DENDAMKU TERBALAS CINTA

DENDAMKU TERBALAS CINTA
episode 85


__ADS_3

hari ini sangat sibuk. banyak tamu yang datang menemui Deva. karena memang jadwal Deva yang padat, sehingga banyak kolega dan relasi bisnis yang datang mengantri jadwal pertemuan.


Dira dan caera sampai tidak sempat istirahat walau hanya makan siang. ada beberapa rapat yang harus mereka siapkan. caera dengan senang hati membantu pekerjaan Dira.


ada dua orang tamu yang menunggu di ruang khusus tamu tuan Deva. caera tak di beri kesempatan untuk menerima mereka. Dira hanya membaginya tugas untuk mengurus persiapan rapat, dan beberapa dokumen yang harus di bereskan.


"Dira, tunggu sebentar ya. aku mau ke toilet nih. kebelet"


caera berjalan di tempat, dan mengapit pahanya. karena memang sedari tadi ia menahan pipis saking sibuknya.


"ok"


hanya itu jawaban Dira sambil mengacungkan jempol tanda menyetujui. caera tergesa-gesa melangkah ke toilet di sebelah ujung. menuntaskan hajat yang sedari tadi mendesak.


setelah selesai, caera keluar dan berhenti di luar toilet menghadap cermin besar. membenahi makeup tipisnya. di rasa masih baik, caera segera keluar dari toilet dan melangkah terburu-buru karena tahu Dira pasti masih repot dengan banyaknya pekerjaan yang harus di selesaikan.


bruukk!!


"aawwh!"


mata caera terpejam. dengan keras, kepalanya membentur sesuatu yang empuk tapi padat. menubruk seseorang karena tak memperhatikan sekelilingnya. tak menyadari ada seseorang yang berjalan dari arah lift, menuju ke arah Dira di depan.


caera membuka matanya. yang di lihat matanya pertama kali adalah, dasi warna merah maron dan jas warna hitam mengkilap.


dia ada di pelukan seorang lelaki!


dengan reflek, caera mendongak. terlihat wajah tampan yang sungguh membuat mata yang memandangnya menjadi nyaman saking gantengnya. mata hitam tajam, alis tebal teratur, hidung mancung dan bibir tipis menghiasi wajah tampan itu, dengan potongan rambut rapi.


"kau tidak apa-apa nona?"


tanya lelaki itu.


caera belum bisa menjawabnya. masih mengerjap-ngerjapkan matanya melihat wajah tampan itu.


lelaki itu tersenyum dan menggerakkan tangannya yang melingkar di pinggang caera.


"anda baik-baik saja nona?"


caera kaget. begitu menyadari dia ada di pelukan seorang pria asing, caera langsung bergerak mundur. menjauh dari dada bidang yang di tabraknya tadi.


"khhmm.. saya tidak apa-apa tuan"


caera berdehem dan membenahi rambutnya ke belakang telinga karena gugup. pipinya merona karena malu. dan langsung membungkuk hormat. dari penampilannya, lelaki tampan ini pasti lah tamu penting tuan Deva.


"hahaaa"


lelaki itu tertawa, dan memasukkan kedua tangannya di saku celananya. dan caera makin gugup. caera baru menyadari ada seorang lagi di belakang pria tampan ini. pasti itu asistennya seperti Jacko dan tuan Deva.


"kau manis sekali nona"


sambungnya lagi dan tersenyum sumringah.

__ADS_1


"maafkan saya tuan. saya tidak sengaja"


caera membungkuk lagi.


lelaki itu mendekat. menatap caera yang tertunduk malu. ia mengulurkan sebelah tangannya ingin menyentuh caera. tapi belum sempat itu terjadi, dari arah depan Deva datang berjalan bersama beberapa orang tamu yang baru selesai rapat dengan Deva.


Deva menegang. wajahnya langsung berubah gelap. rahangnya mengetat. obrolannya dengan tamu-tamunya tadi terhenti. menatap lelaki yang ada di depan caera. mata tajam Deva menatap tajam tangan lelaki itu menggantung di udara tepat di atas pundak caera.


lelaki itu menurunkan tangannya, kembali memasukkan tangan itu ke saku celananya lagi. tak jadi menyentuh pundak caera. lalu tersenyum melihat Deva dengan tenangnya.


Caera mendongak dan menoleh menyadari Deva datang dari arah sampingnya. kaget melihat expresi Deva yang tidak biasa. wajah itu menunjukkan amarah terang-terangan.


caera melirik pria tampan di depannya. terlihat wajah itu dengan bangganya tersenyum menatap deva. caera mundur lagi sambil menunduk. menyadari ada yang lain telah terjadi di antara kedua pria ini. menjauh dari lelaki di depannya.


"tuan Deva, kalau begitu kami permisi dulu"


salah seorang tamu Deva menyela memecah ketegangan yang tercipta.


Deva diam saja. tidak menggubris omongan tamu di dekatnya. masih menatap tajam lelaki di dekat caera. Jacko bergerak maju dan menyalami para tamu rekan bisnis mereka. dengan sigap menghandle tamu yang akan pergi.


setelah tamu itu pergi, lelaki di dekat caera melangkah maju ke depan. mendekati Deva yang masih diam tak bergerak. menatap tajam dengan wajah yang menyimpan amarah yang siap meledak.


Jacko bergerak ke samping caera. caera menatap Jacko di sampingnya. bertanya lewat tatapan matanya. tapi Jacko hanya meliriknya sedikit dan berdiri tegak bagai pohon besar yang tak tegoyahkan.


Dira datang berlari kecil dan langsung berdiri di samping caera juga. bersikap siaga seperti menjaga caera dari serangan apapun. caera bingung melihat sikap orang-orang di sekelilingnya. mengapa wajah-wajah mereka menunjukkan ketegangan?


caera sungguh tak mengerti dengan apa yang telah terjadi pada dua pria di depannya. mereka berdua seperti menyimpan sejuta dendam yang terpendam.


"halo teman. lama kita tidak berjumpa"


Deva diam saja. menatap tajam mata hitam itu. lalu melirik ke arah caera. menatap mata caera. caera sampai blingsatan di tatap Deva begitu.


dengan sigap, Dira menarik tangan caera dan mengajaknya pergi dari pertempuran tatap mata itu menuju ruangan mereka. dengan pandangan tak mengerti, caera menatap mata Deva dengan sejuta pertanyaan. Deva hanya diam tak menggubris tatapan caera.


setelah caera pergi, Deva kembali fokus pada lelaki di depannya. lelaki itu tersenyum mengejek Deva.


"kau masih takut pada ku Dev? haha"


ujar lelaki itu seraya melirik caera dari bahu Deva.


"Keenan. apa lagi yang kau inginkan?"


suara Deva tajam dan dingin.


"ah.. "


lelaki bernama Keenan itu membuang wajahnya ke arah lain. terlihat sangat mengejek Deva.


"begini cara mu menyambut teman lama Dev?


sambungnya.

__ADS_1


Deva hanya diam. memperhatikan wajah Keenan dengan seksama.


"baik Lah. ayo ke ruangan ku"


Deva berbalik dan berjalan lebih dulu. Keenan tersenyum menang dan mengikuti langkah Deva. asistennya mengikuti dan Jacko setelahnya.


****


sementara caera sibuk berdebat dengan Dira. caera di kurung di dalam ruang kerjanya. Dira melarang keras caera mengintip di pintu. Dira menghalangi caera dengan berdiri menyandar di pintu yang tertutup.


"Dira! minggir. aku mau lihat sebentar!"


caera melotot pada dira. berbisik dengan suara yang di tekan. takut menimbulkan keributan yang akan di dengar Deva.


"jangan kak. nanti tuan Deva marah"


Dira juga berbisik dan melotot pada caera. tapi Dira melotot karena ngeri kalau saja caera sampai nekat mengintip dan Deva memergokinya. bisa mampus dia kali ini.


"kalian ini kenapa sih?!"


caera marah. merasa heran dengan keanehan sikap Deva dan lelaki tadi.


"Dira tidak tahu kak. tapi ini perintah"


Dira menegaskan.


caera menghentakkan kakinya kesal. Dira tidak bisa di ajak berkompromi kali ini. caera mengalah. berjalan ke mejanya. duduk di sana dengan cemberut.


"maafkan Dira kak. kali ini Dira tidak bisa menuruti kakak"


Dira memohon pengertian caera.


"ya sudah tidak apa-apa"


jawab caera dengan jengkel.


Dira masih berdiri di pintu. siaga penuh. tak mau bergeser barang selangkah pun. ia takut caera dengan tiba-tiba nekat keluar dari ruangan.


"kalau begitu, siapa tuan itu tadi dir?"


caera masih penasaran.


Dira diam. tak mau menjawab. untuk yang satu itu, Dira merasa tidak punya kapasitas untuk menjawab caera.


"huh"


caera makin kesal saja melihat Dira. melengos jengkel.


caera berpikir keras. siap lelaki itu tadi? kenapa Deva terlihat sangat waspada padanya? sampai Jacko dan Dira bersikap waspada melindunginya?


caera memijit-mijit keningnya. pusing memikirkan kenapa sikap Jacko, Dira, dan Deva menjadi berubah.

__ADS_1


ah ya sudah lah. mungkin saja tuan itu tadi maling, perampok, atau juga mungkin saja mafia kelas kakap tuna hiu atau... teri


🤭😜


__ADS_2