamu makin lucu saja deh"


Deva tergelak lagi. sangat geli melihat kepolosan istrinya ini. hatinya tidak banyak neko-neko.


"kenapa sih? aku kan tanya sayang. biasanya tuh, kalau orang kaya barang-barangnya branded semua. jangan sampai punya barang kw"


"sayang... aku pakai baju kaos yang harga seratus ribu dapat tiga, sama baju branded harga dua puluh juta, apa bedanya?"


"ya bedalah sayang. kan lebih keren"


"tidak sayang. itu tidak ada bedanya. yang beda itu cara pandang masing-masing orang. cara berpikirnya. aku pakai baju yang harga dua puluh ribu juga aku tidak langsung mati kan? hahaa.."


"yang di lihat itu bukan berapa harga bajunya. tapi siapa yang memakainya. selama ini, ada tidak, yang menyadari aku pakai baju harga berapa? tidak bukan? mereka hanya melihat wajah Ku. bukan baju ku. kamu mengerti bukan?"


Caera tersenyum dan mengangguk.


"itu kenapa aku tidak salah memilih mu. karena kamu tidak seperti wanita yang selama ini aku lihat. mereka suka pamer dengan segala yang di punya pasangannya"


Caera merasa tersanjung Deva mengatakan itu. ada rasa gembira menyusup di hatinya.


"tapi kenapa kamu selalu kirim barang kwalitas baik untuk ku dan baby? untuk Gino juga."


" karena kalian adalah hidup ku. aku mau yang terbaik buat kalian"


hati caera makin berbunga-bunga. suaminya adalah hal terbaik yang pernah ia miliki selama ini.

__ADS_1


"aku sangat mencintai mu, Ra"


"aku lebih mencintai mu suami ku"


Deva mendekatkan wajahnya. mengikis jarak diantara mereka. mengu Lum bibir kenyal istrinya dengan lembut. Caera menyambutnya.


melepaskan pagu Tan mesra itu. sama-sama tersengal kehabisan napas. saling menatap sendu.


"sayang"


"hmm"


"kita masukin yuk?"


"kamu mau?"


"iya dong. sudah tiga hari sayang. aku tidak kuat" rengek Deva.


mengecup bibir caera lagi. menji Lat di sana. menelusupkan lidahnya masuk ke dalam mulut Caera. bermain dengan lembut didalamnya.


tangan kekarnya mengelus perut buncit Caera. membuat Caera merasa geli.


"aku mau sayang" bisik Deva.


"tapi belum basah Dev" jawab Caera bergetar.


Deva tersenyum. dia tahu apa maksud caera. tangannya mulai merambat kebawah. mengusap gundukan tembem yang masih di tutup di sana.


"ini hangat sayang"


ujar Deva menatap mata Caera sendu. Caera hanya mengangguk saja. menggigit kecil bibir bawahnya.


melihat itu, Deva makin merasa bersemangat. tangannya menelusup masuk ke dalam. mengusap gundukan mulus yang hangat.


"uummhhh" Le nguh caera.


Merasakan sensasi nikmat dengan elu san lembut tangan Deva.


"kamu suka sayang? hmm?"


Deva masih menatap wajah istrinya yang mulai bergelora. percikan api asmara tergambar jelas di matanya.


"sssshhh... kau indah sekali kalau begini, Ra"


Deva mengernyitkan dahi menatap mata sendu Caera yang mulai merasakan sensasi indah akibat jari nakal Deva.


Deva mulai menyusupkan jarinya di tengah celah lem bab milik istrinya. bermain di sana. menyentuh kacang kecil dan menggeseknya perlahan.


"aduuhh.. deeevvv"


Caera memeluk leher Deva erat. napasnya tersengal di telinga Deva. memacu Deva makin bersemangat.


"deevvv... aahh.. "


berkali-kali Caera mendesis dan menjerit. Deva semakin gencar menyentuh kacang mungil itu.


"enak sayang? hmmm?


"aaahhagghh... enak saaaa... aaawwhh.. deevv!


jerit Caera ketika Deva agak menekan jadinya pada spot paling keras di tengah kacang kecil itu.


"ssshhh.. itu enak sekali Dev"


Racau Caera seraya meremas pundak Deva dan menatap manik mata Deva lekat. Deva menjulurkan lidahnya. dan di sambut Caera dengan Isa pan lembut pada lidah hangat itu.


"eehhmm"


Deva menggeram gemas melihat ekspresi wajah menggoda Caera. tak sabar, Deva melorot ke bawah. membuka apa saja yang melekat di tubuh istrinya.


terpampang jelas lekuk tubuh yang semakin berisi itu. mengelus perut caera dan mulai men ji Lati di sana.


lalu turun lebih ke arah dan di hadapkan pada sepetak sawah yang siap di bajak. Deva mengelusnya perlahan. lalu membuka sedikit celahnya. tampak sudah semakin lembab.


dengan lembut, Deva menyusrup sawah itu. menghabiskan pelumas akibat hari nakalnya. warna pink yang menggoda. membuatnya semakin mabuk dan ketagihan untuk mencipipi lagi dan lagi. membuat Caera belingsatan tak karuan.


sambil menji Lat dari bawah ke atas, Deva melihat ke arah atas. tapi tidak melihat wajah Caera. yang terlihat hanya perut buncit yang semakin menggoda menurutnya.


Deva bangkit. menatap wajah istrinya yang sudah di selubungi kabut nikmat. Deva tak tahan lagi.


"aku mulai sayang?"


caera mengangguk.


Deva mulai menancapkan naga yang sudah berdenyut dan mengangguk menantang minta di tuntaskan.


"uuuuggghhh..."


lenguh Caera begitu di terobos Deva. merasa sesak di bagian bawahnya.


"sayang, pelan-pelan. nanti baby-nya bangun"


"tidak sayang. tenang saja. naga ku sudah bawa pemadam"


"untuk apa?"


"memadamkan semburan api naganya sayang"


'tidak bawa serine sekalian Dev?"

__ADS_1


"tidak sayang. naganya bawa peredam suara biar baby-nya gak kaget"


🤫🤫🤫🤫🤭🤭🤭🤭🤭


__ADS_2